Image Slider

Wong Edan Jatim Park 2 Seru Banget!

February 14, 2019
Saya belon cerita kesan-kesan main ke Jatim Park 2. Kalo dijabarkan dalam satu kalimat kita-kira bunyinya gini: PARAH GILA KAMU KUDU KE SANA WAHANANYA GAK ABIS-ABIS SERU AAARRGGHHHHHHHH!

Satu hari di Malang kami persembahkan khusus untuk senang-senang di Jatim Park 2. Enggak deng. Pagi-pagi nyari kebon apel dulu, Farah dan anak-anaknya mau metik apel. Nah jam 10 kami cabut ke Jatim Park 2.

Lihat jam tangan, belon jam 11 sih. Kami udah masuk ke Jatim Park 2. Saya belon browsing ini tempat kayak gimana. Farah bilang seru. Ya udah ngikut ajalah. Kami beli tiket masing-masing seingat saya 120ribu/orang untuk masuk kebon binatang, wahana fantasi, dan museum jatim park.

Dalam hati sih ya berguman buset mahal juga ini emang ada apaan dalemnya.

Terus masuk ke kebon binatang dulu. HWUDIIWWWWW! satwanya gak cuma sehat tapi juga unik-unik! Niat banget ngumpulin hewan-hewan cantik dari sudut dunia dan bawa ke Malang. Saya gak tahu sih mereka langka atau enggak. Tapi ya udahlah jangan mikir banyak kayak biasa, dinikmati aja dulu. Heuheu.

Kebon binatang di sini membuat kebon binatang di Bandung kelihatan sangat buruk.

Nah abis itu barulah masuk ke wahana favorit saya dan Farah dan anak-anak. Wahana Fantasi. Benerin kalo salah nama :D

OMG di sini gak bisa berhenti main. Gak hanya anak-anak, saya dan Farah juga naikin hampir semua permainannya kayak orang gila. Gak berhenti wkwkwkwk. Tapi khusus yang boleh ditumpangi orang dewasa lho ya. Sebab ada tuh permainan yang buat anak kecil doang.

Kalo diperhatiin, di sini permainannya sederhana. Gak fancy dan gak bombastis kayak -kalo kamu pernah lihat atau ke sana- Universal Studio (USS) dan Dufan. Farah yang warga lokal Singapura dan bolak-balik ke USS dan Legoland aja muji-muji Jatim Park 2 ini. Sangat memuaskan, katanya.

Kata Farah, di jatim park enak antrinya gak lama. Mainan mah mirip sih, kemasan doang yang beda, di Singapur mah lebih mewah, kata dia. Tapi antrinya panjang, malesin. Lanjutnya lagi.




Saya naikin banyak wahana tapi ada tiga yang saya ingat banget. Tsunami, kayak tornado kalo di Dufan. Bombomcar saya naikin bolak-balik 10x, dan rollercoaster versi kampung wkwkwkwwk.

Aduh gila seru banget. Tahu-tahu udah jam 5 sore dan kami belon ke museum! buru-buru deh tuh ke museum, karena di wahana fantasi udah pada tutup.

Museumnya gimana? PARAH NIAT AMAT YANG BIKIN JATIM PARK!

Koleksi museum bagus-bagus. Tiap koleksi ada scanbarcode, jadi kamu bisa baca keterangan lebih banyak via smartphone. Display juga kayak diperhatiin beneran. Kayak misalnya koleksi satwa di Afrika, dikasih miniatur padang Afrika. Terus beruang di Antartika, ada tuh 3D bentuk gunung es dan beruangnya. Apalagi sok? display kebakaran di hutan juga ada! Bukan foto lho ya tapi 3D.

Megah. Mewah. Canggih. Detail.

Aduh saya kehabisan kata mau ceritain gimana lagi ahahaha. Nya kitu pokonamah kudu kaditu barudak pasti reusepeun! kitu oge ibuna bapana.

Bila mencari kota untuk berlibur dengan anak-anak, Malang pilihan yang oke. Selain kota-kota kayak Bali dan Jogjakarta, juga Bandung itu sendiri. Tapi menurut saya mah Malang -di Batu khususnya- ngasi level liburan yang berbeda.

