Hari 1: Haruskah Aku Berkonfrontir?

October 11, 2020

Jam 9 pagi waktu itu. Saya belum makan. Saya pergi ke Alfamart. Beli makanan di sana. Saat mau antre, seorang ibu setengah baya berdiri di depanku dengan gestur meragukan. "Ibu sedang antre?" tanyaku memastikan. Ia menggeleng. 


Saya melewatinya dan berdiri nomor 2 dalam antrean. Sembari nunggu orang di depanku menyelesaikan transaksinya yang terasa agak lama, saya terbatuk-batuk. Gak tahu mengapa saya batuk padahal sedang gak sakit batuk. 


"Uhuk ehmmmm" tuh kan batuk lagi. Si Kasir melirikku, agak tajam sepertinya. 


Lantas si Ibu tadi tiba-tiba berdiri menyamping tepat di meja kasir. Saat giliranku tiba, si Kasir menegurku, katanya saya sebaiknya antre. Ia mendahulukan si Ibu. 


Dalam kondisi lapar, darah dalam tubuh cepat mendidihnya kalau disenggol. Hahaha. Ibu itu sedang gak antre, saya yang antre. 


Foto pinjam dari pixabay

Namun begitulah. Si Ibu manut saja didahulukan oleh kasir alfamart. Mengapa kebodohan mengalahkan yang benar?  


Saat giliranku tiba, saya ingin balas dendam pada si Kasir. Dia tidak menggunakan maskernya dengan baik. Apakah saya tegur saja? 


Kutahan-tahan keinginan mulutku bicara dengan amarah. Sabar, Ulu. Kamu sedang lapar saja makanya ngambek. Begitu hatiku yang bicara. 


Si Kasir selamat dari omelanku. Saya juga menyelamatkan energi diri sendiri. Untuk apa saya merasa menang untuk hal-hal kayak gitu. Namun anehnya pagi itu saya merasa menang: saya bertanya pada si Ibu, saya antre, saya diserobot, saya tidak balas dendam.


Lama hari-hari berlalu. Saya masuk ke toko alfamart yang sama, sore hari. Kali ini dengan si Kubil, anak saya. 


Lagi-lagi terjadi. Antreanku diserobot ibu-ibu. Kali ini ibu yang lain. Dia bersama anaknya, jajan satu es krim. Anaknya merengek ingin es krimnya cepat dibayar. Si Ibu menuruti anaknya. Itu namanya goblok, Ibuuuuu! 


BUIBU PAKBAPAK JANGAN MENURUTI KEMAUAN ANAK MELULU DOOONGGG TOLONG! 


Si Ibu ingin menyela antreanku. Kubil yang ada di meja kasir bersamaku mengirim gestur kalo "mah, masa ibu itu gak antre?! dia mau nyerobot antrean kita!"


Posisiku terjepit. Haruskah saya konfrontir si Ibu? Saya gak keberatan si Ibu menyela antrean, tapi saya harus kasih contoh ke Kubil. Bahwa kalo belanja harus antre. Bahwa belanjaan kamu satu macam atau sembilan, kamu harus tetap antre. Kamu boleh sela antrean kalo kondisi darurat, misalnya kamu cepirit dan butuh ambil tisu basah. Kamu jatuh dari motor dan kesakitan butuh betadine. 


Namun si Ibu tadi dan anaknya gak dalam kondisi darurat. 


Si Kasir hendak menghitung harga es krim. Saya memotongnya. "Saya antre duluan," saya melirik Kubil. Dia memperhatikan. 


"Bu, belanja satu atau sepuluh macem, tetep aja harus antre" kataku pada si Ibu. Mas-mas Kasir yang dulu menegurku -karena dia pikir saya gak antre- melihatku. Lirikannya gak lagi tajam. Saya balik menatapnya. Apa kamu akan menolongku? tanyaku dalam hati padanya. Mana kamu yang dulu teguh pada aturan? tanyaku padanya tanpa bicara. Hahaha. Momen yang aneh. 


Si Ibu ngambek. Bodo amat, pikirku. Saya males berkonfrontir begini sebenarnya. Namun anak saya menonton itu semua kupikir inilah masa-masa di mana dia memperhatikan, apakah saya mempraktekkan apa-apa yang saya ajarkan padanya.


Hah. 


Transaksi hampir beres. "400 rupiahnya boleh didonasikan?" tanya Kasir. Biasanya saya tolak, tapi sudah cukuplah saya bikin adegan di meja kasir sore itu. 


Post Comment
Post a Comment