Rokok Dua Ribuan dan Alasan #RokokHarusMahal

July 23, 2018
Bukan tentang jalan-jalan, tapi benda ini ada melulu sekalipun saya lagi jalan-jalan, belanja ke pasar, atau kumpul-kumpul acara keluarga: rokok

Baru-baru ini ada kampanye #RokokHarusMahal. Bagus nih kampanyenya. Emang harusnya rokok dikasi harga mahal. Setuju banget. 

30% dari jumlah 20 juta anak Indonesia udah merokok, umurnya tau gak berapa pas mereka ngerokok? Di bawah 10 tahun. Terima kasih orang dewasa yang merokok di depan anak-anak, nyuruh mereka beliin rokok, dan harga rokok yang murah! (ps: data didapet dari Tobacco Control Atlas ASEAN). 

Terus selain mahalin harga rokok, gimana nih caranya biar anak-anak gak menjangkau rokok?

Kampanye #RokokHarusMahal ini sedang gencar digaungkan pada serial talkshow ruang publik KBR. 



Fyi, KBR adalah portal yang menyediakan konten berita berbasis jurnalisme independen. Teman-teman bisa buka webnya di KBR.id. 

Kampanye #RokokHarusMahal udah masuk serial ke-6. Berbentuk talkshow, serial ini bisa didengar di 100 jaringan radion KBR. 

Selain mengudara di radio, serial #RokokHarusMahal bisa kita dengar streaming di KBR.id / KBR apps. Mau nonton juga bisa banget, ada di LIVE FB Kantor Berita Radio-KBR. 

Siapa tau mau denger/tonton serial ke-7 #RokokHarusMahal kan. 

Pada Rabu 18 Juli 2018, tema mengerucut tentang rokok ini bertajuk Lindungi Anak Indonesia. 

Berangkat dari harga rokok yang murah -anak sekolahan bisa jajan rokok saking murahnya- maka muncul ide sederhana: kenapa gak kita mahalin aja rokoknya. Satu bungkus 50ribu udah paling murah tuh. Gimana? 

Dalam talkshow tersebut, penyiar diskusi bersama tiga narasumber dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, Ketua Yayasan Lentera Anak Indonesia, dan Ketua Majelis Kesehatan Pimpinan Wilayah Aisyiyah Jawa Timur. 

"Kenapa prevalansi merokok terus meningkat, karena rokok itu mudah dijangkau oleh anak-anak," Lisda Sundari dari Lentera Anak Indonesia mengemukakan fakta. 

Ia melanjutkan, "survei yang dilakukan oleh Lentera Anak pada tahun lalu, Industri rokok mempromosikan rokok dengan menyebutkan harganya per batangan. Seribu per batang, atau misalnya 12 ribu per 12 batang. Jadi promosinya sudah promosi harga batangan."

Menunjang fakta tersebut, Dr Santi Martini,dr. M Kes dan Dr Sophiati Sutjahjani, M Kes mengungkapkan bahwa terdapat 12 indikator keluarga sehat. Satu diantaranya tidak merokok. 

Dari survey yang telah dan masih dilakukan di puskesmas seluruh Indonesia, tercatat angka keluarga sehat masih di bawah 50% yang memenuhi 12 indikator sehat tersebut. 

"Karena yang paling berat adalah masih banyaknya yang merokok dalam satu keluarga," ungkap dr. Sophi. 

Rokok memang ada di mana-mana. Tentu saja gak heran. Harga saja satu batang Rp2.000. 

Di rumah, di kantor, sekolah, bahkan di tempat ibadah sekalipun, rokok adalah pemandangan biasa. 

Bagian ngerinya, perokok pasif terpapar asap rokok yang destruktif. Lalu dari pasif jadi aktif, anak-anak yang -bahkan yang miskin sekalipun- sanggup menjangkau rokok per batang, akan mengalami kerusakan dalam tubuh, salah satunya stunting (postur tubuh pendek dan kecerdasan menurun). 

Satu-satunya solusi yang aplikatif saat ini adalah menaikkan harga rokok. 

Jadi ayo ikut meramaikan kampanye #RokokHarusMahal ini di media sosial. 

Sebarkan hashtag:
#Rokokharusmahal
#Rokok 50ribu
#Rokokmemiskinkan 

Lalu ikut tanda tangan petisinya juga ya di change.org/rokokharusmahal.

Harga rokok sudah sepatutnya mahal. Harga telur dan brokoli dibuat murah. Heuheu. 


2 comments on "Rokok Dua Ribuan dan Alasan #RokokHarusMahal"
  1. setuju banget, rokok harus mahal agar anak-anak ngga nyoba beli

    ReplyDelete
  2. Nah, Nabil harus diawasi jajannya juga ya, Lu.. Anak-anak kan uang sakunya rata-rata lima ribuan, bisa banget beli dua batang, hiks....

    ReplyDelete