Image Slider

Imlek di Bandung: Kirab Cap Go Meh yang Mengharukan

January 27, 2017
Berikut ini adalah cerita lama yang asalnya dari tahun 2011. Melihat perayaan Tahun Baru Cina (Imlek) belum pernah saya lakukan selain mengintip dari luar klenteng saja. Berkunjung ke kota lain yang merayakan Imlek secara besar-besaran pun sama sekali belum saya pikirkan. Namun pada enam tahun lalu itu ada perayaan Imlek yang berbeda di Bandung.

Untuk pertama kalinya sejak saya mendiami kota ini, saya melihat Kirab Cap Go Meh. Kirab Cap Go Meh merupakan puncak dari perayaan Imlek. Biasanya diselenggarakan 15 hari setelah Imlek. Kirab Cap Go Meh dilakukan dengan turun ke jalan dan berjalan membawa atribut khusus.

Di Bandung setahu saya gak ada perayaan Imlek secara meriah sih. Palingan di klenteng masing-masing atau di tempat-tempat komersil. Tapi festivalnya seingat saya tidak ada. Kirab Cap Go Meh ini adalah acara yang termeriah dari perayaan Imlek di Bandung.




Bukan saja menontonnya, saya mengikuti kirabnya sejak awal mulai hingga acara selesai. Rupanya bukan saja perayaan tersebut jadi yang pertama untuk saya. Bagi umat yang menjalankan perayaan Imlek, Kirab Cap Go Meh di Bandung tahun 2011 merupakan kirab pertama setelah hampir 44 tahun ketiadaannya.

Begini ceritanya.


Berjalan Mengikuti Kirab Cap Go Meh


Di tepi Jalan Cibadak sore itu, dua porsi baso tahu siomay tandas, dua gelas air teh tawar habis. Bekal untuk perut saya dan Indra sudah cukup. Waktu menunjukkan pukul tiga sore. Saatnya meleburkan diri ke dalam sebuah pawai yang saya pikir pada mulanya biasa saja, tapi ternyata memberi kesan yang dalam dan mengharukan.  

Ratusan orang mengenakan pakaian merah-merah di ujung Jalan Cibadak, di depan Vihara Dharma Ramsi. Ratusan orang lainnya berdiri di pinggir jalan hendak menonton pawai tersebut. Pawai yang saya maksud adalah Kirab Cap Go Meh. 

Kamera siap bekerja, kaki-kaki kami siap berjalan dan berlari mengikuti pawai Cap Go Meh. Melihat lautan manusia yang memenuhi jalanan, ponsel dan dompet kami simpan dalam ransel. Tidak ada waktu untuk update status ke Twitter dan Facebook, pikir saya waktu itu. 

Sebelum saya berangkat mengikuti dan menonton pawai Kirab Cap Go Meh, saya membaca sebuah headline portal berita. Perayaan Imlek di tahun 2011 adalah perayaan besar pertama sejak pelarangan Imlek oleh rezim Soeharto di tahun 1967.




Berbeda dengan penganut Konghucu di daerah pesisir. Mereka secara terbuka sudah merayakan Imlek dengan ramai dan mengadakan Kirab Cap Go Meh sejak Presiden Gusdur mencabut Inpres no 14/1967 tentang pelarangan Imlek, di tahun 2001. Sementara di Bandung, perayaan Imlek sudah dilakukan tapi Kirab Cap Go Meh di tahun 2011 adalah kirab pertama kalinya sejak tahun munculnya Inpres itu. 

Mengetahui hal tersebut, saya pikir sayang banget kalau saya melewatkan Kirab Cap Go Meh. Lha bayangkan saja perasaan kamu (kalau kamu muslim) bila dilarang merayakan Lebaran, gak boleh takbiran, dan gak boleh sholat Id di muka publik selama puluhan tahun, bagaimana rasanya?

Jadi bagaikan kembang yang layu dan kembali segar, seperti itu lah kesan yang saya dapatkan sewaktu melihat Kirab Cap Gomeh di Bandung tahun 2011.

Suasananya riuh sekali. Seperti kenduri ala orang kaya zaman dahulu. Ramainya luar biasa. Meriah tiada tara. Ada yang memukul gong. Pasukan Barongsai mulai beratraksi. Liong ditegakkan. Kio mulai diayun-ayun. Wangi hio bertebaran. Musik khas Tionghoa bertabuh keras sekali, gendang ditabuh kuat-kuat dan kompak. Jantung saya berdebar-debar karena terbawa suasananya.


Liong dan Barongsai, Favorit Saya!