Walo senang, bagian prihatin juga ada. Pulang dari Jatim Park 2 kami order Gocar. Di jalan saya bertanya padanya tentang Malang yang jadi idola turis.

Malang tambah macet, katanya.
Kalo wiken jangan ke Batu, katanya.
Jatim Park gak cuma ada satu, tapi ada 3, katanya.

Saya ngerti banget. Secara rumah saya di Setiabudi. Mau nonton ke CiWalk aja mendingan saya ambil jam malem banget. Mau ke mana-mana mending naik gojek karena angkot kena macet. Lembang jadi primadona, tapi bagi kami warga lokal, Lembang adalah tempat yang kami hindari bila musim libur tiba.

Sama aja di mana-mana. Pertumbuhan ekonomi diikuti masalah-masalah sosial yang menimpa warga lokalnya. Emang gak ada solusi untuk ini ya?

Ada perasaan gak enak nyelip sewaktu denger curhatan sopir gocar. Namun di satu sisi saya lagi seneng dan terkesan dengan Jatim Park 2 ini. Serba salah heuheuheu.

Oiya, sori foto gak banyak. Satu dulu. Gak banyak foto-foto di sana juga sih lagian. Saking sibuknya main khekhekehkhe :D

Ke Tasikmalaya, Lihat Masjid Manonjaya

February 12, 2019
Di tengah badai kesibukan kerja, kami ikut meramaikan tiket promo Kereta Api Indonesia jurusan Bandung-Tasikmalaya. Gratis soalnya :D

Kepergian kami di akhir Januari. Pesan tiketnya sejak awal Januari, tiketnya hampir kehabisan. Balik ke Bandung gak dapat yang gratis. Beli aja gak apa-apa.

So, gimana perjalanannya? Adem ayem :D


Di dalem kereta api, adem banget. Sepi soalnya. Satu gerbong gak nyampe 10 orang. Kami duduk berdekatan suami istri usia pensiunan yang hendak tamasya di Tasikmalaya. Sama seperti kami, mereka penasaran dengan tiket gratisan. "Udah pensiunan mah gini weh banyakin jalan-jalan," kata si Bapak, si Ibu mengiyakan.

Di Tasikmalaya juga sama ademnya kayak gerbong KA Pangandaran. Selow dan hening. Tujuan wisata kami hanya satu: Masjid Manonjaya. Lain-lainnya gimana ketemu di jalan aja.

Terbiasa melihat dan mengalami macet di Bandung, keluar stasiun kereta api di Tasikmalaya rasanya plong. Jalanan kosong.

Dari stasiun ke hotel, kami berjalan kaki saja. Di tengah-tengahnya, kami menyantap Baso Loma dan nongkrong sebentar di depan Masjid Agung Tasikmalaya.

Dibilang jalanannya sepi, enggak. Disebut ramai, tidak. Enteng aja gitu rasanya jalan kaki di sana. Trotoar gak bagus-bagus amat tapi kepake. Gak kepake-pake amat sih tapi tempo jalan kaki enak banget. Cuacanya bersahabat karena waktu itu sedang mendung dan udah sore :D

Tasikmalaya sama kayak Purwakarta, keduanya ada di level 300an meter di atas permukaan laut. Akan tetapi, kalo kamu pernah ke Purwakarta, beeeuuh panas di sana tuh. Sebaliknya di Tasikmalaya nih, panas enggak, sejuk enggak.

Di Tasik, Nginep di Mana

Kami menginap di Hotel City. Hotel baru yang dindingnya retak-retak dan keset kamar mandinya berbahan karet! Hahaha hadooohh lieur sugan. Semua di hotel ini rada-rada gak nyaman kecuali kasur dan makanannya. Makanan adalah highlight hotelnya banget sebab murah dan lezat!

Terus ada kolam renangnya. Secara saya bawa anak kecil, senenglah dia diceburin ke kolam renang. Baginya piknik ke mana aja ayo, yang penting ada gamemaster, kolam renang, dan taman bermain :D atur-atur aja sebagai orangtua, tempat mana yang bisa menyalurkan hasrat semangat-monyet si anak.

