Merayakan Padamnya Hepatitis A di Gunung Padang Cianjur

September 28, 2018
Saya mau ceritakan perjalanan yang amat sangat berkesan, terbaik, terindah, dan termenyenangkan.

Tahun 2010 waktu itu. Saya baru sebulan pulih dari sakit selama dua minggu. Hepatitis A penyebabnya. Setelah didera tipes dua kali, klimaksnya virus di liver saya bangkit. Merayakan kesembuhan, saya membuat trip of a life time. Naon ateuuhhh ke Gunung Padang Cianjur aja tripnya. Hahaha.

Gunung Padang Cianjur

Mencari teman perjalanan tambahan, saya bikin status di Facebook. "Mau ke Gunung Padang Cianjur, ayo siapa yang mau ikutan bareng ke sana yuk" begitu lah kira-kira bunyi ajakannya.

Singkat cerita, teman-teman yang ikut perjalanan ini sejumlah 12 orang. Bukan trip dengan profit, kami pergi bareng-bareng dan bayar masing-masing saja.

Bahkan bos saya di kantor juga ikutan. Belum ada fitur 'hide status from' saat itu. Ahahaha. Ya senang tapi juga waswas sih bos ikutan jalan-jalan. Dan dia bawa serta anaknya yang umur 5 tahun.

Saya yang komat-kamit dalam hati: what! jalan-jalan bawa anak kecil! gimana kalo mau ee, muntah, nangis pengen pulang gimana ini gimana!

Tapi kan bos ya, masa saya bilang gak boleh ikut. Ahahaha.

Emang rupa-rupa temen yang ikutan jalan ke Gunung Padang Cianjur itu. Pacar dan bos, diangkut! Termuda sampai tertua gak tanggung, 50 tahun dan 5 tahun ikutan juga!


Foto keluarga di Stasiun Cianjur

Perjalanan ke Gunung Padang ini amat sangat berkesan untuk saya karena beberapa hal, saya sebutin satu-satu aja dah:

1. Kami pergi ke Cianjur menumpang kereta api legendaris yang dijuluki Argo Peuyeum.
Terdiri dari dua gerbong saja. Ongkosnya Rp2.000. Durasi dua jam. Kami satu gerbong bukan hanya dengan bapak ibu tani dan hasil perkebunannya (jagung, beras, sayuran) tapi juga dengan kambing dan grup (topeng) monyet! Hahahaha seru banget!

Setelah perjalanan Gunung Padang ini usai, jalur kereta api Cianjur - Bandung dinonaktifkan sampai sekarang. Jalur mati. Bayangkan perasaan kami setelah dapat kabar kereta api Argo Peuyeum dihentikan operasionalnya.

Saya sih awalnya kecewa. Sedih. Ngambek. Gimana nih kan mau ke Cianjur lagi. Lalu saya duduk lebih tenang dan berpikir lebih jauh.

Gimana nasib pedagang sayur yang kami temui waktu itu.
Apa kabarnya bapak-bapak yang bolak-balik Bandung - Cianjur bawa kambing-kambing buat dijual di Bandung.
Pekerja-pekerja cabutan yang mengandalkan Rp2.000 buat ke Bandung (tanpa macet pula) gimana nasibnya!

Kesedihan saya cuma receh belaka. Orang-orang yang menggantungkan hidup pada Argo Peuyeum terkena efek lebih parah.


2. Pertama kalinya dalam hidup saya, jalan-jalan bareng anak kecil umur 5 tahun.
Di sini cakrawala parenting saya terbentuk. Hahaha. Ternyata bisa ya bawa anak jalan-jalan. Bayangin anak 5 tahun ikut jalan-jalan dengan orang dewasa dan dia dibawa sama bapaknya. SAMA BAPAKNYA. Di mana kamu lihat anak kecil nyantol lama-lama dengan bapaknya? biasanya ibunya kan?

Samsam nama anak kecil itu. Samudera nama lengkapnya. Ini anak gak nyusahin sama sekali selama perjalanan. Bos saya ngasi tip begini "kalo lu mau ajak anak jalan-jalan ato pergi rada lamaan gitu, siapin banyak makanan. Gak ada makanan ya modar. Kalo anak lu masi riweuh padahal udah dikasi makan, berarti itu anak ngantuk. Berhenti dan biarkan si anak tidur"

Owwwhhhh! Sebuah tip yang saya terapkan ke si Nabil! Makasih, Bosquuueueeee!


