Image Slider

Ridwan Kamil: The Blood That Moves The Body

January 25, 2016
Bicara Bandung hari ini artinya membicarakan Ridwan Kamil. Terhubung dengan internet maupun tidak, semua orang di Bandung pasti tahu siapa dia.

Photo Courtesy: Instagram Ridwan Kamil

14 tahun menjadi warga ibukota Jawa Barat, saya baru merasakan perubahan padanya, pada kota Bandung, setelah Ridwan Kamil jadi walikotanya.  

Praktis sejak tahun 2006 saya memang suka traveling keliling kota sendiri lho. Jalan kaki, bersepeda, atau menggunakan kendaraan bermesin.

Saya bergabung dengan banyak komunitas jalan-jalan di Bandung. You name it: Bandung Heritage, Bandung Trails, Komunitas Aleut, Komunitas Pecinta Bandung, dan masih banyak lagi. Hahahaha. Buset banyak bener ya, baru sadar setelah saya tulis di sini. The power of youth, Saudara-saudari :D 

Saya suka sekali dengan bangunan tua, saya cinta sejarah meski tidak mendalami ilmunya. Bagaimana caranya agar saya tetap terhubung dengan bangunan-bangunan tempo dulu yang saya sukai: jalan-jalan lah, mendatangi mereka satu-satu.

Karena sering jalan-jalan di Bandung, saya sering berinteraksi dengan kotanya. Jadi kenal sudut-sudutnya.

Saya sering menggerutu tentang trotoar yang rusak, karena saya memang beneran berjalan kaki di trotoarnya. Saya juga bete waktu duduk di taman kota, habisnya jelek dan kumuh sih. Saya juga kesal melihat melihat warga pada buang sampah sembarangan dan kerjanya cuma mojok berdua dempet-dempetan di antara kembang dan pohon di taman.

Sebelum era Ridwan Kamil Bandung ini kota yang cantik cuacanya doang, tapi tidak bentuk fisiknya. Seperti mati enggan hidup pun tak mau. Orang datang ke Bandung karena Gunung Tangkubanparahu dan Kawah Putih, nasi tutug oncom dan batagornya. Paling mentok ya belanja di Factory Outlet dan Pasar Baru. Warga Bandung lebih senang berinteraksi di dalam mall, di tempat belanja, di ruang makan, dan ruang-ruang pribadi lainnya.

Coba, kapan terakhir kali kamu merencanakan aktivitas kayak gini “jalan-jalan yuk, ke taman Balaikota, jam 9 pagi.”

Sejak Ridwan Kamil muncul, perubahan wajah kota mulai terasa. Sebagian warga menyukainya, malah mengelu-elukannya. Sebagian orang mengganggapnya hanya menghias kota saja, walikota Bandung itu dinilai tidak merenovasi Bandung dari dasarnya.

Saya menempatkan diri di tengah-tengah mereka saja. Saya senang dengan perubahan kota Bandung, dan saya tidak mendewakan Ridwan Kamil. Tapi tahu bahwa pemimpin kamu bekerja dan perubahannya terlihat nyata, apa tidak senang? Saya sih senang.  

Kerjanya belum sempurna sih, jauh dari sempurna, tapi saya sudah senang sih. Bukan karena saya warga berkacamata kuda dan menutup mata dengan isu-isu lainnya di Bandung, tapi saya mencoba untuk menikmati wajah kota yang baru dan menuntut kemajuan terus-menerus. Datang ke taman, bersenang-senang. Pulang ke rumah, kembali bekerja mencari uang, dan tidak lupa membayar zakat. 

Bandung, The Melting Pot


Memperbaiki Bandung bukan perkara yang gampang. Kota ini dihuni dengan perbedaan. Kamu gak bisa bilang “Oh Bandung itu isinya orang Sunda semua, kebanyakan warganya kerja jadi guru sekolah”.

