Image Slider

Rumah Antik di Kampung Arab Surabaya dan Kopi Jahe yang Tak Sengaja Dibeli

September 16, 2018
Tahun 2015 di Surabaya, ceritanya kami baru mengikuti tur dengan bis khusus wisata heritage. Tur yang menarik. Bila mau baca tulisan lama saya waktu jalan-jalan di Surabaya klik ke A Quick Trip to Surabaya.

Dari House of Sampoerna kami jalan kaki melihat-lihat rumah kuno ala pecinan dan gedung-gedung megah peninggalan kolonial.

Sedikit lagi sampai di Ampel, kawasan wisata religi di Surabaya. Lokasi sebuah masjid kuno berada. Langit keburu gelap. Kaki-kaki kami pun udah capek diajak jalan terus. Balik lagi deh ke hotel dengan sedikit hati yang tertinggal di sudut Ampel Surabaya.

Saya punya keinginan besar menyaksikan Masjid Ampel. Juga kampung arab yang ada di sekitar masjidnya. Keinginan ini tertunda tiga tahun lamanya sejak kedatangan kami waktu itu.

Tahun 2018 datang. Bulan Maret keinginan itu terwujud. Tanpa disangka, tak ada persiapan.




Hari Jumat waktu itu. Niatnya mobil sewaan kami hendak ke Malang. Surabaya jadi kota transit saja.

Tapi sopir mobil sewaan minta izin sholat Jumat. Farah, teman jalan-jalan saya edisi Surabaya-Malang, bertanya pada saya dan sopir. "sholatnya di masjid apa nih?"

Saya menyambar "masjid ampel aja!" seperti alam bawah sadar yang bicara. Hahaha.

Beruntunglah Pak Sopir yang asli arek suroboyo mengatakan lokasi masjidnya tidak jauh kok dari tempat kami berada saat itu. Wah beneran nih mau ke Masjid Ampel, bisik saya dalam hati. Hahaha.

Secara gak kebetulan, mobil diparkir di depan jalan-jalan kecil menuju masjid. Bukan di depan mulut jalan utama, jalan yang penuh pedagang suvenir itu tuh.

Rumah-rumah antik bermunculan di muka saya. Lantas saya mikir dong. Wah! apakah saya sedang berada di kampung arab? Kok suasana dan hawanya rada beda nih!

Ternyata bener! Ahahahaha ya ampun 'kebetulan-kebetulan' yang aneh.

Sambil menunggu pak sopir beres sholat jumat, saya jalan-jalan dengan Kubil. Farah dan anak-anaknya entah ke mana saya lupa.

Perasaan ini senangnya tak terhingga. Akhirnya saya berdiri di depan rumah-rumah antik itu!

Gak banyak rumah yang saya foto. Suasana gang-gang itu sepi sekali. Wajar saja sebab laki-lakinya lagi sholat jumat.

Surabaya ini kota pelabuhan besar di Indonesia. Sama seperti Batavia dan Cirebon, Surabaya punya sejarah panjang.

Umur kota Surabaya 725 tahun! Jauh sekali bila dibandingkan Bandung yang usianya 208 tahun. Bandung masih benih, Surabaya sudah manula :D

Karena dahulu kota pelabuhan tersohor, Surabaya jadi tempat berkumpul orang dari berbagai negara. Pedagang dan saudagar yang banyaknya dari Cina dan Arab berdatangan. Ada yang mampir sebentar, banyak pula yang menetap.

Masing-masing etnis berkumpul. Membentuk komunitasnya sendiri. Awalnya dua keluarga, lama-lama puluhan orang.

Komunal. Seolah-olah tiap etnis membentuk wilayahnya sendiri. Ditambah aturan dari pemerintah kolonial waktu itu kan, salah satunya Wijkenstensel: etnis tionghoa gak boleh tinggal di satu kawasan dengan pribumi. Intinya mah kawasan pecinan, daerah kolonial, area pribumi, dan kampung arab terpisah-pisah. Ini mah taktik Belanda sih biar kita gak akur heuheuheuheu.

Tiap kawasan punya tanda sendiri. Ciri tersebut terlihat mencolok dari arsitektur dan ragam hias rumahnya. Tata areanya. Juga wajah orang-orangnya :D

Sewaktu saya berkeliaran di kampung arab, suasananya sepi sebab sholat jumat sedang berlansung. Saya seliweran sambil moto rumah memang rada gak enak hati juga sih. Takutnya saya dianggap maling atau penjahat aheuheuheu. Mana saya berstatus turis pula.

Walo gerak-gerik saya buat normal saja alias gak canggung dan pakaian tidak mencolok, kayaknya tetep aja kelihatan 'bukan orang lokal' deh :D

Kegiatan melihat-lihat rumah kuno ala kampung arab ini saya seling dengan jajan kopi jahe dan makan es dawet. Saya perhatikan ada plang pedagang roti maryam, namun saya lewatkan saja. Maksudnya nanti mau balik lagi setelah jajan es dawet, ah sayang waktu sholat jumat berlalu cepat. Pak sopir kembali dan siap bawa kami ke Malang.

Saya dan Kubil menandaskan dua mangkuk Es Dawet. Ugh segar sekali kerongkongan ini dibanjur rasa manis yang dingin!

Surabaya dan mataharinya gahar memang! Begitu juga mbok-mbok pedagang es dawet yang belakangan saya baru tahu asalnya dari Madura semua! Senang sekali bisa ngobrol dengan mereka yang celetukannya khas orang yang ditempa alam yang kejam. Ngerti gak maksud saya ini? :D

Lalu lumayan juga saya bawa pulang sebungkus kopi jahe, barang yang saya beli mendadak karena begini: pas saya moto jendela sebuah rumah, pemilik rumah keluar. Oh rupanya rumah tersebut memiliki toko di fasad rumah. Saya gak enak atuh masa moto-moto tanpa izin eheuheuheu. Kopi jahe itu saya beli sebagai tanda meminta izin, tak lupa saya juga memuji betapa indah rumah tuanya itu. Ia hanya senyum dan berlalu cepat, seperti malas berinteraksi lebih banyak dengan saya. Baik gak apa-apa :D

warungnya di sebelah kiri jendela ini


Rumah-rumah di sini berada di gang-gang yang lebar jalannya muat untuk dua becak. Tiap gang bermuara ke jalan utama  menuju Masjid Ampel.

Rumah berdempetan. Tidak ada halaman. Rumah dengan teras tidak banyak.

Ada rumah berpagar. Banyak juga yang tidak. Ada yang tingkat dua, banyak juga yang satu lantai aja. Ada yang mungil, gak sedikit yang agak mewah.

Yang mewah-mewah ini ukuran rumahnya agak besar dengan lantai marmer. Juga berpagar.

Rumah-rumah di sana umumnya memasang tirai gulung di depan pintu rumah. Buat apa ya tirai itu? untuk menghalau sinar matahari kah? untuk jaga privasi rumah walo pintunya dibuka? atau ada tujuan lainnya?




Saat saya bertanya di Instagram, seorang followers saya memberi jawaban unik. Katanya tirai itu dimaksudkan agar rezeki yang ada di rumah tidak keluar. Tirai itu semacam 'perisai'. Menarik ya! Saya perhatikan di kawasan lain tidak ada tirai di depan pintu rumahnya, di sini saja adanya.

