Film Negeri Van Oranje: Film Indonesia atau Film India sih?

December 28, 2015
Oke. Kemarin saya jalan-jalan ke BIP bersama dengan teman-teman blogger lainnya. Bandung Indah Plaza. Mau nonton film ceritanya bersama IM3 Ooredoo. Film Negeri Van Oranje judulnya. Saya resensi filmnya di bawah ini. Sinopsis ceritanya begini. 

Lima anak muda Indonesia melanjutkan pendidikan S2 di Belanda. Kelimanya sekolah di kampus yang beda kota. Lima orang ini beda-beda karakternya. Ada Geri yang perhatian dan penyayang, ada Wicak yang pendiam dan cool, Banjar dan Daus yang ngocol dan penghibur, terakhir tentu saja yang jadi pusat jagad maya keempat lelaki tersebut: Lintang. Cantik banget dan cool kayak Wicak. 

Somehow menurut saya film ini harusnya berjudul Princess Lintang :D 

So ceritanya mereka bertemu tidak sengaja di stasiun. Sejak itu jadi dekat, akrab dan membentuk persahabatan yang erat. Cowok-cowok itu pada akhirnya jatuh cinta pada Lintang. Tapi cuma satu orang yang berhasil menikahi Lintang. Siapa orangnya? Kenapa itu orangnya? Begitu klimaks ceritanya. 

Film Negeri Van Oranje ceritanya klise. Percintaan, romantisme tinggal di negara maju, dan wajah-wajah tidak bernoda :D sori, maksudnya wajah-wajah cuantik dan cuakep bangeeeet.

Kok pada bilang ini film isinya tentang pendidikan di Belanda sih? tip-tips jadi mahasiswa di Belanda? Gak ada. Unsur pendidikan yang muncul di film ini cuma numpang lewat doang. Iya paling gak saya sekarang tahu kalau di Belanda ada kampus ala-ala IPB di Bogor gitu. Tapi selebihnya gak ada. Film ini murni tentang percintaan saja. 

Tema persahabatannya juga apa ya, kelihatan buatan banget. Ya namanya juga film sih, apanya yang gak buatan. Tapi ada yang janggal, gak alami. Penonton dipaksa untuk menikmati persahabatan mereka yang terlihat asyik banget. 

Sepanjang filmnya saya sampai mikir Negeri Van Oranje adalah film buatan Departemen Pariwisata Belanda kayaknya. Promosi wisata Belanda dan kota Praha di Ceko berkedok wajah Lintang dan lika-liku kisah percintaannya. 

Tapi bukankah beberapa tahun belakangan ini film tipikal seperti itu yang lagi laku? merantau ke negeri maju, pemandangan yang 'instagram' banget dalam arti bagus, keren, dan indah. Film-film yang menjual mimpi, mimpi ke luar negeri (negara maju, khususnya) dan mimpi ditaksir empat cowok cakep :D 

Photo Credit : www.bintang.com 

Negeri Van Oranje ceritanya klise, tapi menurut saya penulisan naskahnya apik! Selamat, Titien Wattimena. Menurut saya kekuatan film ini ada tiga sih: latar film, naskah, dan backsoundnya. 

Di film ini pemandangan yang paling ganggu adalah...wardrobenya! OMG, ini film Indonesia atau film Bollywood sih? Cowok-cowok kostumnya warna pastel dan candy. Geli lihatnya. Celana oranye, jaket ungu, sweater pink. Buset! Sekalinya Wicak pakai kemeja, kemejanya juga warna-warni. Over the top. Berlebihan. Saya sampai merhatiin latar pemandangan orang-orang di sekitar mereka, pakaiannya biasa aja tuh. Hitam, abu-abu, putih, biru. Ada pun kalau warnanya menonjol, yang pakai ya perempuan. Yaelah nonton film ini berasa nonton film India, waktu Shahrukh Khan kuliah di Inggris dan disusul Kajol. Kampring! Gak sekampring film India sih, tapi siapapun yang ngurusin wardrobenya karakter cowok di film Negeri Van Oranje, nampaknya penggemar film India.

Secara keseluruhan film ini emang kayak film Boolywood sih. Tapi dengan kemasan yang rada mending, rada bagusan. Gak norak-norak amat gitu. 

Lalu bagaimana dengan karakter pemainnya? 