Di Bandung tuh tumplek tumbleg aneka macam profesi. Sama seperti nasib kota besar lainnya di Indonesia: melting pot.

Profesi berbeda-beda dan aneh-aneh. Dari PNS sampai tukang update status di twitter, aktivis lingkungan sampai aktivis kafe dan restoran, musisi jalanan sampai musisi indie.

Orang dari berbagai macam suku bangsa ada di sini. Dari Batak sampai Bugis. Lha wong universitas negeri saja ada tiga jumlahnya di Bandung. Tiap tahun Kota Kembang ini panen pendatang. Pantas saja macet. Sudah lah kotanya jadi pelarian warga Jakarta di kala musim libur, didatangi pula ribuan pemburu gelar akademis. Melebur semua di kota yang dingin ini.

Satu hal yang pasti sih, saya setuju kalau Kota Bandung disebut kota kreatif. Ide-ide nyeleneh tapi keren munculnya dari kota ini. Meski seiring perkembangan teknologi kota-kota lain mulai unjuk gigi, tapi khusus untuk industri popular macam musik dan kuliner Bandung masih merajai.

Perbedaan itu yang dihadapi Ridwan Kamil. The melting pot. Banyak perbedaan berupa profesi, kalangan, suku bangsa, sampai harapan. Menarik sekali mengetahui bagaimana dia bisa menyatukan perbedaan ini secara umum. Kalau secara khusus mah susah atuh ya saya harus bahas satu-satu, guru sekolah punya harapan yang berbeda dengan pelaku bisnis, seniman harapannya juga jelas berbeda dengan pegawai kantoran. Tapi siapa yang gak butuh taman kota? Semua orang butuh piknik. Siapa yang mau kotanya kena banjir dadakan? Makanya dibuat gorong-gorong. 

Perubahan Wajah Kota Bandung oleh Si Wagiman


Gak terlalu signifikan, tapi kita bisa lihat perubahannya. Banyak taman kota muncul. Ridwan Kamil dijuluki Walikota Gila Taman - Wagiman, oleh para kritikus “Ngapain taman dicantik-cantikin, mending ngurusin biaya sekolah anak tidak mampu,” begitu katanya.

Tiap orang memiliki pembawaan berbeda. Alhasil menyikapi kebijakan Ridwan Kamil juga beda-beda. Ada yang senang, kayak saya. Ada yang tetap mengkritisi. Bukan hal yang buruk sih menurut saya, paling tidak Ridwan Kamil tahu bahwa dia akan selalu diawasi kinerjanya.

Orang Bandung tetap vokal dan kritis meski pemimpinnya sudah jauh lebih baik dari era sebelumnya. 

Ngomongin Ridwan Kamil, saya selalu ingetnya taman kota. Sepertinya julukan Wagiman itu memang cocok untuknya. Hehehe :D Habisnya dia memang getol memperbaiki taman-taman kota Bandung sih.

Foto : Dokumen Pribadi

Foto : Dokumen Pribadi


Mungkin ini yang namanya reclaim your public space. Orang dulu gak tahu bahwa taman-taman itu bisa digunakan untuk rapat, janjian, swafoto, nongkrong, tempat makan siang, dan piknik dengan teman-teman. Sekarang sih beuh taman kota rame gila! Tua muda, nenek-nenek dan abg Instagram, ada semua di taman.

Taman Kota di Bandung macam-macam bentuknya. Gak mesti yang ada rumputnya sih. Ada Taman Surapati alias Taman Jomblo yang bentuknya cuma balok-balok tinggi dan pendek yang dipancang ke tanah. Taman Cempaka popular dengan Taman Fotografi. Taman Lansia temanya ya untuk para lansia, banyak pepohonan tinggi, sejuk dan adem. Banyak banget deh, ada temanya gitu masing-masing taman. Tapi fungsinya sama: ruang publik.

