Jelajah Nusantara dengan Menyusuri Jejak Pendiri Bangsa

April 09, 2018
Bapak pendiri Indonesia ada empat: Soekarno, Hatta, Tan Malaka, dan Sjahrir. Dari keempatnya, Soekarno yang terbanyak saya datangi jejaknya karena terjangkau jarak dan waktu. 

Di Bandung bertebaran sejarah presiden RI pertama tersebut, kota saya bermukim.

Monumen Penjara Banceuy, pemerintah kolonial memenjarakan Soekarno di kompleks penjara ini

Jejak Soekarno di kampung halaman sendiri sudah saya temui. Sekolah tempatnya mengajar, rumah ia menjalin hubungan dengan Inggit Garnasih, kampusnya menuntut ilmu arsitektur, gedung bersejarah yang gaungnya menggema ke seluruh dunia Gedung Merdeka, termasuk pengadilan Landraad, penjara Banceuy dan penjara Sukamiskin. Benar-benar semua tempat di mana Soekarno pernah berada saya kunjungi.

Di Blitar, saya kembali menemui nama Soekarno yang diagungkan. Meski terasa asing, namun menambah pengalaman berarti juga karena saya berhasil mengunjungi rumah masa kecilnya.


di Istana Gebang, rumah masa kecil Soekarno di Blitar

Soekarnonya disimpan dulu. Sekarang waktunya membahas satu sosok yang bersahaja, cerdas, dan pecinta buku kelas kakap. Darinya kita belajar bahwa berjuang dapat dilakukan dari pena dan budi pekerti.

Pada suatu hari di tahun 2016, secara tidak sengaja, saya membeli buku biografi mengenai Hatta sewaktu saya sedang mencari buku tentang Tan Malaka.

Dalam buku tersebut dibahas kota kelahiran hingga pulau ia diasingkan pemerintah kolonial. Tidak ketinggalan kota-kota di Belanda dan Saudi Arabia, muaranya mencari ilmu pengetahuan dan mencerap pengalaman berorganisasi.

Dari keempat bapak bangsa tersebut, kepada Hatta hati ini jatuh cinta. Sungguh beliau ini sosialis rasionalis alias gak berlebihan dalam menelan dogma-dogma  paham kehidupan. Ia berjuang dengan pena, ia membenci kekerasan dan pertumpahan darah. Kekurangan beliau adalah…orangnya serius banget. Sampai-sampai keseriusannya adalah sumber kelucuannya. Ah kamu harus baca biografinya deh agar tahu apa yang saya maksud :D

Pada suatu sore sewaktu menamatkan kisah Hatta, saya ikut mendidih baca perjalanan hidupnya.




Dalam keadaan semangat bergejolak, saya berkata pada diri sendiri: saya harus datangi satu per satu jejak para pendiri bangsa ini. Dari penjuru barat di Aceh hingga timur Papua. Semuanya. Cita-cita yang muluk tapi berdoa saja mana tahu dikabulkan.

Kadangkala saya berpikir butuh berapa tahun saya hidup di dunia ini agar misi jelajah nusantara saya tepenuhi satu per satu. Bukan hanya menyusuri jejak para pendiri bangsa ini, saya juga ingin menyaksikan keagungan taman nasional, mencerap hawa di situs-situs bersejarah yang terdaftar dalam UNESCO, dan menyusuri bangunan kuno di kota-kota tua Jalan Raya Pos.

Seenggak-enggaknya, saya harus kerja dahulu untuk cari ‘bensin’ mendanai perjalanan tersebut bukan :D karena uang tidak jatuh dari pohon. Satu tahun bekerja, menabung untuk 2x perjalanan sudah paling maksimal usahanya hahaha. Ah Nia Ramadani, aku sering iri padamu lho sebenarnya.

Baiklah, Rakyat Jelata. Kita sambung bahas Bung Hatta saja.

Mari fokus pada satu hal ini: saatnya merencanakan perjalanan ke Bukit Tinggi, dan Banda Neira, mencari kenangan tempat-tempat yang pernah dihuni seorang Hatta. 





Dari Bandung, tiket pesawat Garuda Indonesia membawa saya ke Padang. Barulah perjalanan dilanjut dengan kendaraan roda empat menuju Bukit Tinggi, di Aur Tajungkang tepatnya. Dalam pelukan Gunung Manggalang dan Marapi, ada rumah kelahiran Hatta di sana.

Sama halnya dengan Banda Neira.  Perjalanan menuju pulau di timur Indonesia ini bakalnya lebih panjang dibanding bila ke Padang. Justru makin menarik!

Lagi-lagi berbekal tiket pesawat (yang saya booking via app skyscanner), saya harus mengambil tujuan ke Bandara Pattimura di Ambon. Barulah bersiap mencari kendaraan menuju Pelabuhan Tulehu. Sekitar 6-7 jam nah sampailah saya di Banda Neira. Semolor-molornya ya delapan jam di laut barulah sampai di tanah  pengasingan Hatta dan Sjahrir.

Sekarang kita tiba di bagian mungkin-kamu-malas-bacanya tapi aplikatif pas kamu butuh. Terutama untuk kamu yang suka bepergian. Review aplikasi, khusus Skyscanner dong.

Apalah kita ini yang doyan jelajah tanpa aplikasi traveling. Akomodasi dan transportasi gampang digenggam (selama ada uang dan koneksi internet tentu saja :D).

Skyscanner memuat layanan transportasi (pesawat terbang), rental kendaraan, dan akomodasi. Coba kamu udah install belum appnya? Udah? Belum? Udah belum? Hehehe :D

Coba lah install juga. Kan saya suka tuh banding-bandingin harga di tiap aplikasi. Buka aja semua terus cek harga. Mana yang terjangkau. Lumayan selisih 20ribu juga atuh. Skyscanner ini termasuk yang ada di radar smartphone saya. Pemakaian fiturnya oke juga, friendly user experience lah istilahnya.

Skyscanner merangkum semua jadwal penerbangan maskapai di Indonesia (dan dunia). Kamu tinggal pilih mau yang kelas ekonomi, premium ekonomi, bisnis, sampai yang kelas eksekutif alias penerbangan mevvaaahhh!

Poin menarik dari penggunaan aplikasi Skyscanner khusus pesawat adalah: rating. Rating alias skor dalam bentuk angka ini diperoleh dari Skyscanner dari data pengalaman pengguna aplikasi. Komponen skornya dinilai berdasarkan harga yang terpercaya, biaya tambahan, pelayanan pelanggan, kemudahan menggunakan website penyedia layanan (penerbangan dan akomodasi).




Sudah beberapa tahun ini saya traveling berpedoman buku. Kesemuanya menyenangkan. Bahagianya dapat, tujuannya tercapai, dukanya juga banyak (aheuheuheu). Namun yang terpenting sih perjalanannya.

Sepulang dari perjalanan tersebut saya seperti diberi kaca, disuruh ngaca dan berpikir. Iya tahu, liburan seharusnya menyegarkan otak kita. Saya rasa begitulah otak saya disegarkan, dengan menyusuri masa lalu dan mengambil keping-keping terbaiknya untuk saya jadikan bekal di masa kini dan masa depan nanti. Kalau kata orang sunda mah: tan hana huni, tan hana mangke. Tidak ada masa kini bila tidak ada masa lalu. Kamu tahu tidak, Soekarno juga pernah mengatakan hal yang sama: jas merah. Sudah tahu kan kepanjangannya jas merah yang dimaksud olehnya? 


**********

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba blog yang diselenggarakan oleh ID Corners dan Skyscanner