Image Slider

Menyelipkan Misi dalam Catatan Perjalanan

May 26, 2017
Apa teman-teman juga ngeblog seperti saya? Bila iya, apa blognya bertema wisata?

Banyak ya blog yang sekarang temanya khusus tentang wisata. Blog yang sedang teman-teman baca ini pun -Bandung Diary- topik utamanya wisata.

Wisata macam-macam jenisnya, dari kuliner, alam, sampai dengan wisata buku, sejarah, budaya, olahraga, religi, dan masih banyak lagi kategori turunannya.

Kalau disuruh milih kategori yang paling saya sukai, jawabannya dua saja: sejarah dan budaya. Sukanya jalan-jalan sih, kalau tema jalan-jalannya sejarah dan budaya, wuih saya tambah cinta.

Bagi yang hobi menulis, blog adalah salah satu media terkini untuk menuangkan gagasan atau curahan hati. Bonus terbesarnya dari media yang terhubung ke internet kayak blog : kita bisa share ke khalayak umum.

Ya sama, hobi saya menulis juga. Catatan jalan-jalan saya ada di blog. Bila dulu menulis sebatas ruang antara saya dan tulisan sendiri, sekarang ada ruang untuk pembaca. Kita bisa bersuara dan dibaca orang banyak. 


Kenapa Wisata Sejarah dan Budaya?

Di umur saya yang ke 30, setengah hidup saya habis di Indramayu dan Cirebon. Setengahnya lagi di Bandung. Bagian terbaiknya adalah saya bisa melihat dua budaya dari dua sisi.

Sisi yang terlampau cuek ala orang pesisir dan sisi yang kelewat halus ala orang gunung. Dua budaya ditempa alam, hasilnya beda-beda. Bila tidak mengenalnya memang lebih mudah berprasangka, tapi kalau sudah tahu dalam-dalamnya, alamak indahnya perbedaan ini. Hihihi.

Terus gimana caranya mengenal dua budaya itu? Ya turun ke jalan. Temui banyak orang, kenalan dengan beragam orang, baca sejarahnya, makan menu khasnya, dan datangi situs-situs legendarisnya.

Mengenal sejarah Bandung sudah lebih sering saya lakukan. Maklumlah posisi di Bandung, ya paling gampang jelajah daerah sendiri saja. Mencari tahu di mana titik pertama kota Bandung, membaca sejarah perkebunan yang menyangga ekonomi perkotaan, mengenal kehidupan menak-menak Priangan (termasuk Bandung), dan masih banyak lagi.

Makin banyak tahu, kian penasaran saja rasanya. Pertanyaan yang terjawab menggiring saya pada pertanyaan lain.

Ke kota lain sih gimana? Masa Bandung aja.


Tergantung kondisi tabungan. Hehehe. Yaiyalah traveling juga butuh biaya. Makanya paling gampang jelajah kota sendiri, biayanya bisa diminimalkan :D hihihi.

Saya usahain paling tidak satu kali dalam satu tahun menyempatkan diri melihat budaya lain di kota lain. Termasuk kota asal muasal saya.

Awal tahun ini saya pergi ke Cirebon. Satu kali kunjungan masih kurang, dua kali menggenapkan. Di antara seporsi Empal Gentong dan Nasi Jamblang yang nikmat, saya singgah ke masjid-masjid kuno dan berjalan kaki dari Kampung Arab sampai Keraton Kanoman.

Berbekal buku-buku yang saya baca sebelum berangkat, saya menyusun rute kunjungan. Walau saya sadar baru secuil saja yang saya ketahui, tapi bisa mengenal lebih dekat sejarah dan kehidupan religi di Cirebon rasanya menyenangkan.

Ketemu orang yang beda budaya tuh jadi tahu dan paham kalau, misalnya nih kenapa orang sunda kebanyakan (terutama yang di pegunungan) super ramah dan senang senyum, kenapa orang di pesisir cenderung cuek dan kalau ngomong langsung ke poinnya, kenapa orang di Timur tidak makan beras, kenapa di Aceh Islamnya kental, dan lain-lain dan masih banyak lagi. 


