Minum Kopi Jangan Sambil Berlari, Kata Warkop Udin Wati

October 11, 2015
Pukul 10 malam. Mata saya sudah terasa begitu berat tapi mood menulis malah memuncak. Saya mau cerita. Seharusnya ini saya tulis beberapa hari kemarin setelah tanggal 7 Oktober. Tapi well yah...mood nulis.. halo? toktok! Yak baru munculnya sekarang :D 

Di hari Rabu tanggal 7 Oktober, saya mengundang dua teman baik saya, Faisal Nurdin (Iso) dan Dian Irawati (Dian). Keduanya adalah pemilik sebuah warung kopi di daerah Cimahi. Karena tema kopi sedang seksi, saya minta mereka bercerita tentang kopi dan usaha membangun warungnya kopinya tersebut.


Dian dan Iso menyambut ajakan saya. Sampai-sampai warung kopinya tutup dong demi datang ke Pasar Kutu :D Warungnya buka senin-sabtu pukul 15.00 - 21.00 sih. Sementara acara yang di Pasar Kutu ini jam 15.00 juga :D aheuheuheuheu. 

Warkop Udin Wati sendiri punya program namanya Konser Kopi. Semacam acara berbagi tentang kopi, seni mengopi, dan segala macam yang berhubungan dengan coffee business. 

Oiya, saya juga meminta tolong pada seorang teman bernama Ayu Wulandari yang saya biasa sapa dengan nama Kuke. Saya memintanya bernyanyi. Iya saya tahu. Keterlaluan dua kali. Pertama, merepotkan Dian dan Iso. Kedua, merepotkan Kuke. 

Tapi saya tahu satu hal. Dian dan Iso cinta kopi. Kuke senang bersenandung dan bergitar. Saya anggap saja diri saya ini sebagai makelar. Memberi tempat yang sedikit lebih ramai dan agak keluar dari zona nyaman mereka. Semoga memberi kesempatan lebih banyak buat Dian, Iso, dan Kuke nantinya. Kesempatan macam apa? Apa saja yang penting yang baik-baik.

Anyway, saya menyiapkan acara dengan judul Menyemai Warung Kopi di Pasar Kutu sebagai acara piknik. Begitu juga Dian yang sudah membawa kue Picnic Roll buatannya sendiri. Kan seru piknik di kebun pukul tiga sore di bawah langit yang berawan. Udah kebayang deh serunya.


Lalu apa yang terjadi? HUJAN. 

Saya mau nangis. Tapi menangisi hujan buat apa. Gak penting banget. 

Akhirnya acara dipindah ke dalam rumah saya. Dua tukang ngopi yang juga pesepeda ini gak keberatan. Gak disangka acaranya tetap hangat dan menyenangkan. Penuh tawa dan bikin betah. Pengunjung berdatangan. Memang tidak banyak, 15 orang saja kira-kira. 

Kuke yang sehari-harinya adalah fotografer dan penulis lepas ini membuka acaranya dengan menyanyikan lagu berjudul Sasmaya. Hujan masih bergemiricik di luar sana. Membelakangi jendela, Kuke mulai memetik Guitalelenya. 

Sore hari, hujan, petikan gitar mungil dan suara Kuke bernyanyi. Buat saya gabungan itu semua terasa sangat puitis sekali. Syahdu.


Terpukau dengan penampilan Kuke, saya gak motret juga gak merekamnya dalam bentuk video. Enak juga ya gak ribet dengan ponsel pas dengerin orang nyanyi secara langsung. Nikmatnya beda kalau kita sambil dengan jepret-jepret. Hehehe :D 

Giliran duo coffee lovers nih yang tampil. Segala macam teko dan perlengkapan menggiling dan menyaring kopi dikeluarkan. Istilahnya aneh-aneh. Saya bukan pecinta kopi sih, tapi suka wangi kopinya. Bayangin, hujan di luar sana masih berjatuhan dan wangi tanah bertebaran anggun. Ditambah aroma kopi yang hangat. Rumah saya udah kayak markas besar perkebunan kopi. Haha :D

Peserta yang datang dipersilakan mencoba kopi buatan Iso dan Dian. Kopi item, kopi susu, kopi yang asamnya terasa banget, kopi yang gak pake gula tapi anehnya gak pahit-pahit amat.  

Melihat cara mereka menyeduh minum hitam ini, minum kopi lama nyeduhnya ya. Saya gak ngomongin kopi instan. Ini kopi beneran. Menyeduh kopi bukan perkara mudah. Memilih biji kopi, menggiling, menyaring, menyiapkan air panas, diminum perlahan. "Minum kopi jangan sambil berlari," ujar Iso.

Saya suka merhatiin orang yang doyan kopi. Segelas kopi bisa bertahan sampai paling gak lima jam. Diseruput dikit-dikit di antara obrolan atau pekerjaan.