Dekorasi rumah di sini ya sederhana saja. Ada sih yang unik, yang atap pelananya kriwil-kriwil dekorasinya. Juga ragam hias di teralis jendelanya. Kayaknya dekorasi itu deh yang ngasih identitas kalau itu tuh rumah ala kampung arab. Coba perhatiin pola pada teralis pagar dan jendela pada beberapa rumah di sana yang saya foto ini.



sori ya ini saya gak ngerti kenapa gak saya foto dari angle lain sebab
si tiang lampu frontal banget mengganggu pemandangan jendelanya ya :(

Satu hal yang pasti jika menemui rumah kuno: jendela dan pintunya lebar dan tinggi-tinggi. Ada juga yang tegel rumahnya ala-ala motif artdeco, pola gambarnya kembang.

Cuma satu jam sih berkeliaran di sini. Sekalian sholat juga di masjidnya. Masjid Ampel masjid yang megah! Pilarnya besar-besar, terbesar yang pernah saya lihat kalau untuk ukuran masjid kuno mah.

Peziarah hilir mudik, suasananya seperti bubar sholat Ied/lebaran.

Saking ramainya, saya agak khawatir kamar mandinya jorok sih dengan orang sebanyak itu.

Ternyata enggak dong. Bersih banget! Bayar sih buat masuk kamar mandi. Gak apa-apa deh. Rela banget walo kebersihan sudah seharusnya kita jaga bersama tanpa pamrih. Tapi ya dengan pengunjung sebanyak itu? ahehehe wajar sajalah kalau berbayar.

Senang rasanya satu bucket list saya tercapai: menyambangi kampung arab di Surabaya! Dapet bonus juga bisa berkunjung ke Masjid Ampel.

Ini bila bertanya pada saya, apa istimewanya kampung arab? hmmmm, saya rasa suasananya unik bila dibanding kampung-kampung masa kini sih. Mana rumahnya tua-tua. Sayang ya saya cuma merasakan satu jam saja di sana. Kalau lebih lama mungkin saya menemukan lebih banyak? bisa jadi.

Rumah kuno selalu menyenangkan untuk dipandang. Ya sama kayak kamu memandang panorama Bandung dari Tebing Keraton, misalnya. Atau mengunjungi Floating Market, contohnya. Objek yang saya nikmati dengan kamu berbeda, tapi rasa suka dan senang yang muncul kurang lebih sama lah.

Di sana saya gak berfoto banyak. Saya bahkan lupa memotret diri sendiri. Ah tapi itu tidak penting. Saya ada di Ampel Surabaya! Kenangan itu saya rekam kuat-kuat di kepala. Menuliskannya di blog pun dalam rangka merawat ingatan.

Rasa gak puas mah pasti ada. Mana saya datang seperti kebetulan saja. Sehingga rasanya seperti tidak siap namun harus dihadapi.

Tapi manusia mana ada rasa puasnya. Alhamdulillah ya Allah makasih ya untuk kebetulan yang tidak kebetulan ini. Saya senang! Si Nabil kelihatannya gak terlalu senang sih tapi saya menebus perlakuan egois saya padanya dengan main sepuasnya di Jatim Park 2! Impas ya, Bil :)))))

Ini foto lebih banyak. Foto dijepret oleh saya semua dengan hp.
















Fish Wow Cheeseee: Porsinya Besar-besar, Rasanya Enak-enak

September 10, 2018
Seminggu yang lalu kami bertiga makan sore di Fish Wow Cheese. Tadinya bertiga, lalu nambah jadi berlima. Si adek dan temennya yang pas banget baru pulang ngantor ikut makan bareng.

Berlima kami makan-makan di Fish Wow Cheese dengan satu tujuan: bersama kita pasti gendut!

Gak deng. Kebetulan lagi mood mau makan ikan aja. Hehehe. Tapi pengennya ikan yang gak ribet makannya gitu. Gak usah takut kecugak duri dan tulang. Juga gak amis. Pokoknya tinggal mamam aja. Fish Wow Cheese nih menurut saya restoran masa kini yang ngasi variasi menu ikan terbanyak. Ikannya mah satu macem aja : ikan dori.


Searah jarum jam: Fish n Chips with Tartar Sauce - Fish & Biryani Rice with Tartar Sauce - Combo Platter
Chicken & Spaghetti with Cheese Sauce - Fish Pop with Spaghetti & Mozzarella Special


Tahu sendiri kan makan ikan, kecuali yang sudah difilet, ribetnya kayak apa. Di sini mah bebas duri, bebas tulang, bebas anyir. Yes!

Ini kali kedua kami datang ke Fish Wow Cheese. Pertama kali di tahun kemarin. Waktu itu menu yang kami santap adalah Fish n Chips yang toppingnya Salteg Egg. Tahun lalu yang namanya salted egg ini populer banget! berbekal pengen tahu rasanya daging ikan ada rasa telur asinnya, kami ke sana deh.

Sekarang nih makannya beda. Gak pesan menu salted egg lagi. Berikut ini menu Fish Wow Cheese yang kami pesan:

Fish n Chips with Tartar Sauce
Fish & Biryani Rice with Tartar Sauce
Mac & Cheese
Chicken & Spaghetti with Cheese Sauce
Fish Pop with Spaghetti & Mozzarella Special
Combo Platter
Ice Cream Cone

Milo
Greentea
Pepsi
Ice Tea 3x

Dan bagaimana rasanya makanannya? 



Porsinya besar-besar dan ENAK! Jauh banget rasa makanannya dengan yang kami makan dulu. Kayak naik level gitu. Serius kamu mesti ke sana deh. Nih saya bedah menunya yak.

Fish Pop with Spaghetti & Mozarella Special: Ikannya gak amis sama sekali, rasanya gurih karena garam merica, tapi tepung yang membalut daging ikannya menurut saya yang teristimewa. Teksturnya renyah. HIGHLY RECOMMENDED. Eh si dagingnya juga tipis amat enggak, tebel banget juga enggak. Sepadan lah gak kecewa dengan ukurannya. Bumbu spaghettinya gak kayak bumbu instan. Terus mozzarellanya ooohhh myyyy goooood! Enak lah ini menu recommended banget.

Fish Pop with Spaghetti & Mozzarella Special


Fish & Biryani Rice with Tartar Sauce: ketumbar dan rasa jintennya terasa melekat, ikannya sama kayak menu yang lain (renyah dan gurih), porsinya cukup banget cenderung banyak, dan nasinya beneran pake beras buat bikin nasi biryani yang panjang-panjang ramping gitu. Ini pilihan cocok buat yang pengen makan nasi tapi pengennya tetep istimewa biar gak sama kayak makan di rumah :D Juga kalau pengen citasa asia ini udah paling pas. Karena menu lain berkeju kan.

Combo Platter: sosis, kentang, calamari, saos tomat, saos tartar. Kami sepakat calamarinya yang TERENAK! pantas saja habis duluan heuheu. Kentangnya cenderung biasa aja. Sosis menempati posisi enak kedua. Juaranya si calamari sih: empuk, kenyal tapi masih bisa mudah digigit, dan tepungnya yang gak berminyak dan renyah! Eh bumbunya juga pas banget. Pas dicocol ke saos tartar huweeeeehh rasa calamarinya melesat!

