Bio Tour: Berkenalan dengan Pepohonan di Bandung

February 23, 2017
Sudah lama rasanya sejak terakhir kali saya menyantap Celorot. Pagi hari pukul delapan bagi saya selalu tentang duduk di kursi menghadap meja makan, berkutat di menu bubur, nasi kuning, atau uduk. Tapi sarapan di pagi hari minggu ini beda. Duduk di bawah naungan Pohon Trembesi, sarapan saya dalam wadah kotak makanan itu nikmat sekali. Bukan hanya Celorot, ada juga Bacang, Klepon dan Cikak yang tandas berturut-turut tanpa ampun di mulut.

"Dalam keseharian kita gak bisa jauh dari pepohonan. Coba dibuka lagi kotak makanannya."

Membuka lagi kotak makanan, saya melihat sisa-sisa perjuangan sarapan tadi. Tinggal daun-daun pembungkus makanannya saja.

"Celorot dibungkus daun kelapa yang masih muda. Bacang dibungkus daun hanjuang hijau. Klepon dan Cikak beralaskan daun pisang," Arifin Pemandu Bio Tour membuka topik pepohonan di Bandung dengan membahas satu per satu makanan lokal itu.

Oh saya belum cerita ya. Hari minggu (19/2/2017) saya dan Indra mengikuti sebuah walking tour bertema pepohonan di kota Bandung.

Tur jalan kaki ini bernama Bio Tour Bandung Botanical Garden. Arifin Surya Dwipa Irsyam nama pemandunya. Indischemooi penyelenggaranya.



Tahun 2014 saya pernah menulis tentang pepohonan di pinggir jalan kota Bandung dalam blog ini. Referensinya saya peroleh dari buku Toponimi Bandung yang ditulis T Bachtiar. Saya juga mencari profil pepohonannya di internet. Membaca ulang tulisan saya itu rasanya mengenaskan sekali. Hahaha. Minim informasi, main tulis saja gak ada perasaannya.

Berangkat dari ketertarikan saya terhadap pepohonan di kota Bandung, saya mendaftarkan diri ikut Bio Tour. Menjadi peserta Bio Tour biayanya Rp135.000. Durasi waktu turnya 3-4 jam. Jarak tempuh berjalan kaki sekitar 5 km. Peserta mendapat fasilitas berupa makanan cemilan, minum, tote bag dan pin yang lucu, suvenir tanaman Salam, dan pengetahuan dari seorang pemandu yang menyenangkan. 

Bio Tour memulai aktivitasnya di Balaikota yang ceria. Hari minggu pagi penuh sekali manusia di sana. Waktu Arifin mulai bercerita, orang-orang yang selintas lewat seperti penasaran. Beberapa pengunjung Balaikota bergabung dan menyimak sebentar, beberapa lainnya melirik dan berjalan lalu saja.

"Kita mulai dari Trembesi," kata Arifin.

Pohon terbesar di kompleks Balaikota Bandung ini besar sekali. Ikonik. Ironisnya bahkan yang terlihat besar dan jelas begini saya tidak tahu apa namanya. Pada mulanya saya pikir itu Pohon Beringin.

"Trembesi disebut juga Ki Hujan. Kalau hujan turun, daun Trembesi akan mengatup sehingga air hujan langsung meluncur ke akar. Pohon ini aslinya berasal dari daerah gurun. Trembesi punya kemampuan menyerap air dalam jumlah banyak. Saking banyaknya, Trembesi meneteskan air melalui daun seolah sedang hujan."

Beribu kali saya datang ke Balaikota, baru tahu kalau Trembesi begitu karakternya. Nama 'trembesi' mirip kata 'merembes' (meresap) sih.

"Coba lihat pohonnya," kami semua mendongak menatap batang dan daun Trembesi yang tinggi-tinggi sekali. "Untuk menopang pohon sebesar ini kan pasti dibutuhkan akar yang juga besar. Oleh karenanya Trembesi jenis pohon peneduh yang harus ditanam di lahan yang luas supaya akarnya leluasa tumbuh dan menopang batang pohonnya. Pohon ini gak cocok kalau ditanam di pinggir jalan," Arifin menjelaskan. Berapi-api dengan suara yang lantang.

