Image Slider

#playlist ke 14 : Jiwaku Sekuntum Bunga Kemboja

December 27, 2017
Saya mau unggah beberapa tulisan sekaligus ke blog. Setelah hampir dua minggu gak bisa tulis menulis dengan khidmat, sekarang ada waktunya. Hamdalah. Tapi sebelumnya saya masukin playlist dulu lah. 

Akhir tahun pada mau ke mana nih? Saya pengennya di rumah aja seperti tahun-tahun sebelumnya. Tapi...ada rombongan keluarganya Indra datang. Begitu juga keluarga saya. Selamat tinggal rencana mau mager di rumah bertiga saja. Selamat datang akhir tahun yang ramai. 

Saya dan Indra kan kerjanya soho. Small office home office alias kerja sendiri. Orang lain udah masuk musim liburan. Kami? masih kerja. Orang lain sekolah dan kerja di kantor lagi, kami? baru liburan. Tapi gaya bekerja demikian bakal bentrok kalau ada rencana keluarga nih. Si A udah libur, kami belum. Alhasil emang pandai-pandai menyesuaikan jadwal kerja saja lah. 

Loh kenapa jadi melantur. Saya mau cerita tentang rekap 2017. Ah nanti aja lah di lain tulisan. Sekarang saya mau berondong kalian dengan tulisan jalan-jalan di Kebon Langit, Cianjur, termasuk hotel tempat kami bobo di Yogyakarta, Solo, dan Cirebon! 

Tahun ini tahun termalas bikin review hotel. Juga tahun termalas jualan voucher hotel. Hotel di Bandung tambah banyak dan rasanya kok ya saya penyumbang kemacetan. Loh kenapa saya melantur lagi. Ah yaudahlah nih playlistnya. 


Waktu Menginap di Solo, Kami Tidur di Rumah Turi

December 22, 2017
Rumah Turi adalah sebuah hotel. Butik hotel pertama dan ramah lingkungan di Solo, begitu klaimnya. Sejak pertama kali mengetahui ada hotel tersebut (lupa deh kapan tuh tahunya), saya mah udah komat-kamit dalam hati kalau ke Solo nginepnya pengen di Rumah Turi. 

Sayangnya kami hanya menginap semalam. Rasanya kuraaaaang banget. Kami kebanyakan main di Yogyakarta, di Solo hanya 1x24 jam ajah. Hughhhgghhhh. 

Pengalaman kami menginap di sini sangat berkesan. Pertama, karena kami lagi capek-capeknya waktu itu. Sampai di Solo jam 6 sore. Sampai di hotelnya 15 menit kemudian. Begitu masuk pelataran hotelnya yah, waduh rasanya udah sejuk aja. Ada suara gemericik air dan dedaunan. Kayak lagi hujan padahal enggak.



Ornamen kayu yang samar-samar kelihatan karena langit udah gelap dan lampu temaram menambah suasana yang 'hwuidih solo banget' 😃

Begitu masuk kamarnya, wuaaahhh pengen banting badan ke kasur. Dan emang kami bertiga langsung naik ke ranjang. Abis itu baru melihat kamar secara penuh. Diperhatiin, kamarnya gak mewah kok. Saya booking via Agoda, kamarnya ambil yang termurah termasuk sarapan. Sekitar 350+++ harga kamarnya. 

Saya bahas satu per satu yah, gak rinci sih. Udah rada lupa juga rincian yang saya lihat. Kira-kira mah begini. 


ROOM


Luas kamarnya 4x5m lah kira-kira. Ornamen kayu mendominasi. Warna cat dinding putih. Lantainya parkit. Tersedia lemari untuk naro pakaian. Juga meja sebagai alas televisi dan barang-barang kita. 

Televisinya masih tabung. Channel televisi gak saya perhatiin karena saya sibuk pake wifi aja. Wifinya mantap jiwa wuuuzzzz wuuuuzzzzzz! 

Ranjangnya mantaaaaap. Empuk tenan. Bersih pula. Bantalnya oke banget. Pokoknya kami suka semua-semua dari kamar Rumah Turi ini. Memang kelihatan sudah berumur kamarnya sih, gak kelihatan 'muda'. Tapi kami gak mempermasalahkannya.



AC juga mantap anginnya, hanya saja berisik suaranya. Bgggrrrrrrrrr gitu suaranya sepanjang malam. Kamar kami gak berjendela tapi ada ventilasi udara yang bentuknya berkaca nako di atas pintu masuk dan di dekat ranjang tidur. Lucu deh bentuk kacanya. Ini kalo mau pake udara alami sebagai pendingin, tinggal buka kaca-kaca nakonya. 

Kamar mandinya gak kalah menarik dari kamar tidurnya. Ornamen kayu masih bisa ditemui di sini. Di bagian lemari sih khususnya. Minim warna lah kamarnya, perpaduan warna-warna tanah aja sih. Saya dan Indra menyukai kamar tidur dan kamar mandi Rumah Turi. Kayak apa yah, kayak begini nih kalo kami punya rumah pengennya kamar tidur dan kamar mandinya begitu. 

Fyi, air hangatnya juga mantap lah. Kalo saya baca review di banyak blog, disebut kalo Rumah Turi ini memanfaatkan air hujan untuk air di toiletnya. Saya belum cari tahu ramah lingkungannya hotel ini di bagian apa lagi selain pengolahan limbah air dan jendela nako di kamar. Ohiya juga restorannya yang dibuat terbuka.



Penerangan kamar sih menurut saya agak temaram. Disetel untuk istirahat. Pas mau baca buku, mesti pake lampu tidur aja. Tapi saya udah males baca buku. Pengennya tidur. Zzzzzzzzz......

Datang di malam hari, agak susah melihat sekeliling yang mana udah gelap. Tapi ya, dari kamar tidur dan kamar mandinya aja, Indra udah tahu kalo Rumah Turi dirancang oleh arsitek. Dia sampe browsing siapa arsiteknya. Saya gak pengen tahu, tapi sesama arsitek -apalagi kalo rancangannya dirasa enakeun- pasti kepo (halah). 

FOOD


Lupa kami memesan apa waktu sarapan. Di sini gak prasmanan/buffet sarapannya. Kita diminta milih mau menu apa. Kalo gak salah kami berdua milih Soto. Rasanya? hwuaduh lezatnya minta ampun. Ada juga pendamping makanan berupa buah-buahan. 