Menulis Catatan Perjalanan, Menulis dengan Misi 4 Pilar

Bagian klimaksnya dari hobi jalan-jalan saya adalah menuangkan kisahnya dalam sebuah catatan. Sebelum menulis, kita pasti mikir dulu dong. Apa sih yang mau ditulis. Pengalaman macam apa yang mau kita sampaikan pada orang lain.

Ada pesan dalam tulisannya gak?
Ada gagasannya gak?
Atau murni mencurahkan hati saja bertutur kesan selama berjalan?

Intinya sih sesekali bolehlah menulis dengan misi secara disengaja.

Misinya apa aja? Ya bisa apa aja: curhat, kampanye politik, promosi produk, membuat citra, mencari uang, pengen terkenal, ya apa aja bebas :D

Misi blog Bandung Diary apa? Nyuruh orang jalan-jalan hahahaha. Ya gampangnya gitu sih. Tapi kalau mau dikerucutkan lagi, misi saya bantuin orang jalan-jalan, gak cuma di Bandung tapi juga di kota lain.

Gak cuma bantuin orang jalan-jalan, saya juga pengen cerita. Pengen memberi tahu orang lain tentang apa yang saya lihat dan apa yang saya rasakan dalam perjalanan. Semacam FOMO lah, sindrom Fear of Missing Out alias saya harus tahu duluan dan orang lain harus tahu dari saya. Ahehehehe milenial speaking *milenial macam apa umurnya 30 tahun hihihi* Ya intinya sih saya seneng cerita dan saya mau ceritain ke orang lain. 

Berhubungan dengan konsep membuat misi dalam tulisan tersebut, saya menemukan hal baru dalam acara Netizen Bandung Ngobrol bareng MPR RI yang berlangsung di Hotel Novotel Bandung. Lucunya sih hal baru ini sebenarnya hal yang lama juga. 

Hal barunya bernama 4 Pilar.
Hal lama bernama menulis dengan misi.

Dalam diskusi bersama MPR RI (20/5/2017) dan para para blogger dari Bandung, saya diajak untuk menulis dengan misi khusus, yakni mensosialisasikan 4 Pilar MPR.


Pesan Persatuan, Pesan 4 Pilar MPR RI

Sebentar. 4 Pilar MPR itu apa?

4 Pilar tuh semacam pegangan kita sebagai warga negara Indonesia. Secara kita ini terbentuk dari ribuan pulau, ratusan bahasa daerah, macam-macam agama. 

Dibangun dari perbedaan, lantas modalnya menyatukan perbedaan itu dengan apa?Dengan 4 Pilar. Apa aja 4 pilar yang dimaksud?

NKRI
Bukan sekadar singkatan, Negara Kesatuan Republik Indonesia artinya beragam suku dan bahasa, Indonesia disatukan oleh tujuan dasar yaitu merdeka, berdaulat, adil, dan makmur. 

UUD 45
Pedoman dalam kehidupan bernegara.

Pancasila
Ideologi negara Indonesia yang mengakui ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan.

Bhineka Tunggal Ika
Semboyan negara Indonesia yang mempertegas keberagaman dalam persatuan.


Kalau dibaca sekilas sebenarnya sederhana banget ya. 4 Pilar itu kan kita pelajari di sekolah dasar. Tapi apa kita sudah benar-benar memaknainya dalam kehidupan sehari-hari? Jangan-jangan cuma teori aja, prakteknya gak ada.

Atau sebaliknya, sebenarnya kita udah praktekin tapi tak tahu kalau kebaikan yang kita lakukan berlandaskan 4 Pilar. 

Kayak saya yang setengah sunda setengah jawa plus muslim juga, ketemu orang batak marganya ginting dan agamanya katolik. Kan benturan budaya lagi tuh. Apa saling marah-memarahi? Saling menghindar karena alasan beda agama doang? Kan enggak. 