Kami manggut-manggut tanda memahami. Arifin bergegas menuju pohon yang lain, kami mengikutinya. Mirip anak ayam, nempel ke mana pun induknya pergi.

Kali ini kami mengelilingi Pohon Kayu Manis. Memang ada pohon Kayu Manis di Bandung, tepatnya di Balaikota? ADA BANGET!

Arifin memetik satu daun Kayu Manis. Sebelum memetik ia mengucapkan minta maaf dulu. Entah kepada pohonnya atau kepada kami. Ia meremas daunnya sambil berkata "salah satu ciri Pohon Kayu Manis ada di daunnya. Kalau kita remas akan terasa tekstur daunnya yang mirip perkamen naskah tua". Ia melanjutkan "coba cium wangi daunnya," Arifin menyodorkan daun yang agak remuk itu.

Bergiliran kami mencium wangi daunnya. Hmmm iya wangi kayu manis. Gak nyangka di Balaikota ada pohon jenis rempah begini. Saya ikut meremas daun Kayu Manis. Arifin benar, efek suara dan sensasi meremas daun ini seperti sedang meremas perkamen naskah tua. Saya belum pernah pegang perkamen naskah tua sih, tapi ya kira-kira daunnya seperti kertas tapi strukturnya lebih kuat.

"Kayu Manis adalah jenis pohon peneduh. Selain jadi bumbu dapur, pohon ini berkhasiat sebagai obat mual dan obat perut kembung." Kami manggut-manggut sambil berbisik "oohhhh" pertanda baru tahu. Daun Kayu Manis masih digilir untuk diendus-endusi aromanya.

Cowok yang menenteng-nenteng buku berjudul 1001 Garden Plants in Singapore ini beranjak, mengajak kami ke tempat parkir motor, melihat pohonnya lainnya.

Ki Sabun nama pohon berikutnya. Kiara Payung nama aliasnya. Mengandung senyawa Saponin yang jadi bahan membuat sabun, pohon ini menyebabkan jalan licin bila hujan. Karenanya gak cocok ditanam di pinggir jalan dan tempat parkir. Bahkan pohon peneduh di tempat parkir saja sebaiknya harus dipikirkan karakter pohonnya ya...

Di bawah Pohon Jamblang yang langka, Arifin cerita kalau buah Jamblang (Anggur Jawa) dahulu banyak dijual di pasar tradisional. "Rasa buahnya lebih enak dari stroberi dan apel. Paling cocok dimakan di siang hari yang terang" katanya lagi.

Indra mengiyakan, "waktu SD masih suka makan Anggur Jawa. Ke mana ya buah ini sekarang?" tanya dia pada saya. Mana saya tahu. Tergusur buah-buah impor sepertinya. Arifin mengingatkan bahwa langkanya Anggur Jawa jadi penegas kalau pola makanan orang kota berubah. Saya belum pernah makan buah ini. Lantas kenapa buahnya jadi langka kalau rasanya enak?

Makin siang, makin banyak pepohonan yang dibahas.

Pohon Ganitri yang bijinya diolah dan jadi biji tasbih.
Pohon Damar yang berfungsi sebagai pemecah angin, getahnya untuk menambal gigi.
Hanjuang yang jadi pohon pagar pembatas dua dunia: mati (pemakaman) dan hidup.
Trengguli, pohon jamu untuk diet melangsingkan badan.

Pohon Kemiri ada minyak di biji pohonnya, digunakan sebagai bahan bakar lampu penerang.
Pohon Puspa yang khas priangan dan jenis pohon peneduh yang cocok untuk reboisasi.
Pohon Huni memiliki daun yang edible alias dapat dimakan mentah-mentah (lalap).
Pohon Pucuk Merah yang ditanam di pot dan menurut Arifin cara penanamannya salah banget.
Ki Merak alias Patrakomala yang mengandung senyawa sianida
Pohon Kenari yang jenisnya tanaman peneduh dan akarnya besar-besar, gak cocok ada di tepi jalan.

