Jalan Kaki Tujuh Kilometer (Bromo Trip Story 3)

February 10, 2019
Gini ya, kalo umur kamu kepala tiga dan gak pernah (ulangi: GAK PERNAH) olahraga, doyan makan indomie, gak bisa hidup tanpa nasi, maka ini tips terbaik bila ingin menggapai puncak Bromo: sewa kuda.

Hanya 3,5 km jarak dari parkiran jeep ke Puncak Bromo. Tapi jalannya gak santai. Bukan hanya debu dan tahi kering kuda beterbangan, namanya jalan ke puncak pasti nanjak. Sebuah fakta yang saya abaikan. Wk.

Puncak Bromo adalah tujuan terakhir dalam susunan perjalanan kami di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.



Farah dan saya berunding cepat. Keputusan kami begini. anak-anak ikut jalan kaki bentar sampe tanjakan yang nyusahin. Lantas kami sewa kuda. Anak-anak naik kuda. Kami berdua jalan kaki.

Beneran nih jalan kaki aja? bisik saya dalam hati pada diri sendiri. Orang yang jalan kaki ada banyak gak hanya kami. Kalau mereka bisa, kami juga dong.

Begitulah prinsip bego kami. Wkwkwkwkwk.

Jadilah itu 3,5 kilometer terpanjang dalam hidup saya! Setelah pendakian ke Gunung Lawu dan tersesat di Jayagiri, mencapai Puncak Bromo adalah pencapaian membanggakan yang terjadi dalam sejarah hidup saya nih hahahaha.

Saya dan Farah tadinya jalan beriringan. Pas di bagian nanjak-nanjak mah kami terpisah jauuuhhh sekali hahaha. Ada kali 500 m. Saya di depan, Farah terseok-seok di belakang.

Namun benar kalo ada yang bilang, jalan kaki membuat kita melihat lebih dekat. Benar sekali.

Jalan yang tadinya datar, pelan-pelan menanjak konturnya. Sepertinya saya menaiki bongkahan bekas lava. Sulur-sulur bekas lavanya terlihat jelas sekali. Eksotis luar biasa.

Makin tinggi dataran, saya berbalik dan menyaksikan panorama di bawah sana. Mata menyapu semua lanskap taman nasional ini. Pemandangan makin indah. Luar biasa fantastis. Eksotis. Saturasi warna langit yang biru sempurna, hitam abu-abu dari pasir Bromo, hijau-hijau pepohonan di atas tebing, dan Pura Luhur Poten yang menambah aroma sakral.



Duh Ya Allah makasih udah bawa saya ke sini.

Namun di Puncak Bromo, saya kecewa di sana. Segala daya dikerahkan meniti tanjakan dan ratusan tangga, begitu sampai di bibir kawah ada banyak sampah di tebingnya. Pagar pembatas rusak.

Sudah begini saja? dalam hati saya bilang. Untuk semua keagungan yang saya saksikan selama perjalanan ini, begini saja akhirnya?

Di puncak itu saya bertiga dengan Nabil dan Byan. Keduanya masih kecil-kecil dan tenaga masih penuh. Saya ajak mereka turun saja. Loncat-loncat mereka, bisa terjun bebas ke kawah Bromo. Duh ngilu-ngilu kaki ini. Bila pagar pembatas utuh, kayaknya saya gak akan separno itu sih.

Saya yang berlebihan atau wajar kalo kecewa gak sih?

Mulai dari bau pesing di mulut tangga, tangga yang gak kerawat, lantas pagar pembatas yang putus-putus, sampah bertebaran di tebing kawah.

Perjalanan yang antiklimaks. Masih menyenangkan memang.

Seperti biasa kalo dalam perjalanan pulang, ada perasaan sentimentil yang bermunculan. Ya senang, ya sedih, ya kecewa, juga ada perasaan asing di antara itu semua. Tidak sampai 24 jam saya ada di taman nasional ini dan karenanya rasanya asing aja gitu.

Di dalam jeep, saya melihat Bromo dari jendela belakang. Pertunjukan wisata alam selesai. Kami berpamitan dalam hati.

Selesai.

3 comments on "Jalan Kaki Tujuh Kilometer (Bromo Trip Story 3)"
  1. Aku pas di Bromo malah asyik duduk di warung sambil makan Mie Rebus hahahahahha

    ReplyDelete
  2. aq naik kuda mbak dari pura sampe bawah kawah, tapi naik kuda juga syerem karena jalanannya naik turun, hahaha, ku takut jatuh terjerambab...

    dan emang sih pengamanan di puncak kawah jauuuuh banget dari yang diharapkan padahal bagus luar biasa pemandangannya

    ReplyDelete
  3. Baca cerita ini hati saya berasa bubur diaduk, eh maksud saya hati kayak diaduk.

    Bodor lah dari cerita pembuka sampe cerita disuguhi tahi kuda. Jujur belum pernah ke Bromo, tapi jelas terbayang di mata. Perjalanan anti klimaks, saya juga euy jadi ngelus dada.

    Minimal kalo ke sana, saya yang ngerasa setrong mungkin bakal milih berkuda. Hehehe.

    ReplyDelete