Atau misalnya pas saya lagi jalan-jalan ke Cirebon dengan Indra suami saya yang orang sunda. Terus kami sholat Dzuhur di masjid terdekat lokasi kami berkeliaran. Masuk pelataran masjid, banyak orang sedang beristirahat. Bertatap muka dengan mereka, Indra memberi senyum kepada orang-orang yang ia tidak kenal. Orang yang ia beri senyum membalas senyum tidak? Ya tidak :D

Terus kami baper gak karena udah senyumin malah gak dibales senyum? Ya enggak atuh.

Orang Sunda mah di mana-mana memang defaultnya senyum melulu, tapi orang Cirebon gak selalu sih. Ada alasan kenapa kayak gitu. Kalau dijembrengin satu-satu alasannya secara sejarah dan budaya ya panjang. Tapi intinya sih perbedaan kayak gitu harusnya gak mesti jadi ribut lah. Beda budaya aja. 

MPR dengan formula 4 Pilar memberi payung terhadap perbedaan di negeri ini. Jadi gak usah takut merasa orang lain berbeda dengan kamu. Negara ini gak homogen kok.

Pesan itu yang MPR RI ingin sosialisasikan pada masyarakat secara luas. Bahwa perbedaan itu bukan masalah. Negara ini gak dibangun dari satu agama yang itu-itu aja, suku yang itu-itu aja, dan daerah yang itu-itu aja.

Dalam diskusi yang sebelumnya telah berlangsung di Makassar, Solo, Palembang, dan Yogyakarta, MPR meminta kepada para blogger untuk meneruskan estafet pesan 4 Pilar ini dalam tulisan.

Pulang ke rumah saya membuka dapur blog dan membaca tulisan sendiri berulang-ulang. Bukan cuma blog, saya juga membaca ulang caption foto-foto dan status di akun media sosial @bandungdiary.

Tulisan saya tentang perjalanan di Yogyakarta, Cirebon, Sukabumi, Surabaya, Purwakarta, dan lain-lainnya termasuk catatan perjalanan di Bandung sendiri.

Apa saya sudah menulis dengan misi 4 Pilar tanpa sengaja? Apa saya menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan rasa cinta pada negeri ini dalam tulisan tersebut?

Bila terasa belum, saatnya sekarang menulis dengan misi memasukkan nilai-nilai 4 Pilar. Bila terasa sudah, ah apa iya? Sekarang waktunya menulis dengan misi sengaja memberi pesan baik kepada pembaca terhadap negeri yang saya pijak. Sebagai pembaca, tugas teman-teman meneruskan pesan tersebut pada orang-orang di lingkungan sekitar. 

Selain melalui bidang seni dan budaya, menarik juga MPR RI turun dan sosialisasi langsung kepada warganya, yaitu kami warga pelaku digital (blogger). 

Apa MPR RI juga turun ke sekolah-sekolah termasuk ke jalan langsung menemui warganya secara acak, seperti misalnya di Car Free Day? Kayaknya dampak sosialiasinya bakal lebih banyak dan langsung bila dilakukan demikian. Saran teman saya Hilman Mulya Nugraha dalam diskusi Netizen Bandung Ngobrol bareng MPR RI juga sangat aplikatif: bagaimana bila MPR RI memiliki akun media sosial yang dikelola secara atraktif dan komunikatif. 

Bukan hanya blog, media sosial juga jadi corong menyebarluaskan 4 Pilar. Kalau informasi dari media resmi MPR RI jenisnya share-able dan retweet-able (ya kira-kira kayak akun GNFI yang mana favorit saya -Good News From Indonesia-) sosialisasi 4 Pilar jauh lebih mudah dan dijamin banyak yang share dan baca. Iya kayaknya akun GNFI itu udah paling cocok kalau mau dijadikan studi banding oleh tim digitalnya MPR RI.  