Makannya di restoran. Fyi, selain hotel, Rumah Turi ini kafe juga. Si kafe ini dipake untuk tamunya sarapan. Kafenya gak kalah seru dari kamarnya. Masih dominan perkayuan. Lebih unik lagi, meja dan kursinya beda-beda.




Ruangannya pun terbuka lebar-lebar. Angin dari taman di tengah bisa masuk deh jadi gak kepanasan. Jendelanya juga dibuka semua. Menyenangkan sih ada di sini. 

Di satu dinding memanjang isinya buku semua. Ada majalah juga. Sampai kami bingung ini mau baca apa dulu hahaha. 

Terus saking baiknya, petugas yang bekerja memindahkan channel televisi ke kartun Disney Junior deh kalo gak salah. Alamak, Nabil mah kalo makan disambi nonton bakal lama kelarnya hahaha. Jadi saya minta matiin aja tivinya 😁  Pagi itu sepi juga, kami satu-satunya yang sarapan. Ada juga rombongan turis dari Eropa, satu keluarga. Mereka sarapannya di teras restoran. 

SERVICE


Bagus no komplen. Ramah-ramah pegawainya. Mereka nyapa duluan. Nanya duluan. Adem lah rasanya. 

Sepertinya pemilik hotel juga tinggal di Rumah Turi ya? kami sempat mengobrol dengan seorang bapak-bapak tua yang asyik melihat kolam. Emang sih cuma pake tshirt belel dan celana oblong, tapi dari kewibawaannya yang sederhana itu sih kayak yang punya hotelnya gituh 😅 Setelah ngobrol sama kami, dia menghampiri turis-turis Eropa di teras. 

Ada banyak tanaman di RUmah Turi. Untuk mengusir nyamuk, mereka membakar wangi-wangian herbal di jam tertentu. Waktu kami sarapan, Nabil asyik menemani petugas yang sedang bakar wangi herbal itu. Duh saya lupa deh apa yang dibakar, serai bukan yah... wanginya enak kok seger-seger sejuk gimana gitu. 

LOCATION


Bagus banget! Ada di jantung kota Solo. Ini saya perhatiin pas keesokan harinya yah, kan kami bolak-balik 2x ke hotel. Ternyata hotelnya dekat dengan Mall Paragon, di sana kami menyantap makan siang. 

Terus gak jauh dari hotel, ada tempat makan namanya Wedhangan Pendhopo. Setelah check in, kami bergegas keluar hotel lagi untuk makan malam. Nanya-nanya ke resepsionis, ia menjawab "waaa kebetulan sekali saya abis dari sana, Mba. Wedangan Pendhopo namanya. Mbaknya nanti keluar hotel belok kiri, jalan kaki sebentar tempatnya ada di sebelah kanan," masnya menjawab tentu aja sambil senyum.



"Murah gak, Mas?" saya bertanya. Penting. 
"Murah kok, Mba," ia mengacungkan jempol. 

Ternyata memang murah, hanya saja saya, Indra, dan Nabil mengambil terlalu banyak makanan sehingga terasa agak mahal juga hahahaha. 

Beneran deh malam di Solo waktu itu gak akan terlupakan. Penginapannya adem cesss bikin damai di hati. Udah gitu pas masuk Wedangan Pendhopo rasanya lebih ceeeewwwwwssssssss! teduhnya. Disambut musik-musik ala wong jowo yang gemulai, lampu temaram bener-bener temaram. Ada mbok-mbok di belakang meja melayani pembeli. Kami ambil makanan sendiri terus rikwes mau dibakar atau digoreng. Saya pilih bakar aja. 

Waktu kami datang, pengunjung masih sedikit. Syahdu sekali suasananya. Pas kami asyik makan, wedew ramainya luar biasa. Terus saya baru ingat, malam minggu waktu itu. Rupanya tempat yang kami datangi itu populer di kalangan anak muda dan warga Solo pada umumnya. Ditambah keistimewaan tempatnya yang konon tempat jajan favoritnya Jokowi. Kami baru menyadari itu setelah melihat foto-foto artis dan pejabat di dinding restoran. Wah ngetop juga nih restoran, baru tahu 😅

Esok harinya kami mau balik lagi ke sana, tapi ia buka pukul 5 sore saja. Sementara kami mau ke Laweyan dan langsung pulang ke Bandung menumpang kereta api jam 7 malam. 

Kembali ke Rumah Turi, lokasi Rumah Turi ini bagus banget. Memang gak persis pinggir jalan besar. Justru karena itu suasananya terasa begitu hening. 

Kalau diminta skor, bila angka 10 adalah skor tertinggi, saya kasih 10 buat Rumah Turi Eco Boutique Hotel. Well-designed buat saya mah. Jatuh cinta lah pokoknya sama Rumah Turi. Bila kembali ke Solo, sudah pasti kami menginap di sini lagi. 


Rumah Turi Eco Boutique Hotel
Jl. Srigading II no. 12 Solo




Teks: Ulu
Foto: Indra

Tentang Situs Kuno di Trusmi, Dimuat di Koran Pikiran Rakyat

December 21, 2017
Berikut ini karya kedua kami di surat kabar Pikiran Rakyat.



Versi koran digitalnya bisa dibaca di http://epaper.pikiran-rakyat.com/.

Selamat membaca. 

**********

Sinar matahari dosis tinggi tak menyurutkan niat turis-turis domestik berbelanja kain batik. Cuaca panas menyengat, masuk ke toko-toko batik yang berjejer itu lebih menyenangkan sebab bisa menyejukkan diri dengan mesin pendingin udara di dalamnya.

Namun saya urung membeli oleh-oleh khas Cirebon itu. Tujuan saya ke Kampung Batik Trusmi berada agak jauh dari keramaian, menepi ke sisi terjauh Desa Trusmi yang senyap.

Desa Kaliwulu merupakan tetangga dekat Desa Trusmi. Masjid kuno nan keramat bernama Masjid Kaliwulu berada di sekitar perbatasan kedua desa tersebut. Rasa penasaran akan masjid yang antik membawa saya padanya.

Dari mulut Jalan Panembahan Plered yang merupakan gerbang masuk ke Kampung Batik Trusmi, saya kemudikan kendaraan lurus mengikuti Jalan Syekh Datul Kahfi ke Jalan Ki Natagama. Jalan mulai agak lengang. Saya harus berbelok lagi ke kanan dan berakhir tepat di mulut gerbang masjidnya. Jalan menyempit. Kendaran saya parkir dan memutuskan menumpang becak. Tawar menawar harga,  kami sepakat di angka Rp10.000 bolak-balik dari Masjid Kaliwulu.