Oiya, kalo cari penginapan yang murah, Hotel City okelah. 250ribu sudah include sarapan. Tapi kalo kamu mau yang fancy, pilih Santika, Fave Hotel, dan Horison. Semua hotel tersebut dapat dijangkau dengan berjalan kaki dari stasiun kereta api.

Masjid Manonjaya, Masjid Dua Abad

Judul klikbait banget. Umurnya baru mau hampir dua abad kok. Sekitar 180 tahunan. Sejak serius mengunjungi masjid-masjid tua di Cirebon, saya agak terobsesi dengan masjid kuno nih (selain pintu dan jendela antik. Heuheu).

Rasa-rasanya, kalo punya obsesi, jalan-jalannya jadi puguh. Dahulu tujuan utama traveling menyusuri rute-rute kota tua. Sekarang nambah: pengen lihat masjid-masjid klasik.

Makanya waktu tiket promo ke Tasikmalaya ini nongol, saya cuma pengen ke Masjid Manonjaya. Gak kepikiran tempat yang lain. Indra ikut aja. Nabil apalagi hehehe.

Manonjaya letaknya jauh dari pusat kota Tasikmalaya. 12 km jarak tempuhnya. Ke sana kami menumpang Grab Car. 30 menit waktu tempuhnya.


Kesan pertama menyaksikan Masjid Manonjaya, sungguh mengagumkan. Masjid seperti istana dengan arsitektur rada-rada kolonial dan jawa. Menara di kedua sisi masjid, jendela besar-besar, kolom bangunan di teras gede-gede. Kalo gak salah, tiga hal tersebut mencerminkan ciri khas bangunan Belanda. Nah mustaka di puncak masjid dan kolam air untuk membasuh najis di kaki yang letaknya sebelum pintu masuk, itu datangnya dari Jawa Mataram.

Masuk ke masjid, barulah terasa masjidnya gak sekuno penampakan dari luar. Ada kesan 'penuh' karena kolom-kolom tambahan. Lantainya marmer. Pintu ke ruang utama masjid bentuknya modern.

Begitu juga kondisi di dalam ruang utama. Langit-langitnya sama kayak masjid kebanyakan. Kirain nyungcung. Kerucut ke atas. Tapi gak tuh.

Ada kolom lebih gede lagi di sana. Saka tunggal atau saka guru istilahnya. Namun saya baca-baca, kolom di ruang itu bukan asli yang dulu. Tahun 2009, Tasikmalaya digucang gempa, ini masjid ikut ambruk kecuali kolom-kolom di teras.

Jadi pada dasarnya, sedikit banget porsi keaslian masjidnya. Sisanya hasil renovasi yang dibuat mirip kayak bentuk asli.

Kenapa bisa Manonjaya punya masjid sebesar ini, kemegahan masjid ini simbol dari apa? Kabupaten Tasikmalaya umurnya tua banget sih, Manonjaya ibukotanya. Kota Tasikmalaya baru ada tahun 76.

Bagian masjid yang jadi favorit saya adalah dinding pagar di teras. Kayaknya itu masih asli deh. Bagus banget. Bisa nyender nongkrong memandang Alun-alun Manonjaya yang ada di depan masjid.

Di depan Alun-alun ada satu pohon besar. Beringin. Eh bukan, Pohon Karet Munding kayaknya. Kira-kira lima menit kemudian kami nongkrong di bawah pohon itu. Makan bubur, ngemil kacang rebus, dan minum es kelapa muda bareng warga Manonjaya.

Bubur di sini bertabur potongan timun. Kerupuknya diremek-remekin dan ditao di atas bubur. Gak ada yang istimewa selain itu.

Alun-alun sebagai jantung kegiatan, biasanya dikelilingi sekolah, pasar, kantor pemerintah, dan penjara. Di sini ada semua kecuali penjara. Cmiiw.

Merasa cukup dan puas, kami kembali ke kota Tasikmalaya. Makan Mie Golosor. Jalan kaki lagi ke stasiun kereta api dan pulang ke Bandung.

Kesan Tentang Kota Tasikmalaya

Bila ada satu hal lain yang kami sukai di kota Tasik, itu adalah sungai-sungai yang airnya bersih.