Yak, siap berbagi peran menyuarakan 4 Pilar? Saya siap! 



Teks : Nurul Ulu
Foto: Indra Yudha, Nurul Ulu

Blogging Story: Saat Harus Menginap dan Meresensi Sebuah Hotel dan Saya Sakit

May 24, 2017
Ada banyak cerita dari dunia blogging saya bersama blog yang saya tumbuhkan: Bandung Diary. Kalau orang perhatiin ngeblog itu asyik-asyik saja, wah tunggu cerita saya yang satu ini. Hahaha. Pedih sekaligus seruuuuu!

Suatu kali di awal tahun 2016, seorang markom hotel bintang empat di Bandung menghubungi saya. Ia meminta saya menginap di hotel tempatnya bekerja. Bukan saja menginap, saya dimintanya meresensi dalam blog di hari yang sama dengan saya menginap.


Cek tanggal, ah mudah saja. Saya sanggupi permintaannya. 

Pendek cerita saya tinggal berangkat. Hotelnya di Bandung juga kok jadi gak jauh-jauh amat dari rumah. Tinggal berangkat, eh pagi harinya suami saya sakit. Alamak. Dia kan fotografer untuk blog saya. Kalau dia sakit, gak bisa ikut, siapa yang motoin? 

Saya lah siapa lagi huhuhuhu. Sebelum berangkat saya dibriefing singkat dulu cara motret. Setelan kamera (DSLR) udah suami saya siapin jadi saya tinggal jepret! jepret! 

Segan membatalkan acara, saya meninggalkan suami saya yang sakit dan anak di rumah. Hati ini gak enak banget harus pergi dengan kondisi suami kayak gitu. Ya gimana lagi huhuhu. 

Sesampainya di hotel saya langsung diajak makan siang. Nyammmnyammmmm enak. Untuk sesaat lupa dengan yang ada di rumah :D 

Check in ke kamar di lantai 15, saya buka pintu kamar dan whuaaaaa bagus sekali kamarnya. Bukan cuma luasnya yang lebih dari cukup untuk bernapas (hahaha lebay :D) tapi juga jendelanya yang segede satu dindingnya. Waks!


Bandung sedang agak mendung. Berada di kamar sebesar itu sendirian, saya teringat dengan mereka yang ada di rumah dan seharusnya ada bersama saya. Sedih... huhuhu. 

Tapi waktunya bekerja di depan mata. Saya segera ambil kamera dan mulai memotret. 

Waktu yang kosong sebelum jadwal wawancara dengan manajer hotelnya, saya menemani seorang teman berjalan hingga ke Jalan Braga. Hotel saya menginap ada di Jalan Merdeka. Jarak bolak-balik Jalan Merdeka - Jalan Braga kira-kira 1,5 km. 

Abis jalan-jalan, saya kembali ke kamar dan....kepala pusing dan perut mual! Alamak dua kali! Ada apa ini. Dalam hati berdebar-debar mengucap doa: jangan sakit...jangan sakit...

Terus saya sakit. Hahahaha.

Minum air putih yang banyak, saya paksakan mengikuti jadwal acara sampai pukul 11 malam. Dari wawancara hingga makan malam bersama yang acaranya heboh banget alias pesta till you drop, saya masih memotret. Badan gak jelas rasanya, berulang kali saya mengucapkan kalimat ini pada diri sendiri: ngapain saya teh ada di sini, pengen tidur! pengen pulang! 

Tapi...ah yasudahlah...


Malamnya tak bisa tidur. Demam tinggi, saya terus-menerus menghajar demam dengan minum air putih. Ada kali tuh buang air kecil lebih dari 10x. Sampai subuh menjelang, demam mereda. Saya tidur seperti kerbau kekenyangan. 

Keesokan harinya saya bangun dengan kondisi badan lelah. Makan pagi saja berjalan dengan langkah gontai seperti dua kaki terantai di ranjang. Tapi gak tega rasanya memperlihatkan raut wajah orang sakit di hadapan mba-mba markom baik hati itu. Adrenaline rush memang ajaib, saat harus berhadapan dengan klien mah saya berasa sehat hihihi. 