Menyusuri jalan kecil menuju masjidnya dari dalam becak, saya pikir sebenarnya mudah saja melaluinya dengan berjalan kaki. Mobil pun muat melaju namun akan menyusahkan kendaraan yang lain yang arahnya berbalikan. Kira-kira 1,5 km dari mulut jalan Ki Natagama dan melewati barisan rumah, kami bermuara ke sebuah tempat yang hening. Di situlah Masjid Kaliwulu berada.

 

Kesunyian Masjid Kuno Kaliwulu

Pertama kali yang saya lihat adalah nisan-nisan makam di halaman depan Masjid Kaliwulu. “Ini makam warga di sini,” cerita Pak Sobari, pengemudi becak yang saya tumpangi. Ia berkata lagi “kalau makam di belakang masjid itu makam keramatnya.”

Saya memintanya menunggu sembari saya menjelajahi masjidnya. Sekilas memandang dari luar, masjid yang dipagari tembok bata merah setinggi 1,5 m ini tampak luas. Lebar sisi depannya saja kira-kira 50 meter. Pepohonan besar menaungi makam dan sebagian wilayah masjid. Perasaan sejuk mendekap.

Senang sekali akhirnya saya bisa berada di masjid berumur lebih dari 200 tahun ini. Sayang tahun pendirian masjidnya tidak tercatat, namun pada balok kayu di bagian atas pintu masuk ke ruang utama masjid tercantum informasi dalam bahasa arab tahun perbaikan masjid, yakni tahun 1826. Berarti Masjid Kaliwulu sudah ada sejak puluhan atau bahkan ratusan tahun sebelumnya.

Masjid Kaliwulu didirikan oleh putra dari Pangeran Panjunan yang mendirikan Masjid Merah Panjunan. Namanya Syekh Abdurrahman. Oleh karenanya Masjid Kaliwulu dikenal juga dengan nama Masjid Keramat Syekh Abdurrahman. Nama Kaliwulu diambil dari sungai di belakang masjid.

Gerbang masuk berbentuk gapura ke masjid ada tiga. Seperti pada umumnya gerbang-gerbang di Cirebon, di sini gerbangnya berwujud gapura dari bata merah.

Tiap bagian di kompleks Masjid Kaliwulu memiliki fungsi dan nama. Wilayah makam keramat dinamakan Pasarean. Tempat sembahyang di luar ruang utama masjid dinamakan Pawestren. Ada pula bangunan Pendhapa (serambi).

Meski sekarang tersedia keran air untuk berwudu, dua sumur masih lestari keberadaannya, terletak di sisi selatan dan utara masjid. Di sebelah pintu masuk ke Pasarean ada kendi ukuran besar untuk berwudu sebelum masuk ke area makam. Saya mencoba membasuh muka dari kendi tersebut. Ah segar sekali airnya dingin.

Menilik masjid dari halaman depan, ada beberapa atap yang menandakan tiap bangunan di kompleks masjid memiliki atapnya sendiri. Bangunan masjid semuanya beratap genteng, sementara makam Syekh Abdurrahman beratap sirap.

Bangunan utama masjid beratap tumpang dua dan pada pucuk masjid terpasang Memolo (ukiran), bukan kubah masjid seperti pada umumnya. Memolo ini ukiran yang unik. Saya perhatikan banyak bangunan di Cirebon (bukan hanya masjid) yang memasang Memolo di pucuk atap bangunannya.

Saya minta izin pada pengurus masjid untuk memasuki ruang utama masjid, bagian asli dari masjidnya. Namun ia menolak. Saya hanya bisa menginjakkan kaki di ruang tengah masjid yang merupakan gabungan dari bangunan lama dan baru.

Berdiri menghadap Paduraksa (dinding gapura dengan atap) suasana temaram dan dingin menyergap bulu kuduk saya. Sepi tak ada lagi pengunjung lain. Sebelum masuk ke ruang tengah ini saya berpapasan dengan dua orang yang hilir mudik di luar pintu makam Syekh Abdurrakhman yang dikeramatkan. “Mau kliwonan, Mba”, tutur salah seorang laki-laki umur 15 tahunan. Saya cek kalender online. Rupanya kedatangan saya pada hari kamis itu menjelang hari yang istimewa. Ah mana saya tahu kalau esok hari jumat kliwon.

Bila pernah mengunjungi Masjid Merah Panjunan yang di dindingnya unik karena ada piring-piring tertanam di dalamnya, maka pemandangan yang hampir sama bisa dilihat di Masjid Kaliwulu. Hanya saja warna dindingnya putih. Ruang utama masjid dipisahkan Paduraksa sehingga tempat saya berdiri itu dahulu merupakan teras masjidnya.

Di dalam ruang utama terlihat tiang-tiang kayu yang masih kokoh. Sayang saya tidak dapat menghitung tiangnya ada berapa. Dari buku berjudul Masjid Kuno Cirebon tulisan Dr. Eng Bambang Setia Budi Dkk, di dalam ruang utama masjid terdapat empat sakaguru dan delapan sakarawa. Dari total 12 tiang di ruang utama, terdapat satu tiang penuh ukiran. Sayang sekali saya belum berkesempatan untuk melihat tiang dengan ukiran yang konon indah sekali tersebut.

Sementara di luar ruang utama tempat saya berdiri, saya melihat ada empat tiang sakarawa. Satu dari empat tiang tersebut dibungkus kain putih. Tiga tiang yang saya lihat bersih tanpa ukiran. Bagian bawah tiang disangga umpak batu.

Terdapat dua pintu dengan atap rendah di sisi utara dan selatan. Pintunya tertutup karena sudah ada pintu baru yang lebar dan bentuknya modern. Di dekat pintu-pintu kuno itu lah terdapat sumur untuk berwudu.

Sungguh masjid yang indah. Walau sudah ditambah ruang-ruang baru, tapi keasliannya masih terjaga.

