Mencari Becak di Bandung

April 15, 2016
Tulisan ini merupakan rangkaian dari kategori Transportasi Umum di Bandung. Tulisan sebelumnya tentang bis kota Bandung dan angkot.

Naik becak di Bandung bukan kebutuhan utama saya. Angkot lebih murah tarifnya. Juga memangkas waktu dengan cepat ketimbang becak yang bertenaga manusia. Ditambah lokasi saya bermukim di kawasan Setiabudhi, seingat saya sih tidak ada becak di sini sedari saya kecil, mungkin karena daerah tempat saya tinggal perbukitan ya. 

Kebutuhan naik becak untuk saya sekarang sekadar jalan-jalan. Dari kursi becak, saya bisa melihat lebih dekat dan berjalan lebih lambat. Ditambah ya hitung-hitung bantu jadi sumber pendapatan tukang becak lah walau hanya sekali dua kali dalam…beberapa bulan.

Iya, beberapa bulan. Atau beberapa tahun yang lalu. OMG, sudah lama saya tidak menumpang becak. Terakhir kalinya adalah tahun 2014, dari Terminal Kebon Kalapa menuju Balaikota pukul enam pagi di hari minggu. 

Iseng saja waktu itu naik becak. Mumpung masih pagi, udara masih sejuk, dan jalanan lengang. Kayaknya enak nih naik becak keliling sebentar. Padahal kalau jalan kaki dekat saja jaraknya. 

Jumlah becak di Bandung gak sebanyak dulu. Biasanya saya ketemu kendaraan roda tiga ini di daerah selatan Bandung: Kebon Kalapa, Tegalega, Pasar Baru, Alun-alun. Banyak daerah yang terlarang untuk becak lewat sih, termasuk kawasan Asia Afrika. Saya harus crosscheck datanya lagi sih, rasanya sih pernah baca di surat kabar tentang pelarangan becak di area tertentu di Bandung. 





Kalau kamu ke daerah Pasar Baru, masih ada becak kok di sana. Dengan laju wisata yang kencang di zaman ini, harusnya sih becak di Bandung kembali ke masa jayanya ya. Naik becak bukan kebutuhan primer, tapi untuk berwisata. Macam di Jogja itu lah, di sana kan becak sudah kayak angkot di Bandung. 

Sekarang malah ada becak bermotor di Bandung. Aduh aneh ya becak tapi mesin :D Becak kan normalnya dikayuh kaki.

Kalau saya perhatikan becak di Bandung dengan becak di kota Cirebon beda bentuknya. Sadel becak di Bandung posisinya tinggi. Entah kenapa. Karena kontur jalanan Bandung yang naik turun kali ya, sadel yang tinggi memungkinkan tukang becaknya menambah tenaga kalau melaju di jalan menanjak. Kalau di Cirebon atau kota Jogja kan jalannya datar. Sadel becaknya rendah. Terus kalau becaknya bermotor ya nanti bentuk becak jadi seragam dong di tiap kota. Yah gak rame deh…

Grafis dan warna becak di tiap kota juga berbeda. Kalau di kota tempat saya SD-SMP dulu, Indramayu, di badan becak banyak gambar lucu-lucu. Ya kayak gambar di truk-truk yang lewat di jalur Pantura itu lah :D Norak tapi lucu dan berkarakter. Warnanya juga mencolok, warna-warni! Sementara warna becak di Bandung lebih kalem.

Unik ya bagaimana budaya juga membentuk rupa sebuah becak. 

Makanya sayang kalau becak harus punah. Apalagi jadi becak bermotor. Mesin memang mengubah banyak hal, menjadi lebih baik tapi juga menjadi lebih tidak indah. Memudahkan tapi membuat hambar. 

Kapan-kapan kalau di Bandung cobain naik becaknya ya. Datang saja ke kawasan Pasar Baru, di depan Jalan Pecinan Lama atau Jalan Tamim ada beberapa becak yang mangkal. Lihat Bandung dari kursi becak, minta Tukang Becaknya untuk tidak melawan arus jalan dan tidak buru-buru. Woles, Mang! :D

Ongkos bisa ditawar, tapi sedikit bermurah hati gak bikin kamu jadi miskin juga sih. Ya diatur-atur negonya lah biar tukang becaknya bisa pulang ke rumah bawa telur dan beras untuk anak dan istrinya. 

Becak di Bandung hanya ada dari pagi hingga sore hari. Malam hari mah setahu saya gak ada becak. So selamat jalan-jalan dan selamat menikmati becak di Bandung! Enjoy the ride! Foto dan tag saya di Instagram kalau kamu naik becak di Bandung ya, akun saya @bandungdiary :D 











Foto : Indra Yudha Andriawan
Teks : Nurul Ulu
10 comments on "Mencari Becak di Bandung"
  1. waaah.. aku udah berapa tahun ya nggak naik becak. udah lama banget kayaknya. eh kalau di Medan becaknya bentuknya beda, sepedanya di samping, nggak di belakang gitu. terus becak sepeda juga jarang, cuma buat rute-rute pendek saja. nah kalau becak bermotor mah dari dulu udah banyak di Medan, emmang khasnya Medan juga katanya becak motor ini alias betor :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya Medan justru terkenal dengan becak motornya hehehe. Saya mau cobain ih kalo ke Medan.

      Delete
  2. Dulu pas aku tinggal di Ambon, becak banyaak banget. Senang sekali. Nah pas di Sidoarjo. becak langka. Pas di Jakarta malah belum pernah naik becak sama sekali. Padahal seru :)

    ReplyDelete
  3. Di jkt becak hanya ada di perkampungan kyj di pasar. Pdahal enak naek becak bnyak angin, tapi suka kasian sama abang becaknya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, sama euy. Gak tega, tapi seneng juga naik becak :D Jadi ongkosnya suka saya lebihin juga sih (selama batasnya masih wajar).

      Delete
  4. sudah lama gak naik beca, oh di bandung sdh ada becak yang pakai motor toh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Tira di Cirebon kan ya? Masih banyak becak di Cirebon mah ya?

      Delete
  5. aku kalau wisata enakan naik becak kalau pindah-pindah lokasi, biar kayak habibie ainun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tsaaahhh :D 'Habibie'nya udah akan tapinya? :D

      Delete