Kemping di Bangbayang, Trekking ke Curug Cikidang

March 23, 2019
Malam itu yang saya khawatirkan adalah asap rokok. Bukan hanya kami berenam yang tidur di dalam tenda. Ada dua tenda lainnya, diisi remaja-remaja desa yang mencari hiburan, di malam minggu.

Kami bertiga piknik ke desa di puncak bukit. Hampir 100 km dari kota Bandung. Letaknya di Desa Bangbayang Situraja, Kabupaten Sumedang. Dari jalan utama saja, jarak ke desa itu kira-kira 10 km.


Menuju ke sana melewati perbukitan. Jalannya horor. Bukan ada kuntilanak dan pocong, tapi tanjakan dan tikungannya itu lho.. Tanjakan panjang, abis itu jalannya nikung sambil nanjak pula!

Kalo kamu pernah ke Bromo, nah menuju Bangbayang mirip di sana kontur jalannya.

Kami bertiga, Kang Ichsan, dan Teh Mima, tidur di tenda yang berbeda. Nuhun buat Kang Ichsan yang minjemin tendanya pada kami :)

Malam di Bangbayang dan Makan Pohpohan

Jadi, teman kuliah Indra berkebun tanaman kopi di Bangbayang. Melihat potensi alam desanya, ia mengajak teman-temannya datang ke kampung itu. Gak mau maju sendiri, ia ingin melibatkan warga desa mengolah wisata Bangbayang.

Kang Asep nama temannya Indra itu. Waktu ke Jatigede, saya ikut tur buatan Kang Asep juga. Sok dibaca tulisan saya tentang jatigede di sini.

Kesan pertama mendapati pemandangan Bangbayang, indah sekali memang. Sejauh mata memandang hanya ada pucuk-pucuk bukit. Entah saya berada di ketinggian berapa. Di google map katanya 700anmdpl. Sama kayak Bandung.

Tapi sore itu hangat aja hawanya. Baru terasa dingin di atas jam 10 malam. 

Jam 6 sore kabut berdatangan. Udara mulai sejuk. Teh Mima mengenakan jaket. Tenda kami sudah berdiri. Alat pembakaran stand by, di atasnya ada ubi, jagung, ikan tenggiri, dan segelas kopi milik Kang Ichsan.

Kami juga ngemil jajanan Bangbayang. Kang Asep nampaknya mengundang warga untuk jualan di tepi lapangan. Ada cimol segala.

Highlight dari camilan di Bangbayang adalah keripik pisang. Terbuat dari Pisang Ro’ib. Rasanya manis banget, padahal gak pake gula sama sekali. Enak! 

Ada lagi namanya Sate Iwung, terbuat dari rebung. Pas dimakan, teksturnya seperti kol. Rasanya gimana? wuenak! Sate rebungnya dibumbuin sambal kacang. Pedasnya aja yang bikin gak kuat :D

Juga ada kopi Bangbayang. Biji kopi dari perkebunan setempat. Robusta kalo gak salah. Kami gak minum kopinya, Teh Mima dan Kang Ichsan yang minum. Rasanya gak tahu gimana, saya lupa nanya. Heuheu. 

Bila ada hal yang saya sayangkan di sini, itu adalah plastik sebagai kemasan. Dengan suplai berbahan alami di sekitar mereka, menggunakan kemasan daun (atau sejenisnya) pasti lebih bagus. Baik itu nilai jualnya, maupun dampak ekologinya.

Malam itu, Kang Asep menyuguhkan kami makanan besar berupa Nasi Liwet, Pepes Ikan, Asin, Sambal, daun singkong rebus, dan Pohpohan. Tapi itu terjadi jam setengah sepuluh malam.

Kami sudah isi perut duluan sehabis Magrib. Whehehehe. Dan tetap ikut makan besar juga hehehehe. Nikmatnya haduh jangan ditanya. Juaranya kombinasi ikan asin, sambal, dan pohpohan yang terasa begitu segar!

Malam itu kami adalah manusia blasteran kambing, makan nasi berkali-kali, makan daun lebih banyak lagi. Whehehe.

Rupanya bukan isu perngududan yang harus saya cemaskan. Gak ada bau asap rokok malahan. Tapi abg-abg tetangga kemping bernyanyi semalaman, memetik gitar. Berisiknya membuat susah tidur. Tenda mereka persis di sebelah kami.

Kubil tertidur pulas sejak ia masuk ke sleeping bag. Sementara saya dan Indra, susah payah biar merem. Wekekekek. Niat hati mau tidur diiringi suara alam. Daun yang bergesekan, tonggeret yang bernyanyi, hening yang syahdu. Boro-boro. Hahaha. Malah denger lagunya Armada dkk.

Tapi saya ingat saya sanggup tidur kok. Gak nyenyak tapi cukup enak dan bangun dengan perasaan senang. Karena pas buka tenda, di depan saya bukan pemandangan sehari-sehari kalo saya bangun tidur.

Ada tebing dan hutannya, lapangan bola (ya kali wekekekek), dan bekas api unggun. Kabut tipis mengudara. Udara segar berkuasa. 

Pagi di Bangbayang,  Trekking Melihat Puncak Tampomas

Kang Asep mengajak kami trekking. Lihat puncak Gunung Tampomas, katanya. Kami berpapasan dengan petani penyadap getah pohon pinus, terlihat bahan baku tersebut jadi tulang punggung warga selain gula aren dan sapu ijuk/uyun. 

Di sini nih permainan baru dimulai. Permainan yang menyadarkan saya dan Indra, bahwa kami kelamaan di kota, gak pernah olahraga, dan bobot badan udah kelebihan. Aheuheheu. 