Rumah-rumah Kuno di Jalan Trusmi

Keluar dari Masjid Kaliwulu, saya bertolak ke arah Jalan Trusmi. Jalan utama di Kampung Batik Trusmi adalah Jalan Syekh Datul Kahfi. Selain Jalan Panembahan dan Jalan Syekh Datul Kahfi, ada juga Jalan Trusmi. Di sepanjang ketiga jalan tersebut berjejer toko-toko batik.

Trusmi bukanlah nama produk atau merek. Trusmi adalah nama desa. Kampung Batik Trusmi merupakan sentra industri batik di Cirebon. Secara tepat lokasinya ada di Kecamatan Plered, sekitar 6-8 km dari pusat kota Cirebon.

Alih-alih membeli batik seperti yang sudah pernah saya lakukan sebelumnya, saya ingin mencoba pengalaman lain di sini.

Berjalan santai saja menyisir sebagian ruas Jalan Trusmi sepanjang 1km. Kendaran saya parkir di Alun-alun Trusmi. Berjalan kaki membuat saya dapat melihat lebih dekat. Baru sekarang saya perhatikan kalau di sisi Jalan Trusmi banyak rumah-rumah antik nan cantik dengan detail dekorasi yang menawan.





Pukul 11 menuju jam makan siang. Matahari mulai meninggi, panas Cirebon sudah menyalak sejak pukul 10 tadi pagi di Masjid Kaliwulu. Siang makin terang, saya berjalan di sisi jalan yang agak teduh. Sayangnya tidak ada banyak pepohonan di sini.

Rumah-rumah kuno di Cirebon beragam bentuk arsitekturnya. Bukan saja kental dengan arsitektur gaya kolonial, ada pula saya lihat tiga rumah bergaya seperti Rumah Joglo yang pernah saya foto di Kotagede Yogyakarta.

Semua rumah (selain yang bentuknya Joglo) berdinding warna putih. Bagian depan rumah dirancang sebagai toko, karena itu teras rumah dibuat melebar dan pintunya memanjang (pintu lipat). Sebagian besar warna pintunya kuning, ada juga yang putih dan warna krem.

Sayang sekali hanya sedikit rumah-rumah tua sekaligus toko kain batik yang buka, kebanyakan tutup. Entah tutup sementara atau seterusnya dan mereka punya toko baru yang lebih modern bangunannya.

Kebanyakan pengunjung berkendara dan menumpang becak. Warga lokal hilir mudik beraktivitas dengan kendaraan motor dan sepeda.

Trusmi sendiri merupakan nama seorang legenda. Pada mulanya ia bernama Pangeran Cakrabuana dan seiring waktu namanya menjadi Ki Buyut Trusmi. Dia lah orang yang memberikan tahta keratonnya kepada Sunan Gunung Jati lalu pindah ke Desa Trusmi dalam rangka menyebarkan agama Islam di tahun 1470.

Masjid Trusmi

Makam Ki Buyut berada di kompleks Kabuyutan Trusmi. Dalam kompleks ini terdapat juga masjid kuno. Namun bila dibanding Masjid Kaliwulu yang masih orisinil, bagian dalam Masjid Trusmi sudah banyak yang berubah dan ruang utama (asli) masjidnya dibuka saat jam sholat.

Saya sengaja mampir ke Masjid Trusmi pada jam adzan Dhuzur. Ruang utama dibuka bila waktu sholat tiba. Ruang utama khusus untuk laki-laki, beruntung saya dapat melihatnya meski dari ruang yang berbeda karena saya perempuan. Mengintip ruang utama saya perhatikan ada empat sakaguru (tiang) yang berukir.





Salah satu yang  unik pada masjid yang didirikan tahun 1481 ini adalah beberapa bangunannya beratap rumbia (jerami). Bangunan utama masjidnya sendiri beratap sirap. Pucuk bangunan ada Memolo. Setiap empat tahun sekali di bulan rajab, diselenggarakan tradisi Memayu. Memayu adalah kegiatan mengganti atap sirap masjid yang dilakukan gotong royong oleh penduduk setempat.

Bagian lain yang menarik adalah gapura (pintu) masuk ke masjid. Ada dua gapura, Gapura Wetan dan Gapura Kulon. Saya masuk dari Gapura Kulon. Pintu gapura terbuat dari kayu dengan ukiran flora dan fauna. Masuk melalui gapura ini saya harus merundukkan kepala. Bukan cuma gapura yang unik, tegelnya pun apik.

Letaknya yang berada di jantung Kampung Batik Trusmi membuat masjid ini ramai pengunjung dan warga lokal. Pencahayaan ruangannya pun lebih terang dibanding Masjid Kaliwulu. Di sini tidak ada Paduraksa dengan piring-piring yang tertancap di dalamnya. 

Transportasi ke Desa Trusmi

Tempat yang saya tuju, utamanya Masjid Kaliwulu, paling mudah dijangkau dengan kendaraan pribadi. Namun bila menggunakan transportasi umum pun tak masalah.

Selain ojek, pilihan menumpang becak bisa jadi keasyikan tersendiri. Dari pusat kota Cirebon ke Plered menaiki angkot. Berhenti di Plered, tinggal dipilih ojek atau becak yang ingin ditumpangi.

Belajar menggunakan bahasa lokal. Tak usah banyak kosakata, cukuplah kata ‘terima kasih’ dalam bahasa cirebonan.

Setiap masjid ada kuncennya. Pastikan meminta izin dahulu sebelum memotret, apalagi bila menggunakan kamera DSLR.

Berhubung tempat-tempat yang saya kunjungi adalah tempat ibadah sekaligus tempat yang dikeramatkan, pakaian yang kita kenakan harus sopan dan berperilaku santun.

Idealnya waktu berkunjung ke masjid lakukan di pagi hari. Bila terlalu sore khawatir terlalu gelap dan merepotkan untuk berfoto.


Menyusuri Trusmi dengan jalan kaki seperti yang saya lakukan lebih nyaman dilakukan sore hari usai sengatan sinar mahatari mereda. Bisa juga pagi sekitar pukul 07.00 – 09.00.

Berikut ini rumah-rumah kuno di sepanjang Jl. Trusmi. 










Teks : Ulu
Foto : Indra, Ulu

Tentang Berjalan di Kaki Gunung Tangkubanparahu dan Menyaksikan Raptor (3)

December 19, 2017
Saya kira orang yang menciptakan dongeng Sangkuriang adalah orang Bandung. Setidaknya orang yang pernah ada di Bandung. Coba kamu perhatikan. Gunung Tangkubanparahu mirip perahu terbalik. 

