Cita-cita Menjelajahi Bangunan Kuno di Semarang

October 02, 2017
12 tahun lalu. Saya masih kuliah duduk di bangku semester enam. Sedang membaca koran harian terlaris di Jawa Barat dan menekuri berita sampai ke iklan barisnya. Pada salah satu iklan teks tersebut saya membaca pengumuman acara jalan-jalan bertema wisata sejarah. Ah menarik nih! Saya perhatikan rute jalan kakinya, acaranya mengunjungi beberapa bangunan kuno di Bandung. Gak pikir panjang, saya sms no kontak yang tercantum dan mendaftarkan diri. Masih saya ingat waktu itu biaya pendaftarannya Rp30.000.

Tahun 2005 itu lah titik pertama saya mengenal sebuah kegiatan bernama wisata sejarah khusus bangunan tua. Pernah gak sih kamu mengalami momen di mana sebenernya kamu tahu kamu suka si A tapi baru sadar setelah...hmm apa ya istilahnya, 'dibangunkan' gitu lah. Awakening moment. Semacam Bruce Wayne yang baru tahu belakangan kalau dia adalah pahlawan yang kelak jadi Batman. Atau Peter Parker yang 'dibangunkan' laba-laba dan jadi Spiderman *kebanyakan nonton film hahaha*. 

Cuma ya bedanya saya bukan superhero sih. Tapi ya awakening momentnya mirip-mirip semua tokoh DC Comic itu lah :D 

Sejak kecil saya suka banget mengamati rumah-rumah tua yang saya lewati sewaktu pergi dan pulang sekolah. Cirebon gudangnya rumah-rumah antik. Memang terkesan angker, tapi hal tersebut jadi hal terakhir yang saya bayangkan. Siapa pemiliknya dan seperti apa keseharian mereka lebih menarik rasa penasaran saya. Namun memendam kesukaan itu untuk diri sendiri, saya gak pernah tahu kalau banyak kok buku-buku yang menyajikan sejarah nusantara. Kadangkala saya pikir, kalau saja saya membaca literatur lebih banyak...

Law of attraction memang nyata adanya. Baru di umur 20 tahun bertemu jalan yang menuntun saya menuju sesuatu yang saya sukai. Di Bandung tepatnya. Baru lah di kota rantau ini muncul keinginan saya untuk menjelajahi kota sendiri sejak tur sejarah di tahun 2005.

Oh ternyata bangunan tua itu beda-beda arsitekturnya. Oh pemilik rumahnya ternyata mata-mata. Oh dahulu di kawasan tua itu inlander gak boleh masuk. Pokoknya makin banyak bangunan tua yang saya datangi, makin banyak tahunya. Gara-gara tur wisata sejarah satu kali itu tuh, saya jadi lebih banyak berjalan.

Saya berjalan lebih jauh dan membaca lebih banyak. Termasuk bertemu dan berinteraksi dengan banyak sekali teman baru dengan variasi umur dan lintas kampus. Saya bergabung dengan komunitas sejarah, daftar jadi sukarelawan pemandu wisata minat khusus, sampai dengan menjadi penulis konten yang tema tulisannya gak jauh-jauh dari cagar budaya.

Senangnya tak terkira. Sampai sekarang belum bosan.

kiri ke kanan: di Kauman Yogyakarta, di Keraton Surakarta, dan di Kampung Arab Cirebon
(photo credit: Indra Yudha)

Lulus kuliah dan bekerja, saya belum punya kesempatan traveling ke luar wilayah Bandung banyak-banyak. Orang tua saya luar biasa posesifnya. Hahahahaha. Baru setelah menikah, travelingnya jadi lebih bebas ke mana saja, gak ditelpon-telpon, dilarang, atau diinterogasi banyak pertanyaan. Horeeee! :D 

Menyalurkan hasrat saya akan bangunan kuno, setiap bepergian saya punya misi sendiri. Tentu saja mendatangi bangunan tuanya. Gak heran tiap kali mau bepergian, beberapa minggu sebelum berangkat saya cari buku terkait tempat yang akan saya datangi dan anteng di hadapan gadget atau laptop lama-lama untuk riset data.