Di tangga menuju Gunung Padang Cianjur


3. Perjalanan dengan teman-teman baik (dan sedikit gila)
Macem-macem rupa kelakuan orang, yang ikutan ke Gunung Padang Cianjur ini baik-baik deh. Juga sableng (seperti Mel :D) dan tekun memotret (Kuke), dan soleh soleha (Tessi dan Sam). Sopan-sopan (Upi dan Hadi). Bikin waswas (bos saya :D). Jago motretnya (Indra, Fajar). Pintar membaca cuaca dan navigasi (Gelar). Gak ribet (Fita dan Yanstri). Lucu (Samsam).

Bagian yang saya gak sangka adalah Pak Bachtiar turut serta. Ia penulis buku perjalanan, dosen, ahli geograf!

Sehingga dari sepanjang perjalanan dari stasiun kereta api di Bandung hingga kegiatan kami menyaksikan batu-batu di Gunung Padang Cianjur, beliau banyak sekali memberi kami asupan-asupan informasi yang bergizi.

Niatnya mah jalan-jalan doang, tapi jadi tahu asal usul Gunung Padang. Juga tentangbagaimana sungai purba di Padalarang yang kereta api lintasi terbentuk, dan mengapa bantu-batu di Gunung Padang bentuknya persegi panjang.

Kayak kuliah di lapangan, tanpa tugas-tugas wajibnya. Hehe.

Bagian yang saya ingat sewaktu ia mengajak kami semua berdiri di satu titik pelataran Gunung Padang dan melihat ke arah puncak Gunung Gede Pangrango. Ia mengatakan, Gede Pangrango lebih tinggi dari semua puncak yang mereka (manusia purba) lihat, bisa jadi manusia purba dahulu kala menujukan ibadahnya kepada puncak gunung terpopuler di Jawa Barat tersebut.

Gak ada pengunjung lain selain kami aja. Kamera smartphone gak ada. Instagram belum ada, Facebook masih jadi ajang reuni pertemanan, travel blog masih setitik. Sepi lah itu Gunung Padangnya.

Seneng lah berasa piknik dengan keluarga minus pertengkaran ala adek-kakak :D


4. Suara Kunti(lanak) di undakan tertinggi di Gunung Padang
Ada lima undakan di sana. Tertinggi adalah yang ke-5. Nah di puncak inilah saya...mendengar...suara...perempuan yang bukan teman! Perempuan yang tertawa mengikik. Aduh menulis ini saja saya merinding!

Cukup lama tertawanya dan berulang-ulang. Saya memanggil Pak Kuncen, apa ia mendengar suara tawa mengikik itu juga. Lantas bapak berkumis itu mengatakan tak usah takut. Sebab itu suara warga yang sedang beraktifitas di bawah, di lembah Gunung Padang. Masih inget lho ia bilang "suara kunti itu mah, neng". Jantung saya melorot.

"Katanya orang, tapi kok kunti sih, Pak?"

Teman-teman yang berada di undakan bawah naik ke puncak. Namun suara tawa itu sudah tidak ada. Hilang. Aduh tauk ah gelap!

Lama juga lho kami menikmati suasana di Gunung Padang. Sebab seingat saya, begitu kembali kota Cianjur, waktu menunjukkan pukul 5 sore. Perut-perut lapar keroncongan dan Fajar, salah seorang teman kami, merekomendasikan Sate Maranggi Cianjur. Pergilah kami ke sana bagai parade obor satu muharram. Heuheu.

Dan poin ke-5 ini menggenapkan alasan mengapa perjalanan ke Gunung Padang adalah semacam a place to remember. Perjalanan yang penuh kenangan.

udah mendung, motret pake kamera analog Holga, gelap hahaha tapi lihat foto ini lagi rasanya seneng! 
'kuliah lapangan' padahal jalan-jalan aja sih :D 

5. Berkenalan dengan Sate Maranggi Cianjur!
Kepada Fajar saya makasih banget. Sebab makanan rekomendasinya enak parah! Sadis! Sate terenak yang pernah saya makan! Terunik juga sebab teman makannya bukan dengan nasi melainkan ketan dengan bumbu oncom. Pernah makan oncom gak? oncom tuh kayak tempe tapi yang jamuran gitu lho. Kalau di Jawa Tengah Timur disebutnya Dage.

Sate Maranggi Cianjur ini TERBAIK!

Perut kenyang, saatnya pulang. Kami menumpang bis Bandung-Cianjur.

Di Gunung Padang Cianjur, saya gak moto. Gak punya kamera digital. Tahun 2010 itu belum ada smartphone. Praktis hanya beberapa orang saja yang memotret dengan kamera digitalnya.