Perbaikan Fasilitas Umum (yang kebanyakan masih gagal sih)


Ridwan Kamil memperbaiki beberapa fasilitas umum. Ada pemasangan tempat sampah dan halte. Keduanya gagal. Tempat sampah dirusak orang dan cuaca, halte tidak diikuti sistem transportasi yang baik.

Tapi dari langkah-langkah yang dilakukannya, kamu tahu dia sedang berusaha. Tapi gagal setelah prakteknya. Saya harap dia gak berhenti dan mau memperbaikinya lagi.

Kadangkala yang harus diperbaiki bukan fasilitas kotanya sih, tapi kelakuan warganya. Banyak juga yang masih melakukan vandalisme dan merasa tidak memiliki. Akhirnya cuek saja, mau rusak kek, mau jomplang kek, masa bodo. Nah yang gini nih yang harus dipindahkan ke Planet Merkurius, biar kepanasan dilalap api matahari hahaha duh maaf ya becanda doang ini.

Foto : Dokumen Pribadi


Ada lagi yang Ridwan Kamil bongkar. Gorong-gorong dan trotoar. Trotoar bagus ala Ridwan Kamil baru bisa kita nikmati di pusat kota. Memang trotoarnya nyaman untuk berjalan kaki. Tidak licin saat hujan. Sementara trotoar sebelumnya tuh licin banget kalau hujan. Saya pengennya trotoar ini dipasang di seantero Bandung. Gorong-gorong juga, biar Bandung gak banjir dadakan melulu kalau diguyur hujan. Tapi saya tahu itu bukan pekerjaan sekali waktu. Jadi saya sabar dulu, nunggu dia beresin satu-satu.

Ridwan Kamil juga membuat program GPS, Gerakan Pungut Sampah. Tanggung jawab membereskan masalah sampah ini akhirnya memang tanggung jawab bersama. Bukan pemerintah saja, bukan kerjaan organisasi lingkungan saja. Tapi kamu juga, kita juga, memang harus mulai dari sendiri sih.

Kayaknya banyak yang sudah diinisiasi bapak berkacamata ini. Program Sejuta Biopori, memudahkan izin usaha UKM, birokrasi peraturan dasar dipangkas, membuat Car Free Night di beberapa titik, pembatasan wilayah untuk murid yang sekolahnya di sekolah negeri, dan masih banyak lagi. Banyak sih, kayaknya dia harus bikin website isinya laporan pekerjaan tiap hari deh. Karena gak semuanya dia sebutin di media sosial dan hal tersebut menyulut kebencian pada pengkritiknya. Yeah mungkin sih... kadangkala kan kita terlalu menilai-nilai untuk hal yang gak kita ketahui.


Figur yang Terjangkau (karena jomblo dan mantan)


Well okay. Ridwan Kamil bisa jadi sulit ditemui secara langsung. Mungkin kamu ditolak berkali-kali atau disuruh pulang lagi waktu kamu ke Balaikota, kantornya walikota Bandung.

Tapi bapak dua orang anak ini ada di media sosial. Facebook, Instagram, dan Twitter dia, semuanya aktif. Keseharian walikota Bandung bisa kita lihat di sana. Memantau kebijakan Ridwan Kamil bisa kita amati di ruang publik internet tersebut. Walau jarang, tapi dia suka jawab mention tuh. Lumayan ya nambah followers gara-gara dibales Ridwan Kamil, langsung ganti akunnya jadi online shop wkwkwkwk :D

Membaca akun-akunnya di media sosial, paling enggak saya tahu sih dia manusia juga. Dia bernapas dan membayar tagihan. Dia pusing membagi waktu antara keluarga dan pekerjaan. Dia sempat screenshoot foto. Dia juga masih suka ngobrolin mantan dan jomblo. Ups! Ridwan Kamil ini kayaknya kalau kita endorse obat peninggi herbal juga bakal laku tuh obatnya. Semua yang dia unggah ke media sosial selalu mendapat ribuan like, share, dikomen banyak orang. Menjadi buzzer adalah profesi dia di masa depan yang amat menjanjikan. Hahaha :D

Photo Courtesy : Instagram Ridwan Kamil

Pada awalnya lucu sih dia ngomongin mantan dan jomblo. Tapi lama-lama saya risih juga. Bete gitu, ini walikota Bandung lama-lama norak. Ini apa sih, buka Instagram isinya jomblo lagi, mantan lagi. Sesekali saya pengen lihat isi Instagram tuh “remaja di Bandung berumur 20 tahun menemukan obat kanker”. Eugh…ketinggian sih tapi… membahas jomblo dan mantan again and again it makes you nut. 

