Hari 2: Teladan Adalah Kita

October 14, 2020

Indra bilang saya berubah jadi monster kalau telat makan. Uring-uringan, muka cemberut, senggol bacok. Apa kamu juga begitu? 


Makin bertambah usia, kebiasaan teladan (telat makan edan) kian membabi buta. Telat sedikit saja, lambung memberontak, amarah murka. Wah kacau. Kupikir bagaimana mereka yang terbiasa kelaparan, apakah terbiasa juga dengan angkara? 


Duh ngeri sekali membayangkan diri ini kelaparan dan mudah marah. Kedamaian ternyata asalnya dari apa-apa yang berasa cukup. Cukup kenyangnya, cukup uangnya. 


foto dipinjam dari Lonely Planet

Ya bukankah untuk makan juga perlu uang? 


Oh maaf saya orang kota. Kebiasaan apa-apa diukur dengan uang. Bagaimana dengan kamu yang di desa? apakah uang masih jadi ukuran bisa hidup atau sengsara? 


Kucoba menanam sayuran di rumah. Ada sawi, kangkung, bayam. Dedaunan pun ada telang, sambung nyawa, mint. Ikan ada banyak wong saya bisnisnya dagang ikan. Dengan yang ada itu semua, mengapa saya masih mencari-cari makanan yang lain ya. 


Indra ingin memelihara ayam. Kami pernah punya beberapa ayam. Ada yang mati dicokok curut. Ada yang mati di tangan kami, berubah jadi ayam goreng-ayam opor-ayam tepung. Satu hal yang tidak saya sukai dari DIY makanan adalah menyembelih ayam. Kalau ikan saya masih sanggup entah mengapa. 


Pengalaman memotong urat leher ayam membuatku takut punya ayam lagi. Apa ini yang dialami teman-teman penganut vegetarian? 


Ah tapi gak lantas saya berubah agama dalam hal makan-makan. Saya masih suka daging ayam, ikan, sapi, kelinci. Masih sewajarnya aja sama seperti orang kebanyakan. Satu hal yang penting ya itu saja: jangan telat makan, sebab kalo telat nanti edannya kambuh. Teladan, telat makan edan. 


Post Comment
Post a Comment