Untuk tulisan ini, saya meminjam foto-foto jepretanya Zahra. Ia memotret dengan kamera analog. Dilihat lagi foto-fotonya, betapa polosnya perjalanan-perjalanan yang dilakukan sebelum datang era instagram ya. Hahaha. Makasih karena fotonya boleh tayang di sini, Jah!

Ada kok keinginan kembali ke Gunung Padang Cianjur. Sekarang saya sudah punya smartphone dengan kamera. Bekal gawai untuk memotret. Gak usah pinjem foto jepretan Zahra begini :D

Ntar kamera hp mau dipake untuk moto ulang Stasiun Cianjur, foto di tangga yang beratus-ratus di Gunung Padang Cianjur, mau rebahan lagi di sana dan selfie dengan Indra dan Nabil. Juga moto puncak Gunung Gede Pangrano yang mudah-mudahan gak ketutup awan :D

Pengennya mah reuni napak tilas dengan teman-teman yang dulu pergi bareng ke Gunung Padang. Tapi udah susah kali kumpulinnya. Heuheu. Napak tilasnya gak akan sama lagi dengan dulu, tapi perasaannya nostalgia mah pasti muncul.

Tinggal tentuin tanggal, siapin uang, naik bis/mobil! Eeeeh jangan ketinggalan (kamera) hp!

Memang gak nyusahin sekali smartphone ini. Kameranya saya siksa terus. Ya buat apalah gawai bagus kalau bukan untuk bergaya dan disiksa :D

Udah mah fiturnya bagus-bagus, powernya mantap. Hp kayak begitu sudah sepantasnya kita 'siksa'.

Disiksa dalam arti bukan foto-foto iseng ya. Saya pake kamera hp untuk foto 'serius' yang foto-fotonya saya unggah ke semua media sosial dan blog.

Berbekal seringnya saya motret dengan kamera hp, sebuah smartphone Huawei Nova 3i yang Quad AI Camera sedang saya kecengin nih. Smartphone idaman. Mengapa?

Sebab amat sangat menunjang gaya kerja hahaha. Bisa disiksa nih hpnya, tapi bukannya rusak tersiksa, justru sebaliknya smartphone ini tangguh gila. Gimana bisa?



Huawei Nova 3i terdiri dari 4 kamera: 2 kamera belakang dan 2 kamera depan. Sensornya masing-masing 24 MP dan 16 MP. Semua kameranya berteknologi AI (Artificial Inteligent). Teknologi ini bisa dipake untuk menghasilkan efek bokeh. Jadi si kamera bisa diajak kompromi, fotonya mau difokuskan ke siapa dan ke mana. Foto yang dihasilkan jadi jauh lebih tajam.

Ini kalo bingung dua kamera gimana cara kerjanya, kira-kira mah begini. Masing-masing kamera nangkep gambar, terus dengan latar kecanggihan masing-masing kamera, dua gambar diproses sekaligus dan terbitlah satu gambar dengan ketajaman yang mantap betul!

Di kamera depan Huawei Nova 3i
24 MP dan 2 MP untuk resolusi kamera depan aja. Namanya juga kecerdasan buatan jadi pemakai Huawei Nova 3i gak usah atur-atur setting kamera. Sebab Huawei Nova 3i udah kenal mode 200 skenario dari 8 kategori (foto makro, lansdcape, portrait, sport, nightscene, dan beberapa kategori lainnya).

Maksudnya gini nih. Moto di kamar, di teras, di kamar mandi, di pantai, di hutan, di kelas, malam hari, terang benderang, di pinggir sawah, di dalam bis, daaaan masih banyak lagi skenario latar dan rupa foto, si Huawei Nova 3i udah bisa atur di mana gelap dan terang dan di mana mau naro bokeh. Ya secanggih itu kira-kira.




Di kamera belakang Huawei Nova 3i
16 MP dan 2 MP resolusinya. Huawei Nova 3i udah nyiapin 500 skenario dan 22 kategori. Ini mah ibaratnya anak kamu yang umurnya 5 tahun mau motret pake Huawei Nova 3i juga bisa dan hasilnya bakal sama bagusnya dengan orang yang umurnya 25 tahun yang jumpalitan motret pake kamera hp demi dapetin hasil foto yang bagus.

Pendek kata, Huawei Nova 3i bisa membantu kita memperbaiki citra di semua media sosial dengan hasil foto yang bagus banget! :D Lha yang amatiran aja bakal kebantu dengan kecanggihan kamera Huawei Nova 3i.