Semua pohon yang saya sebut itu baru di Balaikota saja. Saya tulis singkat-singkat kenyataannya saat Bio Tour, pemandunya bercerita banyaaaakkkkk sekali. Nyerocos dengan koma dan titik yang teratur. Sesekali Arifin menyebut nama latin tanamannya, fasih banget. Kamu tahu sedang bersama orang yang mencintai bidangnya saat ia sanggup melafalkan nama lokal sebuah tanaman, sekaligus nama ilmiahnya tanpa kikuk, dan ceritanya panjang lebar hahaha.

Menjauh dari Balaikota, tanaman di dalam selokan pun Arifin bahas. Dari tanaman yang tumbuh di parit seperti Kareumbi dan Babadotan, sampai tanaman hias yang kebanyakan bunganya beracun misalnya Patrakomala dan Oliander.

Lalu tibalah waktunya pepohonan favorit saya dibahasnya: Angsana dan Tanjung.

Saking sukanya dengan Angsana, saya sampai pernah bikin blog yang nama blognya kampring banget: Titisan Angsana. Udah diganti sih nama blognya jadi Kue Balok :D 

Bertahun-tahun lalu sewaktu berjalan kaki di sekitar Jalan Raden Patah siang-siang yang terang tapi adem karena sepanjang tepi jalan ada pepohonan besar-besar, bunga-bunga Angsana berguguran. Duh pemandangannya indah sekali. Seperti hujan tapi hujan bunga angsana. Jalan sepi berasa milik sendiri, bunga kuning kecil-kecil terlempar-lempar ditiup angin. Menempel ke kelopak mata, melekat di jilbab. Riweuh tapi romantis. Seperti ada perasaan sentimentil apa gitu lah. Di rumah saya cari tahu bunga apa dan pohon apa. Ternyata Pohon Angsana jawab Google 😀

Pohon Tanjung adalah pohon favorit ke dua. Pohon mewangi yang kata orang sih wanginya seram karena dekat dengan dunia kematian. Juga aromanya seperti kemenyan. Buat saya mah enggak. Di samping rumah saya ada Pohon Tanjung. Di halaman depan kantor ada Pohon Tanjung. Saya sudah terbiasa dengan aromanya yang sedap.

Banyak orang yang memetik Bunga Tanjung dan membuatnya jadi hiasan di keranda jenazah. Gak tahu apa hubungan wangi ini dengan dunia kematian. Jika saya jadi jenazahnya, saya pasti senang karena diantar ke pemakaman dalam kondisi bersih dan wangi (bunga). Ya kayak kalau kita mau pergi-pergi ke luar rumah tapi bau badan kan kasihan orang lain yang menyesap baunya ya 😂

Hidup saya dikelilingi pohon. Ada kebon di sebelah rumah. Isinya pohon nangka, kelapa, markisa, jambu, tanjung, ketapang, pucuk merah, alpukat, hanjuang, dan banyak lagi. Di rumah Indra kebonnya lebih luas lagi, diisi dengan pepohonan berbuah kayak mangga, alpukat, jambu, sawo, srikaya, sirsak, rambutan, pisang, jeruk nipis, sampai pohon pete. Lha baru aja minggu kemarin kami panen alpukat mentega dan sawo. Kalau kita tetanggaan, saya sudah ketok pintu rumah kamu sambil membawa kiriman buah-buahannya 😊  

Saya termasuk beruntung bisa tinggal di lingkungan yang masih banyak pohonnya. Cuma sayang sekali saya gak tahu nama pohonnya apa aja, fungsinya apa, khasiatnya apa, beracun enggak. Kecuali pohon buah yang saya konsumsi.