Chicken & Spaghetti with Cheese Sauce: iseng nyari makanan yang non-ikan buat tes rasa. Eh ternyata kami setuju kalau menu ini termasuk yang TERSADIS ENAKNYA! Hahahaha! Parah lah nih. Cocok nih bagi teman-teman yang sama sekali lidahnya gak bisa makan ikan, Fish Wow Cheese menyediakan menu ayam juga. Si ayam dibalut tepung renyah yang garing dan gemuk. Gak berminyak maupun berair. Si ayamnya dalam bentuk filet juga sama kayak ikan. Empuk banget deh daging ayamnya. Saos keju terasa tebal dan saus tartar yang nikmat. Gak bisa berenti makan ini nih.

Mac & Cheese



Mac n Cheese: Ini makaroni dan potongan daging (ham) yang diselimuti keju terus dipanggang.  Bagian atas mozzarella. Di bagian bawah saos keju. Karena sudah pesan dan menyantap dua menu berkeju sebelumnya, mac n cheese ini terasa enak tapi biasa. Ini nih pesanannya si adek yang emang doyan keju banget. Kata dia mah rasanya ya semulut-mulut penuh keju!

Fish n Chips with Tartar Sauce: pilihan menu yang paling biasa. Masih enak tapi rasanya kalah enak dengan menu-menu yang saya jelasin sebelumnya. Rekomendasi saya sih kalau makan di Fish Wow Cheese, coba empat menu di atas. Tapi kalau untuk nongkrong-nongkrong tanpa rasa lapar berlebihan, Fish n Chips masih oke.

Minumnya? Saya urutin dari yang terenak : Es Milo - Greentea - Es teh manis - coke dengan merek Pepsi. Plus es krim sebagai penutup menu berat.





Sejujurnya mah makan di tempat kayak gini gak ada yang bisa ngalahin nikmatnya menenggak coke dan es teh manis sehabis menandaskan satu porsi ikan dan keju sih. Rasanya udah paling bener untuk menetralkan rasa kejunya.

Si Nabil yang pesan Milo secara anak kecil dan susu bagaikan hape dengan kuotanya. Saya pesan greentea karena pengen tahu aja rasanya. Sementara Indra, Unis, dan Ike yang pesan es teh manis dan pepsi. FYI, kami saling mencicip makanan kok. Makanya saya tahu semua rasanya ahahahaha :D

Kan balik lagi ke tujuan kami makan: bersama kita pasti gendut!

Harga menu Fish Wow Cheese gimana?

Untuk enam menu, satu es krim, dan enam minuman yang kami pesan totalnya hampir 300ribu.

Tempatnya gimana nih? 

Cocok banget buat keluarga dan teman-teman. Desain tempatnya segar kayak di pantai gitu sih. Ada dekorasi ban-ban pelampung dan ilustrasi berbagai macam ikan.







Mushola



Resto kayak gini mah mirip-mirip resto fastfood yang dirancang praktis. Tapi menurut saya settingan Fish Wow Cheese lebih fancy dari resto sejenis jadi gak masalah kalau mau ajak orang tua ke sini. Ambiencenya nyaman dan full AC kecuali smoking area.

Atau reservasi aja dulu ke Fish Wow Cheese, minta tempat duduk paling nyaman dengan sudut paling oke.

Lampu penerangan bagus banget secara minggu lalu lagi musim listrik mati bergiliran kan, Fish Wow Cheese pake genset gitu dan terang banget tempatnya gak kayak pake genset deh :D

Oh buat anak-anak ada playgroundnya! Ruangan kecil sih tapi masih oke banget anak kecil dikasih ruang untuk menyalurkan energinya nih biar pas makan bisa makan dengan tenang. Hehe.

Ruangan smoking dan non-smoking terpisah.

Ada ruangan khusus barangkali mau makan sekaligus meeting barangkali?

Dan ada WIFI :)

Juga musholla yang amat sangat layak (bersih)

FISH WOW CHEESE

@fwc_concept
Jl. Lombok no. 30 Bandung
Buka 10.00 - tutup 22.00
Harga: 7.000 - 45.000











Kupat Tahu Cicendo, Terenak Se-Bandung

September 06, 2018
Sarapan di Bandung, salah menu yang banyak dicari adalah Kupat Tahu. Kupat (lontong) dipotong kecil, tauge, potongan tahu. Semuanya dicampur dengan bumbu kacang + kecap. Jangan lupa kerupuknya. Biasanya mah kerupuk kuning kecil-kecil.

Suatu hari si Indra upload foto kupat tahu kan di facebook. Kupat tahunya dapet beli di Cihapit. Terus teman kami, Teh Trisa komen. Katanya kami mesti makan kupat tahu di Cicendo.

Berbekal petunjuknya, kami datengin lah itu Cicendo. "Di seberang rumah sakit mata Cicendo, sebelah TPS," kata Teh Trisa.

Tunggu dulu. TPS yang dimaksud tempat penampungan sementara? penampungan sampah sementara??

Sebelah tempat sampah gede gitu maksudnya?

Hooh ternyata bener! Hwarakadah! Hahahaha!



Kesan pertama melihat tempat ini, bersih banget lho. Terus kami masuk ke dalemnya kan, eh bersih juga. Kelihatan yang ngurus tempatnya apik. Terus kami datengin aa yang lagi sibuk motong kupat.

A, kupat tahu dua ya.
Eh nambah, lontong karinya satu.

Terus sambil nunggu makanan dateng ke meja makan, ada tiga gelas teh mendarat di hadapan kami. Air tehnya masih panas. Wah feeling so good nih kalau minumannya aja kayak gitu. Indikator makanan enak adalah makanan yang disertai minuman berupa air teh dalam gelas kaca, airnya masih panas.

Datenglah si kupat tahu dan lontong kari. Suapan pertama masuk mulut dan langsung rasanya bikin hangat meledak-ledak. Gila enak banget! Satu porsi kupat tahu tandas dalam lima menit saja. Hooh kami memang secepat itu kalau makan, terutama si indra. Heuheu.

Lontong kari gak kalah rasanya dengan kupat tahu. Sama lezatnya.

Satu-satunnya yang kurang nendang adalah rasa tahunya. Saya pernah makan Tahu yang lebih segar dan gurih. Tapi gak masalah sih, karena menurut saya mah Kupat Tahu Cicendo masih yang terenak di antara yang pernah saya makan.




Sok atuh pada dateng ke Cicendo kalau cari sarapan. Tempatnya buka sampai malam sih, tiap hari pula. Terus kelihatannya kalau jam-jam peak hour kayak makan siang gitu, tempatnya bakal rame banget.

Ckckckck. Ini walo di sebelahnya ada TPS, tempatnya resik dan makanannya enak. Highly recommended buat makan kupat tahu di Cicendo.

Harga seporsi : 12ribu atau 15ribu (lupa tepatnya berapa :D)





ps: sorry hor horrible pictures. moto pake hp. males edit dan hasrat menulis udah gede dan males ngurusin teknis foto :D hope you do enjoy the story. 

Jalan-jalan di Forest Walk, Highly Recommended!

September 05, 2018
Sepi. Paru-paru segar. Mata sehat. Kayak abis mandiin jiwa raga. Ternyata jauh juga.

Demikian kesimpulan saya tentang Forest Walk, tempat baru di Bandung. Sebenernya gak baru-baru amat sih, saya dan Nabil pergi ke sana di bulan April :D baru ditulis sekarang hahaha. Tapi di instagram dan facebook mah udah saya bagiin cerita jalan-jalannya sih ahahaha *fomo detected*



Forest Walk ini gratis. Kecuali parkir kendaraannya.

