Cerita dari Asrama Providentia

May 06, 2017
Banyak tabungan foto dan cerita yang sudah siap masuk blog.  Saya awali dengan cerita dari Providentia ya.

Minggu ke tiga bulan April saya berjodoh dengan dua bangunan kuno di Bandung. Klise lah ceritanya kayak orang-orang kebanyakan kayak ‘gedungnya selalu saya perhatiin dari luar doang kalo ngelewatin jalannya. Terus jadi suka mikir ini gedung seperti apa ya di dalemnya’. Dan hari itu saya bisa masuk ke Providentia dan melihatnya lebih dekat. 

Ternyata apa yang kita pikirkan secara konsisten walau selewat-lewat aja dan kesannya remeh, suatu hari bisa jadi nyata.

Berkunjung ke Providentia ini saya pergi bersama komunitas Heritage Lover. Acaranya dimulai sedari pukul 9 pagi - 1 siang. FYI, acaranya gratis.



Asrama Providentia, Asrama Perempuan

Providentia adalah asrama perempuan. Gedung yang termasuk cagar budaya ini dibangun tahun 1932 dan bagian dari kompleks Biara Ursulin. Gedungnya masih satu kompleks dengan SMP Santa Ursula dan terdiri dari dua lantai. 

Pintu Providentia menghadap ke Jalan Supratman, pintu Santa Ursula berdiri ke arah Jalan Anggrek (Taman Superhero). Bangunan SMP Santa Ursula lebih tua dibanding Providentia, dibangun tahun 1928.

Pada mulanya misi menyebarkan agama katolik oleh para suster menjadi dasar keberadaan gedung ini. Misi ini dimulai dengan membuat penampungan yatim piatu. Tempat tersebut berevolusi jadi asrama perempuan dan lembaga pendidikan.

Sejarah kelam pernah jadi cerita pilu Providentia. Kala Jepang datang dan menduduki Indonesia, gedung ini jadi kamp tawanan orang-orang belanda. Kompleks Providentia ini bagian dari kamp Cihapit, kamp tawanan terbesar buatan Jepang.

Bersama teman-teman, saya masuk ke gedungnya. Melihat-lihat ruang utama (untuk tamu) sampai dengan ke ruang kamar (gak masuk ke kamar tiap orang, lihat dari luar saja), dapur, ruang piano, dan kamar mandinya. Langit-langitnya tinggi dan masih asli. Lantainya, terutama di lantai 2, sudah diganti dengan keramik. Banyak jendela, pintu yang tinggi, dan perabotan yang kuno. 

Baca juga : Tips Ajak Anak Traveling Adalah Bersabar! Hahaha :D

Satu hal yang lekat dalam ingatan saat meilhat lebih dekat Providentia adalah: BERSIH BANGET! Saat kebersihan sebagian dari iman disebut-sebut dalam agama saya berulang-ulang sejak saya masih sekolah dasar, di tempat-tempat seperti ini saya melihat praktek nyatanya. Picontoeun, kata orang sunda mah.

Terus apalagi ya…

Oh iya, saya juga merasakan suasana tamannya yang asri di belakang asrama. Yang ada tempat duduknya dan tempat (sepertinya) berdoa. Sejuk terasa kala pagi hari duduk di tempat kayak gitu. Tapi ya taman mungil ini gak ada apa-apanya.

Saya beranjak ke bagian belakangnya lagi dan lihat tamannya yang LUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAASSSSSSSSS banget!  Saking luasnya, pulang ke rumah saya cek di goggle map buat bayangin skala luasnya. Hahahaha.

Di sisi kiri jalan masuk ada makam. Saya gak lihat makamnya, saya berlalu saja menuju sebuah kapel mungil yang indah, nampak seperti rumah-rumah tepi hutan dalam dongeng-dongeng eropa. Rumah Doa namanya. Cantik sekali bangunannya.

Walau tempat yang saya sedang lihat saat itu bukan tempat-tempat untuk penganut islam kayak saya, terus saya ternyata bisa ada di situ, harus saya akui ada perasaan asing di dalam hati. Perasaan aneh yang gak lazim.

Rumah Doa
Namun tak bisa saya sangkal juga ada rasa sejuk dan damai melihat betapa damainya semua kondisi di taman ini. Pepohonan yang permai, lingkungan yang bersih, dan bangunan kuno yang aduhai menawan sekali bentuknya.

Idealnya memang begini tempat ibadah. Membuat kita merasa damai meski baru melangkah satu jejak di dalamnya. Tapi ibadah di ruang-ruang kayak gini buat saya mah hanya fondasi saja, fondasi yang dipake saat  berada di lokasi yang lebih ‘ramai’ dan bersinggungan dengan perbedaan, pada ruang-ruang yang menguji bekal agama yang kita pupuk di tempat kayak tamannya Providentia (kalau saya kasusnya ya tempat sholat) ini. Ya menurut saya mah gitu sih.