Saya tidak tahu atribut yang diarak selama kirab apa artinya. Baru di rumah saya mencari tahu via mecin pencari. Misalnya saja Liong yang bentuknya kepala naga dan badan ular adalah penolak bala, membawa perlindungan, berkah, dan keselamatan.

Terlepas dari maknanya, secara umum saya menikmati arak-arakan Cap Go Meh karena Liong itu sangatlah indah sekali! Warna-warni Liongnya, dominan merah, kuning, dan hijau. Orang yang membawa Liong jumlahnya lebih dari lima. Mereka semua bergerak seperti menari, kompak sekali. Liongnya meliuk-meliuk. Ular naga yang rupawan!






Belum lagi orang yang menggotong-gotong Kio. Kio ini semacam panggung kecil, pada bagian tengahnya terdapat dewa-dewi. Bukan hanya pria yang menggotong Kio, wanita juga. Bahkan banyak ibu-ibu dan wanita manula ikut-ikutan membawa Kio dong. Wadooow! Terbayang beratnya. Namun mereka nampak bahagia dan senang saja. Woow!

Juga ada sosok yang bentuknya besar dan tinggi. Rupanya jelek sekali, menyeramkan seperti hantu. Saya lupa istilah khusus dari makhluk ini. Sepertinya dia ini makhluk antagonis.




Barongsai tentu saja jadi favorit. Bukan saja jadi kesukaan saya, tapi banyak orang lainnya. Sering saya temui Barongsai diajak berfoto bersama. Hahaha seru. Eits, saya juga bawa angpao dong. Saya kasih-kasihin ke Barongsainya. Ternyata ngasih angpao ke Barongsai menimbulkan sensasi yang lucu banget. Ya senang ya lucu. Sayang saya gak bawa tali pancingan, saya lihat gak sedikit yang memberi angpao dengan tali pancing. Angpaonya ditempatkan di ujung tali dan ditarik ke atas agar Barongsainya kesusahan ngambilnya dan loncat-loncat gitu jadinya. Hahaha seruuu!

Makin malam suasana kian semarak namun juga syahdu. Lampion menyala. Warna Liong dan Barongsai semakin mencolok berpendar-pendar.




Berhubung di Bandung masih ada beberapa bangunan tua, maka atraksi terbaik Kirab Cap Go Meh menurut saya kalau arak-arakannya melewati di depan gedung/rumah kuno. Belum lagi kalau rumah kunonya rumah khas arsitektur cina. Hwuidiihhh terbayang suasana Imlek di Bandung tahun 1930an saja.


Kirab Cap Go Meh di Bandung


Sudah jam 4 sore, jalan Cibadak dipenuhi manusia. Untuk berjalan pindah tempat berdiri susahnya bukan main. Harus pintar berkelit dari kaki-kaki yang berdiri, badan yang menghadang, dan tangan-tangan yang sibuk. Saya dan Indra sudah bertekad akan menyusuri kirab berbarengan dengan pesertanya. Kami memutuskan mengambil titik bersama rombongan paling depan agar tidak terseok-seok tergerus penonton yang membludak di sepanjang kirab.

Kira-kira jam setengah lima sore kirab mulai bergerak teratur. Langit cerah dan wajah-wajah peserta kirab bahagianya tak terperi. Dari anak-anak sampai dengan nenek-nenek dan para kakek, turun semua ke jalan. Senang sekali! 

Macet? ya sudah pasti. Hahaha. Bukan gara-gara kirabnya sih, melainkan Pemerintah Kota Bandung (waktu itu bukan Ridwan Kamil walikotanya) dan pihak polisi yang tidak melakukan sosialisasi penutupan jalan. Saya bersyukur tidak menjadi mereka yang kena macet dan tidak tahu ada apa gerangan ☺ 

Ya coba bayangkan saja, ini perayaan pertama setelah 44 tahun terabaikan, ya pasti ramailah! Komunitas Tionghoa di Bandung turun semua ke jalan. Jangankan orang Bandung, peserta kirabnya juga banyak yang berasal dari di kota-kota tetangga.

Jalur yang digunakan dalam Kirab Cap Go Meh ini adalah area yang banyak dihuni warga Bandung keturunan Tionghoa: Jalan Cibadak, Jalan Kelenteng, Jalan Kebon Jati, Jalan Otista, Jalan Sudirman, dan kembali ke Jalan Kelenteng.




