Kita Udah Melek Tentang Literasi Digital Belum?

July 29, 2017
Kian hari rasanya kian deras arus informasi yang kita konsumsi. Iya gak sih? Buka media sosial aja banyak banget berita rekomendasi. Dari toko-toko online sampai portal berita. Bagian menakutkannya adalah seolah-olah internet bisa membaca karakter kita seperti apa uhuhuhuhu. 

Kayak misalnya, kita sedang baca berita yang nyerempet politik, tahu-tahu bermunculan iklan berita portal yang isinya politik semua. Pernah juga saya hunting artikel tentang wisata di Yogyakarta, dalam hitungan detik saya menerima email dari Tripadvisor (yang memang saya subscribe) tentang 6 tempat seru-seru di Kota Gudeg itu. Pas lagi cari penginapan, tiba-tiba nongol link dan foto rekomendasi penginapan di sela-sela timeline facebook saya. Saya habis share foto dari portal 9gag pun internet tahu. Saya pengen belanja sandal aja internet udah langsung sigap kasih pilihan barang. Buset. Internet memang gesit dan cekatan. 

Tapi sebagai penggunanya, kita ada di posisi kayak gimana sih? Terutama kita nih, saya dan kamu, sebagai perempuan, apa kita korban konsumerisme aja? 


Untuk itu saya datang ke acaranya Serempak, sebuah portal khusus informasi seputar perempuan (utamanya ibu dan perempuan). Serempak mengadakan roadshow seminar ke beberapa kota. Bandung di antara kota yang mereka datangi. 

Membawa judul Literasi Digital Generasi Milenial

Saya kan generasi milenial. Kelahiran 1985, saya berada di urutan ke 5 dari orang-orang yang lahir dengan status generasi milenial. Kalau gak salah generasi pertama dari milenial ini dihitungnya dari orang kelahiran tahun 1980. cmiiw. 

Berlangsung pada hari kami (20/7/2017), seminar ini berlokasi di Aula Masjid Mujahidin di Jalan Sancang no. 6 Bandung. Ada tiga perempuan yang menjadi narasumber. 

Narasumber ke-1: Yulis Widyo Marfiah dari Kementrian Kominfo. Dalam paparannya, ada beberapa hal yang menarik untuk saya. Yaitu tentang program pemerintah (melalui kementrian Kominfo) untuk membangun infrastruktur non komersil di daerah terluar, tertinggal, dan terdepan di batas wilayah Indonesia. 

"Bukan hanya membangun jaringan sinyal internet, kami juga mengusahakan untuk menciptakan ekosistemnya," tutur Ibu Yulis. Kalau saya tidak salah dengar, beliau mengungkapkan bahwa tahun 2019 menjadi target di mana paling tidak ada 118 wilayah yang sudah aktif sinyal internetnya. 

Wah saya apresiasi banget usaha pemerintah untuk menyediakan jaringan internet ke daerah-daerah jauh begitu. Bila internet digunakan secara benar, kerasa banget kok manfaatnnya. Memberi kabar bisa cepat, menawarkan barang dagangan produk dan jasa bisa memangkas banyak jalan yang berbelit-belit, mencari ilmu pengetahuan pun sekerjap mata saja. Sudah saatnya wilayah kategori 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal) bangun dari kemiskinan. Potensinya banyak dan dari potensi tersebut, wilayah 3T seharusnya bukan lagi daerah tertinggal, tapi termaju dalam hal kesejahteraan, iya gak sih? iya dong. 

Generasi milenial di sana pada ngapain? di sini nih di pulau Jawa, udah pada bikin toko online, bikin akun youtube, belajar via google doc, bertani dan memasarkan produk pertaniannya via facebook. Udah saatnya orang-orang di wilayah 3T juga melakukan hal yang sama. 

Internet memang membawa dunia modernitas yang gak berbatas. Tapi sesungguhnya kan yang penting penggunanya gak lupa akar tradisi. Ikuti zaman boleh, mempertahankan budaya mah wajib. 

Narasumber ke-2 : Indari Mastuti, seorang pengusaha dan (kalau saya boleh bilang) aktivis sosial dan pendidikan. Ia membuat komunitas khusus ibu-ibu, yaitu Ibu-ibu Doyan Nulis dan Ibu-ibu Doyan Bisnis. Ya siapa lagi yang bisa membantu satu sama lain kalau bukan perempuan itu sendiri kan? Indari berangkat dari alasan tersebut. 

"99% pekerjaan saya tuh dikerjakan dari rumah," cerita ibu dua anak ini. Selain mengasuh komunitas perempuan, Indari dan anaknya yang berumur 9 tahun membuat sekolah gratis bernama Sekolah Gratis Indonesia. Sekolah ini menggunakan platform digital untuk berbagi materi pelajaran, platformnya Telegram. 