Ngomong-ngomong masih di kompleks yang sama, terdapat kapel yang letaknya di ujung taman. Kapel ini bernama Mater Boni Consili, memiliki lonceng yang masih berbunyi di jam tertentu, jam 05.00, jam 12.00 dan jam 18.00.

Kami hanya melihatnya dari jauh. Tak boleh kami pandang dari dekat apalagi masuk ke dalamnya. Ya gak apa-apa. Namanya juga tamu, kami mengikuti gimana nyamannya pemilik bangunannya saja. Gak boleh motret pun saya nurut dengan senang hati. Hehehe.

Kembali ke asrama Providentia, kami berpamitan kepada Suster Pauline yang sejak awal menemani kami (teman-teman, maksudnya. Saya gak ikut ngobrol, cuma denger ceritanya aja) berbincang.

Sebelum pulang, kami sekalian aja mampir ke SMP Santa Ursula!


Sebelum Pulang, Jelajah SMP Santa Ursula 

Salah seorang dari kami ini kan alumni SMP Santa Ursula, Hernadi Tanzil namanya. Pak Tan (panggilan akrabnya) hendak napak tilas ke sekolahnya. Ah ya kami ikut saja lah membuntuti Pak Tan, ceritanya sambil menyelam dapat ikan. Hehehe.

Sama kayak kunjungan ke Asrama Providentia. Berkat bantuan jaringan alumninya yang juga suka ikutan jelajah sejarah -Ibu Sita namanya- makanya kami bisa masuk ke gedung Providentia. Terus Malia sebagai koordinator Heritage Lover mewadahi jejaring ini dan jadilah acara kunjungan-kunjungan tersebut. Emang kita teh gak pernah tahu teman kita bakal bawa rezeki kayak gimana ya buat kita, bisa ikutan acara kayak gini mah buat saya rezeki nomplok banget. Hehehehe. Terima kasih, Bu Sita-Pak Tan-Malia!

Gak terlalu lama jelajah SMP Santa Ursula. Waktu masuk dan lihat-lihat gedungnya, entah kenapa buat saya gedung Providentia terasa lebih antik dibanding SMP Santa Ursula. Kenapa ya…

Apa karena warna cat dinding yang berbeda, benda-benda masa kini yang memenuhi sudut SMP-nya, aura SMP yang lebih bergairah (asrama lebih terasa sunyi), atau apa ya. 

Dahulu sekolah ini khusus sekolah perempuan. Sekolah Maria namanya. Bahasa pengantarnya bahasa belanda. 

Pada bagian gedung yang lama terdiri satu lantai saja, di bagian belakang ada bangunan baru, nah itu baru berlantai dua. Sekolah ini bentuknya melingkar, lapangan ada di tengahnya. Nampak ada dua pepohonan besar yang dipangkas di sisi kiri dan kanan kantor guru. 

Di bangunan lama kita bisa lihat kolom-kolom gedung yang artdeco banget, banyak ukirannya. Cantik sekali. Di dinding juga menempel ukiran. FYI ukiran ini bukan hiasan ditaplok ke dinding, melainkan mengukir dindingnya. Bayangin mencongkel-congkel tembok hingga membentuk pola berulang-ulang. Aheeuuu kebayang ya craftmanship tukang-tukang bangunan tempo dulu. Andai kemampuan tersebut sanggup dipertahankan, mungkin sekarang ada sekolah khususnya kali ya. Fakultas teknik sipil, jurusan mengukir dinding 😁

koridor SMP Santa Ursula
Walo aura gedung Providentia dan SMP Santa Ursula terasa beda, ada yang samanya: KEBERSIHANNYA. 

Duh ya ampun ini sekolahnya bersih sekali adududududuuuhhhhhh. Pulang ke rumah saya cerita ke Indra, spontan aja saya bilang ‘apa kita sekolahin nabil di smp  santa ursula aja ya?’ 😆 hahahaha gak mungkin, walo kami sangat sekasual itu, tapi ibu saya bakal bikin pagar betis deh kayaknya😁 . Tapi ya beneran deh ini sekolah-sekolah lain yang mau studi banding kebersihan datanglah ke SMP Santa Ursula!

Udah gitu di mana-mana ada tanaman hijau-hijau. Asri dan sejuk dipandang. 

Berkat Pak Tan kami bisa masuk ke ruangan paling tua di SMP Santa Ursula.  Ruangan ini terdiri dari banyak kursi sepaket dengan mejanya. Seperti ruang tamu. Di pinggir-pinggirnya ada beberapa ruangan, di antaranya ruang kepala sekolah. Ini nih yang ada di ruangan ini perabotannya tua-tua semua.

Keliling SMP Santa Ursula gak lama. Udah deh abis itu salam perpisahan, foto penyerahan suvenir, dan pamitan. Pulang.

Rencananya saya gak akan nulis banyak-banyak, karena fotonya aja udah bejibun😅 . Tapi ya begitulah kalau punya jari yang lebih bawel dari mulut. Aheuheuheuheu.

Berikut ini foto-foto dari canon saya. 