Hampir semua rumah yang dihuni warga keturunan Tionghoa di pinggir jalan, pintu rumahnya dibuka. Beberapa di antaranya membuat altar kecil. Bukan hanya penganut Konghucu, umat muslim yang juga keturunan Tionghoa keluar rumahnya dan memberi angpao ke hampir semua peserta Kirab, utamanya Barongsai.

Saya berdiri bersama mereka dan melihat sendiri mata-mata yang sedang bahagia. Seperti sedang terharu. Generasi anak cucu mereka yang sebaya dengan saya pasti belum pernah melihat Kirab Cap Go Meh di Bandung. Bisa jadi ibu dan ayahnya juga harus plesir ke kota lain dulu untuk merayakan kirab. Tapi sekarang di Bandung pun sudah bisa berkirab. Horeeee! 

Pukul delapan malam, kirab berakhir. Bekal baso tahu siomay ampuh memberi tenaga kami berjalan dan berlari-lari mengejar arak-arakan peserta kirab yang sebentar diam beratraksi dan sebentar jalan cepat sekali. Usai mengikuti Kirab Cap Go Meh, saya dan Indra kembali mencari restoran dan hendak makan malam. Menu santapan kami waktu itu juga asalnya dari Cina: kwetiaw dan ifumi ☺

Indra menandaskan banyak makanan. Dia memang lapar sekali saking capeknya, karena tugasnya memotret (dan berjalan, sesekali berlari mengejar tempo peserta Kirab). Sementara saya memang lebih santai, hanya mengamati saja (dan tentu saja ikut berlari-lari, hahaha).


Melihat Perayaan Imlek di Kota Lain Bukan Cuma di Bandung? Mauuuu! 


Saya berjilbab dan saya melihat perayaan Imlek sebagai perayaan yang bukan melulu tentang perayaan agama. Saya muslim dan mengapresiasi perayaan tersebut sebagai sebuah budaya. Bagi penganutnya, Imlek berhubungan dengan tuhan dan para leluhurnya. Untuk saya, Imlek merupakan sebuah atraksi budaya yang sangat menarik, indah, sakral, dan magis.

Sejak Kirab Cap Go Meh 2011, saya menyimpan keinginan untuk melihat Festival Imlek Indonesia: di Semarang, Singkawang, Palembang, Cirebon, Surabaya, Lasem, termasuk sampai ke negeri Cina. Sampai saat itu tiba, saya masih setia melihat perayaan Imlek dan Kirab Cap Go Meh di Bandung.

Sejak tahun 2011, tidak tiap tahun Kirab Cap Go Meh diselenggarakan di kota Bandung. Namun bila pengumuman akan diadakannya Kirab Cap Go Meh sudah muncul, saya selalu menyediakan waktu untuk melihatnya.

Kalau kamu ingin melihat perayaan Imlek, coba cek jadwal di kotamu. Beberapa kota biasanya secara berkala mengadakan perayaan Imlek.

Selamat Tahun Baru Cina. Selamat datang, Tahun Ayam Api!






Teks : Nurul Ulu
Foto: Indra Yudha


Halo!

January 22, 2017
Tulisan pertama untuk blog ini di tahun 2017. Mood ngeblog lagi gak bagus, hilang gitu. Jenuh, mungkin. Sekarang sedang menyibukkan diri dengan pekerjaan saja. Memberi jarak dengan blog sendiri, supaya kembali dengan kondisi semangat. Dan semangatnya mulai muncul dikit demi sedikit. Hehehe. 

Bila kamu memiliki akun Instagram, di sanalah kabar Bandung Diary secara berkala masih dapat diikuti selama blog ini hiatus hampir tiga minggu. 

Awal Januari kami plesir ke Cirebon dan Indramayu. Sudah niat ingin menyusuri bangunan tua di Cirebon, senangnya misi tersebut dapat tercapai. Cirebon memiliki banyak rumah kuno yang aduhai istimewa nian rupanya. 




Kembali ke Bandung. 

Beberapa hari setelah kembali dari Cirebon, kami hiking menyusuri rute Maribaya di Lembang ke Dago Pakar. Sengaja, ingin menghirup lagi udara pegunungan yang sejuk dan asri meski nampaknya sebagian dari trek yang saya susuri itu sudah gak seasri dulu. 

Saya menyempatkan diri berkunjung ke Museum Pendidikan Nasional. Juga akan menulis resensi sebuah hotel lama yang super recommended yang terletak di Dago. Ah saya juga pernah berjanji akan memaparkan beberapa buku yang saya baca di tahun 2016, tanggal sudah bergulir ke angka 22 di tahun 2017 dan janji tersebut belum saya tunaikan. 

