Serius Namanya Bukit Teletubies?! (Bromo Trip Story 2)

January 23, 2019
Kita yang terlalu malas mencari nama atau otak kita segitu-gitu aja kemampuan berpikirnya?

Serius nama tempatnya Bukit Teletubies? Segitu noraknya nama yang disematkan pada sebuah area perbukitan di Bromo yang maha agung itu dan nama Teletubies yang kalian taro di sana? WWWHHHHHAAATTTTTT THEEEEEEEEE FUUUUUU*******KKK!

Tunggu. Kita mundur dulu ceritanya ke Pasir Berbisik. Saya masih bahas Bromo Trip. Ini catatan ke-2. Bagian pertama bisa di baca di Menggenggam Matahari Terbit.


Saya punya banyak pertanyaan untuk sopir jeep sewaan. Tapi dilihat dari gelagat dan jawabannya yang pendek-pendek, saya putuskan diam saja. Pernah ketemu orang yang sudah bosan bekerja karena pekerjaan (menurutnya) begitu-begitu saja? Nah begitulah kesan saya pada sopir bertubuh gempal itu. 

Jadi dalam susunan perjalanan kami di Bromo, setelah melihat sunrise kami diajak ke tempat-tempat bernama ini: Pasir Berbisik, Bukit Teletubies, padang savana, barulah ke puncak Bromo. Cuaca cerah. Langitnya bagus dan kabut yang tadi merayap sudah hilang ditimpa sinar matahari.

Memasuki area Bromo yang banyak pasir, bukit, dan savananya, saya amati seperti sedang di kuali saja. Seperti sedang di kawah. Iya, saya yang ada di dalam kawahnya. Ini sewaktu-waktu Bromo mbeledos, habislah saya dimakan kuah lava :D

Baiklah. Saya mulai aja review-review penuh emosi ini dari Pasir Berbisik ya.



Di Pasir Berbisik itu saya masih gak ngerti ngapain di sana hahahaha. Gini, lihat pemandangan ya sudah pasti. Menikmatinya ya tentu saja. Tapi apa itu maksudnya pasir berbisik? iya tahu itu diambil dari nama filmnya Dian Sastro. Di bagian mana berisiknya, kapan, fenomena apa itu, gimana mulanya bisa begitu.

Farah bilang seharusnya saya jalan-jalan ditemani geolog. Hahaha. Duh tapi bisa kan menghapal informasi dasar 5W+1H euy.

Nabil, Dhila, dan Byan, trio kwek-kwek itu amat sangat senang dengan Pasir Berbisik. Mereka lari-lari gak berhenti. Anak-anak memang lebih jago menikmati pemandangan, orang dewasa berusaha menghayati tapi jatohnya jadi sok pinter (ya! saya maksudnya!).

Sampai di mana tadi? oh lautan pasir.

Bukit Teletubies berikutnya. Hadeuh menulis namanya saja saya agak enggan nih. Tapi panoramanya...waduh...bikin hati riang dan terkagum-kagum!

oh ternyata teletubbies, dengan dua huruf b :D 


Sekeliling saya gak hanya bukit tapi juga tebing-tebing raksasa. Hijau warnanya. Musim hujan memberi rona warna kesuburan. Semua orang sibuk berfoto, termasuk saya. Indah sekali memang. Pemandangan yang bikin rusak ya kita-kita ini, manusianya heuheuheueheu.

Untuk pemandangan semahaindah itu, betapa kerdil nama teletubies. Memangnya gak ada istilah-istilah dalam jawa kuno yang sepadan dengan bentangan alam di sana ya...*cukup ngomel-ngomelnya, uluuuu!*

Baiklah.

Di padang savana inilah...Bromo ini gak ada habisnya-habisnya bikin hati saya berdecak kagum. Itu rumput dari hijau, kuning, dan merah ada semua warnanya. Gabungkan semuanya jadi satu, saturasi warnanya memukau sekali! Ya Allah saya sampe mikir apa iya saya ada di Bromo dan kenapa saya beruntung sekali bisa ada di sana...



Betapa mudahnya berwisata alam di Bromo. Keluar dari jeep, jalan dikit, nyampelah. Area pegunungan ini gak memberi medan sulit layaknya gunung-gunung. Begitu pikir saya pada mulanya.

Sampai saya meniti jalan di tujuan terakhir nanti.

Kemudahan-kemudahan yang kami alami di sana digilas habis dengan perjalanan menuju puncak Bromo. Di sini saya merasa modyaaaarrrrr! Modar gimana nih maksudnya?



(bersambung)
3 comments on "Serius Namanya Bukit Teletubies?! (Bromo Trip Story 2)"
  1. Waktu November lalu aku ke Teletubies pas hijau-hijaunya mbak buktinya tapi katanay sebelumnya habis terbakar

    ReplyDelete
  2. Waaaaaa, Bukit Teletubies agak kurang seperti bukit teletubies yang sebenernya karena sempet kebakaaaaran apa ya di sana. Dulu pas ke Bromo, awal November lalu, bekas kebakarannya masih nampak gitu ._.

    tapi tetep indah banget deh Bromo menurut saya :D

    ReplyDelete
  3. bukit cinta, bukit teletubbies, apalagi...hemm...

    untuk spot wisata baru, haruse mulai dipikirkan nama yang lebh filosofis

    ReplyDelete