Image Slider

Makan Siang di Legoh

August 31, 2016
Kalau kamu orang yang tinggal di Bandung, orang Jakarta yang sering ke Dago, fans berat sebuah band bernama Koil, kamu muslim, sangat concern tentang asal usul makanan dan membaca judul ini, ada kemungkinan kamu akan bertanya: EH LEGOH HALAL GAK SIH?

YES SEKARANG LEGOH HALAL 100%!

Sejak bulan puasa 2016, Legoh mencopot menu-menu berdaging babinya. Jadi kalau kamu muslim dan masih ragu-ragu untuk makan di Legoh, please don't. 




Emang sih sebelumnya ada menu non-halal. Sebenarnya Legoh mengklaim memasak dua jenis masakan tersebut di dapurnya (menu halal dan non-halal) secara terpisah. Harusnya gak usah khawatir lah bagi yang muslim. Faktanya masih banyak yang meragukan, dan lebih banyak yang ketakutan tanpa tahu faktanya. Ah yasudahlah, kadang kala saya merasa bangsa ini terlalu nyaman menjadi mayoritas jadi...ah yasudahlah. 

Well anyway, sekarang kamu yang muslim gak perlu ragu lagi makan di Legoh. Halal semua nih.

Waktu saya meet up dengan teman-teman dan makan siang bareng, kami memutuskan makan siang di Legoh. Menunya sih masih sama ya basednya masakan Manado karena latar asalnya pemiliknya sekaligus chef, Leon Legoh, emang dari ibukota Sulawesi Utara itu. 

Tahu gak, saya gak pernah tahu kalau Legoh ini makanannya khas Manado campur-campur rasa Sunda. Karena saya biasanya selalu pesan kwetiaw. Saya pikir Legoh ini citarasanya oriental :D 




Hari itu saya milih keluar dari zona aman dengan menu makanan Legoh. Saya gak pilih kwetiaw lagi. Kali itu saya mendaratkan beberapa menu:

Cumi Mentega
Nasi Daun Jeruk
Brokoli Jamur
Pisang Aroma
Kwetiaw Hitam (tetep kwetiaw hahaha :D)
Es Alpukat Kerok

Banyak yaaaaak! Yes memang sebanyak itu saya makannya hahahaha. Pokoknya kalau kamu kenal saya secara langsung kamu bakal tertular tagline hidup saya dan Indra: bersama kita pasti gendut (dan bahagia). 

Oke kita beda rasa satu-satu!


Nasi Daun Jeruk - 8K

Oke. Nasinya gak pulen. Tapi kering. Kayak nasi yang kita tinggal semalam terus besoknya kita masak jadi nasi goreng. Nah begitu tekstur nasinya. Gak masalah sih karena mungkin nasi daun jeruk ini memang mirip nasi goreng cara masaknya. Cuma buat saya sih agak keras nasinya hehehe :D Walo tetap saja habis itu nasi seporsi. 



Cumi Mentega - 25K

First thing first, buat saya cuminya (yang tentu saja digoreng tepung dulu) terlalu oily. Rasa kuahnya manis dan asin juga asam. Menurut saya sih asinnya ini kuat banget. Agak mengganggu sih asinnya. Atau jangan-jangan itu asam yang berasal dari cuka ya. Meski agak ganggu, tapi rasanya tertolong oleh daging cuminya yang empuk dan gurih. So ya tandas saja satu porsi Cumi Mentega ini. Hahaha. 


Brokoli Jamur - 20K

Highlight dari semua menu yang saya pesan. Agak subjektif sih karena saya adalah penggemar jamur apapun jamurnya. Mau manis, gurih, asin, pedas, dan hambar sekalipun, saya cinta jamur. Yang penting bukan jamur mentah aheuheuheuheu :D Brokoli dan jamur champignon ini berpadu dalam kuah yang gurih dan hangat dari potongan cabai. 


Kwetiaw Hitam - 23K

Wah ini rasanya paling...apa ya, unik deh. Orisinil. Subjektif juga karena saya gak pernah makan kwetiaw hitam sebelumnya. Warna hitam berasal dari tinta cuminya. Bumbunya ramai rempah-rempah dan lagi-lagi sedikit rasa asin (atau itu asam ya hahahah adoooh lidah saya ini kudu dikepret :D). Saya gak bisa cerita banyak tentang rasa Kwetiaw Hitam ini bukan karena gak enak, justru sebaliknya. Makanan yang porsinya edan ini tidak mengecewakan dan kamu harus coba kalau ke Legoh.





Keju Aroma 10K

Aduduh ini mah jajanan orang Bandung yang entah kapan lahirnya. Entah kenapa juga namanya Aroma. Pokoknya bentuk makanan kayak gini nih, yang di dalamnya berkeju batangan kami namakan Keju Aroma. 