Paru-paru dan mata jadi segar dan sehat sebab lihatnya pepohonan yang daunnya lebat-lebat. Kalau kata orang sunda mah 'tiis ceuli herang panon' alias tentram sekali rasanya.

Jauh karena jarak tempuhnya -jalan kakinya nih- 2 kilometer. Serunya lagi trek forest walk ini gak lempeng aja jalurnya, ada juga tanjakan dan turunannya.

Kalo sepi mah kayaknya cuma di hari senin-jumat. Sebab akhir minggu dan hari libur mah banyak juga yang jalan-jalan di Forest Walk. Kami datang ke sana di hari Rabu. Jadi ya, lumayan sepi sih. Papasan dengan beberapa anak-anak dan orang dewasa tapi gak banyak.

Tiap kali RK bikin tempat-tempat baru sebenernya bukan baru banget. Dia hanya merancang tempat lama jadi baru. Bagi saya, Forest Walk ini masuk ke daftar tempat terfavorit saya. Hahahaha nuhun, Kang Emil!

bersama anak kecil yang tadinya gak mau diajak ke Forest Walk, tapi pas nyampe sana malah gak mau pulang :D


Forest Walk ini adanya di Babakan Siliwangi. Tahu Sabuga kan? Nah satu kompleks lah Forest Walk dengan Sabuga. Babakan Siliwangi kan udah ada dari zaman kapan itu lah. Tapi gak keurus. Cuma hutan aja udah dibiarkan begitu saja. Pernah ada kasus mau dibikin tempat komersil, banyak yang protes. Saya juga protes. Gila itu Babakan Siliwangi bisa dibilang hutan kota satu-satunya deh di Bandung. Masa mau diubah juga jadi hotel atau mall gitu.

Namun sayangnya hutannya ya dibiarkan saja. Warga gak ngerti apa bisa jalan-jalan di sana. Pemkot yang dulu juga ya cuek aja. RK nih turun tangan mengubah wajah Baksil (begitu warga lokal menyingkat Babakan Siliwangi) dengan ngasih trek panjang sehingga kami bisa jalan-jalan di kota tapi gak ribet ala hiking.

Sebelum ada trek Forest Walk, pernah juga ada komunitas yang bikin acara jalan-jalan di Baksil. Temanya mengenal tumbuhan di sini. Akan tetapi acaranya berlangsung 1x saja seingat saya. Kami ikutan kok, waktu itu Nabil umurnya 2 tahun deh kalau gak salah. Saya pernah sih nulis pendek tentang Baksil. Di sini ya barangkali mau baca.

Memang PR besar tuh gimana caranya bikin orang datang dan 'mengklaim' ruang publik tanpa ada acara khusus. Pokoknya mereka nih, baik warga lokal maupun turis, datang karena ingin jalan-jalan aja.

Nah saya perhatiin sih itu yang dilakukan RK dengan Forest Walk ini.

Ide brilian naro trek jalan kaki kayak jembatan di Baksil. Gak merusak pepohonannya. Malah sebaliknya, pas jalan-jalan di sana terasa memang kayak lagi jalan di hutan. Walo ada sih sudut tertentu yang nampak pemandangan metropolisnya.

Dan kalau gak salah forest walk ini udah yang keberapa kali gitu buatnya. Pernah ada juga tapi cuma sepotong dan lambat laun treknya gak terawat. Ada yang bolong. Pagarnya putus. Banyak yang pacaran. Waduh gak nyaman banget.

Nah yang Forest Walk ini versi 2.0 kelihatannya mah. Lebih bagus, lebih matang pengerjaannya (walo kata Indra tiang jembatannya rada-rada gimana sih), dan lebih family-friendly!

Serius deh mesti jalan-jalan ke sana. Nih temen-temen pelanggan protes ke RK, ayo sesekali datengin tempat-tempat yang RK buat. Supaya merasakan aja sih emang ide-ide RK bagus walo setelah ide terwujud cuma rame di awal doang. Heuheuheu. Gak semua sih ahahaha masih ada juga kok yang terawat.

Sedih juga sih RK udah gak jadi walikota Bandung. Rasa-rasanya inovasi beliau sangat visioner. Akrab dengan teknologi. Tahu bahwa ruang publik mesti dirancang supaya bisa dinikmati dan diklaim kembali oleh warganya. Standarnya udah bagus lah buat patokan kerja walikota berikutnya walo saya gak yakin Oded (walikota Bandung sekarang) bisa menyamainya.




Pencapaian RK kayaknya gak bakal terjadi dengan walikota yang sekarang. Sad. Kita butuh lebih banyak orang kayak Ridwan Kamil. Wait. Ini tulisan tentang Forest Walk kenapa jadi kayak tulisan kampanye :D

Udahan ah. Sok atuh angkut anak-anaknya ke Forest Walk dan selamat menghirup udara segar di Baksil! Omat, tong ngarokok diditu euy!

Saya kasih tip-tip berguna hasil laporan pandangan mata dan kaki nih :D

1. Jangan merokok. Heuh atuh udah itu rokoknya tunda dulu.
2. Jarak 2 km itu gak pendek lho. Lumayan juga buat yang gak pernah olahraga mah hahaha. Tapi jadinya kan ini tempat cocok banget buat yang olahraganya jalan kaki aja. Banyak pohon, udara bagus, treknya oke, masih bisa berjemur punggung, jaraknya selaras dengan kebutuhan berolahraga santai.
3. Jalan-jalan di pagi hari waktu paling pas. Siang gak apa-apa sih, tapi beda kali ya auranya kalau siang mah cenderung adem dan bagian yang panas ya panas banget. Kalau sore kayaknya sih bakal banyak nyamuk. Secara hutan gitu lho.
4. Alas kaki mah atur-atur aja nyamannya gimana. Kalau saya selalu gak bisa lepas dari sandal gunung atau sepatu keds.
5. Anak-anak bakal seneng gak di sini? seneng atuh kalau kamu gak sibuk hayoh weh selfie sendiri :D ahahaha. Ajak main anaknya. Ngobrol kek, balapan lari kek, ajak ngomong daun kek, bahas ulat bulu kek, atau kasih dia kamera dan belajar foto bareng kek.
6. Leave nothing but footprint. Alias tong ngabala. Mari rawat fasilitas umum ini bersama.

Petunjuk arah masuk ke Forest Walk

1. Pintu masuk di Jalan Siliwangi, gak jauh dari jembatan Siliwangi. Sebelah kanan kalau dari arah jembatan, sebelah kiri kalau kamu datang dari arah Dago.
2. Parkir kendaraan (kalau bawa sih).
3. Udah deh tinggal cari jalan masuk ke treknya.

Selamat jalan-jalan! Inget woi: tong ngabala, tong ngarokok. Heeuu.

Pesta Cokelat di Sweetoday 5.0 Bersama Colatta & Haan

September 03, 2018
Agak beda dari acara  biasanya yang saya datangi, Bandung Diary diajak datang ke sebuah acara masak-memasak. Bahan utama masaknya cokelat. Pesta cokelat ini berlangsung Sabtu 25 Agustus 2018 sejak jam 10 pagi sampai 4 sore di Hotel Horison Ultima Bandung bersama Colatta. 

Acaranya bertajuk Sweetoday 5.0 Bandung dan terdiri dari pameran produk Collata dan Haan. Ada juga demo memasak kue dari dua chef ternama. Di ujung acara ada workshop food photography dengan smartphone.




