Hari 3: Sarapan Dulu, Kata Ibu

October 16, 2020

Adikku banyak. Ibuku anaknya banyak. Indikator anak terlalu banyak itu begini kira-kira: saat ibuku merintis karir jadi dosen di kampus kabupaten, ia diminta mundur. 


Yha itu, gara-gara hamil dan cuti melulu. Ibuku cerita begitu. Kampus edan dasar! 


foto dipinjam dari Bobo


Perempuan selalu dihadapkan pada kondisi sulit. Ingin sekolah lagi, dituntut menikah. Sudah menikah, ingin mengejar karir dituntut punya anak. Anak sudah ada, si ibu ingin kembali sekolah eh uangnya bagaimana. Uang gak jadi halangan, bagaimana bila punya anak lagi. Lahir anak ke dua, si ibu pengen kerja lagi. Lantas bagaimana caranya membagi waktu dan perhatian untuk si anak (dan suami?). 


Menjadi dewasa dan mengambil banyak keputusan sulit memang menyebalkan. Entah mengapa begitu banyak yang ingin lekas jadi dewasa. Menjadi dewasa dan perempuan, tentu lebih menyulitkan lagi. 


Eh kenapa saya melantur toh. Kan mau cerita sarapan. 


Begini. Ibuku gak patah arang dalam merintis karir di luar rumah. Maklumlah, ibu mertuaku gak senang lihat menantunya gak bekerja. Kebengisan nenekku pada ibuku baru kupahami setelah saya menikah dan jadi ibu. Kalau ada lomba yang merebutkan medali emas 1000 karat dalam perlombaan kategori menantu terbaik, ibuku yang pasti bawa pulang medalinya. 


Sampai di mana tadi? karir. 


Dalam kondisi harus bekerja senin-sabtu, ibuku adalah pahlawan gizi, jenderalnya meja makan. Kami anak-anaknya gak ada satupun yang boleh absen dari meja makan di pagi hari. Semua wajib makan pagi sebelum berangkat ke sekolah. w-a-j-i-b. 


Seporsi nasi, tempe goreng, dan telor dadar. Itu-itu saja sarapannya. Ternyata cukup-cukup aja ya buat memenuhi gizi pagi hari ala anak kampung kayak saya. 


Kupikir kebiasaan tersebut gak istimewa. Apa bagusnya makan pagi? 


Lantas saat kuliah saya pindah kota. Kebiasaan makan pagi tidak terjadi di tempatku tinggal. Rasanya merana perut tidak terisi nasi pukul tujuh pagi. Berinteraksi dengan banyak orang menyadarkanku satu hal. Tidak ada satupun dari kami (seluruh anggota keluarga) menderita sakit maag. Badan sehat, fokus bagus, lambung ceria. 


Karenanya saya sering bingung di bangku kuliah dulu, mengapa ada yang seusiaku kena penyakit nyeri lambung. 


Selain tidak pernah melewatkan waktu makan pagi, di rumah ibuku gak sering menyajikan sambal. Hasilnya kami bukan penyembah cabai. Sementara teman-teman di sekelilingku (begitupun kerabat), makan sambal seperti minum air. 


Sarapan. Tidak makan sambal. Ibuku berhasil memelihara lambung anak-anaknya. Seperti ayahku yang berhasil mempertontonkan hidup tanpa rokok dan mempengaruhiku dalam mencari suami yang bukan perokok, maka ibuku adalah dewinya kedisiplinan sarapan. 


Sekarang saya ngerti kenapa perasaan bersalah selalu muncul ketika saya gagal menyiapkan sarapan untuk kubil sebelum jam tujuh pagi. 


Post Comment
Post a Comment