Setelah digempur rasa rempah-rempah dan cuka, makan Keju Aroma ini udah kayak makanan penutup. Bentuknya mungil, cantik meski garing, dan terlihat lentik dibanding makanan sebelumnya yang saya santap. Rasanya sudah pasti enak. Keju buat saya mah never failed. Apalagi di Legoh ini keju di Pisang Aromanya pajang dari ujung ke ujung, bukan cuma keju yang nongol di bagian tengah doang dan seuprit. Ini mah panjaaaaang dan padaaaat. 


Es Alpukat Kerok 23K

Waduh ini juara pisan. Sama seperti Pisang Aroma, makan Alpukat Kerok ini berasa kayak dessert sih. Malah lebih cocok emang jadi dessert ya. Daging alpukat dikerok dan dimasukkan ke gelas. Lalu dicampur dengan serutan gula merah (gula kawung). Terakhir masukan potongan es batu. Olala manis dan agak berat sih karena itu alpukat. But nevermind, saya gak pernah keberatan makan nasi lalu kwetiaw lalu alpukat. 




Cuma pastikan kamu menyediakan air minum macam air mineral. Karena alpukat bikin seret tenggorokan. Manis gula kawung juga bikin haus. Jangan pesan es teh manis, karena bakal tetap haus. Menutup ronde makanan pilihan saya dengan air mineral ini udah paling cocok. 

Legoh siang itu agak lengang sih gak kayak biasanya yang sampai waiting list. Pelanggan-pelanggan yang biasanya menyantap makanan berdaging babi di Legoh pada kecewa kali ya makanan favorit mereka hilang dari menu. 

Semoga ada rezeki lebih banyak untuk Legoh karena sudah memutuskan untuk memuaskan mayoritas umat agama di negeri ini.

Buat saya pribadi sih Legoh ini enak-enak makanannya. Dan porsinya itu lho, porsi cowok-cowok kuli hahahaaha :P Legoh ini ngasih pilihan menunya banyak bangetnget. Nasi Lengko, Sapi Cuka, Mie Yamin, Tahu Pletok, dan masih banyak lainnya. Kalau pertama kali ke Legoh mungkin bakal bingung mau pilih menu yang mana, cari aja yang menunya ditandai bintang. udah recommended jadi seru lah makannya. 

RM Legoh berlokasi di Jalan Sultan Agung no. 9 Bandung. Tegak lurus dengan Jalan Dago.

Saya kasih tahu juga ya kalau Legoh melayani delivery dan katering. Tinggal kontak aja:
Tlp : 022-4268108
WA : 0882-1220-5733
BBM : 55d6fa2a

Buat menunya kamu cek aja di websitenya Legoh dan media sosialnya:
Website : www.rmlegoh.com
Twitter : @rmlegoh






Teks : Ulu
Foto : Ulu

Waktu Sore-sore di Carnival Asia Africa 2016

August 29, 2016
Niatnya sih mau nonton karnival. Tapi gagal akibat capek dan ketiduran. Bangun tidur sudah lewat jam 16.00 dan parade karnival sudah lewat. Hahaha dua tahun berturut-turut nih saya gagal nonton karnival. Antara sebel dan pasrah saya milih yang kedua, pasrah :D 

Daripada manyun, saya-Indra-Nabil tetap datang ke Asia Afrika. Nonton sisa-sisa acara. Waktu masuk ke Jalan Asia Afrika, buset penuh banget banyak orang! Ah males lah, akhirnya kami melipir ke Cikapundung saja. Toh karnivalnya juga sudah berlalu. Hanya keramaian orang yang saya lihat. 




Di Cikapundung berjejer kios makanan. Kami jajan dan berjalan-jalan saja menunggu malam datang lalu kembali pulang. Gak sengaja bertemu teman, Alfian Widi, fotografer yang bertugas motret Asia Africa Carnival. Dia yang kasih tahu kami kalau ada pameran fotografi. Duh untung ketemu dia, jadi tahu kan ada pameran foto. 

Ah seru nih pameran fotonya, pikir saya. Satu per satu foto yang terpajang saya tekuri. Bagus-bagus fotonya, kebanyakan foto-foto itu dijepret di Asia Africa Carnival tahun 2015. Memandang fotonya saya sambil makan fries hasil jajan, ada banyak kios makanan gitu. 




Arena pameran fotografi di Cikapundung Riverspot tidak seramai kawasan Asia Afrika lainnya. Ada pop-up library di sela pameran tersebut. Wah seru juga nongkrong sebentar, baca buku. Kebanyakan buku-buku fotografi juga. Menyenangkan juga sore itu di Cikapundung. 