Kamu tahu kan legenda Sangkuriang, yang gagal menyunting Dayang Sumbi. Dengan marahnya ia menendang perahu, perahunya terlempar, melenting dan mendarat lagi ke bumi dalam posisi menelungkup (terbalik, tangkuban = terbalik).

Saya sedang berada di Panaruban. Pagi kelabu itu kami (Yogi, Rangga, dan saya) hendak treking ke dalam hutan. Kami mengekor satu orang teman Yogi, dia yang bertugas mencatat perilaku dan jejak Elang 'asuhannya'. 

Di hadapan sebuah benda besar yang saya kira bukit ternyata gunung itu Yogi memberi tahu. "Kita lagi berdiri menghadap Tangkubanparahu, Lu."

Saya bereaksi seperti habis lihat atraksi tukang hoax. "Ah masa? Kok puncaknya gak kelihatan rata sih?"

"Tangkubanparahu mah baru kelihatan kayak perahu dibalik kalo dilihatnya dari Bandung, bukan dari arah sebaliknya di Subang," Yogi sepertinya senang saya baru tahu fakta tersebut. 

Nah dari situ lah saya baru menyadari. Lhoooooooo ternyata ke mana aja saya selama iniiiii 😑

Maksudnya begini, waktu zaman kuliah, sering bolak-balik Bandung-Indramayu via Pamanukan. Di Subang, pemandangannya ya Gunung Tangkubanparahu. Tapi gak pernah saya perhatikan kalau melihat gunung ikonik dari Bandung ternyata berbeda bila saya memandangnya dari Subang. 

Abainya selama ini saya terhadap kenyataan sederhana dan tidak penting dalam aspek kehidupan saya. Tapi saat tahu fakta tersebut, saya merasa bodoh 😁

Kembali ke hutan. Berjalan kaki berempat. Berputar-putar di antara pepohonan lebat, tanah lembab, dan sungai yang bening. Wangi daun basah aromanya menelusup sampai ke hati.

Sebelumnya melewati areal perkebunan teh dulu. Hijau warnanya di mana-mana. Udara sejuk bersihnya terasa hingga ke paru-paru. Salah satu pemandangan terindah yang saya pernah lihat. 

Sembilan tahun perjalanan ini berlalu, saya sudah gak ingat lagi rincian jejaknya. Saya ingat temannya Yogi ini banyak jalan kakinya, sesekali mencatat. Beberapa kali ia meminta kami diam dan mendengar suara Elang. Enggak, saya gak bisa dengar suaranya 😂

Bersama komunitasnya, Yogi mengasuh burung elang. Elang-elang tersebut asalnya dari hasil sitaan penjualan gelap satwa langka.

Yogi dkk mengasuh burung langka itu sampai mereka sehat dan sanggup lagi hidup di alam liarnya. Kalau saya tidak salah ingat, Yogi dkk menyebut salah satu Elangnya dengan istilah Raptor. 

Si Elang ini dipasang radar di tubuhnya sehingga terlacak jejaknya di hutan. Entahlah jadwal rutin cek elang-elang itu kapan. Pastinya sih orang-orang di komunitasnya Yogi bergiliran kerja memantau perkembangan Elang. 

Di dalam hutan, jalannya menanjak dan menurun. Yogi yang latar belakang pendidikannya Biologi, mengenalkan saya daun dan buah yang berbahaya dan mereka yang bisa dimakan. Termasuk daun-daun untuk melupakan persoalan dunia (baca: mabok 😅).

Sungai-sungai kecil kami sebrangi. Airnya bening, terasa dingin.

Saat menulis ini, saya merasakan ada lebih banyak kedamaian. Saya yang dahulu masih muda untuk kenal persoalan-persoalan hidup yang pekat sehingga kedamaian yang saya rasakan sepertinya gak sedalam sekarang. Halah 😂 Waktu masih umur 22 mah nothing else's matter (mengutip Metallica).

Ironi banget ya. Rasa damai itu berbeda-beda perspektifnya. Saya yang dahulu melihat Panaruban sebagai desa yang permai, panoramanya indah, dan sejuk alamnya. Sudah itu saja. Bila saya yang sekarang berusia 32 tahun, punya satu anak, sudah bersuami, yatim, tidak bekerja kantoran, memiliki satu usaha sendiri, merasakan banjir informasi di media sosial, lapar dan pesan gofood, kamera smartphone di tangan, dan instagram di genggaman, lantas bagaimana rasanya melihat kembali permainya Panaruban itu?

Menyusuri hutan rupanya bikin capek juga. Niat melihat Curug Sadim ditunda dulu. Dari pagi-pagi hingga pukul dua siang, kami baru kembali ke rumah emak dalam keadaan kotor dan lapar.

Saya ingat menu siang yang terlambat kami santap. Nasi pulen yang baru panas, tahu goreng, aneka lalapan, dan sambal. Menu terlezat yang membuat air mata saya hampir berjatuhan. Enak sekali.

Yogi pamit kembali ke kota. Saya dan Rangga ditinggal di rumah emak bersama satu temannya yang lain. Saya masuk kamar dan tertidur dalam keadaan duduk 😅

Satu jam kemudian terbangun dan langsung ambil jaket, keluar rumah dan berjalan menuju Curug Sadim sendirian. Yogi memberi tahu petunjuk arahnya sebelum ia pulang.

Bertemu temannya Yogi dan Rangga di tengah jalan, ia menemani saya ke curug. Hanya kami bertiga yang ada di curugnya. Idealisme traveling yang menjemukan itu dan banalnya Instagram belum lahir pada zaman kami ke Panaruban. Sepi sekali suasananya di akhir pekan.

Temannya Yogi mengajak kami ke penangkaran Elang. Rangga menolak, capek katanya. Ia kembali ke rumah. Saya mah maju terus ingin lihat Burung Elang dari dekat. Sayang gak ingat banyak jenis-jenis elangnya. Hanya ingat ada elang jenis Raptor (elang pemangsa) dan Elang Ular.

Saya juga gak ingat obrolan dengan temannya Yogi apa. Seru juga sih ngobrolnya. Tapi gak ingat ngomongin apaan 😂 Kunci ingatan tentang kegiatan dan detail di Panaruban hari itu kedodoran banyak seiring bertambahnya umur saya. Namun rasa permainya abadi di sudut jiwa. Haseeggghhh 😂

Kami kembali ke rumah emak sambil berlari. Karena hujan turun mendadak, lebat pula. Kami kehujanan.