Dan di tahun 2015 pada di pertemuan bulanan organisasi yang saya ikuti, Bandung Heritage, saya bertemu dengan sumber literasi yang memenuhi kriteria saya.

Ditulis oleh geograf asal Belanda namanya Emile Leushuis, buku ini berjudul Panduan Jelajah Kota-kota Pusaka di Indonesia. Buku ini pertama kali terbit di Belanda dalam bahasa Belanda dan ditujukan untuk turis-turis asal Belanda yang plesir ke Indonesia.

Poster ini yang menjodohkan saya dengan si buku andalan
(Photo courtesy: http://indahworkshop.blogspot.co.id)

Tahun 2005 dan 2015 itu semacam momen yang : aha ini dia nih!

Bahkan sejak tahun itu tuh, 2015, saya mencanangkan traveling mengikuti panduan dari buku tersebut. Ada sembilan kota yang tercantum dalam bukunya. Dalam bukunya tertera bukan saja uraian sejarah per kota, tapi juga ini nih yang lebih menarik: PETA JALAN KAKI. Horeeeee! Petanya tersusun runut, tiap bangunan tua ditandai dengan nomor. Tiap nomor diberi keterangan nama bangunan dan sejarahnya.

Asyiknyaaaa! Bener-bener terasa jelajahnya. Bayangkan saja saya mencari jalan dan menebak yang mana bangunannya. Belum lagi kalau daerah yang saya datangi terlihat seperti area bronx atau slum alias nyeremin dan berbahaya, saya mesti rela menyimpan kamera dan berperilaku seolah-olah saya turis kere yang gak layak dipalak :D Abis di dalam buku gak disebutin tip-tip mengunjungi daerahnya sih. Gak disebut di bagian mana kita harus berhati-hati karena banyak preman dan di bagian mana yang dekat pusat kota. Intinya sih tetap saja saya mesti buka googlemap dan meriset sendiri kayak apa situasi di sana.

Dari sembilan kota, saya baru mengunjungi enam kota di antaranya: Jakarta, Cirebon, Yogyakarta, Surakarta, dan Surabaya. Kota ke-6 adalah kota saya sendiri, Bandung. Sekarang tinggal dua kota nih, yaitu Semarang dan Malang.

Semua catatan perjalanan saya di enam kota sebelumnya bisa teman-teman baca di blog ini. Senang sekali rasanya pergi ke sebuah tempat dengan tujuan. Apalagi tujuannya adalah tempat-tempat yang kesukaan kita banget. Tiap perjalanan buat saya judulnya 'perjalanan besar' karena ada misinya :D

Prioritas utama saya kalau traveling adalah mengikuti panduan dari buku jelajah tersebut. Saya tidak menutup diri dengan tempat-tempat wisata mainstream, apalagi yang hits di Instagram. Kalau waktunya masih ada ya kunjungi saja. Kalau waktu traveling terbatas ya penuhi misi utama sudah cukup.

waktu di Surabaya, melihat-lihat gedung tuanya, termasuk Gereja Katolik Kepanjen

Kalian gitu juga gak? setiap traveling pasti ada beberapa tempat yang masuk daftar wajib kunjungan. Sisanya ya separuh hati sajalah rasa kepengennya. Hehehe.

Tahun ini saya pengen banget ke Semarang dan Malang. November ini kalau terwujud (isi tabungan saya, maksudnya :D), inginnya ke Semarang dulu. Mengunjungi kota lama di sana dan mendatangi beberapa pabrik gulanya yang kuno itu. Dari Semarang saya mau teruskan perjalanan ke Kudus, Jepara, Rembang, dan Lasem. Banyak yhaaa! Yah rencanain aja dulu. Hahaha.

Tapi fokus saya ke Semarang aja dulu deh. Begitu tujuan di sana terpenuhi, baru mikir ke mana lagi nih yang dekat-dekatnya Semarang. Untuk ke Semarang ini saya sudah mulai cari tahu susunan kunjungan, ongkos transportasi dan biaya penginapannya.

Inginnya ke mana saja saya selama di Semarang?