Sweetoday adalah acara gathering yang diselenggarakan Colatta dan Haan yang di Bandung ini acara ke-5. Empat acara sebelumnya berlangsung di Jabotabek dan Surabaya. 

Ini pertama kalinya saya menghadiri sebuah gathering dari merek kuliner. Menarik juga ternyata hahaha. Bagian menarik adalah pas icip-icip kuenya. 

Colatta dan Haan merupakan produk bahan masakan dari PT Gandum Mas Kencana. Kalau temen-temen gemar membuat pastry dan bakery, pasti sudah kenal dengan produk-produk andalan Colatta. 




Gathering yang terbuka untuk umum ini dihadiri lebih dari 200 orang. Ada beberapa perwakilan komunitas kuliner dan memasak. Kayak misalnya komunitas NCC (Natural Cooking Club) dan Emak Pintar Bandung. 

Komunitas-komunitas tersebut memajang pastry dan bakery hasil olahan menggunakan bahan utama cokelat dari Colatta. Sebelum acara resmi dimulai, peserta mondar-mandir berfoto dengan aneka macam kue ini. Ya, saya juga termasuk yang foto-foto kuenya. 





Beberapa komunitas kuliner diundang sebagai peserta. Sekira lebih dari 200 orang waktu itu yang menghadiri acaranya. 99% perempuan semua deh kayaknya, termasuk saya. Gak dikit pula di antara peserta yang merupakan pelaku bisnis di bidang pastry dan bakery. 

Sebelum masuk ke ruangan, saya dibekali booklet berisi empat resep kue yang praktis cara membuatnya. Chef Arief dan Chef Nina lincah memasak kue-kue : Cheese and Crunchy Chocolate, Pie and Chocolate Brownies, Colatta Crunchy Mooncake, terakhir nih Haan Brownie Coffee Cheesecake Tart. 

Terus tiap beres masak, kuenya dibagi-bagin untuk peserta. Hore banget! hahaha. Semua kuenya enak, tapi yang paling berkesan buat saya adalah Pie Chocolate Brownies. Cara bikinnya unik. Jadi tahu deh sekarang cara bikin kue bulan. 





Acara utama dalam gathering Sweetoday 5.0 adalah peluncuran dua produk Colatta dan Haan: Colatta Crunchy Spread dan Haan Brownies Pouch. 

Colatta Crunchy Spread adalah selai cokelat siap makan. Dari namanya sudah bisa nebak ya kalau dalam cokelatnya ada tekstur renyah. 

Haan Brownies Pouch merupakan tepung instan untuk membuat brownies. Dari demo masaknya saya baru deh meratiin buat brownies gak seribet yang saya bayangin! Thanks to Haan Brownies Pouch. Cara bikin browniesnya gampang aja. Cuma campur Haan Brownies Pouch + minyak + telur. Kocok. Masukan adonan ke loyang. Panggang. Tunggu sampai matang. Udah gitu aja coba! Ya ampun...betapa hidup lebih mudah dengan resep-resep kayak gini :D 

Dalam sambutannya, Iman Setia, Marketing Communication Manager PT. Gandum Mas Kencana mengatakan bahwa acara Sweetoday adalah ajang berbagi kue-kue berbahan Colatta dan Haan yang kekinian. Haan Brownies Pouch salah satu bahan makanan kekinian yang dibuat untuk kepraktisan, harganya ekonomis, dan rasanya spesial! 

Kalau gak salah Haan Brownies Pouch dikenakan harga Rp27.000. Yok ayok kalau ke supermarket belanja bulanan, jangan lupa masukin Haan Brownies Pouch dan Colatta Crunchy Spread ke daftar belanjaan :) 




Di akhir acara ada sesi food photography dengan mentor Sefa Firdaus. Mengandalkan smartphone sebagai alat memotret makanan dan menghasilkan foto yang bagus, kenapa enggak. Tapi kan ada taktiknya. Sefa Firdaus yang followersnya sebanyak 16ribu di ainstagram ini membagikan tip dan triknya. Beberapa hal yang saya tanam kuat-kuat dalam ingatan (sekaligus saya catat :D) adalah: kenali smartphone punya sendiri, foto dengan resolusi besar, ketahui arah cahaya, belajar komposisi, belajar angle memotret, dan tidak menggunakan fitur zoom. "Kalau pake zoom, hasil foto akan pecah," ucap Sefa. 

Belajar bikin kue udah. Kenal produk yang berkualitas dan praktis juga udah. Memotret kuenya pun udah diajarin. Nah sekarang tinggal prakteknya di rumah masing-masing nih. Selamat memanggang kue dan menebar wangi cokelat ke seantero isi rumah :) 


Museum Bio Farma, Sejarah Vaksin di Bandung Satu Abad Lalu

July 25, 2018
Kesan pertama baca/denger Bio Farma pasti cuek-cuek aja. Apa istimewanya nama yang terkesan medis, biologis, dan berbau ilmu pengetahuan alam itu?

Ohooo istimewa banget!

Bio Farma punya sejarah panjang di Bandung. Wait, bahkan di Indonesia!

Gimana bisa?



Bio Farma adalah BUMN yang memproduksi vaksin dan antisera. Dahulu bernama Institute Pasteur & lembaga ini yang merintis pembuatan vaksin di Hindia Belanda.

Kamu tahu lah pasti Jalan Pasteur, orang Jakarta nih pasti tahu wkwkwk. Pasteur adalah ilmuwan yang menemukan (cara pembuatan) vaksin. Karena jasanya, namanya diabadikan jadi nama jalan di Bandung. Tepat di lokasi Bio Farma berada, di mana pekerjaannya Pasteur diteruskan sampai sekarang.

Sebenernya sih nama jalan Pasteur diubah jadi Jl. Dr Djundjunan. Tapi warga Bandung dan kebanyakan tulisan wisata tahunya ya Jalan Pasteur.

Sejak awal mula berdirinya 1890 di Batavia, mereka turun tangan mengatasi wabah penyakit di nusantara. Cacar Api salah satu penyakit yang berhasil ditumpas dengan imunisasi (vaksin). Vaksinnya dibuat di Institute Pasteur dong.

Faktanya sekarang, lembaga yang ada di Bandung sejak tahun 1923 ini memproduksi vaksin dan menyuplainya ke seluruh Indonesia. Termasuk memenuhi 10% kebutuhan vaksin dunia: 137 negara, 49 negara Islam (OIC).

Gileee Bio Farma! Mantap! Satu-satunya negara di Asia Tenggara yang kayak gini nih!

Karena sejarah yang panjang dan aset-aset medis yang mereka simpan baik-baik dan umurnya sudah satu abad, Bio Farma memuseumkan benda-benda bersejarah tersebut.




Rabu 18 Juli 2018, Bandung Diary dan banyak teman dari komunitas sejarah, blogger, dan museum menghadiri undangan acara dari Bio Farma. Ada talkshownya dan tur ke museum Bio Farma.

Museum Bio Farma sudah ada sejak tahun 2015. Namun karena datanya diperbarui & ada perubahan tata letak pameran, mereka ajak kami melongok kembali museum medis mungil dengan sejarah panjang ini.

Upaya menghadirkan museum ini adalah cara Bio Farma ikut melestarikan sejarah Bandung, utamanya di bidang kesehatan.

