Perempuan yang Menjual Ikan di Instagram

February 27, 2019
Empat tahun menjalani bisnis, belum pernah penjualan yang saya alami semoncer itu sejak ada Instagram. Saya gak sendiri. Bila kamu pelaku usaha kecil dan terhubung ke internet, pasti mengalami hal yang sama: terbantu media sosial.

Sebentar saya cerita dulu. Nama saya Nurul Ulu dan saya pengusaha di bidang perikanan. Mulanya saya merintis sebuah rumah makan. Eh bukan sebuah, tapi dua buah. Butuh 1,5 tahun rumah makannya bertahan, lalu saya bangkrut dan tiga bulan depresi. Hahaha.

Berusaha bangkit, alih-alih membuat lamaran dan memasukkannya ke berbagai perusahaan (sempat saya lakukan, fyi :D), saya cari tahu cara kembali ke bisnis yang sama. Terjawab sudah, yaitu berjualan secara digital.

Mulai cek sisa uang. Lalu riset produk. Membuat target pasar. Mencari kemasan yang cocok. Mengontak desainer yang juga teman sendiri. Lahirlah produk ini: Fish Express. 



Merintis Fish Express, Berbekal Instagram

Pendek cerita, saya merombak dan mengemas ulang produk perikanan di rumah makan saya yang dahulu dan menjualnya online. Di Facebook dan Instagram. Saat itu, tahun 2015, Facebook masih ramai usernya berbagai usia, sementara Instagram baru masuk hypenya.

Kenapa tidak ganti produk? Restoran saya tutup karena harga sewa yang mencekik. Bila produknya laku, pasti ada 'sesuatu' di sana. Makanya saya bersikukuh dengan produk yang itu-itu juga. Hanya sedikit perombakan dan branding ulang. 

Sampai sekarang, saya masih ingat lima orang pertama yang membeli produknya. Satu orang teman yang doyan memasak, menulis di blog, dan  gemar fotografi, saya gunakan jasanya untuk promosi. Juga dua orang yang memarahi saya, barang yang ia terima dalam keadaan rusak.

Begitulah bisnis saya berjalan selama 1,5 tahun pertama. Sepi namun tetap ditekuni.

Pertengahan tahun 2017, mengandalkan media sosial untuk berjualan, jika mengamati konsumen usia target produk saya, Facebook bukan tempatnya. Tapi di Instagram. Di sinilah saya mulai serius menggenggam internet.  Dimulai dengan mengurus akun di Instagram. 

Sejak itu penjualan meningkat. Berkat apa coba tebak, kawan-kawan? Endorsement selebgram! Wow ke mana saja saya selama ini! Bisnis lain sudah meng-endorsement banyak selebgram, saya kok baru mulai.

Di tahun tersebut, bukan hanya endorsement, tapi saya memberanikan diri jadi sponsor sebuah acara. Tentu saja saya amati dulu profil acaranya, cocok dengan profil pembeli saya tidak. 

Berbekal menyasar selebgram dan acara yang target pasarnya sama dengan konsumen produk saya, memupuk Instagram jadi menyenangkan. Followers bertambah banyak. Aplikasi Whatsapp saya sering bekerja. Biasanya sepi. Boleh follow akun Fish Express di @fishexpress_id.

Ini tahun 2019 dan penjualan saya sudah tembus 5x lipat sejak dulu saya memulainya. Berkat media sosial! Entah bagaimana bila tidak ada Instagram. Media sosial ibarat tanaman, ia harus saya pupuk terus. Dikelola terus. Diperbarui terus. 


Pengguna internet di Indonesia masih akan bertambah tiap tahun. Tahun ini tercatat ada 128 juta orang terhubung ke internet. Tidak hanya negara kita, satu dunia ini manusia yang menggunakan smartphone dan aktif secara online jumlahnya naik terus. Sebuah peluang bisnis bila lini dagangmu pasarnya global, bukan?

Bila merujuk pada data-data berikut ini, saya dan Fish Express ada di jalan yang benar. Jika ambil contoh, dengan target usia pasar produk saya, ambil angka 1% saja dari 128 juta user internet tersebut, maka penjualan saya tembus angka RP2,5 milyar! 

Tapi belum, itu contoh saja (dan bagus untuk diaminkan :D). Kita lihat, memang datanya bagaimana?

Saat merancang target pasar, saya melirik orang usia produktif, ibu-ibu muda pengguna Instagram. Nyatanya, usia produktif inilah yang jumlahnya terbanyak menggunakan internet dalam kesehariannya. Tahun 2017, user internet di usia 19-34 tahun jumlahnya hampir 50%!




Menggantungkan diri pada Instagram juga bukan hal yang salah. Data-data yang saya survey menunjukkan, platform media sosial yang satu ini sedang jadi idola bagi orang dengan usia produktif, selain Youtube. 