Dari sarapan hingga makan siang, saya masih memotret. Baru setelah jam 12 siang saya pulang usai mengetik resensi hotel dan mengunggahnya ke blog. Ah walau sakit kepala saya sudah reda, tapi harus mengetik dan edit foto sekaligus itu kayak mules sakit perut berulang-ulang tapi air keran di kamar mandi mati. Eugh hahaha.

Sebelum pulang, mbak markom memberi saya kompensasi resensi dengan sejumah rupiah. 

Drama banget. Senangnya karena berakhir dengan bayaran yang menyenangkan. Ditambah beberapa hari sesudahnya mba markom mengirim saya pesan di aplikasi chat. Bosnya menyukai hasil foto saya. Wah nikmat mana lagi yang harus saya syukuri: sedang sakit, pekerjaan diapresasi, dibayar sepadan. Uhuhuhuhu saya terharu.

Saya gak mau ini terulang lagi. Mesti sakit saat harus bekerja, meninggalkan orang kesayangan di rumah dalam kondisi sakit juga.

Tapi dipikir-pikir sih, gak rame kali kalau pekerjaan kita semulus jalan tol di Jerman. Kalau ada cerita kayak gini kan jadi seru ya ingatnya. Lebih berkesan. Waktu mengalami sendiri sih rasanya tertekan. Begitu badai sudah berlalu, rasanya bangga pada diri sendiri dan supporting system saya.

Sebagai bonus saya juga berasa kayak dikasih pelajaran oleh Tuhan, tentang tidak menilai-nilai yang kelihatan enaknya saja. Blogging adalah dunia yang mengasyikkan selama empat tahun belakangan ini. Tapi setiap hal yang enak-enak, ada kompensasinya. Hal yang terlihat mudah pun ada perjuangannya. 

Ada yang punya cerita seru juga seputar dunia bloggingnya? Cerita terbaiknya apa aja ayo diceritain dan diikutsertakan dalam lomba Best Blogger Moments dari Warung Blogger!

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba blog ulang tahun ke-6 tahun Warung Blogger. 


Dulu Jual Barang Bekas di Halaman Rumah, Sekarang Jual di Prelo!

May 18, 2017
Saya kecapekan. Abis beresin koleksi buku. Satu lemari. Enggak, bukan rak buku yang unyu-unyu mungil ya. Saya lagi ngomongin lemari buku yang lebarnya 2 m, tingginya 3 m 😁

Kalau ada barang-barang numpuk di rumah, buat saya mereka adalah buku. Bukan tas, bukan sepatu, bukan baju, bukan koleksi kosmetik tak terpakai. Tiap sudut rumah pasti mentoknya buat naro buku dan majalah. Buku-buku itu bukan koleksi saya aja, tapi juga Indra, suami saya.

Ngomong-ngomong tentang tumpukan buku yang melahap semua sudut rumah saya, jadi keingetan nih. Beberapa tahun lalu saya pernah bikin pasar barang bekas. Tagline lapak barang bekas saya adalah : barang bekas bermartabat! Hahaha ini bukan saya yang buattaglinenya, tapi salah seorang paman saya yang menyumbang ide taglinenya. 

Sebenarnya pasar barang bekas bukan pasar kayak di pasar banget sih. Toh halaman rumah saya yang saya pake sebagai lapak barang bekas cuma 5 x 3 m :D  



Iya betul, lapak barang bekas yang saya maksud bahasa kerennya Garage Sale. Bahasa Inggrisnya Flea Market.


Garage Sale di Halaman Depan Rumah, Pasar Kutu Namanya

Tahun 2013, 2014, dan 2015 berturut turut saya bikin flea market yang saya kasih judul Pasar Kutu. Tujuannya mau jual buku second aja sih, secara lingkungan saya tinggal kan mahasiswa dan mahasiswi semua. Cocok kali jual buku.