Di dalam Museum Bio Farma kita bisa melihat asal muasal penemuan vaksin,  wabah penyakit, 'pembuatan' vaksin, dan peralatan medis yang digunakan di tahun 1930an, serta beberapa alat medis lainnya. Cocok nih museumnya bagi kamu, kamu, dan kamu yang antivaksin. Ketahui asal usul vaksin, kenal vaksin lebih dekat. Supaya apa? Agar paham dan tobat dari antivaksin.

Display benda koleksinya bagus-bagus. Modern & dirancang apik sehingga enak dibaca dan bagus buat foto-foto. Khekhe.

Ada empat area di dalam museum. Dimulai dari data bos-bos Bio Farma sejak 1 abad lalu. Abis itu timeline perjalanan Bio Farma sejak zaman kolonial sampai kemerdekaan. Banyak foto yang merekam pembuatan vaksin dan imunisasi di era kolonial. Memang orang-orang Belanda ini ya arsip dokumentasinya bagus banget. Salut juga kepada Bio Farma yang menyimpan dan menjaga 'harta karun' tersebut baik-baik.

Oke. Dari area 1 dan 2 yang bahasnya fokus ke sejarah, di area 3 masuk ke area yang bahas vaksin. Banyak Taksidermi (cmiiw). Di antaranya saya melihat ular. Kamu pernah bertanya-tanya gak sih vaksin itu bikinnya gimana? kalau meratiin dari museumnya Bio Farma, saya jelasin dikit nih. Benerin ya kalo ada yang salah.

Jadi bikin vaksin itu ibarat ternak ikan lele. Bakteri baik diternakan. Untuk mengembakbiakan bakteri tersebut, butuh media. Media ini nih aneh-aneh sih. Ya namanya juga bakteri sih ya apa yang gak aneh darinya :D

Kayak vaksin untuk cacar api nih, dikembangbiakannya di perut kerbau. Memang hanya bisa di perut kerbau. Terus pas panen, diambil lah bakterinya terus entah gimana cara ekstraknya, buang zat buruknya, ambil zat baiknya. Butuh waktu sekitar hampir 10 bulan untuk proses pembuatan vaksin tersebut. Ceunah kata pemandu museumnya.

Hamdalah ya cacar api udah musnah.



Btw balik ke museum. Di bagian akhir museum ada area yang memajang prestasi Bio Farma. Juga ada profil kerja tim CSRnya mereka.

Pernah denger Ciletuh kan, yang sekarang udah resmi jadi Geopark Nasional. Nah, Bio Farma dengan tim CSRnya turun tangan mendampingi warga di sana mewujudkan status geopark tersebut sejak tahun 2014. Kamu bisa baca tulisan jalan-jalan saya di Ciletuh di sini yak.

Btw, setelah talkshow dan tur ke museum, kami juga diimunisasi, disuntik vaksin Flubio. Vaksin Influenza. Wah terima kasih, Bio Farma!

Bila ingin berkunjung ke Museum Bio Farma, reservasi dulu ke webnya. Cek ke bio akun @biofarmaid dan klik websitenya.

Museumnya terbuka untuk umum & gratis, namun datangnya gak bisa perorangan gitu.

Museum menerima kunjungan di hari rabu & kamis, jam 09.00-11.30.



Piala Dunia dan Mimpi Nonton Final di Rusia #Spon

July 08, 2018
Kamu tahu gak sih definisi patah hati buat saya apa? Negara Amerika Latin tersingkir dari Piala Dunia 2018. Eheee. Jagoin Uruguay, oala kok kandas di kaki-kaki anak Prancis! 

Walo kompetisi masih berjalan dan pegangan saya udah gak ada, Piala Dunia masih seru buat ditonton. Empat tahun sekali ateuh meuni sayang kalau dilewatkan. 

Selama laga Piala Dunia 2018, saya baru sekali aja ikut nobar alias nonton bareng. Yakni di tanggal Uruguay kalah dari Prancis (ahahaha watir), 6 Juli 2018. Berlokasi di kafe One Eighty Music Coffee di Jl Ganesha no. 3 Bandung, Bandung Diary dan beberapa rekan media cetak dan digital diundang untuk nobar sekaligus menghadiri acara bertajuk Race to Moscow yang diselenggarakan perusahaan ekspedisi tersohor seNusantara: JNE. 



Jadi gini. JNE bikin undian berhadiah nonton final piala dunia. NONTON LANGSUNG DI RUSIA LHOOOO! Bisi weh pada nyangka nonton di lapangan Gasibu kan :D 

Terus program undian ini dikasi tajuk Race to Moscow. Pesertanya hanyalah member JNE yang sudah terdaftar di JNE Loyal Card (JLC). Hayoooo yang sering-sering kirim paket via JNE, apakah kalian merasa melewatkan sesuatu? Ekhekhekhe. Ntar yah saya ceritain si JLC di bagian paling bawah. 

Sampai mana tadi teh? 
Oh iya Race to Moscow. 

Sistem lombanya gini. Member JNE nuker poin sebanyak-banyaknya. 1 poin bernilai 25.000. Terus JNE undi nih siapa yang dapet hadiah ke Moscow. Jumlah pemenang ada enam orang. EMPAT PEMENANG DI ANTARANYA ORANG BANDUNG SEMUA AAAAHHHEEUUU! 

Karena itu JNE bikin seremonial penyerahan hadiah Race to Moscow di Bandung. Dibarengin dengan nonton bareng duel perempat final Piala Dunia. 

penyerahan hadiah
kira-kira 30 menit sebelum gol Uruguay bobol :D

20 menit sebelum Prancis jebol gawang Uruguay :D

Di waktu yang sama, pukul 19.00, di kota Malang juga diselenggarakan acara yang serupa. Kenapa? karena satu orang pemenang lainnya dari Malang. 

Sisa satu pemenang kan, asalnya dari Jakarta. Ya kan Jakarta udah dikasih kantor pusat, jadi gak diselenggarakan seremoni penyerahan hadiah Race to Moscow di sana. *ngarang :D*

Nya intina mah pemenang teh aya genep. Lalaki opat, istrina dua. Pemenang yang empat orang hasil diundi dari transaksi member di JNE. nah kalo dua orang lainnya, diundi dari hasil transaksi JNE di Shopee. Iya JNE sama Shopee kolaborasi. 

Keenam pemenang bakal berangkat dari Indonesia tanggal 13 Juli 2018. Di Rusia nonton final Piala Dunia sekalian jalan-jalan. Totalnya 4 hari 3 malam di sana. Tiket pergi-pulang gratis, akomodasi dikasih, logistik gak usah khawatir, visa diurusin sama JNE. Hayah kari bawa badan jeung koper buat buka jastip weh meureun :D 

Beruntung banget yah 6 orang pemenang Race to Moscow JNE. Perbuatan baik apa yang mereka sudah lakukan sampe segitu beruntungnya yah...

Kabita teu? Ah kan ada pengen jadi member JNE kan? Saya juga mau. Melalui program membershipnya ini, setiap transaksi kita dibarter dengan poin. Makin banyak poin nanti dikasi hadiah macam-macam sama JNE. Ada hadiah gawai, mobil, jalan-jalan! Hweeeee jangan dilewatkan! 

Siapa tahu nanti ada Race to Piala Eropa atau ke Copa America, pada siap-siap dari sekarang. Kebetulan mah gak ada, adanya persiapan. Tah kitu. 

