Festival Gedong Cai di Ledeng

April 07, 2017
Hari Minggu di bulan Maret saya nanam Pohon Akasia di hutan belakang rumah. Memperingati Hari Air Se-Dunia 22 Maret 2017, tidak jauh dari rumah saya diselenggarakan Festival Gedong Cai. Penanaman pohon ini dalam rangka festival yang berhubungan dengan air tersebut.



Gedong Cai adalah bangunan yang menampung mata air Cibadak (Tjibadak). Berlokasi di Ledeng, nama Tjibadak adalah ejaan lama untuk nama Cibadak. Artinya Tji=air dan Badak=besar.


Gedong Cai ini menampung berkubik-kubik air, dalam 1 detik mengalir 100liter air. Gedong Cai sekarang dikelola PDAM. Orang kota di Bandung nerima airnya dari sini nih. 

Cibadak merupakan nama kampung yang banyak sumber mata airnya. Selain Cibadak, ada juga Cidadap dan Cikendi. Ketiganya memiliki nama yang artinya gak jauh-jauh dari air. Cidadap, air yang disadap. Cikendi, air di dalam kendi. 

Walau namanya Festival gedong Cai, acaranya gak festive. Biasa aja sederhana gitu. Acaranya terbuka untuk umum. Tapi yang datang ya itu-itu aja. Warga sekitar yang dominan ibu-ibu dan anak-anak penggembira suasana hahaha. Pak Camat, Pak Lurah, dan satu orang Pak Polisi hadir meresmikan acaranya. Geng fotografer dan teman-teman komunitas juga berdatangan. 

Kebayang saya sih harus ada lebih banyak yang ikutan. Tapi ya gak apa-apa sedikitan juga, kayaknya 30-40 orang mah ada. 

Festival Gedong Cai nih kalau diperhatiin sebenernya mirip acara ruwatan bumi. Warga berjalan beriringan menuju Gedong Cai. Disertai kesenian tradisional dan makan Nasi Liwet bersama-sama warga sekampung.

Mata air dahulu kala diperlakukan sehormat-hormatnya. Orang Sunda termasuk orang yang dekat banget dengan alam. Termasuk dengan air. Banyak banget tempat di daerah Priangan yang namanya berawalan Ci (air). Ruwatan mata air ini emang sengaja dilakukan sebagai ungkapan terima kasih kepada alam (dan Tuhan).

Tapi zaman tambah modern. Mata air banyak yang hilang seiring pembangunan pemukiman dan sarana rekreasi. Di sekitar Gedong Cai cuma tersisa 1 di dekat Gedong Cai, di Cibadak ini. Dan tentu saja, manusia makin berjarak dengan alam dan gak tahu terima kasih.

Ruwatan Mata Air (Gedong Cai) sempat vakum. Baru nih beberapa tahun ini diadakan lagi. Penyelenggaranya bukan pemerintah atau LSM. Organisatornya Karang Taruna di Ledeng aja. Pemuda-pemudi setempat. Saya juga ikutan. Walo hanya sebagai peserta aja selama 1 hari 

Bagian serunya nih Festival Gedong Cai bukan cuma sekadar memperingati Hari Air. Tapi juga pengingat buat warga sekitar kalau ini mata air harus dilestarikan agar kelak pasokan air tidak habis.

Ya bagus atuh kegiatan sosial kemasyarakatan begini inisiatifnya datang dari warga sekitar. Anak muda pula. Seneng juga bisa ikutan di dalamnya walo jabatan sebagai peserta aja.




Sebenarnya penanaman pohon ini bukan cuma seremonial aja. Gedong Cai berlokasi di tepi tebing. Tak jauh Gedong Cai ada jurang. Meski lingkungan sekitarnya lebat, tapi keberadaan mata air ini sudah terpojok pemukiman. Pohon yang kami tanam diharapkan jadi penampung air dan penahan erosi.

Waktu saya unggah foto lagi mau nanam pohon Akasia, seorang teman komentar. Katanya Akasia gak cocok ditanam di lahan kayak sekitar Gedong Cai yang lebat banyak pohonnya. Kata Danu, serbuk sari dari pohon ini menghambat pertumbuhan pohon lain. Selain Akasia, panitia menyediakan Pohon Trembesi. Seingat saya Trembesi memang rindang, tapi lahan untuk menanam Trembesi mesti luaaaaaaas banget. Bener ga ya milih Trembesi buat ditanam di sekitar Gedong Cai? 

Ah ya diawali niat yang baik, semoga segalanya baik-baik aja. Amin. 

Tahun 2015 saya pernah mengikuti acara bertajuk Jelajah Gedong Cai. Ada 3 tulisannya. Bisa dibaca di sini. Kondisi Gedong Cai yang sekarang saya lihat lebih terawat dibanding tahun 2015 dulu. Bagus atuh. 


Jadi lebih lengkap fotonya lihat di postingan yang itu aja ya hehehe. Sebenernya ada videonya sih. Tapi...video pake Lenovo A6000 jelek amat ya gambarnya. Dominan kuning terus agak pecah gitu deh. Mesti beli hape baru kalau mau bervideo euy. Ah ya ntar deh mikir dulu heuheuhheuheuheu...






Foto: Ulu
Teks: Ulu
6 comments on "Festival Gedong Cai di Ledeng"
  1. Penanaman pohon memang penting untuk menjaga kelestarian dan ketersediaan air. Warisan untuk anak cucu kelak. Tapi kayaknya memang tidak semua jenis pohon berkayu keras bisa ditanam untuk pelestarian ya?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya nampaknya begitu, karena tiap pohon pun beda-beda karakternya ya

      Delete
  2. orang dulu bahkan menganggap sumber air sebagai tempat keramat. eh..masih ding, di desaku maish gitu teh. mitosnya kalau kita ngotorin sumber2 air itu bisa gila atau mati. heuheu. sampai2 dibuat papan peringatan di dekat sumber air. di desaku ada beberapa mata air, yang paling keramat adalah yang buat ngalirin air bersih ke masjid

    ReplyDelete
    Replies
    1. emang harusnya dikeramatin aja. walo ada yang bilang musyrik, tapi justru keberadaannya terjaga. iya gak sih heuheuheu....

      Delete
  3. salut sama Karang Taruna, udah ikut mikr lingkungan

    ReplyDelete