Waduh hujan sore itu nikmatnya gak terlupakan. Bayangkan kehujanan di tengah perkebunan teh sehabis menabur jejak di dalam hutan dan mengunjungi penangkaran elang langka. Betapa 'berbudayanya' hidup saya selama sehari di Panaruban. Ditambah saya masih muda, jomblo, gak ada yang namanya masuk angin lah, sakit lah, atau meriang sehabis kehujanan. Haha.

Ngomong-ngomong tentang status jomblo, sewaktu memandang hujan dari pintu rumah Emak itu saya ingat Indra. Kami belum menikah, berpacaran saja cuma sebatas mengkhayal. Hahaha. Memang rasa bahagia itu enaknya dibagi bersama orang yang kita sayang dan saya harap waktu itu Indra ada di samping saya, tapi manehna bogoh ka urang ge henteu basa eta teh 😑

Di ujung hari yang lingsir, berdua bersama Rangga kami angkat kaki menuju Bandung. Dua orang warga dengan baiknya menawarkan tumpangan dengan motor. Dipikir-pikir, memang agak malas juga jalan kaki sampai ke jalan raya, heuheuheu pada dasarnya kami ini memang orang-orang kota yang menyebalkan.

Saya belum ketemu lagi Yogi. Juga Rangga. Termasuk kedua teman Yogi. Si Emak. Apa kabar mereka ya...

Menabur Jejak Pertama di Desa Cicadas Panaruban (2)

December 15, 2017
Pfiuh. Tidak ada genderuwo yang mengejar atau kuntilanak yang beterbangan. Hamdalah 😅

Kegelapan di belakang kami tinggalkan. Cahaya di depan mata kami songsong dengan hati lega dan otot-otot kaki yang semaput. Akhirnya sampai juga, kata Rangga. 

Rumah panggung yang saya inapi milik warga Desa Cicadas, seorang nenek-nenek yang disapa 'emak'. Saya tidur di kamar milik cucunya. Entah ke mana cucunya migrasi demi tamunya ini. Rangga dan Yogi tidur di ruangan depan. Mengampar. 

"Kalo anak-anak ada jadwal di sini, pasti pada nginep di rumah emak," Yogi membuka sesi perkenalan. "Udah kayak markas besar lah rumah emak teh," sambung Yogi. 

Rumah Emak masih berbilik, terdiri dari sedikit ruangan saja. Sudah nonton film Marlina Si Pembunuh Dalam Empat Babak? Nah mirip rumah Marlina itu lah. Bedanya, dua kamar di rumah emak tidak berpintu, menggunakan kain saja sebagai pintunya sudah.

Dapurnya, wah kalian mesti lihat dapurnya emak. Emak gak punya kompor, ia memasak dengan kayu bakar. Hawu, istilah bahasa sundanya.

Saya melongok ke dapur. Ada bapak tua berlutut di depan hawu. Menghangatkan diri. Siduru. Demikian istilahnya dalam istilah sunda. 

"Punten, Pak," saya membungkukan badan, tersenyum dan ikut bersiduru. Menebak dalam hati, mungkin ia suaminya emak. 

"Asli ti mana, Neng?" Ia bertanya. Sarung melingkar di lehernya. 

Saya menjawab sambil menyeruput segelas teh terenak yang pernah saya sesap "Indramayu, Pak."

Obrolan bergulir. Tidak lama karena hanya basa-basi. Kerjanya apa, anaknya berapa, asli mana, blablabla. Rincian obrolan malam itu saya gak ingat lagi. Yogi dan Rangga ikut berbaur dengan saya dan Bapak. 

Hampir jam 10 malam. Tidur di rumah orang asing bukan kebiasaan saya. Gak betah rasanya. Namun bila dalam setelan 'jalan-jalan', orang yang baru dikenal adalah saudara. 

Saya tidur sendirian. Desa Cicadas sudah lelap. Sepi berkuasa. Angin bersiul pelan. Di luar rumah sepertinya dingin. Di dalam kamar sebaliknya. Terasa hangat saja.


Panaruban Sembilan Tahun Lalu (1)

December 14, 2017
Tujuh orang membatalkan diri. Dua orang tetap pergi. Saya salah satunya. 

Bersama kawan di Mahanagari, Rangga, di depan Terminal Ledeng kami menunggu satu orang teman. Dia yang akan menuntun kami menuju sebuah desa permai di tengah perkebunan teh di Panaruban, Subang. 

Ceritanya begini. Saya berkenalan dengan pemuda bernama Yogi. Dia aktivis lingkungan mengkhususkan diri di bidang pelestarian satwa burung. KONUS (Konservasi Alam Nusantara) nama organisasi tempatnya bernaung.

Eh bukan Konus kali ya, tapi BICONS. Aduh saya lupa lembaga tempatnya bekerja, lama gak bertemu Yogi. Perjalanan yang saya ceritakan di sini terjadi sembilan tahun lalu. 

Gak ada kamera dan belum ada media sosial. Jadi ini tulisan bersambung tersaji tanpa foto. 

Singkat cerita, ia mengajak saya mengunjungi tempat konservasi yang mereka bina. Desa di mana mereka mengurusi Elang-elang langka.

"Kita lihat penangkaran Elang, masuk hutan dan menyusuri kebun teh. Ada air terjun di sana, terus kita tidur di rumah penduduk," demikian Yogi mengimingi-imingi saya tentang Desa Cicadas di Panaruban. 

Saya gak mau pergi sendiri. Mengontak banyak teman, terkumpul sepuluh orang. Begitu waktu berangkat, hanya saya dan Rangga yang tersisa. 

Tak enak bila saya harus membatalkan acara karena peserta tinggal dua. Yogi sudah siap mengantar. Pertunjukan harus tetap berjalan. 

Pukul lima sore, Elf jurusan Bandung - Subang melaju. Tiga orang yang gak kenal-kenal amat mengobrol memecah sunyi, sesekali diam.

Untunglah Yogi dan Rangga cerewet sekali. Hahaha.

Sekitar jam enam lebih entah-berapa malam, Elf memuntahkan kami di sekitar Ciater. "Mau lanjut naik ojek atau jalan kaki?" Yogi bertanya pada kami.