1. Area Kota Lamanya tentu saja. Keliling bangunan tua era kolonial.
2. Kauman. Melihat rumah kuno di sana, dari masjid sampai kawasan santrinya.
3. Menjelajah Stasiun Tawang dan sedikit area kereta api di sekitarnya. Karena di sinilah rel pertama dan stasiun pertama di Hindia Belanda.
4. Ke rumah Radja Goela. Sebagai salah satu sentra pabrik gulanya Hindia Belanda, Semarang ini punya banyak pabrik gula, terbengkalai sudah pasti. Tapi ya saya pengen tahu pabrik gula di sana seperti apa sih. Radja Goela ini salah satu peninggalan era keemasan gula di Hindia Belanda dan Indonesia.
5. Menyusuri rute Pecinannya Semarang.

Oh iya, saya juga mau mampir ke Ambarawa!

Gimana? Ini kalau ada orang Semarang yang baca tulisan ini, waktu tiga hari empat malam yang saya luangkan cukup kan untuk mengunjungi itu semua? :D

Saya sendiri sudah cari tahu siapa teman yang akan saya kontak untuk menemani jalan-jalan. Sepertinya saya akan mengontak teman-teman dari Bersukaria Walk. Sudah lama follow mereka di Instagram, seru-seru kegiatan walking tournya!

poster acaranya Bersukaria Walk
(photo courtesy:@bersukariawalk)

Merancang kegiatan traveling, ke manapun tujuannya, ongkos terbesar yang harus saya keluarkan ada di biaya transportasi dan akomodasi. Untuk dua kebutuhan tersebut, saya mencarinya di aplikasi Skyscanner Indonesia, sebuah mesin pencari tiket pesawat murah, hotel, dan rental mobil.

Enaknya pake Skyscanner tuh karena tiga hal: jujur dan gratis, hemat waktu dan uang, situsnya pun terpercaya di seluruh dunia bukan cuma Indonesia saja.



Nih saya tunjukin Skyscanner saya.

Buka aplikasinya (bisa didownload di Google App Store atau Apple Store). Via website juga bisa. Tapi kita lebih sering akses beginian via smartphone sih ya. Hehehe.

Tampilannya via website, super simple directory banget lah pake app & web ini

Kalau udah buka aplikasinya, jangan lupa login. Beres login, cek settingnya dulu buat atur-atur bahasa sampai mata uang. Jangan lupa satuan jarak dan negara juga dikonversi ke satuan yang lazim digunakan di Indonesia. Pertama kali saya cek, semua settingan di aplikasi Skyscanner basisnya ke Amerika. Satuan jarak tercantum : mile, makanya kita ubah dulu ke satuan kilometer ya.

Kalau sudah, masukin data home airport, biar gak ribet masukkin berulang-ulang kalau kita pergi dari mana. Saya masukin home airportnya BDO (Bandung, Bandara Husein Sastranegara).

Tujuan saya ke Semarang. Masukin ke mesin pencarian. Asyiknya pake Skyscanner tuh data yang nongol paling atas adalah penerbangan terpendek dan termurah. Kayak yang saya dapetin, pesawatnya Airpaz, totalnya dua orang dewasa dan satu anak-anak adalah 1,8 juta kelas ekonomi penerbangan terpendek alias gak pake transit.


Lalu keluar daftar panjang rute dan pilihan pesawat


Aslinya lebih panjang dari itu sih, saya skrinsyutnya sampai ke pilihan termurah ke-3 saja. Begitu kita pilih maskapainya, nanti kita terhubungkan ke situs maskapainya. Kita isi formulir data penumpang dan klik ke pembayaran. Seperti ini pilihannya. Di bagian paling bawah tercantum daftar minimarket tempat kita bisa bayar tunai biaya penerbangan. 



Sekarang cari penginapan nih. Setelah saya cari-cari hotel yang direkomendasikan banyak orang dan dekat dengan lokasi penjelajahan saya, saya memutuskan menginap di hotel Quest. Anggaran saya menginap permalamnya Rp350.000+++. Hotelnya mesti ada kolam renang. Saya bawa anak kecil, lumayan nih kolam renang tuh hiburan buat dia. Anggap aja kayak upeti karena saya udah ajak dia traveling ke tempat-tempat yang gak anak-kecil-banget :D

Cari hotelnya di Skyscanner. Masukin tanggal check in dan check out, 13 November dan 16 November. Empat hari tiga malam. Klik search.