Waktu Magrib datang, akhirnya kami pulang. Tidak ada hal yang semegah karnival yang saya lihat, tapi sore itu terasa sangat hangat. Semoga tahun depan gak ketinggalan lagi karnivalnya :D hehehe








Teks : Ulu
Foto : Ulu, difoto dengan kamera ponsel

Review Hotel Harper Purwakarta

August 27, 2016
Judulnya garing amat ya :D tapi hotelnya gak garing kok.

Di Purwakarta pada kunjungan bulan lalu, saya menginap di Harper Purwakarta. Di kota kecil ini tidak terlalu banyak hotel. Menurut saya sih Harper Purwakarta ini hotel yang paling trendy dan modern di Purwakarta.




Oke kita mulai langsung reviewnya. 


LOCATION

Perhatian kepada yang suka Sate Maranggi Cibungur, lokasi hotel ini dekat sekali dengan surganya makanan khas Purwakarta tersebut. Naik kendaraan sekitar 5 menit sudah sampai. Bisa bolak-balik makan siang dan malam dari hotel ke Cibungur tuh di sana hahaha :D 

Tapi karena letaknya bukan di jantung pusat kota Purwakarta, agak ribet sih kalau mau ke kota. Ya tapi gak seribet di Bandung atau Jakarta. Jadi menurut saya sih milih hotel ini bukan hal yang salah. Lokasinya masih strategis. Cocoknya untuk yang bawa kendaraan pribadi. Kalau kamu tipe yang ke mana-mana naik angkot, mending pilih hotel di sekitar Situ Buleud (Taman Air Mancur Sri Baduga).


ROOM

Kamar saya twin. Tapi teman sekamar saya, Reni, harus cabut malamnya karena pada dini hari harus terbang ke Belitung. So saya tidur sendirian. Bednya saya satukan saja biar tambah lega. Empuknya kasur dan bantal standar lah. Nyaman kok. Tapi gak bikin tergila-gila gitu, biasa aja.




AC kamar oke banget saya suka. Butuh dingin ya dingin, mau dibuat agak panas ya cepet juga perubahan suhunya. Jendela kamar juga lebar. Pemandangan kamar saya dari lantai 5 adalah sawah-sawah :D Selama di Purwakarta sibuk sih masuk ke hotel pas malem doang langsung tidur zzzzzz...

Eh enggak tidur deng. Lewat jam 12 malam baru tidur. Karena apa, karen WIFI KENCENG BANGET! hahaha nonton yutub lah. Download lah. Upgrade app lah :D Oke banget wifinya saya kasih jempol lima!

Kamar mandi standar juga. Amenities lengkap. Kebersihan bagus.  


FOOD

Wah menu sarapan paginya oke-oke. Rasanya gak mengecewakan, tapi enak banget juga enggak. So-so lah, so good. 

Menunya variatif. Prasmanan sudah pasti, aneka pastry dan buah-buahan. Minumnya standar tapi ada menu jus. Dan ada omelet dan persosisan. Cukup festive sarapannya. Pasti senang berlama-lama di restorannya Harper Purwakarta :D 




Dan lagi interiornya bagus. Agak industrial sih desainnya. Kalau saya senang lihat interior yang niat begini. Motretnya enak meski pake kamera ponsel. 

Untuk menu di luar breakfast, harganya standar harga hotel. Lebih dari rata-rata harga pada umumnya. Rasanya gak tahu euy karena saya gak coba. Harusnya sih enak ya, sarapannya aja enak-enak. 

Kalau mau jajan di luar ya palingan ke Sate Maranggi Cibungur itu sih. Di sekitar hotelnya (dalam radius jalan kaki), saya gak merhatiin ada mini market enggak. Rasanya sih gak ada. Euh ini cuma asumsi gak bisa dijadikan jaminan informasi ahuehueheuhue gimana saya teh review hotel gini amat :D heuheuehueheu...


SERVICE

Standar. Pelayanannya bagus tapi standar alias biasa saja alias tidak berkesan. Saya gak ketemu banyak pegawainya juga sih heuehuehuehue cuma resepsionis doang. 


FACILITES

Ada kolam renangnya! Horeeee! Kolam renangnya ada dua pula. Buat anak-anak dan dewasa. Lokasinya dekat dengan restoran hotel di lantai dasar. Kolam renang outdoor. Enakeun kolam renangnya, lumayan gede ukurannya. 




Saya bangun kesiangan, gak berenang dan langsung makan saja. Habis makan menyempatkan jalan-jalan sebentar sekitar kolam renang. Ckckck kata temen yang berenang, pagi tadi sunrisenya bagus banget. Kelihatan langsung dari halaman kolam renang. Ah euy saya masih tidur gak lihat sunrise, gak berenang...i missed a lot. Ya nanti balik lagi ke Harper Purwakarta saya gak mau kelewat sunrisenya lagi ah. 



