Tentang Berjalan di Kaki Gunung Tangkubanparahu dan Menyaksikan Raptor (3)

December 19, 2017
Saya kira orang yang menciptakan dongeng Sangkuriang adalah orang Bandung. Setidaknya orang yang pernah ada di Bandung. Coba kamu perhatikan. Gunung Tangkubanparahu mirip perahu terbalik. 

Kamu tahu kan legenda Sangkuriang, yang gagal menyunting Dayang Sumbi. Dengan marahnya ia menendang perahu, perahunya terlempar, melenting dan mendarat lagi ke bumi dalam posisi menelungkup (terbalik, tangkuban = terbalik).

Saya sedang berada di Panaruban. Pagi kelabu itu kami (Yogi, Rangga, dan saya) hendak treking ke dalam hutan. Kami mengekor satu orang teman Yogi, dia yang bertugas mencatat perilaku dan jejak Elang 'asuhannya'. 

Di hadapan sebuah benda besar yang saya kira bukit ternyata gunung itu Yogi memberi tahu. "Kita lagi berdiri menghadap Tangkubanparahu, Lu."

Saya bereaksi seperti habis lihat atraksi tukang hoax. "Ah masa? Kok puncaknya gak kelihatan rata sih?"

"Tangkubanparahu mah baru kelihatan kayak perahu dibalik kalo dilihatnya dari Bandung, bukan dari arah sebaliknya di Subang," Yogi sepertinya senang saya baru tahu fakta tersebut. 

Nah dari situ lah saya baru menyadari. Lhoooooooo ternyata ke mana aja saya selama iniiiii 😑

Maksudnya begini, waktu zaman kuliah, sering bolak-balik Bandung-Indramayu via Pamanukan. Di Subang, pemandangannya ya Gunung Tangkubanparahu. Tapi gak pernah saya perhatikan kalau melihat gunung ikonik dari Bandung ternyata berbeda bila saya memandangnya dari Subang. 

Abainya selama ini saya terhadap kenyataan sederhana dan tidak penting dalam aspek kehidupan saya. Tapi saat tahu fakta tersebut, saya merasa bodoh 😁

Kembali ke hutan. Berjalan kaki berempat. Berputar-putar di antara pepohonan lebat, tanah lembab, dan sungai yang bening. Wangi daun basah aromanya menelusup sampai ke hati.

Sebelumnya melewati areal perkebunan teh dulu. Hijau warnanya di mana-mana. Udara sejuk bersihnya terasa hingga ke paru-paru. Salah satu pemandangan terindah yang saya pernah lihat. 

Sembilan tahun perjalanan ini berlalu, saya sudah gak ingat lagi rincian jejaknya. Saya ingat temannya Yogi ini banyak jalan kakinya, sesekali mencatat. Beberapa kali ia meminta kami diam dan mendengar suara Elang. Enggak, saya gak bisa dengar suaranya 😂

Bersama komunitasnya, Yogi mengasuh burung elang. Elang-elang tersebut asalnya dari hasil sitaan penjualan gelap satwa langka.

Yogi dkk mengasuh burung langka itu sampai mereka sehat dan sanggup lagi hidup di alam liarnya. Kalau saya tidak salah ingat, Yogi dkk menyebut salah satu Elangnya dengan istilah Raptor. 

Si Elang ini dipasang radar di tubuhnya sehingga terlacak jejaknya di hutan. Entahlah jadwal rutin cek elang-elang itu kapan. Pastinya sih orang-orang di komunitasnya Yogi bergiliran kerja memantau perkembangan Elang. 

Di dalam hutan, jalannya menanjak dan menurun. Yogi yang latar belakang pendidikannya Biologi, mengenalkan saya daun dan buah yang berbahaya dan mereka yang bisa dimakan. Termasuk daun-daun untuk melupakan persoalan dunia (baca: mabok 😅).

Sungai-sungai kecil kami sebrangi. Airnya bening, terasa dingin.

Saat menulis ini, saya merasakan ada lebih banyak kedamaian. Saya yang dahulu masih muda untuk kenal persoalan-persoalan hidup yang pekat sehingga kedamaian yang saya rasakan sepertinya gak sedalam sekarang. Halah 😂 Waktu masih umur 22 mah nothing else's matter (mengutip Metallica).

Ironi banget ya. Rasa damai itu berbeda-beda perspektifnya. Saya yang dahulu melihat Panaruban sebagai desa yang permai, panoramanya indah, dan sejuk alamnya. Sudah itu saja. Bila saya yang sekarang berusia 32 tahun, punya satu anak, sudah bersuami, yatim, tidak bekerja kantoran, memiliki satu usaha sendiri, merasakan banjir informasi di media sosial, lapar dan pesan gofood, kamera smartphone di tangan, dan instagram di genggaman, lantas bagaimana rasanya melihat kembali permainya Panaruban itu?

Menyusuri hutan rupanya bikin capek juga. Niat melihat Curug Sadim ditunda dulu. Dari pagi-pagi hingga pukul dua siang, kami baru kembali ke rumah emak dalam keadaan kotor dan lapar.