Karena Bio Tour sekarang saya jadi tahu. Emang sih gampang tinggal baca di buku atau browsing di Google. Tapi kalau praktek langsung turun ke jalan lebih seru karena ada interaksi dengan pohonnya secara langsung, kayak:

Saya mencium bunga Pohon Tanjung
Ngebauin daun Kayu Manis
Menghirup aroma getah Pohon Kenari
Gesek-gesek daun Pohon Sikat Botol di tangan, wanginya kayak kayu putih
Melihat pohon yang bisa jadi obat HIV
Mengernyit karena bau jamu dari Buah Trengguli
Makan Bunga Begonia
Makan Buah Bihbul
Mengagumi bunga Oliander dan Patrakomala yang cantik-cantik tapi beracun
Rumput pipih boleh diinjak

Dan masih banyak lagi. Sekarang jadi tahu, kalau lapar dan gak punya uang tinggal pergi ke Balaikota dan Taman Lalu Lintas, berburu buah di sana 😁  Tinggal cari tahu mana yang beracun, mana yang aman untuk perut manusia.

Bahkan saya sekarang tahu kalau tumbuhan raksasa kayak Pohon Trembesi itu ternyata bersaudara dengan tanaman kacang hias merambat. Jauh amat ya, yang satu menjulang ke angkasa, satunya lagi membumi di tanah. Terus kita sibuk mencari-cari tanda kekuasaan Tuhan dari awan yang (kalau dicocok-cocokin) membentuk kata T-U-H-A-N. Salah. Ke luar rumah sekarang dan amati bagaimana bisa ada air menetes dari daun Trembesi padahal sedang hujan pun tidak.

Menurut panitianya, Bio Tour akan dilakukan secara rutin. Kapan waktunya, langsung tanya ke penyelenggaranya aja. Cek akun di Instagram @indischemooi. Jangankan saya yang mewajibkan diri mengikuti tur pepohonan ini, walikota Bandung juga harus. Orang-orang di Dinas Pertamanan juga wajib nih melek pepohonan di Bandung.

Bagian paling menohok dari tur ini adalah muncul kesadaran kalau usaha walikota Bandung dan Pemkot dalam mempercantik kota belum selaras dengan keberadaan makhluk lainnya. Kitanya senang, tapi pepohonan belum tentu.

Estetika kota diutamakan, tapi sesuai gak dengan karakter pepohonan yang ikut mempercantik kotanya? belum tentu. Kebanyakan malah salah kaprah. Arifin menunjuk pohon Pucuk Merah yang ditanam dalam pot di Balaikota.

"Cara menanam kayak gini salah. Pucuk Merah butuh lahan luas untuk tumbuh," kami mengamati pohonnya yang mulai layu dan mengering. Pantas atuh mati ya. Akarnya gak leluasa bergerak ketahan pot. Pohonnya gimana mau tumbuh.

Arifin juga menyinggung bunga-bunga warna merah yang digantung di tiang-tiang lampu jalan. Ternyata salah menempatkan bunga Pohon Kastuba kayak gitu. Kodratnya pohon Kastuba tumbuh 1,5 m - 4 m dan gak boleh kena sinar matahari langsung. Kastuba di Jalan Riau dan Purnawarman rada mending sih karena digantung di bawah pepohonan besar. Pot Kastuba yang di jalan Dago salah naro karena ngegantungnya di tengah jalan dan kena sinar matahari langsung. Hayo lho, Kang Emil 😁

"Jadi cocoknya tanaman yang digantung di pinggir jalan kayak gitu apa dong, Pin?" tanya saya.
"Bunga Senecio Macroglossus, tapi gak tahu nama dagangnya," kata Arifin yang sekolahnya jurusan Biologi di Unpad dan magister di IPB.

Radius yang kami kitari gak nyampe 5 km aja, tapi pepohonannya beragam banget. Saya paling suka bagian mencium-mencium wangi bunga dan daun, rasanya damai banget. Hehehe. Kayaknya Bio Tour ini mesti diulang-ulang deh acaranya. Biar makin banyak yang ikutan.

Mudah-mudahan pepohonan di Bandung lestari. Pohon yang renta diganti yang muda. Pohon yang muda tumbuh aman gak ditebang-tebang atau tumbang dan gak jadi korban pembangunan.