Teks : Ulu
Foto : Ulu, difoto dengan Lenovo A6000. Edit foto via VSCO

Main di Kebun Belakang, Kebun Organik di Cimahi

August 25, 2016
Saya dan Indra sudah menjadwalkan akan berkunjung ke Kebun Belakang di Cimahi. Saya sudah gak sabar nunggu-nunggu waktu itu datang. Kayak anak kecil yang dijanjikan jalan-jalan ke Trans Studio setelah musim ujian hahaha. Naon deui :D

Warung Belakang adalah kios mungil yang menjual produk-produk sayur organik. Sayurnya berasal dari kebun mereka sendiri yang bernama Kebun Belakang. Lokasi kebunnya ada di belakang kiosnya. 





Setelah beberapa minggu opening, baru pertengahan Agustus lalu saya ke sana. Ke Jalan Pesantren 85 Cimahi. Pemilik Warung Belakang adalah teman sekampus saya, teman sekelas pula. Sejak saya merintis usaha sendiri bersama Indra, kami berikrar akan membeli produk teman-teman dan mendatangi usahanya. Gak akan minta diskon, gak akan minta gratisan hahaha pokoknya beli! - foto! - share! 

Sebenarnya Kebun Belakang lebih dulu muncul, menjual salad-saladnya di Instagram. Produk ini milik pasangan suami istri Misbah Dwiyanto dan Ivana Pratita. 

Saya sudah beberapa kali membeli saladnya sejak pertama kali melihatnya di Instagam. Ivana sering cerita tentang kebunnya di Cimahi sewaktu saya memesan salad. Kebunnya masih berantakan, kelak mau dibuka untuk umum, juga buka warung sayur organik. Begitu kata Ivana. Gak nyangka hari itu tiba juga untuk mereka, punya warung sendiri setelah berbulan-bulan jualan online.




Seru ya. Menanam sendiri. Panen sendiri. Jual sendiri. Makan sendiri. Sustainable dan mandiri. Bagusnya lagi sih bisa dijual untuk orang lain juga. Lagipula saat kami berbincang, Misbah berujar "saya pengen sayur organik teh harganya gak usah mahal-mahal."

Kebun Belakang gak jualan produk sendiri. Mereka juga berkolaborasi dengan produsen produk-produk sehat lainnya. Ada jamu, yoghurt, madu, tepung mokaf, juga roti.

Gak susah sih nyari Warung Belakang di Jalan Pesantren. Cari saja yang lahannya masih terbuka. Masih berbentuk Kebon. Pada bagian depannya bercokol rumah mungil. Nah itu Warung Belakangnya. 

Ngobrol sebentar dengan Ivana di dalam Warung Belakang, kami udah gak nahan mau lihat kebunnya Misbah dan Ivana. Bersama dengan anak mereka, Kiran (2 y.o), Misbah mengajak kami tur di Kebun Belakang. Kiran dan Nabil sudah terbiasa ada di kebun jadi gak canggung lihat tanah dan macam-macam benda yang mengotori tangan. Terutama Kiran sih, kebunnya adalah panggungnya hihihi. 

Pertama kali saya lihat kebunnya, penampakannya gak kayak perkebunan pada umumnya. Lahannya gak terlalu luas. Misbah juga kelihatannya belum menanam terlalu banyak. Bukan produk masal, bukan kebun produksi sekelas pabrik. Semacam kebun yang memenuhi kebutuhan secukupnya saja. 

Di sini tanamannya masih jarang dan acak banget. Macam-macam jenisnya. Gak ada yang bergerombol seragam. Tanaman yang satu selang-seling dengan tanaman lain. Tomat misalnya, bersebelahan dengan Bunga Matahari. Kembang Kol berderet-deret dengan Lettuce. Daun mint dengan Kale. Dan masih ada beberapa lainnya. 

Ada dua rumah kaca yang isinya tanaman-tanaman sayur untuk memenuhi persediaan stok salad Kebun Belakang. Kami masuk ke dalamnya, Misbah mendongeng banyak tentang permakultur. Permakultur adalah konsep berkebun (atau bertani) yang alih-alih menanam satu macam tanaman, ini malah sebaliknya menanam beragam tanaman di satu lahan yang sama. 