Dimulai dari Lintang, karena dia yang jadi sentral film ini selain negeri Belandanya. Karena dia satu-satunya cewek (cantik) di film ini, dia gak punya saingan adu-karakter sih. Emosinya datar, kurang baper. Terlalu cool dan kalem. Ya gak apa-apa, masih artis baru kali ya, nanti juga kalo sering main film makin terasah. Lintang juga cantik banget yaaaa! Makeupnya gak berlebihan atau mukanya Lintang emang udah indah dari sananya, poles dikit langsung trrring menawan. Tatjana Saphira memang cantik, sesuai namanya :D

Geri yang diperankan Chicco Jerikho merupakan tipe womanizer. Penakluk wanita karena kelembutan dan perhatiannya. Suaranya yang dalam dan berkharisma membuat hati saya meleleh, cakepnya luar dan dalam. Geri yang saya suka! pikir saya pertama kali muncul tokoh tersebut. Harus diakui sih, karakter Geri ini yang dibawakan paling matang. Chicco Jerikho gituuuh! Dia tahu caranya mengeluarkan khariswa seorang womanizer, salah satunya lewat cara ngomong dan senyum. Gak dari sananya, Chicco ganteng, dia yang jagoan membawa karakter Geri. Saya penggemar Chicco Jerikho sejak menontonnya di film Cahaya Dari Timur. Dia bukan lagi artis sinetron, dia tuh seniman. *Halah fans lebay :D*

Wicak. Si kalem dan si irit ngomong. Sekalinya ngomong, dia lebih mirip orang teler. Pendek-pendek ngomongnya, sok-sokan kelihatan cool gitu padahal buat saya mah maksa banget coolnya. Lintang jauh lebih cool dibanding Wicak. Tapi gini, sekalinya Wicak ngomong panjang, seperti waktu di akhir film, baru deh kelihatan aktingnya Abimana Aryasatya yang prima! Satu lagi, rambutnya Wicak enggak banget. Mungkin supaya kelihatan lebih rebel aja ya, tipe pemberontak, tipe aktivis. Tapi sumpah itu rambut Wicak alay banget! Gak ada keren-kerennya, rambutnya sama sekali gak memperlihatkan pesona seorang aktivis. 

Photo Credit : www.hot.detik.com

Banjar, katanya dari Banjarmasin. Daus, ceritanya dia anak Betawi. Tapi sumpah deh sepanjang film saya gak melihat karakter orang Banjarmasin dan Betawinya. They all look the same: orang Jakarta. Kalau dua tokoh ini gak ada, filmnya jadi menjemukan. Kecuali ceritanya yang kuat, kita memang selalu butuh karakter tambahan yang ngocol dan lucu agar filmnya jadi tidak membosankan. 

Banjar yang dibawakan Arifin Putra sama nasibnya dengan karakter Geri yang diperankan Chico. Arifin dan Chico artis lama, sudah sering memerankan macam-macam karakter di jenis film yang berbeda. Jadi aktingnya ya natural dan terlihat kasual aja gitu. Cuma kurang logat Banjarmasin aja nih Arifinnya. Adegan berkelahi di film ini dilakukan oleh tokoh Banjar. Dan memang satu-satunya orang yang cocok untuk adegan tersebut adalah Arifin! Kalau gak dia ya Chico juga cocok :D 

Daus, diperankan Ge Pamungkas. Sehari-hari melihat Ge sebagai comic di televisi dan sekarang melihat aktingnya di layar bioskop, rasanya gak aneh, tidak ada perbedaan jauh. Tapi saya salut nih ke Ge, muka belagunya di layar tv bisa dia ubah jadi muka culun di film Negeri Van Oranje. Muka dia ekspresif banget sih walau secara natural mukanya muka belagu. Semoga dia mendapat banyak pekerjaan film ya, menurut saya sih dia sanggup memainkan beragam karakter. Ge Pamungkas akan gemilang suatu hari nanti di dunia film, selama pilihan karakternya seberani Chicco Jerickho sih atau Reza Rahardian. 

Apa film ini layak ditonton? Saya akui twist filmnya sih menarik dan mengejutkan walo sepanjang film kurang letupan-letupan emosi. Dari awal film penonton sudah diberitahu bahwa Lintang akan menikah dengan salah seorang sahabatnya sih. Jadi rasa penasaran itu yang membawa saya bertahan dengan film ini selain kharisma Chicco Jerikho dan pemandangan Belandanya. Hahaha :D

Buat saya film ini gak ada pesan moralnya, gak lebih dari sekedar film yang menghibur. Bukan film yang bikin kita jadi mikir atau secara emosional kita jadi terlarut. Kalau butuh cerita yang ringan dengan pemandangan luar biasa, nonton aja Negeri Van Oranje. Tapi kalau berharap mendapat konten lebih banyak, mending tonton film Indonesia lainnya aja deh. 

