Tentang Bandung Purba, Tentang Wajahnya Cinta

October 03, 2014
Pengabaian tampaknya semakin menjadi sebuah kelaziman. Tak peduli bahwa hal itu akan mengarahkan pada ketidakpahaman-ketidakpahaman, manusia melaju hidup tanpa mau memikirkan bahwa segala sesuatu yang ada di Semesta ini saling berkaitan. Masa datang bahkan menjadi terlalu transparan hanya akan dipenuhi penyesalan yang disandingkan dengan kesedihan karena yang singgah dan berkehidupan terus semakin tak acuh pada keadaan.

Bandung dalam perkembangannya adalah contoh nyata dari pengabaian berkepanjangan. Sangat terlihat bagaimana kebutuhan mewajahkan modernitas telah mematikan kepedulian bahkan untuk sekadar mengenali sosok sebenarnya dari kawasan tersebut. Ketidakpahaman mengakibatkan Bandung diperlakukan tidak tepat sehingga mengancamnya untuk terus tersudut semakin jauh dari kondisi nyaman.


Lihat saja: tata kota yang berantakan, saluran air yang tak begitu mampu meminimalisir dampak banjir cileuncang, masalah tak berkesudahan tak jauh dari sisian Ci Tarum di Bandung Selatan, semakin  jelasnya warna polusi yang melingkupi hingga langit pun semakin buram, hujan es bukan lagi suatu keanehan, persediaan air tanah yang mencemaskan karena akan segera punahnya gunung-gunung kapur berharga akibat penambangan juga ketiadaan hutan-hutan.

Meski begitu, terberkatilah kawasan cekungan yang selalu membuat siapa pun yang singgah dan tinggal didalamnya jatuh hati lalu tergerak untuk menjaga dengan rupa-rupa cara. Pasangan T. Bachtiar dan Dewi Syafriani contohnya. 

Bandung Purba lah salah satu wujud dari kecintaan mereka. Kumpulan tiga puluh enam catatan perjalanan pasangan suami-istri tersebut hadir sebagai sebentuk upaya untuk mengenalkan tentang apa-&-siapa Bandung sesungguhnya. 

Penyajian dalam bahasa yang ‘renyah’, multi aspek, serta mampu memancing visualisasi dalam kepala, membuat catatan-catatan yang mengupas tentang keindahan sekaligus kekayaan (secara keilmuan) yang dimiliki Cekungan Bandung menjadi begitu istimewa. Dalam kedua ratus enam puluh delapan halaman hitam putih Bandung Purba yang juga dilengkapi gambar-gambar pendukung, secara tak langsung, keduanya pun mengenalkan bagaimana cara lain menikmati Dokumentasi Bumi tanpa harus memiliki latar belakang pengetahuan spesifik kebumian.




Belum terbayang? Mari coba simak potongan catatan yang berada di halaman 83. “Gunungapi Purba Manglayang” judulnya.

Dari arah Cibiru, Cileunyi, dan Jatinangor, Gunung Manglayang (+1817 meter) tampak seperti berada di awang-awang, melayang bersayapkan mega-mega. Toponimi gunung ini berasal dari kata layang yang ditambah awalan ma yang kini sudah tidak produktif lagi, menjadi ma+layang, yang kemudian berubah menjadi ma(ng)layang. Pada awal perkembangan bahasa Sunda, awalan ma sangat produktif dipakai masyarakat, seperti terdapat dalam kata ma+riuk, ma+rieus, ma+leber, ma+labar, dan lain-lain, yang menunjukkan maksud seperti atau menyerupai. Jadi, Bukit Manglayang itu seperti bukit yang melayang, bukit yang seperti terbang.
...
Kronologi pembentukan Gunung Manglayang terbentuk dalam rentang waktu antara 2,5 – 1,8 juta tahun yang lalu. Pertama adanya gunungapi yang kemudian meletus dahsyat merubuhkan dinding gunung sisi tenggaranya. Setengah lingkaran pertama merupakan Manglayang purba 1, merupakan lengkungan terluar, yang sumbing dan terbuka ke arah tenggara selebar 5 km. Di bagian ini ada tempat yang lebih menonjol, disebut Pasir Patokbeusi (1557 meter). Di dasar gawirnya terdapat sungai yang mengarah ke selatan, seperti: Ci Seupan, Ci Palintang, Ci Nambo. ...

