Hari Minggu di Klenteng Satya Budhi

September 05, 2016
Pada waktu memotret, kampung adat dan tempat ibadah (selain masjid) adalah kawasan yang selalu membuat saya segan dan kikuk. Saya khawatir orang-orang yang tinggal di desa adat dan umat yang sedang beribadah menganggap saya sedang menonton mereka.

Faktanya adalah mereka bukan tontonan. Bagi saya mereka itu, euumm apa ya, berbeda saja. Berbeda dan unik. Saking uniknya, saya pengen tahu lebih banyak tentang keseharian mereka. Mencari tahu kesamaannya dengan saya, melihat perbedaannya. Bukan buat dibanding-bandingin sih, tapi ya untuk sekadar tahu saja. Saya pengen 'melihat lebih dekat'.

Khusus di tempat peribadatan, jika berhadapan frontal dengan yang sedang bersembahyang saya memotretnya dari jauh. Jika mereka membelakangi saya, baru saya berani motret dalam jarak dekat. Saya teh selalu merasa serba salah kalau motret orang yang sedang beribadah. Duh! Ini perasaan yang salah atau memang sudah seharusnya begini sih? Heuheuheuheu...

Perasaan yang sama saya rasakan saat datang ke sebuah vihara bersejarah di Jalan Kelenteng. Komunitas bernama Gamboeng Vooruit mengadakan acara bertajuk Nganjang ke Klenteng (Berkunjung ke Klenteng). Klenteng yang kami datangi pada hari Minggu 4 September 2016 itu namanya Vihara Satya Budhi. Vihara pertama di Bandung. Klenteng ini telah ada di kota ini kira-kira saat generasi ke lima di atas saya masih hidup, 130 tahun yang lalu. 




Klenteng buat saya adalah bangunan yang indah. Warna-warni dinding bertumpuk dan dekorasinya tabrak warna juga mencolok namun anehnya serasi dan memukau. Diterpa sinar matahari, bangunannya tambah cantik. Berlatar mendung, bangunannya masih saja menawan. Ditimpa air hujan makin keluar aura misteri dan sakralnya.

Ukiran dan pahatan di klenteng juga edan bagus sekali. Kalau kata Indra, craftmanship orang Tionghoa ini emang ngeri. Kamu pernah ke Cina gak? Atau pernah lihat Klenteng lain selain Satya Budhi? Ukirannya sangat detail dan amat rumit. Tapi indah sekali.

Vihara Satya Budhi merupakan tempat ibadah umat Budha, Tao, dan Konghucu. Nama dalam bahasa cinanya adalah Hiap Thian Khiong. Istana Para Dewa, begitu artinya. 

Pendiri Klenteng Satya Budhi adalah seseorang bernama Tan Hay Hap. Sewaktu saya tahu kalau di acara tersebut ada diskusi kecil bersama dua orang bapak-bapak yang keturunan Tan Hay Hap, saya gak mikir lama untuk daftar jadi peserta. Bapak-bapak itu : Pak Sukandi merupakan generasi ke empat dan Pak Jimmy adalah generasi ke lima. 

FYI, Tan Hay Hap adalah 1 dari 6 orang Tionghoa yang pertama tinggal di Bandung. Kebayang gak sih betapa bangganya kamu kalau jadi Pak Sukandi atau Pak Jimmy? leluhurnya adalah pendiri klenteng pertama di Bandung. Udah gitu saudagar ngehits dan orang Tionghoa pertama pula yang tinggal di Bandung. Wow…sejarah kelas berat ada di pundak-pundak anggota keluarga Tan Hay Hap. 

Kepada kami, Pak Sukandi dan Pak Jimmy berbagi silsilah keluarga. Juga sedikit cerita tentang riwayat pembangunan klenteng. Di sesi tanya jawab, saya diam saja. Hanya mendengar lalu lalang pertanyaan dari peserta lain. Terus terang aja sih sesampainya di rumah saya menyesal bukan main. Saya punya pertanyaan untuk mereka berdua, tak sempat saya tanyakan. Karena pertanyaannya baru kepikiran waktu saya sudah duduk di bangku bis kota dalam perjalanan pulang ke rumah aheuheuheuheuheu…

Apa pernah ada yang cerita alasan Tan Hay Hap pindah ke Hindia Belanda?
Apa mereka menyimpan koleksi foto Tan Hay Hap? 
Legacy apa yang mereka peroleh dari leluhurnya tersebut?
Apa ada ritual khusus dalam keluarga dan klenteng terhadap Tan Hay Hap?
Apa kisah hidup yang nenek kakeknya ceritakan tentang Tan Hay Hap?
Keistimewaan apa yang mereka dapatkan karena status keturunan Tan Hay Hap?
Bagaimana cara keluarga meneruskan kebanggaan pada generasi termuda dalam keluarga terhadap jasa Tan Hay Hap?