Saya ingat menu siang yang terlambat kami santap. Nasi pulen yang baru panas, tahu goreng, aneka lalapan, dan sambal. Menu terlezat yang membuat air mata saya hampir berjatuhan. Enak sekali.

Yogi pamit kembali ke kota. Saya dan Rangga ditinggal di rumah emak bersama satu temannya yang lain. Saya masuk kamar dan tertidur dalam keadaan duduk 😅

Satu jam kemudian terbangun dan langsung ambil jaket, keluar rumah dan berjalan menuju Curug Sadim sendirian. Yogi memberi tahu petunjuk arahnya sebelum ia pulang.

Bertemu temannya Yogi dan Rangga di tengah jalan, ia menemani saya ke curug. Hanya kami bertiga yang ada di curugnya. Idealisme traveling yang menjemukan itu dan banalnya Instagram belum lahir pada zaman kami ke Panaruban. Sepi sekali suasananya di akhir pekan.

Temannya Yogi mengajak kami ke penangkaran Elang. Rangga menolak, capek katanya. Ia kembali ke rumah. Saya mah maju terus ingin lihat Burung Elang dari dekat. Sayang gak ingat banyak jenis-jenis elangnya. Hanya ingat ada elang jenis Raptor (elang pemangsa) dan Elang Ular.

Saya juga gak ingat obrolan dengan temannya Yogi apa. Seru juga sih ngobrolnya. Tapi gak ingat ngomongin apaan 😂 Kunci ingatan tentang kegiatan dan detail di Panaruban hari itu kedodoran banyak seiring bertambahnya umur saya. Namun rasa permainya abadi di sudut jiwa. Haseeggghhh 😂

Kami kembali ke rumah emak sambil berlari. Karena hujan turun mendadak, lebat pula. Kami kehujanan.

Waduh hujan sore itu nikmatnya gak terlupakan. Bayangkan kehujanan di tengah perkebunan teh sehabis menabur jejak di dalam hutan dan mengunjungi penangkaran elang langka. Betapa 'berbudayanya' hidup saya selama sehari di Panaruban. Ditambah saya masih muda, jomblo, gak ada yang namanya masuk angin lah, sakit lah, atau meriang sehabis kehujanan. Haha.

Ngomong-ngomong tentang status jomblo, sewaktu memandang hujan dari pintu rumah Emak itu saya ingat Indra. Kami belum menikah, berpacaran saja cuma sebatas mengkhayal. Hahaha. Memang rasa bahagia itu enaknya dibagi bersama orang yang kita sayang dan saya harap waktu itu Indra ada di samping saya, tapi manehna bogoh ka urang ge henteu basa eta teh 😑

Di ujung hari yang lingsir, berdua bersama Rangga kami angkat kaki menuju Bandung. Dua orang warga dengan baiknya menawarkan tumpangan dengan motor. Dipikir-pikir, memang agak malas juga jalan kaki sampai ke jalan raya, heuheuheu pada dasarnya kami ini memang orang-orang kota yang menyebalkan.

Saya belum ketemu lagi Yogi. Juga Rangga. Termasuk kedua teman Yogi. Si Emak. Apa kabar mereka ya...

4 comments on "Tentang Berjalan di Kaki Gunung Tangkubanparahu dan Menyaksikan Raptor (3) "
  1. Jadi ingat kapan terakhir kali ke Tangkuban perahu, atau melihat gunung tangkuban perahu. Ahh sudah lama sekali rasanya teh, aku jadi kangen jalan - jalan menyusuri hutan juga. Walau cape tapi rasa bahagia menyeruak di dada.

    ReplyDelete
  2. Hey... membaca ini membuat rasa hangat di hati. Kenangan yang sudah jauh memang tidak bisa diingat dengan detil. Tapi saya yakin rasa nyamannya abadi. Bisa diingat-ingat kembali, dan kenangan pun bisa datang. Semoga semua orang yang bersamamu pada perjalanan itu baik-baik saja saat ini, Mbak. Elang-elangnya, pun. Semoga mereka beranak-pinak dan lestari.

    ReplyDelete
  3. Kalo jalan sama lulusan biologi, jadi banyak tahu cerita tumbuhan ya, mana yang gak boleh dimakan vs bisa dimakan. Kalo aku kayaknya lihat semua tumbuhan sama aja :))

    ReplyDelete
  4. Aslina, Lu. Saya yang 7 tahun lalu berusia 30, punya dua anak, sudah bersuami, tidak bekerja kantoran, memiliki usaha sendiri, merasakan banjir informasi di media sosial, lapar tinggal pesan KFC (maaf, dulu Go Food belum ada), kamera smartphone di tangan, aya kapusing tinggal ngemall, tadinya teu kabayang bagaimana saya bisa hidup di "leuweung" jiga Panaruban.

    Hamdallah... ternyata 7 tahun saya bisa bertahan di "leuweung". Terima kasih internet!!! Mun teu aya jigana stress nyaanan wkwkwkwk

    ReplyDelete