Keuntungan jalan kaki sih, bisa merhatiin sungainya. Sampah mah ada aja, tapi airnya jernih. Ada yang keruh, tapi masih bisa saya lihat dasar sungainya. Ini kenapa bisa airnya jernih-jernih begini ya di Tasik...

Selokan di depan Masjid Manonjaya pun airnya bening banget!

Gak heran ikan-ikan hasil olahan dari Tasikmalaya lezatnya parah luar biasa, merusak standar kenikmatan masakan ikan di kota lain, kata Indra.

Kalo kamu ke Tasik, selain warung-warung baso, mampir juga ke restoran yang menunya ada ikan. Ikan mas, ikan nila, ikan-ikan sungai gitulah. Airnya bagus gitu, pasti ikan-ikannya juga enak! Pantesan ya Ikan Beunteur ada banyak di Tasik (dan Ciamis).

Tahu Ikan Beunteur kan? ikan-ikan kecil yang cuma bisa hidup di air sungai (dan danau) bersih jernih. Bayangin seenak apa rasa ikan-ikan yang selektif kayak gitu euy :D

Tasikmalaya jauh dari Jakarta, jauh dari Bandung. Bisa jadi industri di sana gak banyak kayak di Purwakarta ya? karena itu tempo kotanya masih rada selow dan air sungainya jernih. Mungkin ini mah, cmiiw. Industri apa yang banyak di Tasik? peternakan ayam setahu saya mah. Kolam-kolam budidaya ikan juga kalo kata Indra.

Tapi ngomongin Tasik ingatnya industri bordir yang kesohor. Kalo kamu beli tikar di pasar babadan, tas-tas belanja dari rotan, bisa jadi datangnya dari Tasik tuh. Skill craftynya orang-orang Tasik kelas advanced banget cenah.

Demikian celoteh sok tahu saya tentang Tasikmalaya. Haha. Pernah ke Tasik gak? atau jangan-jangan kamu orang Tasik? Punya cerita tentang Kota Tasik, sok komen di bawah :)

Februari ini masih ada kereta api gratis dari Bandung ke Tasikmalaya. Ayo dimanfaatin fasilitasnya. Sayang nih dilewatin. Coba digoogle aja kuliner-kuliner seru di Tasik. Atu jelajahi kawasan wisatanya yang hits, sebab contek jalan-jalan ala saya mah kelihatannya bosenin :))))) kata ibu saya sih gitu ahahahh :)))))

Saya perhatiin nih, pemkot Tasik dingin-dingin aja ngadepin tiket promo gratis ini, padahal momen bagus buat menjamu orang-orang metropolis mau buang uang di Tasik. Gubernur Ridwan Kamil dan PT. KAI aja yang antusias promosiin jalur Gambir - Tasikmalaya. Tasikmalayanya cuek. WHYYYY, Pak Bupati Tasik?!

KA Pangandaran Gambir - Banjar. Transit di Bandung jam 11.40
Nyampe di Tasik jam 15.30
gak banyak bangunan antik di Tasik
gak pake kata 'laundry'
Mie Golosor, nyoba dua tempat mamam baso dan menurut saya biasa aja sama kayak di Bandung
sebelon checkout, rate buat hotelnya 6/10
bubur di Alun-alun Manonjaya
Masjid Manonjaya





teks: ulu
foto: ulu, indra

Jalan Kaki Tujuh Kilometer (Bromo Trip Story 3)

February 10, 2019
Gini ya, kalo umur kamu kepala tiga dan gak pernah (ulangi: GAK PERNAH) olahraga, doyan makan indomie, gak bisa hidup tanpa nasi, maka ini tips terbaik bila ingin menggapai puncak Bromo: sewa kuda.

Hanya 3,5 km jarak dari parkiran jeep ke Puncak Bromo. Tapi jalannya gak santai. Bukan hanya debu dan tahi kering kuda beterbangan, namanya jalan ke puncak pasti nanjak. Sebuah fakta yang saya abaikan. Wk.

Puncak Bromo adalah tujuan terakhir dalam susunan perjalanan kami di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru.