Yhaaaa pada keluar deh harga-harga yang terdapat di situs booking penginapan. Cari aja yang termurah dan sesuai kriteria. Saya pilih yang harganya 1.226.9409. Lumayan per malam jatuhnya mepet dikit di angka Rp400.000+++.


Untuk penginapan, pembayarannya menggunakan kartu debit. Tinggal masukin saja nomor kartu debit kita. Udahah deh, bungkuuuus! Tinggal bayar transaksinya. Gak perlu pake kartu kredit. Untuk penginapan, bayarnya melalui kartu debit, yang penting kartu debit kita ada logo Visa. Nanti mesinnya otomatis menarik uang dari rekening kita dan pembayarannya pun lunas! Tenang saja, data-data kita aman sentosa. 



Pada dasarnya, Skyscanner ini bukan situs booking online, tapi Skyscanner yang mencarikan kita harga tiket termurah dan serunya lagi kita bisa langsung terhubung dengan situs-situs booking online tersebut. Gak usah keluar aplikasi Skyscanner terus buka aplikasi lain kalau mau booking.

Yak beres sudah persiapan kedua ke Semarang. Persiapan pertamanya berupa data dan susunan perjalanan. Kedua, urusan transportasi dan akomodasi. Tinggal urusan lain nih yang kecil-kecil tapi gak kalah penting macam nyiapin pakaian, stamina, dan nyari uang receh buat transaksi tunai dengan warung atau rumah makan. Kayaknya sekalian sewa mobil kali ya. Bentar saya cari dulu pake Skyscanner.

Let's go! Semarang, here we comeeeee!


48 comments on "Cita-cita Menjelajahi Bangunan Kuno di Semarang"
  1. Huduuuh mni sakitunya cinta sm travelling, Lu! Hebatlah, dan law of attractionnya terjadi. Sing diijabah cita2 ke Semarangnya ya. Wish u a great travel^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hueheehehehe nya teu kitu-kitu teuing, teh. Amin! Nuhun pisan nyaaa

      Delete
  2. Semarang bagus banget bangunan tuanya, Mba Ulu! Semoga kesampaian ya ke Semarangnya. Pasti seneng di sana.

    ReplyDelete
  3. secara pribadi, aku elbih suka berlama lama tandang dan ngamati bangunan tua di bandung ketimbang shopping di jalan Riau atau Dago hahahahahahha.... makanya kalo ke Bandung aku sering kabur sendirian dari grou yang cenderung suka shopping..hhmm...informasi ini berguna banget buat aku..thanks mbaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe iya bangunan tua di Bandung juga bagus-bagus, Mas Indra :)

      Delete
  4. sayang kisah ini di semarang.... jadi aku juga belum pernah.. hhmm...semoga kelak bisa ke bangunan tua di semarang..

    ReplyDelete
  5. dan aku suka gaya travelingmu teh...

    ReplyDelete
  6. Koreksi sedikit, mbak. Semaeang sama sekali gapunya pabrik gula, tp kalo perusahaan eksportir gula dsb ada di semarang. Soalnya semarang itu kota pelabuhan, jd sebagian besar pabrik gula di jawa tengah dan jogja ngekspornya lewat semarang :D

    Oiya kabar2 ya kalo ke semarang, siapa tau bisa bersua sebentar hehe.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih koreksinya, Jo. Saya mau koreksi, tapi tulisan di atas udah saya submit utk lombanya :D nanti klo lombanya udahan, saya revisi ya.

      Tentu aja saya pasti kontak kamu minta dipandu :) saya suka merhatiin postingan kamu ttg sejarah Semarang.