Kalau diperhatiin sebenarnya konsep permakultur lebih ramah lingkungan. Burung dan serangga yang kerap datang ke kebun dan makan tanaman, gak dianggap sebagai musuh. Tapi sebagai sesama makhluk hidup yang cari makan. Makanya Misbah menanam beberapa bunga matahari, bunga kamboja, juga menebar banyak daun mint. Maksudnya sih menghadang serangga dan burung agar mereka tidak menyerang tanaman sayurannya. Kayak "nih saya kasih makan bunga matahari, jangan serang kembang kol saya ya" :D

Saya perhatiin sih di banyak daun bunga matahari ada banyak ulet bulu. Hiiiii getek :D






Untuk pupuknya Misbah membuat kompos sendiri. Dari pelepah batang pisang, bubuk kayu, kebanyakan sih sampah organik dari tumbuhan. Belum lagi pembibitan sendiri. Saya bayangin ini bukan pekerjaan gampang. Well okay memang tidak ada pekerjaan yang gampang. Tapi menurut saya, bekerja mengurus makhluk hidup itu capek banget :D 

Resiko mati lah. Harus dipantau terus lah. Disayang-sayang seperti kita menyayangi manusia lah. Diajak ngobrol lah. Mana saya sih percaya kalau urusan tanam-menanam kayak gini ini tuh 'gimana orangnya'. Pasti kenal istilah "tangan dingin". Apa aja yang ditanam pasti jadi. Nah Misbah itu orang kayak gitu. Magic lah orang-orang yang suka bercocok tanam dan tanamannya tumbuh sampai bisa dipanen. 

Ya emang sih urusan bakat alami cuma 1%. Sisanya 99% adalah kerja keras. Dikata gampang nyangkul tanah di bawah terik matahari dan berjam-jam mengurus tanaman atau harus nyenggol ulat bulu gitu :D 

Bertemu orang-orang seperti Misbah dan Ivana, saya merasa dunia ini akan baik-baik saja. Hari itu saya pulang setelah mencium wangi daun mint, memotret kembang kol merah, merinding lihat banyak ulat di pohon Bunga Matahari, menyantap Roti Gandum, Yoghurt rasa anggur, dan membawa pulang 3 ikat Pakcoy.






Kunjungi juga Warung Belakang
Di Jalan Pesantren 85 Cimahi
Di depan Sugih Jaya Motor/Clean 8

Buka Sabtu dan Minggu
07.30 - 15.00

Cek Instagramnya di @kebunbelakang


Cara Menuju ke Kebun Belakang


1. Berhubung saya dari Setiabudi - Bandung, saya ambil jalur ke Gegerkalong - Cihanjuang. Angkotnya Cimahi - Ledeng. Turunnya di Cimahi, habis itu jalan kaki deh sampai ke Jalan Pesantren dan naik angkot ke arah Jalan Raya Cimahi. Tidak saya sarankan ambil jalur ini sih kecuali sudah terbiasa berjalan kaki. 

2. Pergi ke arah Cimahi. Cari Jalan Pesantren. Cek di Google Map :D 


Teks : Nurul Ulu
Foto : Indra Yudha




Oiya, follow Bandung Diary di Facebook. Thank you so much!



Makan-makan di Keuken #7

August 23, 2016
Asyik makan-makan lagi di Keuken! Cari festival makanan di Bandung, Keuken sudah pasti saya rekomendasikan. Pokoknya kalau Keuken sudah rilis tanggal acara, buat kamu yang di luar kota silakan book hotel terdekat dengan lokasi Keuken dan kunjungi Keuken. 

Keuken #7 berlokasi di Cikapundung Timur pada hari minggu 21 Agustus 2016. Festival makanan yang cuma sehari ini diselenggarakan setahun sekali. Tiap tahun temanya beda-beda. Tahun ini temanya Revisiting The River. Ci Kapundung kan nama sungai yang membelah kota Bandung. Sungai yang ikonik. Cikapundung juga nama tempat. Ya cocok sih lokasi dengan temanya walau saya agak bosan juga dengan lokasi ini karena kebanyakan acara di Bandung sekarang ini ya diadakan di sini. Heuheuheuheu :D 




Maksud temanya sih kembali membangun koneksi dengan sungai kali ya. Namun entahlah di acaranya menurut saya sih gak ada koneksi yang terbangun sama sekali, gak ada penyadaran tentang sungai sebaiknya diperlakukan seperti sungai Thames di London :D

But anyway, tema Revisiting The River adalah langkah yang udah bagus. 

Seperti biasa ada banyak kios makanan di Keuken. Tapi Keuken gak pernah naro booth makanan banyak-banyak sih. Secukupnya saja dan selalu dikurasi. Kalau diperhatikan di Keuken ini yang tampil dominan makanan modern. Western gitu. Ada juga Batagor dan Pepes Ikan kok, cocok untuk yang doyannya kuliner tradisi. 