Bacang, Cikak, Klepon, Celorot
Di bawah Pohon Puspa
Pohon Kayu Manis
Bunga Puspa yang wangi dan rumput Gajah Kecil 
yang aman banget diinjek-injek tapi seringnya dilarang diinjek 


The Giant Pohon Karet Munding
Karet Munding masih bayi
Membahas Pohon Kenari 
Buah Pohon Kenari kalau dibelah kayak gini penampakannya
Baby Kareumbi
Pohon gak boleh dililit kain kayak gitu,
mengganggu metabolisme pohon, kata Arifin
Dua Pohon Tanjung di Jalan Aceh, jenis pohon peneduh yang ideal karena:
buahnya kecil, akarnya gak gede-gede amat, menyerap karbondiosida







Teks : Ulu
Foto : Ulu, difoto dengan Lenovo A6000
16 comments on "Bio Tour: Berkenalan dengan Pepohonan di Bandung"
  1. Kalau diadakan di Serpong Saya mau deh ikut Bio Tour ini, Mbak Ulu. Ini tidak hanya sekedar pelepas jenuh tapi kita di bawah lebih dekat kepada alam dan setidaknya juga mengenai berbagai jenis pohon. Selama ini lewat di bawah pohon Rindang tapi tidak mengenal nama mereka. Misalnya kalau tahu sedang bernaung di bawah pohon Trembesi penghargaan kita kepada mereka tentunya lebih lagi

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah bener, mba evi. kalimat terakhirnya paling jleb. kalo kenal kan jadi tahu, kalau tahu jadi peduli lah ya. paling gak tahu mesti memperlakukan mereka kayak gimana

      Delete
  2. Nice info Teh^^ saya juga seneng kalo di Bandung banyak pohonnya jadi adem^^

    ReplyDelete
  3. Cinta Alam ....... Ayo Kita Galakkan Kembali, kalau di Blitar ada Laskar Caping Gunung yang bergerak pada pelestarian Alam dan Lingkungan

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah mantap! namanya bagus sekali, Laskar Caping Gunung!

      Delete
  4. Tour ini kereeeen bgt mba.. Aku jd pingin ngerasain sensasi nyium daun, makan buahnya.. Asik bgt tour guidenya Mas Arifin.. Semoga bio tour kayak gini lbh sering diadain yaa.. Bisa nambah wawasan bgt dan jd makin cinta tumbuhan..

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul! pemandunya oke banget ceritainnya lengkap & pinteerrrr hihihi :D

      Delete
  5. Kereeeennn, bandung mmg surganya ide, ada aja, dan selalu kece badai,
    Smga kgiatan ini menginspirasi kota2 lain, trutama di tmpat tinggal aku nih, amin
    Tengkiu share ceritanya ya mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama-sama. ayo atuh anak-anak lulusan biologi atau kehutanan bisa mulai bikin biotour gini, itung2 mengaplikasikan ilmunya :D

      Delete
  6. emang asyik ngeliatin pohon2, banyak kejutan di situ...
    aku belum pernah lihat ganitri, kenari... nemunya di mana?

    blogku juga banyak cerita pohon2 unik yang baru aku tau, kalau belum tau namaya aku bikin posting aja, ntar teman2 blogger banyak yang kasih informasi
    pengen banget ikutan kalau ada lagi bio tour, bela2in ah ke Bandung

    ReplyDelete
    Replies
    1. ada di Balaikota, Mba monda. nanti saya lihatin ya kalau kita ketemuan di Bandung

      Delete
  7. bungan puspa dan buah kenari blm pernah melihat... ya..liat nya diaini he2

    ReplyDelete
    Replies
    1. saya juga mikir gitu, tapi ternyata saya pernah lihat cuma gak tahu nama :D hihihi

      Delete
  8. baca ini aja udah dapet banyak info, gimana kalau ikutan ya. seru, aku penikmat pohon...tapi gtau nama-namanya...(kecuali pohon yg berbuah kayak nangka, mangga, rambutan...heuheu)

    ReplyDelete