      Delete
  7. Seru banget, Lu, bisa menjelajah kayak gitu. Apalagi kalo biayanya bisa irit. Bikin semangat traveling ke mana-mana, ya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya wkwkwk karena irit adalah koentji :D

      Delete
  8. Resep ih jalan2 wae. mudah2an atuh ya semua tpt2 yang diinginkan bisa kesampaian :)

    ReplyDelete
  9. Dan sampai saat ini saya gak berani foto di Lawang Sewu... :-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ohooo kenapa? Saya mau banget foto-foto di sana nih :D

      Delete
  10. Terakhir ke Semarang hanya sempat main ke kota lamanya aja. Mupeng banget main ke tempat-tempat lain, terutama kawasan tua kayak gini. Aku suka soalnya. Semoga bisa balik lagi ke sana, amiiin.

    omnduut.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah saya pengen lihat banget kota lama di sana kayak gimana, om :) ayo atuh ke semarang barengan saya :D

      Delete
  11. Pengen ke Semarang makan lumpia, hehe eh di Bandung ge aya meureun lumpia semarang ekekke, tapi beneran saya pengen ke Semarang, jalan - jalan di sana

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lumpia bandung sama semarang beda kali ya. Ayo ke semarang rame-rame, tian :)

      Delete
  12. keren mbak, kalo aku termasuk yanh yang agak berani jelajah bangunan lama, kecuali banyak teman nya=)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya mah sendiri juga takut. Berdua mah masih oke lah hihi

      Delete
  13. Aku pengennya ke Malang teh jalan - jalan sama iioo, tapi semarang juga tjakep ya mau jajan yang banyak terutama lumpia semarangnya. Sering jajan di Bandung tapi kalau makannya di Semarang pasti beda :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Abis dr semarang ke malang. Gimana, ta? ;)

      Delete
  14. Seru bisa menjelajahi tempat wisata sejarah, keren ulu

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seru kalo suka mah, Teh Rani. Makasi yaaaa :)

      Delete
  15. Asyik bisa ajak anak wisata sejarah yaaa

    ReplyDelete
  16. Aku lagi pengin ngabisin semua museum di kota tua Jakarta dan Bandung dulu, Lu. Yang deket suka terlupakan hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yg di Bandung mah saya udah tamat, Vi. Jakarta belon :D

      Delete
  17. Ciri khas teh Ulu adalah travelling ke bangunan tua. Terus foto di depan pintu-pintu nya.

    Goodluck ya teh buat lombanya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hah? Iyaya? Hahahahaha padahal ga diniatin jadi ciri khas :)))) makaci, uwin!

      Delete
  18. Aku pernah diceritain ttg si raja gula itu sama bapak2 yang nyetirin naik vespa keliling kota lama Semarang, mbak :) Antusias bgt, tapi cuma lewat depannya sih, krn udah ga beroperasi kan ya. Btw, Semarang itu kota yg romantis dan ngangenin :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wawawww kan jadi makin pengen ke sana :D

      Delete
  19. Aku juga sama cita-citanya tapi belum kesampean. Huhuhu. Wah makasih info skycannrernya ya, Lu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hayuk rencanain dr skrng, zi. Cari tiket pesawat & nginep dj skyscanner ;)

      Delete
  20. Keren teh Ulu.. cinta traveling banget ini mah, semoga bisa terlaksana jelajah kota semarangnyaaaa :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitulah. Cinta berbanding lurus dgn isi tabungan :')

      Delete
  21. Aku kagum sama para heritage traveler,
    Aku mah kalau jalan2 ya jalan2 aja, hahahaha 😂

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama aja kayak jalan-jalan biasa, cuma ditambah perspektif aja :D kalo udh suka mah dijabanin.

      Delete
  22. suka juga dengan gedung atau rumah tua yang bersejarah, di Surabaya banyak yang dipakai untuk pemotretan preweding. Eh tapi kalau malam lumayan serem sih :v

    ReplyDelete
  23. Sama, Lu. Sebelum nikah saya pun gak kemana-mana. Orang tua juga posesif hehehhee. Pengen sesekali wisata sejarah. Di Jakarta juga kayaknya ada. Tapi sayanya aja yang masih maju mundur :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wkwkwkwk riweuh ya tiap mau bepergian diinterogasi. pas di jalan ditelpon mulu :D

      Di Jakarta banyak banget wisata sejarahnya, makin ke sini makin banyak, mba chi.

      Delete
  24. Jejak. Terima kasih sudah berpartisipasi. :)

    ReplyDelete