Tapi saya berpikir ulang tentang jomblo dan mantan. Tentang kebodoran Ridwan Kamil di media sosial.

Jangan-jangan status dan caption foto dia yang isinya jomblo dan mantan melulu itu bukan dimaksudkan untuk saya. Dia sedang pencitraan saja, menjangkau kalangan yang lain. Tapi bukan saya. Makanya cara komunikasi dia begitu. Semoga dia tetap serius memperbaiki Bandung dibalik gelak tawa caption foto-fotonya di Instagram.

Untuk hal itu saya merasa saya berbeda darinya, dari Ridwan Kamil. Tapi ya marilah berpikir bahwa ada komunikasi massa yang dia lakukan untuk menjangkau kalangan yang lain. Dia berusaha turun ke bumi dan membuat warganya tertawa. Bukan hal yang salah sih, meski saya gak terlalu suka.


Berkarya untuk Perubahan dalam Perbedaan


Kenapa banyak orang pengen jadi pemimpin ya, melihat sepak terjang Ridwan Kamil kok rasanya sih berat jadi pemimpin. Ada pesan titipan rakyat, ada tanggung jawab mewakili kebutuhan kami di sana. Beban banget! Benerin taman, dianggap gak beresin biaya kesehatan di Bandung. Benerin trotoar dianggap tak acuh pada perbaikan kualitas pendidikan. Memperbaiki perekonomian UKM, dianggap cuek dengan taman kota. Membantu menurunkan angka kemiskinan, diejek pencitraan. Buset dah.

Pusing gak sih jadi pemimpin. Tiap hari harus kompromi. Semoga sih gak kompromi demi keuntungan sendiri ya, saya rasa Ridwan Kamil bukan tipikal pemimpin kayak gitu. 

Saya senang bermunculan pemimpin seperti Ridwan Kamil. Ada standar kualitas pemimpin yang berbeda. Sekarang kita punya pembanding kebaikan untuk standar pemimpin.

Saya juga menyukai Ridwan Kamil karena dia tidak diam di tempat, ia tetap berkarya. Memperbaiki Bandung ke arah yang dia mau. Apa saya suka arahnya, euuum gak juga sih. Saya pengennya Bandung tetap merendah, kembali ke alam. Tapi Ridwan Kamil sepertinya mau membawa Bandung menjadi kota yang lebih besar, lebih canggih.

Saya harap dia bisa membuat perubahan dengan teknologi canggih namun tetap mendasar. Alam dan teknologi, saya rasa bisa tetap berjalan berdampingan. Jepang contohnya.

Photo Courtesy: Instagram Ridwan Kamil


Apapun perubahan yang ia lakukan, saya mau mengutip judul lagu dari band kesukaan saya, Aha: the blood that moves the body. Senang atau tidak senang, ia menggerakan darah di tubuh kita, darah pengen kritik, darah karena bangga, darah karena cinta, darah karena benci. Karena memang berkarya untuk perubahan dalam perbedaan pasti menuai banyak kebencian sekaligus rasa cinta.

Sejak Ridwan Kamil jadi walikota, tiap tahun Bandung selalu ada kemajuan. Ada karya dari walikotanya, meski digempur banyak perbedaan, Ridwan Kamil tetap maju ke depan melakukan perubahan. Menarik sekali melihat perkembangan kota Bandung ini dua – tiga tahun mendatang.