Kebayang deh ribetnya menikmati segelas kopi. Anehnya di dalam keribetan tersebut saya melihat rasa cinta. Suara kopi yang tergiling terdengar begitu menggairahkan, tetes demi tetes Vietnam Drip yang menggemaskan, desis air panas yang melarutkan bubuk kopi juga sangat mengundang selera. Merdu banget!

Mungkin gitu ya. Cinta tuh gak datang secepat pulsa masuk ke handphone kita. Pelan-pelan saja, ada caranya. Ada prosesnya. Terlalu cepat membuatnya malah jadi membosankan. Kurang tantangan. Kurang kenikmatan. Siapa yang sangka kalau nikmat itu datangnya dari proses yang pelan-pelan.


Ohiya, Warung Kopi Udin Wati milik Dian dan Iso telah berdiri selama hampir tiga tahun lamanya. Buat saya tahun hidupnya Warkop mereka terbilang lama, konsistensinya bagus. Daya tahannya teruji :D Lagipula warung yang mirip kios saking mungil ukurannya ini selalu penuh pengunjung. Setiap hari.

Sehabis seduh-seduh kopi, konten acaranya berlanjut dengan gimana sih caranya bikin warung kopi. Kalau kata Dian, mulainya dari yang kita suka dulu. Mereka sukanya kopi ya bukanya usaha perkopian. Wah setuju banget tuh. Kalau pun gak terjual, yang habisin kita-kita juga hahaha :D

Cuma orang suka lupa juga kalau habis suka terbitlah perjuangan. Warkop Udin Wati gak akan nyampe umur tahunan kalau mereka gak berjuang kan. Tidur lebih sedikit, begadang lebih banyak, rutin belanja kopi, melayani pembeli walo badan udah capek, penjualan gak mencapai target, dan sebagainya.

Seru! 

Saya ke Warkop Udin Wati baru beberapa kali saja. Dan memang terasa yah kalau orangnya suka sama objek yang mereka jual, hangatnya tuh menular ke pembeli. Mereka berdua gak terlihat sebagai orang yang sedang berjualan, tapi lagi bercerita. Jadi saya betah deh di sana (kalau gak banyak yang merokok hahaha :D memang rokok dan kopi ini bagaikan daun dengan batangnya. Nempel terus. Halah :D).

Ayo kapan-kapan kunjungi Warkop Udin Wati! Lokasinya gak biasa, tapi untuk sesuatu yang gak biasa itu teman-teman gak akan menyesal. Best time buat datang ke Warkop Udin Wati berdasarkan pengalaman saya sih sebelum pukul 18.00. Jam empat sore lah udah paling asoy. Karena kalau malam pasti penuh :D 

Menyenangkan berkumpul dengan teman-teman yang baik dan sangat kalem walau acaranya hampir berantakan karena hujan. Capek tapi karena senang jadi ada suntikan energi tambahan. Malam itu kayaknya bakal jadi salah satu malam yang terbaik dan saya simpan kenangannya lekat-lekat sepekat kopi hitam buatan Iso. 

Thanks, Iso dan Dian. 
Thanks, Kuke. 








Warkop Udin Wati bisa dilihat di Facebook dan Instagramnya. 
Kuke bisa didengar dan dibaca di Soundcloudnya dan Blognya. 


Thanks udah baca yak. 



Teks : Nurul Ulu
Foto & edit fotonya: Indragele
12 comments on "Minum Kopi Jangan Sambil Berlari, Kata Warkop Udin Wati"
  1. Kebayang deh kehangatan suasana sore itu :)
    Btw pernak-pernik peralatan bikin kopinya unik-unik, ya. Lucu-lucu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya unik :D saya juga baru tau. hehe. thanks ya udah komen di sini :)

      Delete
  2. itu tempatnya dimana mbak? bisa nih jadi pilihan tempat nongkrong kalo lagi di Bandung.
    Btw aku baru tahu ternyata minum kopi ada cara dan filosofinya :)
    sukses terus mbak Ulu, mbak Dian, mas Iso

    ReplyDelete
    Replies
    1. Di Cimahi, agak masuk2 ke dalem gitu, gak tepat di pinggir jalan raya utama. Wah makasih ya doanya :D good luck juga buat annisa :)

      Delete
  3. Aiìis kyk nama warung kopi di bukitttinggi

    ReplyDelete
    Replies
    1. weis samaan, kalo ada satu lagi bisa dapet piring cantik :D

      Delete
  4. Wah, kekeluargaan sekali sambil minum kopi :)

    ReplyDelete
  5. dari foto, kelihatan pertemanan yang hangat.
    mungkin efek kopi juga, jadi tampak hangat ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. pencitraan XD tapi pencitraan yang sesuai kenyataan, mba ratna hehehe :D

      Delete
  6. Duh, udah kebayang puitisnya suasana itu. Hujan, aroma tanah, aroma & kepulan asap kopi, & petikan gitar. Pasti syahdu & hangat banget... Btw, aku juga tukang ngopi (instan), jadi masih suka amazed sama dunia perkopian yg sesungguhnya :D.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah harusnya ikutan acara workshop kopinya ih XD hehehe

      Delete