Masalahnya adalah gak semua orang doyan buku. Pasarnya terlalu sempit sementara saya ingin meraup keuntungan sebesar-besarnya (paman gober speaking).




Terus saya mikir…
Mikir lagi…
Dan mikir terus…
Lalu…

Saya kan punya banyak sepupu. LIKE A LOT! Dari mereka lah saya mengumpulkan barang tak terpakai dan menjualnya. Hahahaha.
Saya gak lagi random dengan kosakata ‘banyak’. Sepupu saya ada 69 orang. Katakanlah yang tinggal di Bandung ada hampir 80% jumlahnya. Tinggalnya pun gak jauh-jauh amat dengan rumah saya.

Dan ini yang menarik: mereka gak doyan baca buku. Doyannya apa dong? Macam-macam! Gadget, fesyen, aksesoris, dan film korea! Hahahaha. Ah seru nih.

Saya kontak mereka satu per satu, mengajukan proposal ide dalam bentuk pesan di aplikasi chat. Saya jelasin sistem penjualan dan bagi hasilnya. Bukan cuma mereka mau titip jual, tapi beberapa di antaranya bantu saya nungguin lapak di Pasar Kutu. Malah paman dan bibi saya ikutan juga, salah satu darinya membuatkan saya poster acara!


Merancang Pasar Kutu

Pasar Kutu yang saya gelar gak bentar sih. Tujuh hari aja. Iya, TUJUH HARI hahahaha! Gak cuma buku, saya juga menjual aneka macam pakaian bekas, sepatu second, tas gak terpakai, aksesoris, DVD film Korea, India, dan Hollywood. 

Ya pokoknya preloved items lah. Barang-barang tak terpakai. 

Sepupu saya yang udah beranak dua sampe titip jual baskom bekas bak mandi anaknya yang masih bayi, sepupu yang punya gadget geek titip jual charger kw-nya sebanyak 12 buah, dan sepupu kecil saya yang masih sekolah dasar titip jual aneka macam pinsil warna dan alat sekolahnya yang nganggur di rumah.




Hahahaha saya bahagia!

Lingkungan saya tinggal dekat dengan kampus negeri terkemuka di Bandung. Tetangga saya hampir 80% statusnya mahasiswa dan mahasiswi. Mereka lah 90% pasar terbesar saya. Sisanya ya penduduk lokal yang kebanyakan ibu-ibu yang kalo nawar sadis bin ngeri lah :D

Tiga tahun berturut-turut saya menggelar garage sale. Semuanya saya selenggarakan di musim kemarau, antara September dan Oktober. Maksudnya sih biar lapak saya gak kehujanan.

Setelah ngerjain sendiri, baru saya menyadari. Buka lapak pasar barang bekas gak sesederhana yang saya bayangin.
👊 Bikin sistem penjualan.
👊 Bikin persentasi bagi hasil.
👊 Mengurus keuangan.
👊 Nyiapin uang kembalian.
👊 Nyiapin mental kalau barangnya ditawar.
👊 Kepanasan.
👊 Barang diacak-acak krucil anak-anak tetangga.
👊 Angkut barang keluar dan ke dalam rumah.
👊 Mengatur display agar menarik.
👊 Ngawasin barang biar gak dimaling orang.
👊 Sebarin informasinya terus menerus di media sosial, khususnya Facebook
👊 Nempelin poster sampai ke kampus deket rumah, masjid, warteg, dan galeri seni dong hahahaha asem.

Pagi hari jam setengah tujuh saya udah berdiri di mulut gang bagiin flyer poster ke mahasiswa/I yang seliweran menuju kampus. Iya sampe segitunya, abis saya ngajakin sepupu untuk titip jual sih, ada ‘beban gak enak’ kalau penjualannya jelek kan. Pokoknya harus banyak yang datang dan jajan di pasar kutu saya!