Langit masih agak terang tapi gelap sudah berbayang. Sepakat lah kami jalan kaki. Dari ujung jalan raya hingga mencapai desanya, kami berjalan selama satu jam. Dalam gelap, dalam pekat. 

Sekeliling saya hitam. Makin jauh berjalan, lampu jalan tak ada lagi. Tapi saya tahu saya sedang di tengah perkebunan teh. 

Suasana terasa heniiiiiing sekali. Hanya ada suara derap kaki kami menumbuk aspal jalan. Juga ocehan kami bertiga. 

Langit sepertinya mendung karena saya gak lihat ada bintang. Gerimis berderai. 

Di beberapa titik, Yogi mengajak kami berlari. Sebab apa? Sebab di sisi jalan ada pohon besaaaaaar sekali dan ia mengatakan di bawah pohonnya berpenghuni. Angker. Ah dia becanda saja saya pikir. Ternyata pemuda berkacamata itu sungguh-sungguh karena dia lari duluan 😂

Tiga anak muda di antah berantah, berlari seperti anak bebek dikejar majikannya. Takut akan genderuwo dan kuntilanak. Bah! 

(Bersambung...)

Kampanye Sehat Lingkungan di Car Free Day Dago

December 06, 2017
Hari minggu akhir November, kami jalan-jalan ke Car Free Day di Jalan Dago. Biasalah di sana jalan kaki terus jajan. Hihi. Tapi ada yang beda nih di CFD Dago pagi itu. Saya ikutan kampanye lingkungan sehat dari Balitbang PUPR :) 

Sekarang pembangunan infrastruktur digenjot tanpa ampun. Tidak lagi berpusat di Jawa saja, kini Sumatera, Kalimantan, termasuk Papua, pembangunan di sana mulai diperhatikan, terutama infrastruktur yang jadi jantung kegiatan warga: jalan raya. Dari satu tongkat pemimpin ke pemimpin lainnya, Jokowi-JS Kalla meneruskan dan menambah target proyek pembangunan Infrastruktur.

Di tahun 2017 saja Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR) menargetkan 392 km jalan (tol) yang akan beroperasi.Bagian menarik lainnya, seiring dengan percepatan pembangunan infrastruktur tersebut, Balitbang yang bernaung di bawah Kementrian PUPR melancarkan inovasi. Menariknya inovasi tersebut tidak melulu berhubungan dengan infrastruktur.

Inovasi dari Balitbang PUPR saya ketahui pada hari minggu 19 November 2017 di Car Free Day Dago, Bandung. Pada acara itu lah Badan Penelitian dan Pengembangan Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Balitbang PUPR) menyelenggarakan acara bertajuk Ciptakan Lingkungan Sehat dengan Inovasi Balitbang. Acara tersebut digelar dalam rangka memperingati Hari Bakti PU ke-72.


Limbah Plastik Jadi Aspal, Inovasi Balitbang PUPR
Bila ada fakta menarik berhubungan dengan kampanye lingkungan sehat dari Balitbang PUPR di Car Free Day Dago kemarin itu, maka hal tersebut adalah limbah plastik yang dijadikan aspal!

Dengan pembangunan insfratruktur yang masif kayak sekarang, utamanya pembangunan jalan raya, penggunaan plastik sebagai salah bahan campuran aspal dilakukan dalam rangka mendukung aksi nasional pengendalian sampah plastik laut.

Di Indonesia saja diperkirakan ada 3,32 juta metrik ton limbah plastik yang belum terkelola. Tercatat 1,29 juta metrik ton limbah plastiknya dibuang ke laut (Jambeck, 2015).  Angka yang…memalukan bukan? Sekarang nih ada solusinya, kumpulin limbah plastiknya dan jadikan campuran aspal.

Lantas timbul pertanyaan. Memangnya aspal dengan campuran bahan limbah plastik ini berkualitas baik?


Kotak pengumpulan sampah plastik
Dalam kadar tertentu, penggunaan plastik sebagai salah satu campuran aspal meningkatkan stabilitas dan kekuatan yang menambah kualitas umur layan jalan. Campuran beraspal umumnya dimodifikasi dengan polimer, plasti itu salah satu jenis polimer. Jadi gak ada masalah dengan penggunaan plastik sebagai campuran aspal.

Sayangnya pengolahan plastik sebagai aspal ini tidak ditampillkan secara detail. Jenis plastik apa yang cocok untuk campuran aspal? Apakah pengolahan plastinya dengan cara dibakar? Ada efek sampingnya tidak dari campuran plastik dalam aspal ini? Di mana saja inovasi ini sudah diterapkan?

Meski limbah plastik jadi aspal ini bisa jadi solusi tentang pengelolaan sampah, ya bukan berarti kita bisa leluasa menggunakan plastik sih. Tetap lah kurangi pemakaian plastik, bila harus terpaksa ya gak usah pake plastik sekalian. Bahkan saya amat sangat setuju bila kita menggunakan plastik, kita harus bayar :D

Mengembalikan bumi jadi ‘hijau’ tugasnya bukan ada pada hanya ada di pemanfaatkan limbah saja, tapi juga pola pikir kita sebagai penghuni planet bumi ini.

Untuk itulah Balitbang PUPR juga mengkampanyekan kesadaran lingkungan dari pengolahan sampah Rumah Tangga dan Jalan ‘Hijau’.


Kampanye Lingkungan Sehat dari Balitbang PUPR di Car Free Day Dago Bandung
Sejak pukul 6 pagi acara sudah dimulai. Konten acara dari Balitbang PUPR pagi itu sangatlah bergizi. Mulai dari jalan santai dan pungut sampah yang titik berangkatnya dari PUSair di Simpang Dago dan berakhir di titik pos Balitbang di CFD Dago, games, senam zumba, akustik, dan photobooth.



Oh iya bagi pengunjung yang tidak berinteraksi secara langsung dengan acara, Balitbang PUPR meletakkan beberapa poster di titik strategis dan dapat dibaca oleh siapa saja yang melewatinya. Poster tersebut berisi kampanye lingkungan sehat dan inovasi yang dilakukan Balitbang PUPR terkait empat tema: limbah plastik yang dijadikan aspal, sampah, banjir, dan jalan ‘hijau’.

Interaksi dari acara yang berlangsung selama empat jam selama Car Free Day Dago tersebut makin meriah dan berbobot.