Berkat aktif di Instagram, saya menjadwalkan kiriman sebanyak 3x dalam seminggu. Kini laku tidaknya produk Fish Express, bergantung pada pengembangan (nilai) produk dan memaksimalkan pengunaan media sosial. Menjalani jalan pedang di bidang wirausaha, tiap hari rasanya seperti belajar terus. Mempertahankan angka penjualan tiap bulan agar tidak merosot saja tidak mudah, ditambah ada tekanan target penjualan harus meningkat. 

Tiap hari online terus! Kuota gak boleh habis! 

Berbagai pintu masuk ke dunia online untuk mendongkrak penjualan ada banyak. Saya baru gunakan satu pintu saja. Besok, minggu depan, bulan depan, atau kapan saja yang penting secepatnya, saya ingin masuk ke pintu yang lainnya. Ada Youtube dan berbagai platform Ads. Tidak ketinggalan e-commerce. 

Sementara startup lain sudah berlari, saya masih ngesot. Jauh tertinggal di belakang. 



Dibuat oleh perempuan, pangsa pasarnya perempuan juga. Memulai bisnis dimulainya dari hal tersederhana, hal-hal yang dekat dalam keseharian kamu. Dari makanan, misalnya. 

Sebagai ibu, saya paham memenuhi gizi anak adalah segalanya. Bagaimana caranya memenuhi gizi anak pada khususnya, keluarga pada umumnya, tapi gak ribet. Tahu sendiri urus ikan sejak dia hidup sampai jadi ikan goreng tepung ribetnya seperti apa. Hehe. 

Dari sanalah semuanya begulir, meski ada drama bangkrut terlebih dahulu. 

Jadi, bila kamu hendak merintis bisnis, bingung mulainya dari mana. Perhatikan apa yang paling kamu sukai, apa yang paling sering kamu gunakan, apa yang membuatmu semangat menjalaninya. Jangan lupa, kini internet adalah kunci dalam berwirausaha. Ya setidak-tidaknya ada harga sewa yang bisa kamu coret dari laporan keuangan usaha dan dikonversi jadi dana kuota, budget endorsement, dan uang untuk beriklan di Instagram. 

Saya bagikan pedoman pendek pemasaran melalui media sosial nih. Banyak ilmu di internet yang isa kita tadah. Masalahnya satu saja, dipraktekan atau tidak.

Bila jalan pedang kamu sama dengan saya, selamat berbisnis dan semoga kita tidak ketemu dengan titik nadir yang bikin menyerah. 




Di tahun ini saya mulai membuka diri untuk berkolaborasi dengan start up lainnya. Sekarang saya kolaborasi dengan dua start up. Satu dari Cirebon, satu lagi dari Sukabumi. Internet yang mengenalkan kami. Rupa-rupanya, bukan hanya menjaring pembeli, internet juga pintu membuka banyak jaringan. 

Sebagai sesama pelaku usaha kecil, kolaborasi -bergandengan tangan dengan yang lain- membuat saya seperti duduk di pegas, sekali pijak bisa loncat lebih jauh.

Perempuan Berdaya, Internet Membuka Jalannya

Pendek kalimat, internet adalah 'benda' yang mempermudah, mempersingkat, dan membawa kita ke titik-titik yang dahulu mustahil akan terjadi. Utamanya bagi pengusaha (kecil) dan perempuan (adanya kebutuhan bekerja dari rumah).

Saat berada di titik tersulit dalam menekuni bisnis, sering terpikir saya berhenti saja dan melamar pekerjaan ke perusahaan. Namun status saya sebagai ibu satu anak tanpa asisten rumah tangga membuat pilihan tersebut amblas. Daycare? titip ke kerabat? Bukan pilihan. Daycare artinya menambah pos pengeluaran, titip ke kerabat tentu saja tidak mau. 

Kalimat ini berbunyi klise, tapi 'internet mengubah banyak cara kerja orang'. Internet merupakan jalan lain bagi mahasiswa yang ingin cari penghasilan, pengangguran yang nunggu panggilan dengan jadi supir ojeg online, seorang pemudi yang ingin kerja freelance, juga termasuk spesies saya: ibu rumah tangga yang tidak punya keleluasaan waktu bekerja di kantor orang lain. Kami bisa bekerja dari kamar tidur, dari kafe, dari dapur, rumah mertua :D Selama teknologi dan gawai di tangan, internet ada di genggaman. 

Kamu bagaimana, apa yang kamu genggam dari internet? 


1 comment on "Perempuan yang Menjual Ikan di Instagram"
  1. Internet membuat saya menggenggam banyak hal, salah satunya mengelola olshop pakaian wanita. Saya pun mengalami kekaguman yang sama terhadap Instagram. Aplikasi ini luar biasa. Semoga ia survive tak tergoyahkan dan senantiasa populer. Aaamiin :D

    ReplyDelete