Membaca Buku: Java Beat in The Big Apple

June 18, 2016
Lagi gak banyak keluar rumah nih. Selain bekerja, saya baca buku saja. Dan entah kenapa bulan puasa ini waktu luang saya banyak sekali. Ini saya yang pengangguran apa bagaimana...huhuhu.

Secara tidak kebetulan bulan Mei 2016 saya ikutan workshop membaca dan menulis resensi buku. Pematerinya bernama Ollie. Di dunia perbukuan Indonesia namanya sudah terkenal. Sewaktu presentasi, Ollie -yang sudah menerbitkan 28 buku ini- cerita kalau ia membaca 2 buku per hari. 

Dalam pikiran saya saat itu I was like DUA BUKU PER HARI, MBAK? Apa Mbaknya gak makan? gak mandi? gak tidur? gak kerja?

Enggak ding becanda. Ollie bekerja di dunia tulis menulis dan perbukuan, maka membaca buku baginya gak cuma pekerjaan kali ya tapi juga hiburan. Tinggal di Jakarta pula, ke mana-mana macet. Sambil kena macet di mobil ia membaca buku. Belum lagi teknik membaca yang ia kuasai sudah canggih banget. Skimming, scanning, membaca dengan jari di bagian tengah buku, daaan sebagainya. 

Merasa mendapat suntikan untuk membaca lebih rajin, saya pulang ke rumah dan mulai sortir buku yang belum saya baca. Banyak ternyata hahaha. Saya mulai dari yang ringan-ringan dulu deh. Sudah 4 buku nih berhasil saya selesai baca.

Kalau sudah niat memang membaca itu pada dasarnya bisa dilakukan ya setiap hari ya. 


1. Victorian Ghost Stories

Terdiri dari empat cerita pendek berteme horor di Eropa dengan latar tahun 1800an. Buku berbahasa Inggris ini mudah dicerna. Saya sempat berhenti di cerita ke 2 karena mulai takut sendiri dengan ceritanya :D

Tapi keesokan harinya saya baca lagi. Cerita no 2 adalah yang paling menyeramkan untuk saya. Berjudul Telephone.




Tersebutlah suami istri yang tinggal di kawasan jauh dari keramaian. Istrinya pencemburu berat. Saat istrinya sakit, suaminya menaruh telepon di kamar untuk memudahkan istri memanggil pelayan atau dirinya yang sedang di luar kamar. Istrinya meninggal, kabel telepon dicabut. Bisa tebak jalan ceritanya? mau spoiler gak?

Alison yang sudah wafat itu menelepon suaminya dan bilang "kamu harus ke sini besok ya!". Hiiiii serem :D

Seru sih ceritanya. Gaya bertutur bule meski ceritanya hantu tetap saja sangat detail ya. Saya sempat berhenti baca karena takut hihihihi tapi nunggu sehari habis itu tamatin bukunya. Dikit halamannya cuma 94 doang.



2. Trinity Anthology



Telat baca. Bukunya sudah terbit dari zaman kapan :D Gak apa-apa ya. Sama dengan buku yang pertama, buku ini juga terdiri dari banyak tulisan pendek. Ceritanya ringan dan lucu-lucu. Semua pengalaman tersebut diambil dari pengalaman penulisnya waktu traveling di negara lain. Empat cerita terbaik menurut saya adalah tulisan berjudul Banyak Dewa di Koh Maui, "Orang Asing Bodoh",  Tipu-tipu Ala India, dan Hemat Pangkal Repot. Membaca buku ini rasanya menyenangkan. Segar dan menghibur. 



3. Mata Hati

Ah masuk ke novel yang kategorinya lebih berat ketimbang dua buku yang saya baca sebelumnya. Ditulis oleh Hella S. Haase. Novel ini mengisahkan tentang cinta segitiga yang baru ketahuan segitiganya setelah salah seorang dari mereka meninggal. Gak spoiler kok karena berita meninggalnya langsung ada di bab I.

Latar cerita tahun 1920-1960an di Batavia, Filipina, Belanda.



Cukup rumit sih ceritanya karena tidak secara gamblang penulis menjelaskan hubungan segitiga tersebut. Jadi kita bacanya jangan putus sih. Harus diselesaikan supaya rasa penasaran akan hubungan suaminya dengan sahabat karib mereka itu benar ada tidak. Tiap bab yang muncul potongan ceritanya.

Hella S. Haase menulis dengan sangat detail sekaliiiiiiiiiiiii. Membaca buku ini bagaikan membaca buku teka-teki. Seperti menyatukan puzzle. 




4. Java Beat in The Big Apple

Kategori bukunya musik, terdiri dari 148 halaman dan saya selesaikan dalam satu hari saja. Lalu kepala saya pusing. Karena bacanya via smartphone :D

Yup, bukunya saya pinjam dari aplikasi perpustakaan Jakarta Ijakarta. Download deh di app store. Pinjamnya gratis dan diberi durasi waktu peminjaman. Ini buku jatah waktunya dua hari. Lewat dua hari, bukunya hilang sendiri dari library aplikasinya.

Anyway, Java Beat merupakan catatan harian selama Java Hip Hop Foundation (JHHF) manggung di Amerika selama satu bulan. Penulisnya frontman JHHF, Marzuki a.k.a Kill The DJ. Mereka diundang ke Amerika oleh pemerintah Amerika dan konser di beberapa negara bagian. Drama sukacita selama perjalanan seru untuk dibaca. Marzuki juga orangnya jujur, tidak takut penilaian orang :D Sangat ekspresif dan naif hihihi :D

Yogyakarta sangat beruntung memiliki musisi seperti Marzuki. Saya suka sih bagaimana dia ngehiphop dengan lirik basa jawa. Bukan cuma bahasa biasa, malah liriknya diambil dari sebuah puisi dan mantra jawa. Kebayang gak puisi dan mantra bahasa jawa dinyanyikan di depan bule-bule Amerika? Ah seru banget! Memang harus diakui, lebih banyak orang yang karyanya jauh lebih berguna dibanding orang-orang yang duduk di pemerintahan.

Mumpung sedang semangat, lanjut buku lainnya. Serbu bukuuuuuuu! 

8 comments on "Membaca Buku: Java Beat in The Big Apple"
  1. Seru semuaa ya teh, aku penasaran sama yang horor dong hihi
    Bikin dong review lengkapnya, baca buku horor lebih menantang sih menurut saya karena kita bermain dengan imajinasi sendiri sekaligus imajinasi banyaknya kemungkinan lain yang tidak ada di buku, eh tapi apa cuma saya doang ya ?
    Hehhee
    Aku juga suka baca buku teeh, tipe ga suka kepotong kalau lagi baca. Kalau baca kepotong suka jadi hoream huhu. Selamat baca lagi teeh

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah baca aja bukunya, Ta. wkwkwk sini saya pinjemin nih ;D

      Delete
  2. Victorian ghost story itu belinya dimana?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah gak tahu euy, browsing aja. Ini beli di lapak buku bekas soalnya.

      Delete
  3. aku udah gak berani lagi baca novel misteri yang serem-serem mbak, suka bayangin yang enggak-enggak, naked traveler aku juga belum baca hihi ketinggalan banget aku

    ReplyDelete
  4. waah kece banget bacaannya, tp novel misteri mmg bikin kita ga mau berhenti sblm halaman terakhir yaa

    ReplyDelete