Sebuah permainan yang 'menukar' kaki-kaki pegal kami dengan panorama alam pegunungan yang memukau.


Kubil ikut trekking enggak? Ikut dong :D 

Berbeda dengan kami yang kepayahan trekking, anak cerewet itu malah kayak kijang. Gak ada capek. Gak ada bete. Salut juga saya sama dia. Menerjang trek-trek terjal dan ekstrim gak ada keraguan sama sekali. Emang saya dan Indra bikin dia senang terus sih, kalo enggak wadoohhhh gawat hahahaha.

Di balik anak yang senang jalan kaki di galengan sawah dengan jurang di sisi kirinya, ada orang tuanya kepayahan hahahaha. Capeknya tiga kali lipat memang kalo hiking dengan anak kecil.

Gak apa-apa. Kami berdua senang sekali bisa kasih Kubil pengalaman baru. Mudah-mudahan kamu inget pengalaman kita hiking di Bangbayang sampai tua nanti, Bil.

Dua kali melewati sungai berbatu-batu kali, Kubil juga main air melulu. Terus terang aja, ketemu air kayak gini membuat kondisi saya segar lagi. Capek dan lesunya berkurang. Bukan cuma kaki dicelup ke sungainya, saya juga cuci muka. Hahaha. Gak ada orang mah saya mandi juga nih.

Airnya itu lho, bening, mengalir jernih, dan merontokkan perasaan-perasaan negatif. Pantes ya orang zaman dahulu terlihat damai, kalem, tenang, pasrah. Sehari-hari bersentuhan dengan air kayak gitu.

Menuju Curug Cikidang

Di sinilah saya ketemu pemukiman, Desa Bangbayang. Rumah yang dikepung perbukitan. Terpencil, jauh dari mana-mana. 

Rumah-rumah di sini kombinasi tradisional dan modern. Terlihat banyak bekas rumah panggung. Lantai kayu berganti keramik. Kayu bakar menumpuk di sisi rumah. Sepertinya saya harus menginap lagi di Bangbayang, menginap di rumah warga.

Untuk apa kayu-kayu itu, untuk masak kali ya? Jadi ingin lihat dapur rumahnya. Di kampung kayak gini mah masih bisa siduru kali ya.


Di belakang kampung mungil padat rumah itu, ada sungai besar. Lebar sekali. Di sungai ke-dua itulah kami main air lagi. Halaman belakang yang mengasyikkan. Sungai yang airnya jernih, perbukitan, pepohonan. Apa dulu Citarum kayak gini bentuknya? Bagaimana dengan sungai di Bandung itu, Cikapundung?

Sungai diterjang, kami pergi menuju Curug Cikidang.

Woh meski gak besar, air terjunnya eksotis! Bener-bener kayak mandi dibanjur shower. Shower raksasa. Saya juga ikutan dong kena airnya tipis-tipis. Kubil mah jangan ditanya, basah sebadan-badan! 

Di sini terasa bukan cuma perasaan buruk dalam hati yang terhempas air. Tapi dosa-dosa juga rasanya ikut hanyut. Segar airnya tuh masuk ke relung hati. Terasa damai.

Apa begini rasanya jadi pertapa? Mandi membersihkan diri dari dosa, dari rumitnya perkara dunia.

Saat kembali ke tenda, saya copot baju kubil dan menggantinya dengan raincoat, karena cuma itu yang ada di tas.  Heuheu. Sungguh pengalaman trekking yang menguji mental. Mental sebagai orang tua, tentu saja. Lain-lainnya sih gak ada masalah.

Sebelum pulang, kami makan lagi. Kali ini disuguhkan belalang goreng. Simeut nama makanannya. Renyah dan gurih, seperti makan udang goreng. Daun Pohpohan gak ada. Adanya daun singkong rebus.

Pulang ke Bandung, kami membawa setumpuk pakaian kotor dan otot-otot yang siap tegang esok hari. Benar saja, bangun tidur, sebadan-badan sakit semua. Kata Indra jangan diam aja. Justru badan harus tetap bergerak supaya ototnya mengendur dan sakitnya hilang. Alamak!

Wisata ke Bangbayang, Daftarnya ke Mana? 

Lebih tepatnya ke siapa. Ke Kang Asep aja. Nih nomor kontaknya: 0812.939.7391. Ini websitenya: Kampung Bangbayang.

Kalo diperhatikan lagi, trek di Bangbayang ramah buat keluarga. Tinggal atur-atur ambil jalurnya ke mana. 

Nah kalo kamu adventure junkie, bhahahahak di sana cocok banget! Seneng bersepeda di tanjakan dan turunan, ada semua di Bangbayang. Minta aja jalur-jalur ekstrim, pasti dikasih. Pemandangan mah jangan ditanya, indah sekali :)

Kalo mau kemping, toiletnya bagaimana? Ada dong. Bukan yang ideal seperti di rumah kita, tapi masih okelah. Gak ada komplen kalo saya mah. 




Kubil dan Kang Ichsan

Teh Mima dan saya :D
Dipoto Kang Ichsan



Dipotoin Kang Ichsan



3 comments on "Kemping di Bangbayang, Trekking ke Curug Cikidang"
  1. seger banget sih ... asik jalan2 begini.

    ReplyDelete
  2. Mantaaap pengalamannya. Kebayang aku ikut trekking beginian. Jangan-jangan badan juga tegang semua keesokan harinya.

    ReplyDelete
  3. syahdu damai...perjalanan yang sepertinya membuat mood kembali full.
    anyway aku belum pernah nyoba sate rebung. coba deh cari resepnya, soalnya di pekalongan punya pohon bambu, rebungnya paling biasa disop atau dibuat urap

    ReplyDelete