Huawei Nova 3i Layarnya 6,3 Inch 
Dengan rasio yang tinggi (19:5:9), gambarnya lebih besar dan tajam. Whatelse can i say :D

Memori 128GB Huawei Nova 3i
Untuk orang-orang yang sering lupa dan malas pindahin memori ke wadah yang lebih besar, cocok pake Huawei Nova 3i. Ya, itu saya. Hahaha. Mungkin kamu juga, kebanyakan orang yang saya tahu emang sering males pindah-pindahin memori hp sih. Sadar-sadar pas moto pas memori full. Ada yang gitu juga gak? :D

Dengan memori 128 GB kita bisa leluasa moto tanpa keganggu memory full. Lagipula, untuk ruang buat naro foto, video, dan data sebanyak itu, Huawei Nova 3i ini termasuk smartphone termurah di kelasnya dengan storage 128GB.

Huawei Nova 3i sebenernya gak cuma canggih di kameranya aja. Beberapa keunggulan hp yang diluncurkan Juli 2018 ini antara lain untuk Gaming. Cocok untuk Nabilkubil yang di hari minggu boleh main game. Tapi Nabil masi anak kecil banget belum butuh power gaming yang tinggi.

Untuk saya dan Indra fitur games gak terlalu cocok sebab kami bukan orang yang make hp untuk main games.

Tapi membayangkan sebuah smartphone dengan fitur untuk menyokong hobi gaming ya pasti kuat powernya. RAM udah disiapin 4GB. Prosesor Kirin 710 SoC. Ada GPU Turbo pula untuk optimalisasi grafisnnya. Notifikasi dan panggilan telepon bisa diblokir selama gaming. Edan gak tuh. Powerful performance at its best!



Udah bisa disimpulkan kalau Huawei Nova 3i punya performa yang cepat dan handal. Mau motret, fotonya bakal bagus banget. Mau denger musik dan nonton film, jernih gambarnya dan mantap suaranya. Satu lagi: praktis!

Tapi kepraktisan tanpa body yang premium rada-rada kurang gimana gitu.

Huawei Nova 3i memiliki desain body smarthpne yang mahal. Sehingga gak malu-maluin sih. Bisa buat angkat status kita di tengah pergaulan :D Juga bisa jadi properti foto karena cakep banget desainnya. Warnanya perpaduan warna biru dan ungu. Agak neon namun ada pula yang warnanya hitam bila kamu suka yang netral saja.

Nanti udah punya Huawei Nova 3i, foto-foto Gunung Padang Cianjurnya lebih mantap!


**********

Tulisan ini diikutsertakan dalam giveaway di blog nurulnoe.com



Teks  : Nurul Ulu
Foto Gunung Padang : Zahra Fatimatuz


7 comments on "Merayakan Padamnya Hepatitis A di Gunung Padang Cianjur"
  1. Hahaha... bagian si boss bawa anak dan Ulu was-was kebayang banget, klo saya di posisi Ulu pasti gitu.

    Coba adain lagi, Lu. Ini mah seru banget pengalamannya. Pake hp dulu jeprat jepret momennya dapet, apalagi kalo didukung hp mumpui kayak Huwawei Nova 3i.

    ReplyDelete
  2. Foto zaman dulu kesan retronya bagus yah mbak, hee
    Besok kalo kesananya lagi sambil bawa Huawei Nova 3i nya skalian reuni sama formasi zaman dulu mbak saat ke Gunung Padang,
    Sukses dan Good Luck Mbak
    Salam kenal dari Bumi Jember ^_^

    ReplyDelete
  3. Merinding pas cerita Mbak2 Kunti(lanak) nyaa, tapi aku selalu kabita kalo denger cerita yang naik gunung kayak gini, soalnya belum pernah ngerasain sama sekali naik gunung itu gimnaaa >.<

    Apalagi kalo punya hape Huawei Nova 3i, makin pengen naik gunung sambil motret2 ketjehh hehehe

    ReplyDelete
  4. Jadi asline eta Kunti sanes, Luuu? Mni sieuuuun

    ReplyDelete
  5. Aku merinding bacanya. Mana baca pas tengah malem gini. Goodluck ya lombanya.

    ReplyDelete
  6. Aduh teh langsung merinding di poin 4 😂 tapi ya anggap aja deh itu suara warga ya biar jongjon diperjalanan. Hehehehe

    ReplyDelete
  7. Duh untung bacanya ga pas tengah malam xixixi

    ReplyDelete