Pukul delapan malam minggu, sedang suntuk kami bertiga ingin jalan-jalan santai. Karena sedang butuh raket tenis (bekas saja), kami datang ke sebuah toko barang bekas yang berlokasi di Jalan Riau. Rumah tua, barang-barang bekas semua. Bbrrrrr....saya meremang di lantai dua. Serem :D Barangnya bagus-bagus, mungkin kami akan kembali. Perkara seramnya mah bumbu saja hehehe. 

Tahun ini ada beberapa kota yang ingin (sekali pake banget kuadrat sepuluh!) saya sambangi. Semoga tercapai. 

Seminggu yang lalu, saya mengikuti workshop fotografi khusus Human Interest yang dimentori oleh fotografer kawakan Budhi Ipoeng. Saya gak sengaja ikutan acara ini, karena diajak seorang teman baik saja. Namun saya sangat senang karena paparan Pak Ipoeng tentang fotografi sangatlah menyenangkan dan membuka cakrawala saya akan tema human interest. Selalu membahagiakan mendengar kisah dan petuah dari fotografer yang lahir di zaman kamera analog. Sejenis orang yang menganggap kamera bukan barang keren tapi sebuah alat saja, media untuk berkarya. Orang-orang yang menerapkan praktek one-shoot-one-kill. Orang yang pernah motret secara profesional dengan roll film. Nanti saya ceritain ya apa yang Pak Ipoeng bahas di workshopnya, di artikel khusus #photographytalk. 

Playlist akan saya tambah. Lagunya ya masih gitu-gitu aja hahaha. 




Di Instagram, saya mengikuti perjalanan seorang teman di Jepang. Pimpi nama teman saya. Dia memiliki usaha craft shop di Indonesia, Sawo Kecik namanya. Kalau melihat hasil karyanya, buat saya Pimpi adalah seorang seniman. Dia sedang mendalami teknik Katazome (browsing sendiri Katazome apa ya :D). Kalau baca di akun IG miliknya, Pimpi cerita sudah menerapkan teknik ini pada prakarya yang ia buat setahun belakangan. Dan awal Januari lalu dia ke Jepang untuk belajar Katazome. Serunya melihat perjalanan Pimpi. Datang ke kota-kota kecil untuk berguru pada sensei-sensei yang juga khusus berkarya dengan Katazome. Seneng aja gitu baca ceritanya Pimpi yang tulus, happy, dan memberi sudut pandang baru pada sebuah kegiatan bernama traveling. Jenuh lihat orang-orang unggah foto pemandangan epik dan menclok ke sana-sini dengan tujuan jalan-jalan tok pengen kekinian lah, pengen bertualang lah :D Baca ceritanya Pimpi mah beda, saya jadi agak malu juga sih karena jadi refleksi ke diri sendiri saya traveling buat apaan. Hahaha :D apeeeuuu. 

Hmmm... apalagi ya....

Oh iya. Jadi beberapa hari lalu saya dalam perjalanan dari utara Bandung ke selatan. 28 km saja jaraknya. Sore waktu itu sangatlah dramatis. Gradasi warna kuning, merah muda, dan oranye bersatu dengan warna kelabu dan putih. Senja yang indah, lembayung yang magis. 

Terpikir untuk menghentikan kendaraan yang sedang Indra pacu. Tapi sedetik kemudian saya berpikir, kenapa segala yang saya lihat harus saya foto. Buat apa. Mau dimasukin ke IG? terus kalau udah diunggah apa yang saya rasain, seneng? bangga? 

Terus saya diam saja. Kendaraan melaju, lembayung tertarik berkebalikan arah dengan saya. Berkas-berkasnya masih ada dan tajam warnanya. Lalu saya teringat ayah saya. Dua tahun lalu beliau wafat, tiap kali saya melihat pemandangan-pemandangan magis seperti senja itu, saya selalu ingat padanya. Memang agak aneh, kontradiktif sekali. Pemandangannya indah, tapi sayanya sedih. Saya suka mikir kalau ayah saya ada di sana sekarang, di angkasa, di lautan, di pucuk-pucuk pepohonan yang tinggi dan rindang. Indah tapi tak tergapai, hanya bisa dirasakan saja. 

Ya mungkin sama seperti kalau sedang hujan dalam keadaan ideal, menimbulkan perasaan romantis. Namun yang saya rasakan seiring bertambah umur, romantis adalah istilah yang banyak sayapnya. Iya, Januari ini saya bertambah tua. 

Selamat hari lahir, Ulu. 






Teks : Ulu
Foto : Ulu