Ini Dewi Sartika, Perintis Sekolah Khusus Perempuan di Bandung

April 20, 2014
Dewi Sartika lebih tegas, berani, dan berwibawa 
dalam membawakan dirinya yang kontroversial itu.
Sementara gadis-gadis sekarang bereaksi pada keadaan buruk 
dengan frustasi, amuk, pil ekstasi, atau begadang di diskotik. 
Bahan kontemplasi mereka tidak lebih dari majalah-majalah glamour 
yang akhirnya mendorong kepada kehidupan konsumtif.

-WS. Rendra-

Iya, bulan April ini semuanya tentang RA Kartini. Tanpa mengurangi hormat pada beliau, saya menulis tentang Dewi Sartika. Karena ini Bandung Diary. Bukan Jepara Diary atau Rembang Diary. Kartini atau Dewi Sartika, keduanya sama hebatnya. 

Dari kaya jadi tak punya apa-apa. Ada yang mau menampung pun sudah luar biasa. Begitu perjalanan Dewi Sartika kecil. Ayah dan kakeknya diasingkan pemerintah kolonial ke pulau Ternate karena dianggap memberontak. Ibunya turut serta. Dewi Sartika dan kakaknya terpencar, diasuh kerabatnya.



Kakak kandung ibunya menerima Dewi Sartika di rumahnya, di Cicalengka. Wilayah ini termasuk dalam Bandung timur. Sebelumnya beliau tinggal di pusat kota Bandung, dekat dengan Alun-alun. 

Ibarat duri dalam daging, Dewi Sartika dianggap menyusahkan. Anak pemberontak. Perlakuan yang beliau terima dari kerabatnya setara dengan abdi dalem alias pembantu.

Wanita yang lahir di Bandung 4 Desember 147 tahun lalu ini sempat mengenyam pendidikan yang baik. Sekolah Kelas Satu (Eerste Klasse Inlandsche School) di Bandung, sekolah khusus anak-anak Belanda dan priyayi. Namun tak lama ia menerima pendidikan formal ini karena kasus yang menimpa orang tuanya.

Di rumah baru, Dewi Sartika bergaul dengan abdi dalem yang tak bisa baca tulis. Beliau melakukan banyak pekerjaan yang pada zamannya tak layak dikerjakan oleh seorang menak, bangsawan seperti Dewi Sartika.

Menyapu, mengepel, memasak, mencuci, dan semua pekerjaan abdi dalem dilakukan tiap hari. Tidak ada keluhan. Tidak ada tangisan. Semuanya dilalui biasa saja. Pedih tapi berusaha menjalani hari-hari seperti apa adanya.

Agan Eni, istri keempat paman yang menampungnya, mengajar Dewi Sartika tentang tata hidup orang menak. Misalnya kepandaian bertutur, bertingkah laku, memasak makanan sehat, berdandan, dan semua hal yang harus wanita kuasai untuk menyenangkan suami.

Menjadi abdi dalem sekaligus menjalani hidup dengan status keturunan menak. Dua sisi yang tumbuh dalam jiwa Dewi Sartika.

Beranjak dewasa, Dewi Sartika yang pada waktu itu mempunyai nama panggilan ‘Uwi’, menolak lamaran dari kerabatnya sendiri. Anak dari istri ketiga pamannya. Kecewa sekali keluarga pamannya, tak sangka Dewi Sartika menolak pinangan anak mereka. 

Dewi Sartika merasa tertekan, antara utang budi dan ingin menjalani hidup yang dipilihnya sendiri, Dewi Sartika makin tak betah berada di Cicalengka.

Bersamaan dengan itu, terkirim kabar ayahnya wafat di tanah pengasingan. Ibunya, kembali ke tanah sunda. Dia kini ada di rumahnya yang lama, di kota Bandung. Tak berpikir lama, Uwi mengepak barang-barangnya dan meninggalkan rumah pamannya. Tanpa pamit, ia kembali pada ibunya di kota. 

Dewi Sartika, yang tumbuh dipaksa menjadi dewasa oleh takdir, melihat dan memperhatikan banyak situasi. Meski tak sekolah, tapi daya analisanya bekerja dengan baik. Mengapa begini. Mengapa begitu. Banyak pertanyaan yang ia ingin cari sendiri jawabannya.

Termasuk berkaca pada Ibunya. Saat ibunya memilih ikut dengan ayahnya ke Pulau Ternate, ada kekecewaan besar pada Uwi Kecil. Mengapa dirinya tak diajak? Mengapa ibu meninggalkannya?

Dewi Sartika melihat ketergantungan luar biasa Sang Ibu pada ayahnya. Ia juga mengamati tingkah polah istri-istri Pamannya. Pasrah dan nrimo apa yang suami inginkan. Tak ada komunikasi. Tak ada kompromi. Semua berjalan atas dasar titah maharaja bernama suami.

Tak hanya kaum menak, banyak ketidakadilan yang beliau amati di lingkungan abdi dalem. Tak satupun dari mereka yang bisa baca tulis. Mudah tertipu, gampang diperdaya. Darisitulah ia berpikir: perempuan harus sanggup berdiri sendiri, mandiri, ada atau tanpa suami. Kuncinya ada pada pendidikan. 

Baca juga bagian keduanya : Hening Cipta Untuk RA Dewi Sartika





Last but not least:
1. Foto-foto ini dijepret dalam acara jalan-jalan komunitas sejarah bernama Aleut. Tema jalan-jalannya Ngaleut (menyusuri) jejak Dewi Sartika di Bandung, Mei 2011. Fotografer: Yandi Dephol

2. Tulisan ini dibuat berdasarkan buku biografi Raden Dewi Sartika Sang Perintis karya Yan Daryono

3. Kutipan-kutipan WS. Rendra yang saya cantumkan, saya ambil dari kata pengantar beliau dalam Buku Biografi Raden Dewi Sartika Sang Perintis.

4. Tulisan lanjutannya klik di sini. 
9 comments on "Ini Dewi Sartika, Perintis Sekolah Khusus Perempuan di Bandung"
  1. Ah Mak Nurul, selalu bikin aku malu. Aku gak tahu banyak soal Bandung, padahal orang Bandung asli. Harus banyak belajar darimu nih. TFS, Maaaak. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Heuheu ini mah hasil baca biografinya aja teh Nia. Dibanding tulisan2 teh Nia mah punya saya masih jauh huhuhu.

      Delete
  2. Baru dengar cerita lebih dalam tentang Dewi Sartika. Makasih ya, Mak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama. Saya juga jadi taunya setelah baca biografi beliau. heheh

      Delete
  3. saya baru tahu kisahnya. terima kasih tulisannya mbak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halow, Linda. Iya sama-sama ya, makasih udah (mau) baca hehehe

      Delete
  4. Sosok perempuan hebat Indonesia, cikal bakal lahirnya wanita-wanita modern dan emansipasi wanita. Semoga kisah dan perjuangannya bisa menjadi panutan dan inspirasi yang baik bagi wanita Indonesia

    ReplyDelete
  5. Salam kenal, perkenalkan saya Doddi AF, Panembahan Sekolah Kewajaran Bersikap, kami bermaksud memperingati 130 RD Dewi Sartika, senang rasanya bila dapat menerima informasi yg lebih rinci mengenai Ibu Dewi Sartika.
    doddi.fauji@gmail.com

    ReplyDelete
  6. Ih keren banget ya Bu Dewi Sartika. Sama kayak teh Nia, malu sama Ulu yang lebih mudeng soal Bandung hehehe

    ReplyDelete