Bagaimana, setuju gak kalau saya menyebut Ridwan Kamil sebagai the blood that moves the body? :D


*********************



Dan tulisan ini berhasil jadi pemenang ke dua. Hamdalah! Terima kasih Kumpulan Emak-emak Blogger dan XL! Juga terima kasih, Ridwan Kamil :D hihihihi. 




Roti Selai, A Must Visit Place to Eat in Dago

January 24, 2016
Berbulan-bulan menunda, akhirnya ke Roti Selai juga. Agak istimewa karena kami baru saja mendonorkan darah di PMI kota Bandung. Tidak bermaksud riya, akan tetapi di surat kabar yang kami baca, PMI sedang kekurangan stok darah. Kalau kamu membaca ini, segeralah pergi ke kantor PMI terdekat dan mendonorkan darahmu di sana. 

Kembali ke Roti Selai. Tempat yang satu ini saya ketahui dari Instagram. Saya rasa Instagram mulai jadi search engine khusus eat, travel and shop. Begitu banyak yang bisa kita ketahui hanya dengan membuka feednya. 

Sebelumnya saya sudah tahu bahwa Roti Selai adalah tempat yang mungil. Jadi saya memilih waktu berkunjung yang agak absurd, sebelum jam 11 siang. Harapan saya semoga tempatnya sedang tidak penuh pengunjung, karena saya tahu betapa hitsnya tempat ini di kalangan muda-mudi Instagram. 

Benar saja. Kami (Ulu, Indra, dan Nabil) adalah satu-satunya pengunjung di sana. Karena itu Indra dengan leluasa memotret Roti Selai, luar dan dalam. Kami benar-benar bersenang-senang! Berasa sedang di teras rumah sendiri hahaha :D

Giveaway #2: Black Tea from Gambung - Ciwidey

January 22, 2016
Dari perjalanan saya di Gambung, saya membeli oleh-oleh berupa teh hitam curah. Curah itu maksudnya teh yang harus diseduh, teh yang tidak mengalami proses penghalusan. Teh ini nikmat lho diminum tanpa gula atau setelah dicampur dengan gula. 

Dalam bepergian, saya usahakan selalu menyisihkan dana untuk membeli barang produksi setempat. Bukan benda yang mahal lalu saya bagi-bagikan untuk keluarga. Seringnya untuk konsumsi pribadi di rumah. Saya tidak pernah menawar saat berbelanja oleh-oleh. Berkunjung ke Gambung, saya melakukan hal yang sama. Saya membeli beberapa pak teh curah dan celup produksi Perkebunan Gambung. 

Teh dari Gambung ini yang akan saya bagi untuk teman-teman. 

Saya menyiapkan 2 pak teh curah Black Tea, untuk 2 pemenang. Kuisnya tidak berlangsung di blog ini kok, melainkan di Instagram saya @bandungdiary. Silakan follow akun saya dan berikan komen pada foto yang memajang Black Tea Teh Gambung, dengan menyebutkan 3 kata yang mengingatkanmu tentang Bandung. 

Periode giveaway ini 22 - 25 Januari 2016. Pemenangnya akan saya umumkan pada keesokan harinya, 26 Januari 2016. 




Produk Teh Gambung, Cara Menuju Perkebunan Teh di Gambung dan Biayanya

January 20, 2016
Informasi berikut ini saya peroleh dari acara jalan-jalan bersama Balad Junghun dan Tjimahi Heritage (Gamboeng Vooruit). Kalian bisa pergi sendiri ke Gambung, tapi lebih seru kalau barengan dengan teman-teman dari Gamboeng Vooruit sih.


Petunjuk Arah ke Perkebunan Teh Gambung

 Ini petunjuk arah ke perkebunan teh di Gambung, Ciwidey, ya.