Bayangin melakukan itu semua dalam waktu tujuh hari. Ahahahaha berat badan saya turun 3 kg dalam seminggu aja!

Fakta menarik lainnya adalah ketika pasar bekasnya udahan, saya manggil sepupu-sepupu untuk ambil barangnya. Yaelah dikit amat yang mau ambil lagi barangnya, kebanyakan pada nitip aja. Saking udah lewat dari dua tahun itu barang gak diambil-ambil, saya sumbangin aja sekalian ke ibu-ibu yang suka bantuin buang sampah dan nyetrika baju di rumah. Iya, saya gak lagi jualin :D

Saya pikir-pikir, para sepupu saya pada dasarnya emang gak butuh barang itu lagi. Jangankan buang, ambil barangnya sendiri dan taro di rumah sendiri aja kayaknya pada males.

Gila saya sampe mikir, suatu hari di dunia ini bakal ada orang yang profesinya membuang barang klien-kliennya.

Tapi masa dibuang? Seriusan dibuang? Negara ini tuh abai banget dengan potensi sampahnya deh. Bila ada usaha terbaik dari saya untuk mengurangi sampah di muka bumi maka itu adalah menjual barang bekas :D

At least itu yang bisa saya lakukan sih. Tindakan nyata walo kadar sadar lingkungannya masih tingkat pemula.


Pensiun Bikin Garage Sale, Pindah ke Online aja

Tahun 2016 saya pensiun dari karir pedagang barang bekas di depan rumah. Karena apa? CAPEK GILA HAHAHAHA. Saya menyerah. Ampun!

Saya gak pernah lagi meremehkan pekerjaan seseorang yang menyelenggarakan garage sale. Tidak pernah. Gila capeknya kerasa sendiri.

Hasrat saya masih tinggi sih untuk menjual barang-barang second. Ditambah saya orangnya pragmatis, saya gak memberi emosi pada barang di rumah. Gak ada romantika terhadap barang. Kalau gak terpakai, antara buang-sumbangin-atau yang terakhir nih: jual.
Udah kepikiran sih saya jual online aja deh daripada capek bolak-balik gelar lapak kayak PKL :D

Sekarang udah banyak situs online yang diperuntukkan bagi penjual kayak saya. Saya anggap angin lalu aja. Saya gak pernah praktekin sih, jual di media sosial pun enggak.

Baru di bulan April kemarin nih dalam rangka Hari Kartini, saya baca artikel tentang 5 Kartini Muda di bidang teknologi. Bacanya di kompas online.

Mata saya tertumbuk pada satu nama dari kelima perempuan yang disebutkan dalam artikelnya. Fransiska Hadiwijana.

Saya selalu usahain sih mendukung produk yang dibuat, diurus, dibentuk, diinisiasi perempuan. Kalo baca blog ini, saya pernah nulis tentang Dewi Sartika dan Inggit Garnasih. Pokoknya orang-orang revolusioner, kreatif, produsen, yang wujudnya perempuan mah saya ada di garda terdepan untuk mendukung mereka.



Dan karena situs ini menyinggung titik terlemah saya sebagai perempuan, saya jadi termotivasi lihat Prelo.id. Gak sampai lima menit, saya udah install Prelo di hape. Hahahaha.


Prelo - Jual Barang Bekas 

Prelo adalah situs jual beli barang bekas. Terdengar biasa ya? Buat saya sih enggak, karena foundernya perempuan. Hihihi. Prelo gak cuma ada dalam format website, tapi juga aplikasi.

Dengan warna dominan hijau mint, begitu buka app prelo ntar nongol taglinenya MENYEDIAKAN BARANG BEKAS YANG AMAN DAN BERKUALITAS.

Uh wow mulai agak menjelaskan kalau barang yang dijual di Prelo adalah barang asli bukan produk kw. Jarang ada situs jual beli barang bekas yang menjunjung nilai orinisil sebuah produk. Dan oleh karenanya misi menyediakan barang berkualitas dan asli ini patut diacungi jempol. Seenggaknya pasarnya sendiri mulai berceruk sih.