Datang ke Keuken mah kudu nyiapin perut yang kosong, waktu yang luang, dan uang yang banyak. Hahaha :D Ya bayangin aja banyak kios makanan dan kayaknya enak-enak semua. 

Terus bagaimana cara milih makanan di Keuken ya. 

Kalau saya mulai dengan browsing semua kios dulu. Lihat satu-satu kiosnya, scanning, perhatikan menu dan harganya. Baru di pada ronde kedua sudah saya putuskan mau makan apa. Biasanya sih saya beli dari menu yang sudah saya kenal duluan. Saya beli burger Ima Mobs karena saya pernah makan dan rasanya emang enak. Semacam gak akan nyesel gitu deh. Habis itu baru deh hunting makanan lain-lainnya. Ya sesekali keluar dari zona nyaman dengan membeli makanan yang gak biasa. Kalau saya nyobain makanan yang dibeli teman saya Kuke, Burger Crabs dan Stereo Dessert.

Baca juga : Keuken #5 di Balaikota Bandung, Seru Banget!


Beberapa produk merek lama masih ada di Keuken. Kayak Aromanis, Ima Mobs, Pampidou, Batagor Hanimun, dan Pesgobar. Tapi ada juga yang produknya saya baru lihat euy. Burger Crabs, Es Krim Paleta, Burito, dan masih banyak lagi nama-namanya saya gak ingat. Sampai Sate Klathak juga ada lho di sini. Hahaha efek AADC memang mantap :D

Makanan yang jadi highlight buat saya adalah Burger dan steak fries Brother Jonn & Sons, es krim Paleta, Co Drink Premium, dan cupcake Pampidou. Enaknya bikin mau terjun ke Ci Kapundung :D Enggak ding, rasanya worth the price banget. 

Buat saya enaknya lagi di Keuken itu seru buat hunting foto. Panitia nyiapin beberapa dekorasi acara yang bagus untuk difoto. Itu sih yang saya ingat dari Keuken, acaranya simpel tapi enak untuk foto-foto. Terutama waktu Keuken #5 di Balaikota itu udah paling juara lah. Enak makan, enak duduk, enak foto-foto.  

Kalau kamu doyan street photography khusus fashion, mesti lah datang ke Keuken. Karena muda-mudi Bandung (juga yang gak muda) berdatangan dan biasanya pada tampil okeh-okeh. Chic dan egdy. Enak dilihat, bagus difoto :D 

Kalau di dunia internet, Keuken ini semacam Instagram khusus acara kuliner di Bandung. 

Sebagai nilai plus sebuah festival, Keuken biasanya menyiapkan tenaga relawan bersih-bersih. Semacam tim pembersih sampah. Mereka keliling cari sampah berserakan dan mengingatkan pengunjung untuk buang sampah ke tempat sampah. Ada juga booth khusus penukaran sampah. Saya gak tahu sih tim ini bekerja sampai malam atau tidak karena saya ke Keuken hanya di pagi sampai siang saja. Kalau sore ke malam Keuken sudah terlalu penuh dan acaranya terlalu gemerlapan ajeb-ajeb gimana gitu :D 
Semoga aja tema acara Keuken ini sampai ke hati para pengunjungnya ya. Kalau buat saya sih tema Keuken yang paling ngena adalah waktu Keuken #5 di Balaikota: The Cityhall Fairground. Banyak tempat duduk, banyak pohon rindang. Jadi adem dan leluasa bergerak.

Tema besarnya Keuken adalah Reclaim The Street. Semacam penyadaran kalau area publik adalah milik warga dan sudah seharusnya kita meramaikan area tersebut. Meski toh pada akhirnya makan-makan gak gratis tapi proses menikmati ruang publiknya itu yang seru. 

Tema Keuken yang sekarang ini -Revisiting The River- saya gak rasain apa efeknya. Biasa aja heuhuehueuheu :D Sejujurnya juga acaranya gak yang kayak saya kira. Gak sebaik Keuken #4 dan #5. Keuken udah dapat tempat di hati banyak orang yang sesuai kalangannya. Kalau ada Keuken, pasti rame banget. 

Cikapundung lokasi Keuken #7 kemarin itu udah kekecilan untuk menampung umatnya Keuken. Lagipula setahu saya Keuken adalah festival yang menghidupkan banyak ruang publik yang sebelumnya orang gak pernah kepikiran. Sayang aja sih harus balik ke Cikapundung (Riverspot) lagi. 
Masih banyak ruang publik di Bandung yang belum kesorot. Waktu Keukeun bikin di kompleks KAI kan itu unik banget. Juga waktu di kompleks Bandara Husein (cuma akses aja yang susah, macet dan gak ada transportasi umum). 