Farah dan saya berunding cepat. Keputusan kami begini. anak-anak ikut jalan kaki bentar sampe tanjakan yang nyusahin. Lantas kami sewa kuda. Anak-anak naik kuda. Kami berdua jalan kaki.

Beneran nih jalan kaki aja? bisik saya dalam hati pada diri sendiri. Orang yang jalan kaki ada banyak gak hanya kami. Kalau mereka bisa, kami juga dong.

Begitulah prinsip bego kami. Wkwkwkwkwk.

Jadilah itu 3,5 kilometer terpanjang dalam hidup saya! Setelah pendakian ke Gunung Lawu dan tersesat di Jayagiri, mencapai Puncak Bromo adalah pencapaian membanggakan yang terjadi dalam sejarah hidup saya nih hahahaha.

Saya dan Farah tadinya jalan beriringan. Pas di bagian nanjak-nanjak mah kami terpisah jauuuhhh sekali hahaha. Ada kali 500 m. Saya di depan, Farah terseok-seok di belakang.

Namun benar kalo ada yang bilang, jalan kaki membuat kita melihat lebih dekat. Benar sekali.

Jalan yang tadinya datar, pelan-pelan menanjak konturnya. Sepertinya saya menaiki bongkahan bekas lava. Sulur-sulur bekas lavanya terlihat jelas sekali. Eksotis luar biasa.

Makin tinggi dataran, saya berbalik dan menyaksikan panorama di bawah sana. Mata menyapu semua lanskap taman nasional ini. Pemandangan makin indah. Luar biasa fantastis. Eksotis. Saturasi warna langit yang biru sempurna, hitam abu-abu dari pasir Bromo, hijau-hijau pepohonan di atas tebing, dan Pura Luhur Poten yang menambah aroma sakral.



Duh Ya Allah makasih udah bawa saya ke sini.

Namun di Puncak Bromo, saya kecewa di sana. Segala daya dikerahkan meniti tanjakan dan ratusan tangga, begitu sampai di bibir kawah ada banyak sampah di tebingnya. Pagar pembatas rusak.

Sudah begini saja? dalam hati saya bilang. Untuk semua keagungan yang saya saksikan selama perjalanan ini, begini saja akhirnya?

Di puncak itu saya bertiga dengan Nabil dan Byan. Keduanya masih kecil-kecil dan tenaga masih penuh. Saya ajak mereka turun saja. Loncat-loncat mereka, bisa terjun bebas ke kawah Bromo. Duh ngilu-ngilu kaki ini. Bila pagar pembatas utuh, kayaknya saya gak akan separno itu sih.

Saya yang berlebihan atau wajar kalo kecewa gak sih?

Mulai dari bau pesing di mulut tangga, tangga yang gak kerawat, lantas pagar pembatas yang putus-putus, sampah bertebaran di tebing kawah.

Perjalanan yang antiklimaks. Masih menyenangkan memang.

Seperti biasa kalo dalam perjalanan pulang, ada perasaan sentimentil yang bermunculan. Ya senang, ya sedih, ya kecewa, juga ada perasaan asing di antara itu semua. Tidak sampai 24 jam saya ada di taman nasional ini dan karenanya rasanya asing aja gitu.

Di dalam jeep, saya melihat Bromo dari jendela belakang. Pertunjukan wisata alam selesai. Kami berpamitan dalam hati.

Selesai.

Membuat Kartu Nama di Uprint

February 05, 2019
Membuat kartu nama di Uprint gak seribet yang saya kira. Pesannya online saja, gak perlu datengin kantornya dan gak perlu antri bikinnya.

Kartu nama terasa pentingnya setelah saya masuk dunia kerja. Meski sekarang jadi buruh untuk diri sendiri, kartu nama masih jadi alat tempur kok (selain seperangkat gawai tentu saja).

Pastikan kamu punya kartu nama ya. Walo sekarang bisa bebas catat no kontak, tapi kartu nama memuat informasi banyak sekaligus. Nama, no hp, website, sampai dengan nama sosial media kita.

Rezeki mana tahu datangnya dari mana kan. Hitung-hitung usaha jemput bola nih kasih kartu nama ke orang lain tuh. Orang lain juga gak punya banyak waktu untuk catat no hp kita kan :D Tinggal kasih kartu nama, beres sudah.