Gini kalau mau daftar jadi member JNE di JNE Loyal Card:

1. Buka website JNE di http://jlc.jne.co.id
2. Isi data
3. Nanti JNE mengirim kartu melalui email yang terdaftar saat kalian registrasi
4. Prosesnya gratis
5. Nanti kalo udah dapet kartunya, tiap transaksi di konter JNE tunjukin kartu membernya ya

Pertanyaan dan jawaban seputar member JNE Loyal Card bisa dibaca di webnya JNE. Silakan dibaca teliti dulu supaya paham. Hehe. 
Coba difollow akun membernya JNE di @JNE_JLC. 

Selamat mendaftar jadi membernya JNE.
Selamat bagi enam orang yang berangkat ke Rusia.
Dan ayo kirim paket via JNE terus dapetin poinnya! 





Teks: Ulu
Foto: Ulu

Waktu Mudik Menumpang 4848 dan Kebanyakan Penumpang di Terminal Bis Kelakuannya Kayak Zombie

June 08, 2018
Mudik tuh udah kayak medan perjuangan. Gini ceritanya. 

Anak sulung bukan cuma kebagian barang-barang baru yang masih segar, anak sulung tuh saksi perekonomian keluarga. Kayak saya.

Dari jadi guru, kepala sekolah, sampai jadi pengawas tingkat provinsi, saya mengikuti perjalanan karir Bapak. Uangnya cukup buat beli televisi tabung ukuran 14 inch sampai ia sanggup naro 1 tv di ruang tengah dan 1 tv di kamarnya, ya saya mengalami juga perkembangan itu.

Dalam hal mudik, sama juga. Transisi kemampuan finansial Bapak dan Ibu, saya ikut jadi saksi matanya.

Mudik -sewaktu saya masih bocah cilik- adalah menumpang bis. Bisnya kelas ekonomi. Rasanya awut-awutan banget. Duduk tertindih sebagian badan penumpang lain. Belum lagi harus jaga barang atau adik-adik. Ruwet! Paling gak suka deh dengan bis kayak gini. Saya udah cerita bagian rebutan masuk bisnya belum? Deuh kesel banget lah kalau bapak udah bilang "bisnya udah dateng, siap-siap". Heuheu. 

Jadi penumpang elf, pernah juga. Tapi samar-samar ingatnya. Gak bisa cerita banyak tentang angkutan ini.

Lantas perekonomian bapak bergerak naik, kami bisa duduk di kursi bis AC yang nyaman. Tapi kalau musim mudik mah bisnya tetap penuh saja sampai ada penumpang yang berdiri. Udah gitu masuknya pun masih berebutan. Yah lumayan gak semenyiksa bis ekonomi sih tapinya.

Shuttle 4848. Ah ini mah saya ingat. Menumpang di kursi paling belakang dan kartu profil pesepakbola favorit saya tertinggal di saku kursi. Dennis Bergkamp kalau gak salah nama pemainnya. Sedang ramai piala dunia rasanya waktu itu. Pas nyadar kartunya ketinggalan, yah sedih banget…

Photo credit: 4848 Transportasi

Menumpang mobil keluarga yang kebetulan mau atau lewat ke Bandung. Rasanya? Kayak tamu :D mau rikwes berhenti sebab perut mual dan pengen muntah, gak bisa. Cuma bisa diam aja. Diajak makan, hayuk. Mau jalan terus juga saya ikut aja. Manut wae lah judulnya.

Dikirim mobil jemputan oleh nenek dari Bandung lengkap dengan sopirnya. Biasanya di dalam mobilnya bau ayam. Sebab kakek saya pedagang ayam kan. Mobilnya suka dipake buat antar jemput kakek dari-ke pasar. Yah bau banget mobilnya! Kami suka bersihin dulu sih sampe disemprot pewangi. Tapi seneng aja sih pake mobil gini, lebih mending daripada angkutan massal.  

Mobil angkutan ilegal. Biasanya bentuknya Carry atau Zebra. Satu mobil ditumpuk penumpangnya sampai 18-20 orang. Cih mobil durjana! Susah duduk. Keluar mobil, lutut tuh udah kayak stek, tinggal ditanem aja.  

Mobil dinas dari kantor bapak saya. Aheuuuu. Mobilnya gede banget kayak Hiace lah tapi versi jelata. Adik saya yang ada 8 itu muat ditaro di mana aja bisa. Wkwk. Luas banget bagian dalamnya. Kacanya dong bening. Kami udah kayak ikan di dalam aquarium. Terus di badan mobilnya tercantum tulisan besar sekali: DINAS PENDIDIKAN BLABLABLABLA (blablabla merujuk ke kantor ayah saya). Sampai awal saya jadi anak kuliah, ini mobil masih dipake. Kalau udah masuk Ujung Berung, saya tenggelemin kepala sampe bawah jendela. Sebab malu pake mobil dinas. Kampungan banget. Bapak saya ya entahlah. Dia cuek bebek aja kelihatannya. Atau ditegar-tegarin :,)

Mobil pribadi. AKHIRNYA! Memang gak ada yang bisa ngalahin nyamannya naik mobil sendiri. Kecuali: pertengkaran domestik antara kakak dan adik di dalam mobil juga mood si sopir alias bapak saya :D Nah kalau udah berantem sama adek, saya mah milih naik bis aja wkwk.

Kereta Api. ANGKUTAN TERBAIK! Baru muncul di tahun 2013, setelah PT. KAI mereformasi sistem dan pelayanannya itu lho. Rute Bandung-Cirebon baru lahir. Gila ini angkutan terberadab tersuci dan terislami! Bersih, tertib, dan gak kena macet! Saya cinta kereta api!

Kenapa kalian baru muncul sih, wahaaaaiiii gerbong-gerbong kereta api!

Kalian pernah nonton Train To Busan kan? Itu zombie-zombie yang ngejer kereta persis sama dengan kelakuan para penumpang yang rebutan naik bis. Sikut-sikutan. Hukum rimba banget. Heeuuugh. 

Bapak saya sih seringnya masuk dari pintu supir :D 

Saya tuh suka mikir ini kapan Dishub mau berbenah. Kapan mau pasang loket dan karcis. Biar tertib masuknya. Biar penumpang tenang aja, naik bis gak usah sikut-sikutan sebab udah dapet tempat duduk juga toh.

Terus muncul lah shuttle yang sistemnya persis yang saya pikirin. Ahahahaha. Ongkos lebih mahal daripada bis tapinya. Ahahahaha. Ada harga ada rupa.

Memang selalu ada harga untuk sebuah kenyamanan. Perjuangan banget buat dapetin kenyamanannya. Beda usia, beda juga kenyamanan yang saya dapat waktu mudik. Seru sih kalau saya review lagi perjalanan mudiknya sekarang. Kalo pas ngalamin banget mah antara seneng dan kesel yang terasa eheee. 

Blogger-blogger yang Mengajarkan Saya Tentang: Tulis Saja Dulu!

June 05, 2018
Meski sudah jarang nulis di blog selama tiga bulan ini, saya masih rajin baca blog. Istilahnya mah blogwalking. Alias jalan-jalan ke blog orang lain. Wah gilagilagila! Blogger keren di luaran sana tuh banyak banget!

Bagian menariknya adalah, gak dikit juga dari mereka yang nulisnya gak sering-sering. Kayak saya sekarang. Mungkin bosan atau kehabisan bahan juga ide untuk ditulis.

Bisa jadi semangatnya lagi diserap saripati kehidupan bernama tagihan listrik, tagihan air, belanja bulanan, dan asuransi pendidikan untuk anak. Hahaha. Saya tertawa saat menulis ini, tapi di dalam hati perih yang terasa.