Sebagai sebuah festival, Keuken udah paling juara. Keuken adalah festival yang mengenalkan konsep good design. Cuma sayang di Keuken #7 itu kayaknya salah tempat :D heuheuheuheu. 

















Lebih banyak foto dapat kamu lihat di album foto fanpage Bandung Diary di Facebook. Please also kindly follow my page :)

Foto oleh Nurul Ulu dan Indra Yudha



Beli Kopi di Javaco

August 19, 2016
Kopi dari Bandung, kebanyakan orang tahunya Kopi Aroma. Namun ada beberapa tempat lainnya yang setipe dengan Kopi Aroma, kios yang menjual kopi sejak zaman dahulu kala. Kopi Javaco nih salah satunya. Penjualnya sekarang adalah generasi yang ke-4. 

Biasanya toko kopi tempo dulu tempatnya ya tua juga. Javaco menempati sebuah rumah berlantai dua yang arsitekturnya klasik banget. Macam rumah-rumah di tahun 1920an. Rumah Javaco ini salah satu 'harta karun' yang bertahan di Bandung. Kenapa ya rumah-rumah tempo dulu enak dilihat...

Toko kopi kayak begini terpusat di daerah Pecinan Bandung sih. Kopi Aroma, Kopi Javaco, Kopi Kapal Selam, dan Kopi Malabar. Semuanya ada di sekitar Pasar Baru, gak jauh dari stasiun kereta api. Pemiliknya juga rata-rata keturunan Tionghoa. Gak heran sih karena pertumbuhan penduduk dari warga Tionghoa memang terpusat di kawasan dekat stasiun. Pada awalnya mereka datang ke Bandung bekerja untuk membangun rel kereta. Selanjutnya ya berkembang jadi kuli dan kebanyakan jadi pedagang. 

Kembali ke Kopi Javaco yang udah ada di Bandung sejak tahun 1928. Di sini ada tiga pilihan kopi: Tip-top, Robusta, dan Arabica. Semuanya kopi giling kasar. Kalau kamu penggemar berat kopi, cocoknya Arabica karena masuknya kategori Grade I. Kalau gak suka yang terlalu asam, pilih yang Robusta. Penjualnya gak nyaranin saya beli yang kopi berlabel Tip-top, katanya kurang bagus untuk penggemar kopi.




Proses penggilingan kopi dilakukan di sebuah rumah di Jalan Sudirman Bandung, tepatnya di Jalan Kasmin. Rumah di Jalan Kebon Jati ini hanya berfungsi sebagai toko kopi saja. 

Saya bukan penggemar berat kopi sih. Kalau ketemu tempat-tempat kuno yang bisa saya masuki, saya pasti masuk ke dalamnya. Saya usahakan juga belanja di dalamnya. Meski sedikit tapi senang sudah merasakan sedikit sensasi berada di dalam sebuah rumah kuno.

Perhatiin baik-baik ya, ini saya udah gemes banget banyak yang kirim wa nanyain mau beli kopinya. Udah gitu dipikirnya saya yang punya Javaco. Aduh euy, saya bukan pemilik Kopi Javaco. Please guys, masa gak bisa bedain tulisan review atuh euy.

Nih harga kopinya. 

Harga kopi per 250 gram:
Robusta : 27.000
Arabica : 32.500

Kopi Javaco
Jalan Kebon Jati no. 65

Buka hari senin - sabtu
Jam 09.00 - 14.00

Baca tulisan dari Komunitas Aleut berikut ini yang mengupas lebih dalam tentang sejarah pemilik Kopi Javaco. 

Kamu dapat memesan Kopi Javaco ini via Bandung Diary, saya buka jasa titip  Kirim email ke bandungdiary@gmail.com atau wa ke 0812.2005.4556 dan inget ya saya buka jasa titip, bukan pemilik Javaconya. Thank you untuk membaca tulisan ini dengan seksama :D













Teks : Ulu
Foto : Indra Yudha

Review Hotel Fabu, Hotel Dekat Pasar Baru Bandung

August 16, 2016
Ketemu lagi dengan kategori resensi hotel di Bandung. Kali ini bahas hotel yang letaknya di sekitar area Pasar Baru. Sebelumnya ada Hotel Pasar Baru Square yang posisinya pas bersebrangan dengan Pasar Baru. Sekarang saya mau review Hotel Fabu yang ada di belakang Pasar Baru. 

Harganya lebih murah dari Hotel Pasar Baru Square. Here goes.



LOCATION

Ada di Jalan Kebonjati. Tetanggaan dengan Rumah Sakit Santosa. Bisa mencapai Pasar Baru dengan berjalan kaki, 5 menit sampai. Jajan ke minimarket ada di sebrangnya dan jalan dikit doang. Mau ke kawasan Asia Afrika gampang, kalau mau naik angkot ya sekali saja dari depan hotelnya. Ke arah pusat kota di Dago, Setiabudi, atau Cihampelas yang agak repot. Agak muter gitu deh rutenya. 