R.E Kerkhoven, Juragan Perkebunan Teh di Gambung yang Penyendiri

January 19, 2016
Hari minggu yang tidak biasa. Mengarungi sekitar 40 km dari rumah ke arah Ciwidey pada pagi hari bukan kegiatan sehari-hari saya. 

Namun hari itu berbeda (17/01/2016), karena saya, Indra, dan Nabil hendak mengikuti sebuah kegiatan berjudul "Jelajah, Napak Tilas dan Diskusi Roman Sang Juragan Teh" yang diselenggarakan komunitas bernama Balad Junghuhn dan Tjimahi Heritage




Pusat Penelitian Teh dan Kina (PPTK) di Gambung merupakan tujuan kami. Perkebunan teh Gambung, begitu menyederhanakan nama tempat tersebut. Atau Gambung, menyebut satu kata itu saja cukup sudah. 

Gambung terdengar hening. Ia berada pada sisi punggung tujuan wisata teramai di Bandung, yaitu Ciwidey. Nah kalo Ciwidey pasti familiar ya.

Gambung yang saya tahu adalah perkebunan teh di Bandung Selatan. Udaranya sejuk, pemandangan alamnya indah, dan lokasinya di kaki Gunung Tilu. 

Tapi apa, bagaimana, siapa orang yang berada di balik munculnya perkebunan teh di Gambung, saya tidak tahu.


Preanger Planters di Bandung


Rudolf Eduard Kerkhoven adalah sosok dibalik perkebunan teh dan kina di Gambung. 

Bicara perkebunan teh di Bandung, sejarahnya panjang.

Ada beberapa Preanger Planters yang namanya tersohor. Preanger planters = juragan kebon teh, pemilik perkebunan teh dan kopi di daerah Priangan (Jawa Barat, Sunda).

Kita mengenal satu nama besar terkait perkebunan teh dan kopi di Priangan, namanya sangat populer: K.A.R Boccsha.

Iya betul, nama peneropongan bintang di Lembang sana, Peneropongan Bosscha, diambil dari namanya. Nama jalannya juga ada di Bandung, Jalan Bosscha. Nama lengkapnya juga terpatri di Gedung Fisika ITB, sebagai salah satu penyumbang dana terbesar berdirinya kampus pertama di Bandung. 

Bosscha adalah juragan teh yang perkebunannya ada di Pangalengan. Nama perkebunannya Malabar. Luasnya berhektar-hektar.

Meraup keuntungan banyak dari kebun teh dan kopinya, Bosscha yang latar pendidikannya astronomi ini sering menyumbang uangnya ke segala macam sektor di Bandung, paling banyak ke pendidikan sih, bisa jadi karena dia suka sekali dengan ilmu pengetahuan. Berbekal jaringan sesama pengusaha perkebunan teh dan kopi yang kuat, senang bergaul, statusnya yang filantropis, konon orangnya baik hati, Bosscha dikenal dan disukai banyak orang pribumi dan Belanda. 

Bosscha: jasanya tercatat dan tersebar luas, jejaknya terekam dan diingat orang.

Perkebunan Malabar miliknya  Terpisah satu bukit satu gunung dengan Gambung.

Nah juragan yang satu ini nih, yang di Gambung, kebalikannya Bosscha. Menurut saya sih keduanya bagus-bagus aja walo Bosscha yang kesannya seneng tampil. Ya gak apa-apa. Manusia emang beda-beda wataknya. 

Kerkoven ini penyendiri, lebih senang membaca buku ketimbang nongkrong di restoran khusus Belanda di Braga, hidupnya sederhana. Duitnya banyak juga kok, sama kayak Bosscha. Tapi Kerkhoven lebih senang diam di rumah, ngecek kebon tehnya, membaca buku, berburu, atau bercengkrama dengan babunya. Makanya kita gak banyak mendapat catatan tentang Kerkhoven. 

Kerkhoven adalah ansos kalo kata anak zaman sekarang. Anti sosial.