Begitu buka app, mulai bisa belanja. Banyak kategori barangnya. Tapi saya mah kan maunya jual. Gampang gak nih kalau mau jual di Prelo?

Buka app Prelo :
  1. Klik Jual
  2. Masukin foto barang. Nanti ada pilihan kelengkapan foto mulai dari: tampak belakang, dipakai, tampilan label, dan kecacatan barang.
  3. Nanti kita isi detail barangnya. Sampai ke special storynya yang mana menarik untuk saya karena saya bisa ceritain hal-hal personal kenapa barangnya dijual. Lumayan mendongkrak penjualan hahaha. Ya nebak aja sih, zaman sekarang kan gaya jualan yang menarik peminat gaya story telling.
Yang mesti diperhatiin adalah:
  1. Berat barang, jangan dikira-kira deh. Mending ditimbang dulu
  2. Ongkir mau tanggung oleh kamu sendiri atau pembeli?
  3. Charge Prelo berkisar 0-10% dari harga jual. Lumayan lah paling tinggi ya 10% dari barangnya.
  4. Barang harus asli deh beneran gak boong. Karena pada saat mau upload barang yang kita jual, ada warning dari Prelo, bila barang bukan produk asli maka pembeli berhak memperoleh uang kembali. Ouch.
  5. Barang dijual harus mencantumkan harga lama. Masalahnya adalah saya lupa berapa harga buku yang saya beli :D  alhasil saya browsing dulu harga bukunya di toko-toko online dan toko kayak gramedia berapa sih. Sayangnya harga buku juga berubah deh kayaknya. Buku yang tahun 2008 saya beli seharga 60ribuan, sekarang cuma 40ribuan. Agak kesulitan menerka harga lama bukunya sih.
Kelebihan Perlo dibanding situs sejenis lainnya adalah :

💖 pengembalian uang bila pembeli merasa barangnya tidak asli sesuai yang dijanjikan penjual. Sebenernya sih filter barang asli dan barang kw bisa dimulai sejak sebelum transaksi dimulai. Entah bagaimana cara Prelo menyaring barang asli dan palsu. Harusnya ada penjelasan lebih lanjut tentang penyaringan produknya.



💖 Kalau kita share produk dagangan ke media sosial, fee sharing Prelo dipotong sekitar 3%. Lumayan itu, kalau kita bisa dapat untung tiga ribu rupiah lebih banyak, kenapa enggak. Beda akun media sosial, beda pula persentase komisi Prelo yang didapatkan. Tapi gak beda jauh sih. 


Udah sih begitu doang, gampang aja. Jadi, saya permisi dulu. Saya mau foto buku saya satu per satu dan menjualnya di Prelo.id. Dibeli yaaaaaa buku-buku bekas sayaaaaaa 😃 

Nah sekarang kalau mau beli gimana.

Saya belum coba bener-bener sampai pembayaran sih. Baru cek-cek sampai cara bayar. Sejauh ini menurut aplikasi Prelo dilengkapi fitur yang ramah untuk pengguna. Gak ribet. Gak banyak tombol directory yang membingungkan. So far so good.

Memang terasa jauuuuhhhhh lebih ringan jual barang bekas via aplikasi Prelo. Saya gak usah ngurusin banyak hal yang bikin turun berat badan 3 kg dalam seminggu . Palingan foto produk, kasih keterangan, dan upload ke Prelo. Abis itu share ke media sosial biar banyak yang lihat. 



Sejauh ini saya masih fokus untuk jadi penjual, so ya energinya sedang diarahkan ke sana. Kunjungi toko saya di Prelo, cek @nurulw yaaa. Pake kode referral bonus Rp 25.000 dengan kode nurulwxTrPd9

Selamat jualan barang bekas sekaligus selamat belanja barang bekas yang aman dan berkualitas :)