One thing for sure: Chicco Jerikho. i love youuuuuuuuuu! 
42 comments on "Film Negeri Van Oranje: Film Indonesia atau Film India sih?"
  1. Haha sharu khan dan kajol pasti kocak...
    lagi trend film-film tentang berkelana ke negeri asing..
    tapi memang masih sedikit yang membawa pesan mendalam...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, makanya saya nunggu kapan buku Garis Batas-nya Agustinus Wibowo diangkat ke layar lebar. Film sekuel Supernova juga katanya baka dibuat ya? Nah itu juga tentang berkelana ke negeri lain, kontennya bagus (di novel, gak tahu ntar di film hehehe)

      Delete
  2. Hihihi, nonton film ini nggak yaaa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amy, kamu lagi hamil kan? tonton aja ih, ini film yang cocok buat ibu hamil kayak kamu. Tonton yang ringan-ringan aja, jgn yg bikin kamu jadi mikir lah :D sambil nonton, pegang perutnya & berdoa biar klo bayinya perempuan secantik Tatjana, kalo cowok seganteng Arifin Putra :D

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
  3. Chicco jerikho na ganteng nyak lu, :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Enya! wkwkwkwk duh, Tian. Suaranya itu lho ugh saya merem denger suara dia juga udah klepek-klepek sayanya :)))))

      Delete
  4. Kalau di novelnya ada diskusi2 gitu sih, Mak, tentang idealisme2 mahasiswa yg kuliah di LN. Misal mereka mau balik ke Indonesia atau tetap di LN. Twist-nya bikin kaget ga, Mak, ky di novel? Penasaran sy endingnya sama di novel atau ga :D belum nonton. Ga ada bioskop di kota sy. Hiks.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya twistnya bikin KAGET BANGET hahahah :D oh gitu ya, ya novel & film spektrumnya emang berbeda sih ya.

      Delete
  5. dulu pernah se-gym bareng Chicco jaman dia masih kerempeng dan belum ngetop banget :) tapi dulu aja dia udah 'manner' sama orang lain, dalam arti sopan, ramah, banyak senyum, dan gak belagu :) jadi penasaran pengen liat chicco di film ini..

    ReplyDelete
    Replies
    1. WHAT? PERNAH NGEGYM BARENG CHICCO? OMG beneran? aaaahhhkkkkkkkkk!

      Delete
  6. Aku setuju yang bagian logat Betawinya gak keluar. Terus bener tuh yang dibilng mba Hairi, idealisme Lintang dkk gak keluar di film ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. idealisme versus kapitalisme, jah. yang laku dijual bukan idealisme kayaknya :D

      Delete
  7. yup setujuh. yg laku kayakny cinta aza yaa. bisa jd orang demam berat dan pergi nonton, spesial chico jerichonya hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. cinta emang tema yang laku dan universal, gak salah jadi tema film.

      Delete
  8. Wah berarti adaptasi dr novelnya jauh bgt ya. Soalnya novel NvO ini mmg ttg pendidikan dan tips2 survive hidup di Belanda sbg mahasiswa yg duitnya pas2an. Kalo liat tokohnya spt berduit semua ya. Saya juga gak suka liat warddrobenya. Ya itu krn bayangan saya yg tajir cuma Gery aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. duit pas-pasan? whaaa sama sekali gak ada cerita mereka seret secara ekonomi tuh :D semuanya terlihat sangat kaya raya :D ya ada sih kalimat si Banjar atau Daus yang keliatan mereka teh blangsak, tapi gak ngefek sih tetep aja keliatannya pada tajir

      Delete
  9. Apa mau dikata, dari awal saya gak tertarik nonton ini, tapi setelah mampir kemari, saya langsung suka.... sama reviewnya!
    Sekali lagi sama reviewnya,hahaha. Filmnya tetep gak menarik saya, tapi review ini, ah sumpah! gak rugi kesini, hihihi.

    Lam kenal mba:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hah? :D waaah makaci makaci, agak khawatir sih apa review saya harus ada yg disensor ya, tapi opini sih namanya juga ya :D

      Delete
  10. aku mah kudet deh kalo ngomongin film dan buku. haha.. blogger apalah aku ini jarang baca. Tapi mbaca ini ku jd penasaran jg pingin nonton...