Dari cerita Indari (yang menceritakannya dengan nyala api alias semangat pisaaannn), kerasa banget kan internet emang berdaya guna untuk pemakainya. Bukan cuma stalking atau skroling aja. Wkwkwk. Bila melihat upaya beliau memanfaatkan teknologi, Indari menunjukkan kalau dengan internet kita bisa jadi produsen. Gak cuma jualan produk mencari keuntungan, tapi juga bisa dapat benefit (keuntungan bukan uang). 

Narasumber ke-3: Andalusia Neneng Permatasari, Dosen Fikom Unisba. Tidak banyak kalimat pembuka, Andalusia secara lantang langsung menyatakan "literasi digital artinya pengguna berperan sebagai produsen, bukan cuma konsumen." 

Balik lagi ke pertanyaan saya di awal tulisan ini. Sehari-hari terpapar informasi, kita ini apanya internet sih? 

Melalui keterangan yang saya dengar dari Andalusia, saya jadi kayak bertanya ke diri sendiri. Saya ini konsumen aja atau produsen juga ya? Baru juga lagi mikir kayak gitu, ibu dosen ini kembali mengatakan sesuatu. "Literasi digital itu artinya pemakai internet harus kritis dan evaluatis terhadap apa yang mereka baca di internet."

Hwedew. Pertanyaan di benak saya bertambah. Saya udah kritis belum saat membaca berita di internet? saya evaluasi gak beritanya? 

Dalam porsi makan siang yang saya lahap, kepala saya masih bertanya-tanya. Entahlah sudah ketemu dengan jawabannya atau belum Tapi kalau dipaparkan ilmu yang dibagikan narasumber dan diaplikasikan ke diri sendiri kira-kira begini.
  1. Sewaktu saya membuat blog Bandung Diary ini, saya merasa saya adalah produsen. 
  2. Saat saya membaca berita dan saya tidak menyukainya, saya memilih fitur Hide Post.
  3. Saya mengambil langkah paling 'radikal' yaitu Report Account, bila saya rasa informasi yang mereka bagi sudah meresahkan. 
  4. Emang sering tergelincir emosi jiwa waktu baca berita dengan informasi (dan judul) yang provokatif, tapi saya usahkan paling enggak langkah pertama menahan diri dengan: tidak share berita, khususnya yang sedang hot banyak diobrolin. Serap aja dulu informasi, cari berita pembanding, tunggu agak reda agar berita yang muncul berimbang. Ya berita mah subjektif sih gimana propaganda pemilik situsnya, tapi kan kita bisa tarik kesimpulan sendiri. Yang penting mah kritis dulu, terus evaluasi. 
  5. Gak banyak baca berita-berita yang provokatif selama sedang masa PMS hahahahaa. Akuilah wahai perempuan, kita (saya sih) sering banget jadi korban emosi diri sendiri. Hormon lagi acak-acakan, baca berita tuh bawaannya pengen share mulu disertai caption yang nyinyir. Wkwkwkwk. So yah, mulai tahu diri lah kapan kita sedang baper dan kapan kita sedang dalam kondisi 'kalem'.
  6. Emang menyenangan berseluncur di internet. Pengennya apa, tinggal cari. Sekarang aja kalau saya mau nonton di bioskop, saya ketik dulu judul filmnya di google buat cek rating filmnya. 
  7. Emang susah buat nahan diri gak cek akunnya Awkarin, tapi seriusan kalau buat mengamati aja mah gak apa-apa sih. Hanya untuk cek pergaulan internet di negara ini udah kayak apa wkwkwkwk. Kan balik lagi ke prinsip literasi digital: kritis dan evaluatif. 

Kalau apa yang saya lakukan dihubungkan dengan konsep literasi digital, itu poin-poin yang udah saya kerjain sih. Kalau kamu gimana? 

Terima kasih Serempak untuk acaranya yang bermanfaat 😀 Follow akun Serempak di Instagram @serempakid dan kunjungi website serempak di laman http://www.serempak.id/.



8 comments on "Kita Udah Melek Tentang Literasi Digital Belum? "
  1. Iya acaranya keren banget, banyak perempuan hebat!

    ReplyDelete
  2. Berselencar di internet memang menyenangkan, sampai lupa waktu

    ReplyDelete
  3. di hide post, kalau udah berulang2 mah unfriend aja teh. muncul wae di timeline haha

    kok sama, tetep ngeliat awkarin meski ga follow hahaha terus baca komen2nya -apalah-

    ReplyDelete
    Replies
    1. ahahahahahah berfaedah pisan kita ini meratiin awkarin wkwkwkwkwk

      Delete
  4. apa2 emang mudah jaman sekarang. googling aja beres

    ReplyDelete