Bandung Blablablablabla I

December 01, 2014
2014 akan berakhir. Sama halnya saat waktu hari raya Idul Fitri, Bandung akan berada di puncak kemacetannya. Liburan sekolah, cuti kerja, liburan liburan liburan. Saya sedang membayangkan Bandung yang sesak dan kami sekeluarga yang manyun duduk di depan tivi menyaksikan Marsha and The Bear atau progam Silet. Keluar rumah pasti bertemu sapa dengan kemacetan. M a l e s.



Agak ironi. Saya dan banyak sekali tulisan yang mempromosikan Bandung di blog ini. Saya dan rasa kesal yang luar biasa waktu jadi korban kemacetan. Lebih tepatnya, saya juga ikut meramaikan kemacetan Bandung. Hohoho sial. 

Gak bisa dihindarkan. Akhir minggu Bandung menyedot banyak pengunjung. Kota ini memang manis sekali. Tiap sudutnya nyeni. Terutama Bandung Utara, tempat saya bermukim. 

Ulang tahun Bandung yang ke-204 di bulan September saja saya nikmati di rumah. Semua rencana meliput ini dan itu berantakan. Kemeriahannya saya baca di surat kabar esok harinya.

Banyak yang ngomel di timeline twitter dan facebook. Bandung macet, Bandung maceeett! Tidak sedikit pula yang menikmati acara ulang tahunnya. Ah satu rupa dua wajah. Hal yang sama juga saya percaya terjadi di kota lain. Di negara lain. 

Saya berharap banyak pada Emil. Ridwan Kamil, walikota Bandung. Benerin sistem transportasi umumnya. Saya pengguna angkot. Saya sering naik bis Damri. Bisa gak sih orang keluar rumah gak mesti naik kendaraan pribadi? Saya punya anak satu dan merasakan kenyamanan yang oke kalau berkendaran dengan mobil sendiri, tapi...bayangin ada yang kayak saya di luar sana beribu-ribu orang. Wedew... Bandung tidak tambah luas. Jalan raya ya segitu-gitu aja. Tapi pengguna kendaraan pribadi makin banyak. Masa iya begini terus, masa iya Bandung bakal kayak Jakarta. Tidaaaak!


Bisa gak sih transportasi umum dibuat nyaman kayak kendaraan pribadi? Please please. Ongkosnya juga terjangkau dong. Biar makin banyak yang menyimpan mobilnya di garasi saja dan pergi naik angkot atau bis kota. Supaya kota ini bisa bernapas lega. Penduduk lokal bisa menikmati kotanya, turis juga bahagia. Semua senang.

Edisi blablabla sekian dulu. Bersambung. 




Post Comment
Post a Comment