Pertanyaan-pertanyaan ini cuma menggantung di langit-langit bis kota yang saya tumpangi :D Entah kapan akan bertemu lagi dengan Pak Sukandi dan Pak Jimmy. 

Di antara perasaan saya yang segan dan kikuk, tak saya sangka sambutan dari para punggawa Klenteng itu sangat amat santun dan menghangatkan. Bagai berkunjung ke rumah saudara saja rasanya. Kedua bapak itu bercerita seperti tanpa koma dan titik. Meluncur terus ceritanya mulai dari jabatan kapitan, makam di Cikadut, kebon jati, kontraktor Bun, hingga pada hal detail-detail di dalam klenteng.

Tur di dalam klenteng tidak saya ikuti karena di acara ini saya mengajak bocah cilik yang pecicilan. Pelajaran hari itu adalah anak saya masih terlalu kecil untuk dibawa ke tempat-tempat serupa Klenteng. Heuheuheu :D


Pak Sukandi, generasi ke lima Tan Hay Hap

Konon nama Klenteng muncul begitu saja, terbentuk secara fonetik kali ya. Tiap hari, tiap sore pukul enam, dari dalam vihara terdengar bunyi dari alat bernama Genta. Bunyinya 'teng! teng! teng!'. Bunyi ini merupakan pertanda vihara tutup. Umat yang beribadah dipersilakan keluar Vihara. Bagi yang mau ke Vihara pun sudah tak bisa. Saking masih sepinya Bandung waktu itu, warga Bandung di luar Klenteng bisa dengar suaranya. Terbiasa dengan suara Genta, secara tak sengaja mereka menyebut nama vihara tersebut dengan panggilan Klenteng.

Klenteng Satya Budhi terdiri dari tiga bangunan. Bangunan utama yang legendaris ada di bagian tengah. Menurut salah seorang narasumber pemerhati sejarah Tionghoa, Sugiri Kustedja, Klenteng Satya Budhi termasuk bangunan cagar budaya klasifikasi A. Artinya bangunan ini dilarang diubah. Bangunan legendaris yang wajib dilestarikan dan dilindungi. 

Pak Jimmy bercerita. Pada waktu pembangunannya dulu, Tan Hay Hap bermaksud mendirikan klenteng di daerah Kebon Sirih. Pemerintah Kolonial tidak memberi izin pembangunan karena orang-orang Tionghoa sudah mereka kasih wilayah khusus di Bandung sebelah Barat.

FYI dulu itu pemerintah kolonial emang membagi wilayahnya per etnis deh. Kalau di Bandung, orang Belanda tinggal di kawasan Bandung Utara. Batas wilayahnya rel kereta api stasiun. Kebon Sirih itu masih termasuk kawasan mereka. Orang Tionghoa di daerah barat, pribumi di bagian selatan. 

Akhirnya Tan Hay Hap memilih membangun tempat ibadah di tanahnya di kebon jati. FYI, tanah beliau di kebon jati luasnya 2 hektar. Pak Sukandi membenarkan kisah bahwa dahulu pada masa leluhurnya masih hidup, kawasan ini merupakan hutan kecil yang terdiri dari pepohonan Jati. Seiring berdirinya Klenteng, tanah-tanah yang ada disekitarnya dihibahkan untuk kepentingan bersama umat Tionghoa. Di antaranya sekolah. 

Tan Hay Hap terkenal sebagai saudagar tersukses di Bandung. Pertama kali datang ia berlabuh dan tinggal di Cirebon. Namun ia tak menyukai cuaca panas di kota pelabuhan tersebut. Ia pindah ke Bandung dan tinggal di daerah Kosambi. 

Di Tiongkok ia berdagang beras dan punya tempat penggilingan beras gitu lho. Pindah ke Hindia Belanda, Tan Hay Hap meneruskan bisnisnya tersebut. Dia bahkan mengembangkan bisnisnya lebih luas lagi, membuat pabrik tepung tapioka. Dahulu lokasi toko dan pabrik miliknya ada di Kosambi.

Ngomong-ngomong, kalau kamu lihat gedung tua di Simpang Lima yang sekarang jadi restoran bernama Lekker, itu dahulu adalah toko beras milik keluarga Tan Hay Hap. Gedung Seni Baranangsiang di Kosambi, itu dahulu rumah keluarga Tan.

Saking laris manis barang dagangan Tan Hay Hap, pemerintah kolonial memberinya izin membangun rel kereta dari Kosambi sampai ke Cikudapateuh agar angkut berasnya mudah dan cepat.


Pak Jimmy, generasi ke empat Tan Hay Hap

Untuk membangun Klenteng Satya Budhi, Tan Hay Hap memboyong kontraktor, ahli pahat, dan tukang kayu dari Cina. Kontraktornya bernama Bun Sun Choi. Anak perempuan terkecilnya ia nikahkan dengan Bun.

