Hari 4: Omo Oppa Saranghaeyo Jebal Ottoke Endaseeeee!

October 17, 2020

Korban korean wave ya saya ini contohnya. Memulai debut karir sebagai penonton drama korea sejak Maret 2020, saya telah melahap paling tidak 35 judul kdrama. Minus di mata bertambah, angka silindris makin membesar. Disertai migrain tak berkesudahan, mulai bulan Oktober ini saya mengurangi adat nonton drama-drama korea. 


Indra terkaget-kaget waktu kubilang ingin ke Korea Selatan. Serius? dia tanya begitu. 


foto pinjam dari kompas.com


Di umur yang gak lagi muda-muda amat kupikir gak ada hal-hal baru yang bakal kusukai. Nyatanya kita bisa suka apa saja di umur berapa saja. Mungkin sebuah konteks bisa jadi alasan mengapa. Tapi sudahlah dinikmati saja ketimbang cari-cari alasan dan menceritakannya ke orang-orang. 


Saya pengen menumpang komuternya Seoul. Pengen makan jajangmyeon. Ingin ikutan masak kimchi di rumah-rumah pinggir laut. Keluar masuk kawasan kunonya. Berkunjung ke GyeongBok. Berada di perbatasan korut dan korsel. Mengintip Jeju. Minum soju juga bisa.


Beneran lho ya, korona udahan kita ke korea selatan? 


Iya, iyaaaa! jawab Indra, seolah-olah saja Bandung - Korea Selatan itu bagaikan Bandung - Sumedang. Haha. 


Di antara candaan main ke korea itu, saya selipkan keinginan pulang ke kampung halaman selama satu bulan dan belajar masak menu-menu khas ke Yayu Mas dan Bu Eli, belanja ke pasar, dan menuliskannya dalam sebuah jurnal. Keinginan yang ini bukan candaan. 


Entah yang saya pengenin benar atau guyon saja, kuharap semuanya dapat terwujud. 

Post Comment
Post a Comment