ROOM

So far ini kamar tersimpel yang pernah saya inapi. Gak banyak cingcong gitu deh dekorasinya. Saya sih suka kamar begini. Hotel Fabu banyak memasang warna biru sebagai akses dan identitas. Bagusnya warna biru gak berlebihan. 

Seperti di kamar deluxe yang saya book via Agoda. Kamarnya luas euy, ini luasnya oke banget. Gerak saya bisa leluasa hehehe emang mau ngapain :D 

Ranjangnya standar dan nyaman. Bantalnya sih yang oke banget, pengen bawa pulang. Saya pesan kamar yang bednya double, dikasihnya kamar yang bednya twin tapi bednya digabung gitu. Ya gak apa-apa sih. Abis kali kamar yang bednya double, sayanya juga check in telat. 

AC kamar lumayan gitu. Gak kencang juga gak terlalu dingin. So so lah speednya. TV kabel agak kurang sih channelnya, cuma buat saya yang penting ada channel film-film macam Fox Movies Premium :D Jendela kamar gede bentuknya persegi panjang. Pemandangannya bagus banget ketika sunrise dan malam hari kalau langit cerah bintang. 

Pada malam kami menginap kami matikan semua lampu kamar dan gadget. Tirai jendela kami buka. Langit gak cerah-cerah amat sih, tapi enak aja gitu suasana sangat sepi, hening, dan kami berbicang semalaman tentang banyak hal sampai ngantuk dan tertidur. Pada waktu subuh bangun hampir kesiangan hehehehe :D Lihat ke jendela sunrisenya bagus sekaliiii!








Ada sofa merah yang empuk banget, cocok buat nongkrong di tepi jendela (tepatnya di bawah jendela hehehe) sambil update status dan skroling feed Instagram :D 

Kondisi kamar mandi not bad. Luas juga. Air panas cepet on dan tarikannya mantap. Hotel Fabu membatasi durasi air hangatnya 5 menit dan akan menyala kembali pada 15 menit kemudian. Katanya dalam rangka mengurangi dampak buruk pada lingkungan. 

Amenities standar dan cukup untuk saya. 

FOOD

Menu sarapan standar. Prasmanan makanan berat terdiri dari tiga macam lauk pauk. Roti, buah-buahan, cornflakes, dan air minum jus. Rasanya tidak mengecewakan.




Mau makan di luar, gak terlalu banyak tempat makannya. Kalau saya makan di RM Padang, di sebelah hotelnya. Enak banget hahahaha baru nemu restoran Padang ini nih. Ada sih kafe di hotel Gino Feruci, gak jauh dari Hotel Fabu. Bisa ditempuh jalan kaki. Restoran lain mah gak ada. Kayaknya hotel ini cocoknnya untuk numpang tidur aja sih. Terutama kalau jadwalnya mau belanja di Pasar Baru. 

SERVICE

Pelayanan agak garing sih :D Gak terlalu hangat, terkesan dingin. 


RATE

Di Agoda tarif untuk kamar deluxe include breakfast sekitar 400.000+++. Tersedia juga beberapa tipe kamar lainnya, Junior Suite dan Suite.




Untuk wilayah sekitar Pasar Baru, saya baru nyicip 2 hotel. Menurut saya sih Hotel Fabu lebih oke dalam hal makanan dibanding Hotel Pasar Baru Square. Tapi kalau lokasi lebih menang si Hotel Pasar baru Square sih :D 


Cara Menuju Hotel Fabu


Lokasi di Jalan Kebon Jati yang satu arah. 

Kalau kamu datang dari arah Bandara Husein Sastranegara : keluar bandara - Jalan Pajajaran - nanti ada perempatan, belok kanan ke Jalan Pasir Kaliki - lurus saja nanti setelah melewati Paskal Hypersquare ada perempatan lagi, kamu belok kiri dan kamu sudah ada di Jalan Kebon Jati. Hotel Fabu ada di sebelah kiri jalan.



Kalau kamu datang dari arah stasiun, ini lebih dekat lagi : keluar dari pintu stasiun belakang (selatan), naik becak sampai hotelnya. Bisa sih jalan kaki, tapi agak muter gitu rutenya. Atau keluar dari pintu stasiun depan (utara) dan naik angkot jurusan Lembang - St Hall arah stasiun (harus ditanya ke sopirnya dan pastikan arahnya ke stasiun).


Hotel Fabu
Jalan Kebonjati 32
Bandung







Teks : Ulu
Foto : Nurul Ulu dan Indra Yudha