    ReplyDelete
  11. Hahahaha ternyata bajunya yang bikin jadi bollywood, btw film indonesia mah gitu

    ReplyDelete
  12. jadi biasa aja nih? gak jadi nonton lah kalo begitu

    ReplyDelete
  13. Tipikal film indonesia banget ya kayanya. Bukannya menghina atau menyamaratakan dilm indonesia ada si beberapa yg oke tapi moatly tanpa ada pesan moral dan xuma jual tampang. Jd ga minat lg mo nonton

    ReplyDelete
    Replies
    1. namanya juga bisnis film :D kadang2 ada konten yang bikin mikir, kadang2 cuma buat hiburan aja. hollywood juga sama kayak gitu, mba :D

      Delete
  14. hahahaa kok saya keatawa sendiri pas baca Wisnu kalau ngomong kayak org teler? Padahal aslinya kalau rambutnya di rapihin jadi kece loh, emang syaa mah sukanya yang bad boy gitu #eaa lalu mulai baper wkwkwkk salam kenal teh ^_~

    ReplyDelete
    Replies
    1. kebanyakan emang kalo dia komen jawabnya kayak males2an gitu, sok cool. wardrobe dan hairstylistnya emang enggak banget film ini teh :D

      Delete
    2. WIcaaaaak, haduh salah nama terus -___- zzzz maapkan *sungkem

      Delete
  15. Suka kecele ma film indonesia yang diangkat dari novel. Jauuuuuh.... Mending baca buku sih kalau aku. Thanks infonya, mba Nurul.

    ReplyDelete
    Replies
    1. katanya film yg diangkat dari buku emang gak bisa disamakan. medianya berbeda. kalo visual terbatas waktu kali ya, sementara kalo di buku kan bisa detail.

      Delete
  16. Lah, beda jauh yaaa sama novelnya.. Film nya jadi cinta2an doang? Ga ada cerita mereka kerja parttime trus kucing2an sama petugas gitu?
    Jadi ga minat nonton..

    ReplyDelete
  17. Nice review, Ulu. Kalau akting Chicco memang ga diragukan lagi. Aku suka banget aktingnya di "Filosofi Kopi". Baca buku dan nonton filmnya sama-sama memuaskan. Hmmm ... kalau yang ini gimana, ya .... Jadi nonton ga, ya ....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Udah baca bukunya, mba haya? kalo nonton pasti kecewa soalnya :D tapi naskah buatan Titien Watimena ini apik banget. Rapi, efisien, dan sederhana. Ceritanya klise, tapi kalo saya baca naskahnya mungkin jadi lebih bisa saya terima kali ya :D terima ke-klise-annya :D

      Delete
  18. Haha... Ulu bodor bikin review nya, belum nonton sih tapi jadi lebih tertarik baca postingan Ulu ini... hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah Galih, kamu mah pasti gak akan suka film ini :D

      Delete
  19. Kalimat terakhir bikin saya cemburu. Tidaaaaakkk!!!

    ReplyDelete
  20. For all..

    Intinya sich jgn pernah samakan buku dan film, itu 2 medium.yg berbeda dan dinikmati dgn cara yg berbeda pula..

    Juga jgn pernah judge film dr review org lain, setidaknya review memanng membantu, tp tdk semua review membahas secara detail film dari mulai cerita, skenario, pemeranan hingga ke tataran teknis..

    Review ulu disini, saya sangat.suka banget, gayanya ngalir, jujur, dan memang menampakkan.kesan.penonton dgn.perspektifnya, tp.klo dijadikan dasar satu review ini sebagai alasan jadi atau.tidak jadi nonton, nampaknya kurang tepat, silakan terus.cari review yg lain
    tp klo saya sich, better nonton langsung d bioskop

    xixiixixo

    ReplyDelete
  21. hahaha ketawa baca review soal baju2 para pemainnya ;p.. tp film indo yg syutingnya di luarkan memang suka rada2 lebay mba :D.. tp aku setuju tuh kalo film ttg kuliah di LN gini, mbok ya diksh tau juga ttg pengalaman dan suasana sekolahnya ya... kan jd bikin kita pgn bisa sekolah ksana.. aku prnh nonton 1 serial drama ttg sekolah gini , kerjasama tv swasta Indonesia (SCTV kalo ga salah) ama TV di malaysia.. baguus.. judulnya collage. ceritanya juga ttg persahabatan mahasiswa/wi nya dr berbagai negara. tapi diselipin ttg sistem belajar di sana. dan gara2 itu aku ngotot pengen kuliah di Malaysia ;D..

    ReplyDelete
  22. Pas liat promo film ini aku heran liat warna-warna kostumnya. Ih jauh dari bayanganku hehe. Belum sempet nonton,euy. Daaan reviewnya Ulu keren. Jadi tipe cowok yang pengertian wanita itu? Ah sudahlah :D

    ReplyDelete