Blogger juga manusia. Sesekali butuh 'berhenti'. Ambil jeda.


Kita balik lagi ke blogger keren. Coba ditebalkan satu kata tadi: KEREN.

Keren tuh masalah selera. Karenanya ia objektif.

Saya bikin daftar blogger yang blognya langganan saya baca nih. Saya juga paparkan alasan kenapa mereka keren. Sekali lagi, keren itu perkara perspektif.

Dengan demikian, menurut perspektif saya, blogger yang keren itu ialah:

The Babybirds

Ini blog keluarga, terdiri dari tiga orang (ibu-ayah-anak). Blognya beralamat di www.thebabybirds.net, memuat tulisan-tulisan bertema desain, parenting, traveling dan DIY (proyek do-it-yourself). Pendek kata isi blognya ramai tema, tapi kamu bakal tahu ada kesamaan jalinan antara satu tema dengan tema lain.



Mereka gak rajin perbarui isi blog. Di Instagram, salah satu akun yang notifikasinya saya aktifkan adalah akunnya @thebabybirds ini.

Coba kamu scroll arsip blognya, mereka udah ngeblog sejak belum menikah sampai sekarang anaknya udah kelas 1 SD (apa kelas 2 SD ya :D). Edan konsisten pisan.

Tulisannya juga yah kayak tulisan ala diary. Kayak orang lagi cerita ke temennya gitu. Kadang ada typo. Kadang salah eja. Kadang gak sesuai EYD. Ah gak masalah ternyata, enak aja bacanya. Keren abis! Huehehehe.

Annisast

Berhubung saya udah jadi ibu-ibu, tema parenting tuh udah cocok lah. Annisa nih menurut saya konsisten di tema 'orang tua' ini nih. Terkadang ia bahas tema kecantikan juga, tapi saya gak tertarik baca tema cantik ini mah.

Udah pernah baca blognya dia? Gimana menurut teman-teman tulisannya? Coba dibaca dulu di www.annisast.com. 



Menurut saya, tulisan dia tuh brutal. Tapi jujur. Realistis dan lugas. Dari cara menulisnya juga saya nebak ini orangnya lempeng dan judes. Ahahah.

Sudut pandang dia tentang mengurus anak juga segar. Gak sok suci berceramah tentang jadi orang tua yang baik. Dia tuh… apa ya…praktikal gitu lah orangnya. Gak bertele-tele.

Coba baca kategori Parenting. Annisa adalah pengamat yang baik saya rasa. Amat sangat baik. Usai mengamati, ia menganalisis, mencerna isu-isu yang terjadi di dekatnya dan menemukan solusi.

Kayak tulisan dia tentang Ibu Pekerja dalam judul Ibu Bekerja, Demi Apa? Cara mikir dia tuh sederhana. Justru itu, kesederhanaan berpikir yang banyak hilang di kepala kita saat ini bukan? :D

Buat saya, dia blogger tema parenting terbaik. Seru! Keren!

Sastri

Blog traveling kesukaan saya? Blognya Sastri lah sudah pasti. Sayang ia gak pernah lagi perbarui tulisan di blognya. Tapi kita bisa baca tulisannya di Kompas sih, secara dia wartawan Kompas.



Tapi beda ya nulis untuk pekerjaan dan hobi. Hobi mah ruangnya lebih bebas. Tulisan sastri tuh puitis dan pendek. Piawai sekali ia bermain dengan kata-kata.

Di tiap tulisannya, saya nih sebagai pembacanya, kayak dikasih kaca. Untuk berefleksi. Keren. Jujur aja saya iri dengan kemampuan Sastri menulis. Pengen bisa menulis sepertinya. Untuk baca tulisannya, klik www.anindiati.wordpress.com.

Blognya siapa yang tipenya kayak Sastri ini ya? Ada rekomendasi blogger serupa?

Ini saya aja yang merasakan atau kamu juga? Setiap kali saya membaca catatan perjalanan, saya gak butuh rekomendasi dan itinerary. Biasanya saya baru nyari rekomendasi dan susunan perjalanan kalau saya mau pergi ke daerah yang sama.

Tapi kalau lagi gak ada niat jalan-jalan, saya cari tulisan perjalanan yang naratif. Tulisan yang sifatnya memancarkan sebuah rasa dan pengalaman. Tulisan Sastri tuh naratif kayak gitu. Cantik dan sentimentil. Keren.

Gara

Oh ya Tuhan kalau baca tulisan Gara tuh gak bisa sambil makan, sambil nonton, atau numpang ojek online. Ahahaha. Dia nih kalau nulis, tulisannya ‘gemuk-gemuk’. Ohiya, tentu saja panjang.

Walo panjang, saya betah bacanya. Coba dibuka-buka blognya Gara. Tulisan dia temanya budaya dan sejarah.

Dia sering bahas tentang kehidupannya sebagai orang Bali. Kayak upacara-upacara adat yang unik yang kita gak pernah lihat di televisi dan internet (kecuali kita sengaja googling). Upacara Mewinten, misalnya.



Tulisannya berbobot udah kayak tesis sejarah bercitarasa buku harian. Kalau bahas satu benda, dia bisa bahas sejarah-sejarahnya sampai jauuhhhh ke belakang. Lalu ia hubungkan dengan kehidupan masa kini.

Tulisan yang berat sih saya rasa. Makanya saya baca sambil duduk tenang, supaya fokus bacanya. Kecuali kamu menyukai tema yang sama, rada susah baca tulisan dia tuh. Nih nama blognya aja www.mencarijejak.com. Heuheuheu. Keren gila!

Tanzil Hernadi

Ohooo orang yang satu ini masuk ke daftar orang paling rendah hati dan terkenal di jagat raya perbukuan. Utamanya di Bandung. Blognya digunakan untuk menulis resensi saja. Baca deh nama blognya: bukuygkubaca.blogspot.com.

Umurnya udah gak muda kok. Tapi apalah umur, itu cuma masalah sudut pandang aja. Ehehehe. Darinya saya belajar meresensi buku. Juga darinya saya mencerap tentang konsistensi dan rendah hati.



Kamu buka blognya, apa adanya banget. Sederhana tuh tampilan blognya. Gak ada template blog yang cakep. Malah kalau baca via desktop, alamak blognya pengen saya perbaiki. Tapi ya gak usah.

Pak Tan, demikian saya menyapanya, sudah merasa cukup dengan tulisan resensinya, kok pembaca kayak saya malah merumitkan tampilan blog. Heuheu.

Kalau saya bikin kesimpulan dari blogger-blogger keren favorit saya di atas, terangkum dalam empat kata: konsistensi, tulus, & kerjain aja. 

Saya rasa ketulusan itu terasa kok menembus layar smartphone dan laptop kita. Tulisannya jujur dan sedap dibaca. Seolah-olah terlewat satu kata saja kita tak mau.

Konsistensi. Ah satu kata ini memang intimidatif. Berat untuk dilakukan, bahkan saat kita sudah merasa konsisten sekalipun.

Kerjain aja? Iya kerjain aja, tulis aja. Kebanyakan mikir, kapan nulisnya woy :D

Rumusnya sederhana aja kan? Tapi justru susah banget buat diterapkan.

Dipikir-pikir mah tiga hal itu sedang saya lakukan. Berkat niru dan menerapkan cara yang mereka lakukan pada blognya.  ATM. Amati. Tiru. Modifikasi.

Juga banyak baca.