Berikutnya keluarga Bun melahirkan keturunan yang jadi kontraktor juga. Mereka membangun gedung-gedung bersejarah di Bandung, di antaranya gedung UNPAR dan UNPAD, renovasi Gedung Merdeka, Vila Mei Ling di Sangkuriang (Siliwangi), dan masih banyak lainnya tapi saya belum tahu apa saja.

Kocek untuk pembangunan klenteng gak dari dana sendiri kok. Ia menghimpun dana dari para donatur di luar Bandung juga. Ada yang dari Cirebon dan Lampung. Pembangunan klenteng ini nampaknya pembangunan swadaya. 

Btw, waktu mendengar cerita keluarga Bun tersebut, Indra ngomong sama saya. Kata dia seharusnya ada satu buku khusus yang membahas tentang kisah Bun dan keturunannya. Arsitek gedung-gedung bersejarah di Bandung kan kebanyakan orang Belanda. Kayaknya kami perlu tahu deh kalau ada kontraktor Tionghoa juga yang memberi warnanya pada gedung-gedung bersejarah di Bandung. 

Berada di Klenteng, kami dilarang memotret di bagian dalam. Hanya boleh moto bagian luarnya saja. Belakangan kata beberapa peserta boleh motret di bagian dalam klenteng, tapi tanpa blitz. Saya coba moto 2-3 frame habis itu gak mau lagi. Perasaan saya makin kikuk gak enak heuheuheueheu. 

Jadi ya begitu lah acara di Klenteng. Bincang-bincang dan memotret. Dari mulai cuaca cerah sampai dengan hujan. Hari itu adalah semacam hari di mana saya bisa lihat kalau Indonesia terdiri dari saya yang berkulit sawo, mata belo, beragama Islam dan Pak Sukandi yang berkulit putih, bermata sipit, penganut Budha. Dan kami baik-baik saja, berjalan beriringan tanpa saling menunjuk-nunjuk siapa yang paling berhak masuk surga. Mengutip kalimat dari Pak Jimmy kepada kami semua : saya anggap semuanya saudara di sini. 

Sungguh sebuah pengalaman 'melihat lebih dekat' yang menyenangkan di Klenteng Satya Budhi. 















Foto-foto lebih banyak dapat dilihat di fanpage Bandung Diary. Sekalian difollow juga yah hehehehe. Hatur nuhun!

Komunitas Gamboeng Vooruit bisa diikuti kabarnya di Facebook.

PS: catatan sejarah di atas boleh dikoreksi. Terutama penulisan nama. Saya mencatat cerita Pak Sukandi dan Pak Jimmy, tapi gak kroscek data nama. Ini kalau saya adalah wartawan, saya udah dikepret pemrednya kali ya heuheuheu. So yang mau koreksi langsung komen aja di bawah ya. Terima kasih :D







Teks : Ulu
Foto : Nurul Ulu, Indra Yudha
10 comments on "Hari Minggu di Klenteng Satya Budhi "
  1. Kata Irkham sih 'orang Ibadah jangan difoto2' hehehe.
    Jadi pengen nulis klenteng po an thian Pekalongan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tepatnya mah jangan mengganggu ibadah mereka, makanya jangan motret terlalu frontal waktu mereka sedang beribadah. Foto yang saya dan Indra ambil, foto dari jarak jauh kalau hadap depan atau samping. Foto jarak dekat kalau dari belakang. Intinya suasana apa yang kita ingin ciptakan saat ingin memotretnya dan pandai2 menempatkan diri.

      Delete
  2. baru tau di ada klenteng kece di bandung, teh ulu kalo masuk terus foto2 boleh ga sih??
    jadi pengen ikutan komunitas Gamboeng Vooruit ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gak boleh, Bud. Bolehnya dari luar aja. Hayuk atuh nanti mah ikutan :D

      Delete
  3. wah.. ini mirip ama saya yang ke klenteng yang ada di Tegal. lupa nama klenteng nya apa. tapi yang jelas, ya saya foto2 di depan pagar klenteng. lansung lah itu diliatin oleh orang-orang di sekitar klenteng. mungkin mereka mikir "norak bener tuh anak". wkwkwk.. btw, nice article mba

    ReplyDelete
  4. Nama Sugiri Sutedja seharusnya Sugiri Kustedja :)
    *tulisan yang asik dan renyah, Ulu*

    ReplyDelete
    Replies
    1. done, udah direvisi. hatur nuhun, andre :D

      Delete
  5. Aku baru tau asal usul nama kelenteng pas baca postingan ini, Lu hehehe. Padahal dulu SMP di SMP 25 yang masih di jalan Kelenteng. Pernah masuk juga ke area Kelenteng di sebelah sekolah, cuma sekali aja, sih. Lupa-lupa inget situasi di dalamnya. Sekarang mau maen ke sana segen.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama saya juga baru tahu, Teh Efi :D ternyata dulu teteh wara-wiri di jalan kelenteng toh :D ini kelenteng atau klenteng sih yg bener nulisnya?

      Delete