Jalan-jalan Lihat Pameran Foto Jurnalistik 2016

April 11, 2016
Kalau ada pemeran fotografi kami pasti datang. Apalagi kalau lokasinya di gedung tua nan bersejarah. Paket komplit tuh: foto-foto bagus dan gedung tua. 

Sebuah lembaga bernama Pewarta Foto Indonesia baru saja menggelar pameran foto pemenang lomba foto jurnalistik. Berlangsung tanggal 9 - 17 April 2016, pameran diadakan di sebuah gedung kuno bernama Gedung De vries alias gedung NISP di jalan Asia Afrika. 




Setelah jalan-jalan di Car Free Day Dago, saya naik angkot jurusan St Hall - Dago. Turun di mulut jalan Braga dan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Hari itu hari minggu, sayang sekali restoran Sumber Hidangan tutup kalau hari minggu. Padahal mau disekaliguskan jajan roti Suikerball dan es krim Tutty Fruity. 

Ngomong-ngomong, kembali ke pameran fotografi :D

Ada beberapa foto yang saya amat sukai di pameran ini. Salah satunya foto kategori Environment. Seorang wanita yang menggendong anak kecil di sisi kanan dan bayi orang utan di sisi kiri. Foto menteri kelautan dan perikanan, Susi Pujiastuti, juga sangat menarik! Favorit saya juga di kategori People In The News. 

Beberapa foto malah ada yang buram tapi jadi juara. Saya sampai bertanya pada Indra, memang boleh foto buram diikutkan lomba foto? Ternyata bisa saja selama foto tersebut mengandung cerita.  

Berada di pameran fotografi jurnalistik di gudangnya kamera DSLR di Bandung, saya merasakan dua sisi yang berbeda. Ya kawasan Asia Afrika (juga Braga) memang gudangnya kamera DSLR, banyak muda-mudi yang menenteng kamera mewah di sini. Hunting foto. Motret bangunan bersejarah di tempat paling hits. Tongsis bertebaran di langit Braga. Kamera DSLR seperti kacang goreng, banyak dan tersebar di mana-mana. Eh bukan kacang goreng ding, tapi kayak seblak, gampang dicari, mudah ditemui :D heuheuheu. 





Sementara di dalam gedung pameran, saya melihat fotografi dalam bentuk terbaiknya. Kamera DSLR digunakan untuk bertugas, bukan untuk bergaya, bukan untuk menunjukkan status sosial. Kamera dalam ruang pameran fotografi karya jurnalistik tersebut merupakan dedikasi dalam sebuah karya. Menyusuri satu per satu foto di pameran tersebut saya tidak bisa berhenti berdecak kagum. Lalu saya keluar gedung dan mengamati kamera DSLR di tiap satu meter langkah saya di Asia Afrika, haduh rasanya seperti habis terbang ke langit lalu jatuh ke selokan :D 

Kalau sebanyak itu orang menyukai benda bernama kamera DSLR, lalu kenapa orang yang berada di pameran foto jurnalistik itu tidak sebanyak orang-orang yang memegang kamera di Braga ya :D 

Berada di sebuah pameran fotografi seperti membangunkan saya dari sesuatu yang saya kira sudah saya kuasai. Ternyata saya tidak ada apa-apanya dibanding para peserta yang karyanya terpajang di pameran fotografi tersebut. Dedikasi adalah sebuah istilah yang bukan omong kosong. Saya masih harus banyak belajar :D

Beruntung sekali mempunyai kamera DSLR dan dapat memotret seperti orang-orang yang karyanya terpajang di sini. Lalu saya membuka Instagram dan mendapati jutaan foto-foto ala hipster setengah badan dengan kutipan-kutipan yang kebanyakan gak nyambung dengan fotonya. Kutipan bijak yang indah yang saya rasa ditujukan untuk dirinya sendiri. Lalu dilike ratusan ribuan orang. Saya ingin tertawa. Ah tapi mari kita balik lagi ke credo andalan orang masa kini: "lakukan dengan cinta". Hehehe. Cara orang bersenang-senang dengan kamera memang berbeda-beda sih. Kayaknya itu yang saya harus apresiasi. 

Lihat karya foto para pemenang di Anugerah Pewarta Foto Indonesia













Foto : Nurul Ulu
Taken by my Lenovo A6000+
Post Comment
Post a Comment