Balitbang PURP menyediakan booth warna hijau mencolok. Booth yang menarik mata pengunjung itu merupakan wadah besar berfungsi sebagai tempat pengumpulan sampah plastik. Pengunjung membuang sampah plastiknya pada wadah tersebut. Sampah plastik itu nantinya diangkut dan digunakan sebagai campuran ‘adonan’ aspal jalan.


Peserta Jalan Santai

Gizi acara bertambah dengan diselenggarakannya diskusi ringan seputar banjir, sampah, dan limbah rumah tangga, dan plastik. Menghadirkan beberapa narasumber di bidang lingkungan, pengunjung Car Free Day dapat mendengar dan bertanya mengenai paparan dengan tema lingkungan sehat.

Bila diperhatikan. Bandung termasuk kota yang memberi perhatian terhadap pengolahan limbahnya.

Masih saya ingat kampanye Biopori bertajuk Gerakan Sejuta Biopori yang heboh dan Gerakan Pungut Sampah di tahun 2013. Belum lagi kampanye Biodigester.

Ruang terbuka hijau pun ditambah. Taman-taman di Bandung dipercantik kondisinya. Lebih hidup dan lebih hijau.

Trotoar bagi pejalan kaki diperbaiki dan kondisinya sekarang layak dan menyenangkan! Trotoar di jalan-jalan utama Bandung sekarang lebih lebar. Disediakan pula bangku untuk pejalan kaki istirahat atau pun menunggu angkot datang. Saya berharap kondisi seperti ini merata di seluruh kota Bandung (sampai ke kabupatennya).



Di tahun 2016 dan 2017, Bandung khusus bagian utara membangun infratruktur selokan untuk menampung air hujan.

Ceritanya gini. Kalau musim hujan di Bandung ada penyakit namanya Cileuncang. Alias banjir dadakan, banjir sementara akibat air hujan yang tidak tertampung. Air hujan memenuhi jalanan karena gak ada jalan air macam selokan. Kalau pun ada, selokannya dangkal karena endapan, mampat karena sampah, dan menyempit terhimpit bangunan dan jalan.

Langkah revolusi diambil pemerintah kota. Selokan dibongkar dan digali ulang. Kedalaman ditambah, lebar diperbesar. Bukan itu saja, revolusi terbaru dari pemkot Bandung adalah membangun jalan sungai Citepus di Jalan Pasteur dan kawasan Pagarsih.

Masih ada sih Cileuncang, tapi memang gak separah dulu. Wewenang terkait pembangunan di ruang terbuka hijau dan kawasan serapan air mestinya dipertegas. Gak boleh membangun bangunan komersil atau pemukiman di area serapan air  di KBU(di Bandung namanya Kawasan Bandung Utara) dan sempadan sungai. Bukan hanya kota Bandung sih seharusnya, wilayah lain di tingkat Kabupaten sampai dengan Provinsi juga mesti bahu-membahu menjaga alam serapan air hujan.

Upaya untuk membasmi banjir pun menurut saya datangnya bukan dari pemerintah kota saja, tapi juga dari warganya. Kita masih buang sampah sembarangan gak, sudah memilah sampah belum, sudah bikin biopori di halaman rumah kah, bangunan kita menutup jalan air gak, dan masih banyak lagi.


Limbah Rumah Tangga dan Komposter untuk Mengolahnya
Salah satu diskusi yang saya ikuti di acara gelarannya Balitbang PUPR di Car Free Day Dago ini temanya tentang sampah, khususnya limbah rumah tangga.

“Mengolah sampah dimulai dari sumbernya, paling gampang ya dari rumah, dari dapur kita,” ujar Lia Meilany Setyawati dari Puslitbang Perumahan dan Permukiman yang menjadi narasumber dalam diskusi tersebut.

Selain membahas tentang konsep 3R (reuse, reduse, recycle),  bagi saya salah satu hal menarik tentang konsep recycle dan reuse yang beliau ceritakan tentang komposter. Di rumah saya menggunakan komposter bernama Takakura. Mendengar paparan beliau tentang komposter sederhana dari karung dan pot, kok terdengar lebih mudah diterapkan dibanding komposter Takakura ya. Bahkan komposter yang ditanam ke tanah dan komposter bernama Kascing (bekas cacing) juga menggiurkan untuk saya aplikasikan di rumah.

“Di mana saya bisa beli komposternya, Bu?” tanya saya kepada narasumber. Ia mengatakan untuk mendapat komposter tanam dan Kascing tersebut saya harus memesan terlebih dahulu. Kepada siapa, ia tidak memberi keterangan lebih detail.

Andai saja membeli komposter dan alat-alat yang berhubungan dengan pengolahan limbah rumah tangga semudah jajan beras di minimarket.

Saya menyayangkan kampanye lingkungan, utamanya limbah rumah tangga ini, masih minim penerapannya. Kampanyenya jalan terus, tapi target penerapannya yang gak terlacak. Pada prakteknya banyak yang masih malas menerapkannya. Kenapa coba?

Bila di masa mendatang Balitbang PUPR menyelenggarakan lagi kampanye lingkungan yang sehat, mungkinkah juga memajang komposter-komposter siap beli?

Pengunjung membaca informasi tentang kampanye Jalan Hijau

Orang Indonesia tuh pengennya langsung beli, malas merakitnya :D Termasuk saya, komposter Takakura saja saya membelinya di sebuah markas besar komunitas lingkungan di Bandung. Toko Organik namanya. Bila merakitnya sendiri saya harus menyiapkan satu wadah besar yang ada penutupnya, sekam yang dijadikan bantal, sekam untuk mengeram sampah organik, kardus, dan sekop. Alamak :D

Jujur saja susah banget nyari komposter di Bandung. Bila saja komposter ini dikapitalisasi dan mudah dijangkau seperti kita menjangkau barang-barang di minimarket, praktek pengolahan sampah dapur ini bakal cepat terealisasi.

Namun uraian Ibu Lia berikutnya mencerahkan, “komposter itu bisa sesederhana memanfaatkan karung tak terpakai. Masukan sampah organik ke dalam karung, simpan karung di tempat yang kering dan beralas batu kerikil agar air dari sampah organik mengalir dan tidak menimbulkan bau busuk,” tuturnya lagi.

Komposter karung ini mulai terdengar menarik dan aplikatif untuk saya :D




(Tulisan ini juga dimuat di Kompasiana.com.)





Foto: Nurul Ulu
Teks: Nurul Ulu