Sebenarnya mereka masih saudara. Kerkhoven itu pamannya Bosscha. Dan Bosscha ini jabatannya administratur perkebunan teh Malabar. Cuma ya gitu sih lama-lama Bosscha mengambil alih tampuk kepemilikan kebun teh Malabar dari Kerkhoven.

Konflik intrik drama yang diceritakan pemandunya dalam trip ini mah begitu. 

Tur ke Gambung ini dilakukan dalam rangka mengenalkan R.E Kerkhoven sebagai salah satu juragan (bos, pemilik) perkebunan teh di Priangan.

Sekitar sebulan lalu terbit buku yang berjudul "Sang Juragan Teh". Buku ini menceritakan tentang kehidupan Kerkhoven. Semacam buku biografi namun tidak sepenuhnya kisah nyata karena di dalamnya bertabur fiksi.

Terbit pertama kali dalam bahasa Belanda tahun 1992 berjudul "Heren Van de Thee", penulis mendapat ilham membuat buku tersebut dari surat-surat dan dokumen Kerkhoven dan keluarganya yang ia baca. Hella S Haasse (Hela Has, gitu bacanya) merangkai jalinan fakta dari surat tersebut dan memilinnya dengan fiksi yang ia ciptakan sendiri. Lahirlah buku Sang Juragan Teh.

(Baca juga : Gambung dan Kisah Masa Lalu Sang Juragan Teh)


Sebelum terbit dalam bahasa indonesia, buku ini diterjemahkan dalam bahasa inggris. Tapi tenang saja, Gramedia mengutus langsung penerjemahnya untuk menyalin bukunya dari sumbernya, edisi Bahasa Belanda. 

"Kalau buku dalam edisi bahasa inggris banyak detail yang dihilangkan. Kalau versi yang bahasa indonesia ini saya tetap setia mengacu pada teks edisi bahasa belandanya," ujar Dinniarti Pandia dan Meggy P Soedjatmiko, penerjemah sekaligus editor buku Sang Juragan Teh, pada diskusi buku Sang Juragan Teh di Gambung. Berdua mereka ikutan juga tur ke Gambung, bersama dengan saya dan 30 orang lainnya.


Tur Sang Juragan Teh di Gambung


Ngomong-ngomong, acara tur ini singkat saja. Dipandu Maman Sulaeman dari divisi agrowisata PPTK Gambung, kami diajak jalan-jalan menyisir bagian perkebunan teh di tepinya lalu masuk ke areal hutan, melihat makan R.E Kerkhoven berserta Jenny, istrinya. Ada dua makam lainnya namun tidak terpahat di nisan namanya siapa. "Kemungkinan guru pianonya," kata Jus, pegiat komunitas Balad Junghun. 

Di bawah Pohon Rasamala, jasad perintis perkebunan teh di Gambung itu bersemayam. Pembaringan yang sepi.

Hutan yang kami masuki tidak lebat-lebat amat. Pohonnya tinggi-tinggi dan berjarak satu sama lain. Sinar matahari tidak leluasa menerobos berkas-berkas daunnya yang rapat. Sejuk dan lembab. Terasa ada aura lain di situ yang entah kenapa menyenangkan sekaligus menyedihkan. Yang terakhir ini mungkin cuma perasaan saya sih. 

Saat kami semua berjalan ke arah kantor Pusat Penelitian Perkebunan Teh dan Kina, kami meninggalkan hutan dan segala keheningannya di sana. Saya membalikkan pandangan sebentar ke arah hutan, memberi salam pada Kerkhoven atau entah siapa di sana dan berucap pelan "sampai ketemu lagi, semoga kalian senang ya kami kunjungi".

Sayang nih tempat-tempat peninggalan Kerkhoven udah pada gak ada. Jadi gak bisa melihat bentuk fisik Gambung tempo dulu kecuali pemandangan alamnya.