Saya bikin kartu nama dua macam. Untuk blog ini, Bandung Diary. Satu lagi untuk lini usaha saya, Fish Express.

Nah sekarang saya share rekomendasi bikin kartu nama dan perangkat percetakan lainnya.

Cetak Kartu Nama di Uprint

Gimana prosesnya bikin kartu nama di Uprint? Begini, Teman-teman.

  1. Buka websitenya: www.uprint.id. 
  2. Pilih fitur layanan Uprint, klik bagian kiri atas, ntar nongol banyak pilihan. Apa aja? dari kartu sampai dengan suvenir ada semua. Pilih aja yang kamu butuh apa. 

Mereka bahkan punya satu fitur khusus bernama Business. Kamu klik buttonnya, nanti muncul pilihan perangkat kerja cetak yang dibutuhkan bisnis saya dan kamu ada di sini semua. Ada salon, online shop, bahkan kampanye pemilu :)



Oke misalkan kita bikin hmm  apa ya, kartu nama mah gampang ya. Cek ke bagian stationaries. 

Ukuran kartu nama berbeda-beda. Siapin penggaris untuk tahu dimensi dari ukuran yang kamu lihat di webnya. Ukuran aquare ada, ukuran kartu nama standar kayak kebanyakan yang kita lihat juga ada. 




Desain kartu nama sih idealnya kita aja yang buat. Tapi kalo gak punya desain kartu nama sendiri, Uprint menyediakan template desain kartu nama kok. Banyak pula. Pilih aja yang paling menarik buat kita dan mencerminkan profil atau bisnis kita. 

Kartu nama udah. Kayaknya mau cetak media lain nih. Apa ya kira-kira?

Gimana kalo kita cek Tripod Banner

Cetak Tripod Banner di Uprint

Untuk mencetak produk yang satu ini, kisa klik ke bagian Promotion. Tripod Banner ini banner yang pake tripod. Hahaha jelasin apa sih saya teh :D 

Kita biasa kenal X-Banner, nah ini mirip kok. Bedanya di kerangka penahan banner saja. 

Memesan Tripod Banner di Uprint bisa kita bikin simulasinya dulu. Sok nih dijelajahi websitenya Uprint. Mau cetak berapa sisi. Ukurannya berapa. Bahannya apa. Sampai dengan harga nanti muncul semua. 

Lantas untuk kirim desainnya bagaimana?




Uprint menyediakan beberapa pilihan untuk kita mengirim desain. Ke mana aja?
  1. Email, menurut saya ini paling gampang. 
  2. Dropbox
  3. WeTransfer
  4. Google Drive

Pastikan kamu membaca tata pengiriman data desainnya ya. Seperti judul data dan kapasitas memori data tersebut. Supaya gak bolak-balik kirim desain aja sih :D 

Misal nih, udah beres pemesanannya. Masukan keranjang dan checkout. Nanti kita isi data-data pengiriman dan pembayaran. 

Untuk lokasi Jakarta, pengiriman tersedia pilihan menggunakan ojeg/taksi online. Kalo di luar Jakarta mah sudah pasti kirim via ekspedisi. 

Pembayarannya bagaimana? via transfer. Saat ini Uprint baru bisa menerima transfer ke BCA. 

Kenapa Pilih Uprint?

  • Karena gak usah antri :D Menurut saya ini enaknya kita urus segala macam secara digital. Ada waktu yang terpakai secara efisien. Hemat waktu. 
  • Harga bersaing, bahkan dengan yang di Bandung sekalipun, kota saya bermukim
  • Fyi, Uprint adalah produsen percetakan. Alatnya punya dia, tokonya punya dia. Gak khawatir pesanan kita tertunda karena dioper-oper antar vendor :D 
  • Costumer Service by whatsapp, aplikasi chat sejuta umat

Oh mau lihat gak kartu nama saya kayak gimana hasilnya? Ini dia! Kayaknya saya mau ubah tata letak logo dan teksnya sih :D 

Nah sekarang nambah referensi mau cetak kartu nama ke mana ya, ke Uprint saja :)