Ibu Sita, alumni asrama Providentia yang membantu perizinan masuk gedung Providentia


Malia, koordinator Heritage Lover dan Lembang Heritage


Suster Pauline, pengurus asrama Providentia









SMP Santa Ursula



Belum selesai 😁
Karena keterbatasan kamera saya yang lensanya cuma 50mm, saya juga moto pake hape. Sori kalau kebanyakan foto hohohoho. Saya bermaksud memperlihatkan detail-detailnya, karena emang banyak detailnya hohoho. Siapa tau membantu teman-teman yang pengen masuk gedung-gedung ini tapi belum ada kesempatannya. Tapi kalo males lihat fotonya, tulisannya aja dibaca di bagian atas yak. Hehehehe.

Berikut ini foto-fotonya.


ruang tamu asrama Providentia






ruang baca asrama


ruang piano




SMP Santa Ursula


ruang menerima tamu, ruang tertua di SMP Santa Ursula






Teks : Ulu
Foto : Ulu
12 comments on "Cerita dari Asrama Providentia"
  1. wowowwww...puas lihat foto2 dan baca ceritanya, ngebayangin dulu disini gimana orang lalau lalang

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya ini kayaknya postingan dengan jumlah foto terbanyak hohohohoho :D

      Delete
  2. Wah masih terawat dengan baik meski sudah berumur puluhan tahun.
    Bener sih memang bangunan2 tua gitu kalo cuma diliat dr luar kayaknya ada yg kurang hehe
    Paling tidak, ada cerita2 mesku sedikit biar bangunan tsb keliatan hidup.

    ReplyDelete
    Replies
    1. masih terawat karena emang dirawat. di bawah yayasan gitu & rapi organisasinya jadi secara finansial bangunan ini tersokong dengan baik :)

      Delete
  3. wouw..seruuuuu
    kalo mau tahu info soal tur heritage di Bandung kayak gini, lewat mana ya mbak? :-?

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo saya lewat komunitas, mba. di instagram komunitas sejarah udah ada akunnya. mbanya tinggal di mana? bisa dibrowsing. kalo di bandung ada komunitas: Aleut, Lembang Heritage, Heritage Lover, Ulin Jarambah, dll. Instagramnya ada, Facebook Fanpagenya juga ada. Mereka selalu share info acara di akun-akun media sosialnya.

      Delete
  4. wah senang sekali membaca cerita dan melihat foto-fotonya, membuat saya alumni SMP Providentia dulu (SMP Santa Ursula sekarang )bernostalgia lagi di SMP dan Biara yang tidak akan saya lupakan ke asriannya... trimakasih telah mengunggahnya.. mengobati kekangenan masa dulu...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah sama-sama :) Terima kasih sudah memberi apresiasinya terhadap tulisan dan foto-foto saya :)

      Delete
  5. Maria irawati,BandungJune 17, 2017 at 3:01 PM

    Waktu tk dan sd saya sekolah disitu juga.Dahulu tk nya bwrnama santo yohanes,SD nya Santa Maria (kelas b) dan Santo yusuf ( kelas b).Dahulu smp santa ursula terkenalnya smp prova.waktu sekolah sd,setiap kelas punya wc sendiri- sendiri tidak campur.jadinya kebersihan selalu terjaga.Waktu tk kami sering di ajak jalan oleh ibu guru (murid dan guru semuanya perempuan),ke taman,dan di dekat makam itu ada lorong yang panjang yang pemandanganya ke jln.Supratman.Sejak tk kami di ajarkan kebersihan yang sampai sekarangpun kebiasaan bersih tetap terbawa.Dahulu sekolah sd lain belum ada pelajaran bahasa inggris,tapi kami di kelas 3 sd sudah mldi ajarkan.Setiap hari kami selalu di beri minum susu murni.Dan anak - anak yang sekolah disitu semuanya taat pada disiplin.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah bagus ya sekolahnya visioner. Ngajarin kebersihan dari kecil, emang kerasa & terlihat banget bersihnya dari ujung ke ujung. Mantap!

      Delete
  6. Terima kasih sudah memposting gedung ini, membuat saya mengingat kembali masa2 tinggal di asrama providentia, awalnya memang sangat menyeramkan tinggal disana, namun setelah lama sangat nyaman tinggal disana. Tempat yang sangat dirindukan :). Kalau dilihat lebih detail lagi taman belakang di asrama tersebut memiliki pintu untuk ke SMP Santa Ursula, SMA Santa Maria 1, dan SD Santa Ursula.
    Untuk info tambahan, hampir setiap ruangan asrama providentia punya nama tersendiri seperti ruang piano bernama ruang goreti, lorong kamar dekat perpustakaan bernama lorong Maria, ruang antara 2 lorong kamar adalah ruang saraswati, lorong kamar berikutnya adalah lorong Angela, tempat cuci yg kami sebut wasre dan masih banyak lagi :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah terima kasih sudah berkunjung ke blog ini :) Terima kasih juga untuk tambahan informasinya :) Saya berkunjung ke taman belakangnya dan sempat nongkrong di SMP Santa Ursula dan melihat pintunya. Hatur nuhun ya :)

      Delete