Seusai membaca catatan tersebut, maka pembaca tak hanya akan mengetahui sejarah terbentuknya Manglayang beserta muatan informasi geografis yang terkait dengannya saja, namun bisa pula mendapat pengetahuan tentang mengapa gunung yang berada di timur Bandung itu diberi nama Manglayang. Bahkan lebih jauh dimungkinkan bagi orang-orang dengan minat visual khusus akan berburu lokasi dan saat yang tepat agar bisa mendapati Manglayang terlihat bagaikan gunung melayang terbang di atas awan.

Dalam ketiga puluh lima catatan lain, T. Bachtiar dan Dewi Syafriani mengajak para pembaca untuk ikut berkelana di sepanjang kawasan Karst Rajamandala yang merupakan bukti bahwa dulunya tepian utara Laut Jawa menghampiri Parahiyangan, merasakan kenikmatan menghabiskan waktu di teras Sanghyang Poek yang dilalui alir Ci Tarum bersih (7 kilometer yang masih terjaga dan memiliki kondisi berbanding terbalik dengan sekitar 290 kilometer lainnya), mengenalkan bahwa ibu dan nenek dari gunung Tangkubanparahu adalah gunung Sunda dan gunung Jayagiri yang termahsyur lewat lagu, memberitahukan sebuah rahasia kecil tentang karembong (selendang) Dayang Sumbi yang tersangkut jatuh di Lembah Ci Kapundung, berbagi tentang apa saja yang termuat dalam sebuah Laboratorium Akbar berdinding angin beratap langit di kawasan cekungan yang telah meninggalkan kesan begitu kuat pada berbagai kalangan (seniman, sastrawan, ilmuwan, olahragawan).

Maka, demi sebaik-baiknya berkehidupan yang tak hanya memikirkan diri sendiri melainkan juga masa depan, mewariskan kelayakan bagi generasi mendatang, mewajahkan sebuah kata ‘sayang’ agar tak cuma ada di mulut lalu terbuang; adakah terlalu berat untuk mulai mengenali tempatmu singgah bahkan tinggal? Mulai mencari tahu bagaimana caranya agar dapat ikut menjaga ‘rumah’-mu biar tetap nyaman dan berumur panjang?

Untuk Bandung yang semakin didekatkan pada “kehilangan harapan” oleh sejumlah pembangunan tanpa pemahaman, paling baik jika itu semua dilakukan: sekarang – mengisi amunisi kepedulian dengan pengetahuan. 

Judul
Bandung Purba – Panduan Wisata Bumi
Penulis
T. Bachtiar dan Dewi Syafriani
Penerbit
Dunia Pustaka Jaya
Edisi
2
Cetakan
1
Tahun Terbit
November 2012
ISBN
978-979-419-379-2


- - - - - -

Buku ini dapat diperoleh di toko Lawang Buku. Di toko buku biasa kayaknya sudah pada habis deh. Coba aja browsing yah kalau mau beli bukunya. 



Resensi ini ditulis oleh penulis dan fotografer :Ayu Wulandari (Kuke)
3 comments on "Tentang Bandung Purba, Tentang Wajahnya Cinta"
  1. Bagus banget deh artikelnya, saya baca dari awal hingga akhir

    ReplyDelete
  2. sepertinya buku Bandung Purba menarik untuk dibaca ya. Bisa cari dimana?

    ReplyDelete
  3. Waaah seru ya sejarahnya. Bagusnya para ilmuwan menulis buku semua ttg hasil penelitiannya dengan bahasa yang mudah dimengerti publik.

    ReplyDelete