Kerkhoven dan Istrinya, Kerabat Daendels


Kerkhoven dan Jenny memiliki lima anak. Meski saat itu statusnya lebih tinggi dari pribumi, mereka tidak menindas para pegawainya. Kita banyak membaca tentang kekejaman orang Belanda. Penindasan yang mereka lakukan pada para pegawainya, para pribumi, sangatlah keji.

Nah yang satu ini berbeda. Kerkhoven dengan pribumi berdiri sama tinggi, duduk sama rendah. Di salah satu foto yang saya lihat, Bertha - anak perempuan Kerkhoven- berfoto dengan pembantunya Babu Engko dengan pose yang jarang kita jumpai pada masanya. Orang Belanda duduk bersama berdampingan dengan Pribumi dengan posisi merangkul. 

Tidak heran pribumi yang bekerja di perkebunan teh Gambung amat kehilangan saat Kerkhoven wafat. Kelima anaknya mudik ke Belanda. Usaha perkebunan diambil alih pemerintah. 

Keturunan Kerkhoven pernah menyambangi Gambung, merekam jejak leluhurnya. "Saya gak tahu kalau dia masih kerabatnya Kerkhoven. Pas saya antar dia ke makam Kerkhoven, mata orangnya berkaca-kaca seperti mau menangis. Suasananya hening sekali waktu itu, saya gak berani nanya orangnya," cerita Pak Maman.  Ia melanjutkan "barulah setelah dari makam, dia ngaku kalau dia masih keturunan Kerkhoven."

Mendengar cerita Pak Maman, saya iri dengan keturunan Kerkhoven. Saya berharap bisa tahu sejarah Janggawareng saya lebih dari sekadar nama. (Janggawareng =  kakeknya buyut). 

Ya bayangin aja kalau keturunan Kerkhoven ditanya: leluhur kamu siapa, kerjanya apa, tinggalnya di mana? Mereka tahu jawabannya.

Saya bahkan gak tahu sejarah hidupnya kakek saya. 

Membaca Bergiliran di Diskusi Buku "Sang Juragan Teh"


Jadi pelajaran sih buat saya, banyak-banyaklah mencatat! Dan bertanya.

Kelak ketika saya wafat, keturunan saya bisa tahu sejarah leluhurnya yang mana adalah saya. Duh tapi saya gak bisa bayangin sih zaman 30 tahun ke depan kayak gimana. Saya harap sih tetap banyak hutan dan danau, masih banyak gunung dan tonggeret, air bersih makin mudah didapatkan gratis, dan pasar tradisional makin populer.

Semoga Blogspot tetap ada dan masih laku supaya blog saya ini juga masih bisa diakes sampai kira-kira ratusan dan ribuan tahun ke depan dan dibaca cicit dan anak cucu cicit saya :D

Kerkhoven juga mengajarkan saya nilai sebuah kesederhanaan. Dia gak terpukau harta benda, Kerkhoven lebih senang menyendiri di hutan mengurus perkebunan, menjadi tua di antara pepohonan dan pegunungan. 

Kembali ke Tur Sang Juragan Teh di Gambung, di akhir acara ada diskusi buku. Andrenaline Katarsis, pemerhati sejarah kolonial, yang menjadi narasumber diskusi meminta peserta untuk membacakan paragraf di halaman terakhir dari buku Sang Juragan Teh. Wah saya suka sekali dengan sesi yang terakhir ini. Membaca bersama.

Pesertanya ada lebih dari 30 orang, satu orang membaca satu paragraf. 

Untuk acara yang sumbernya dari sebuah buku, membaca buku bersama menjadi momen yang romantis. Apa saya aja yang lebay nih :D 

Pada acara diskusi, sebuah album foto keluarga Kerkhoven dilihat oleh kami secara bergiliran. Saya melihat foto kelima anak Kerkhoven, kegiatan mereka sehari-hari, foto rumah kayunya, pose sebelum berburu, aktivitas berkebun teh, dan masih banyak lagi. Tiga foto yang saya suka adalah foto Bertha merangkul Babu Engko, foto rumah Kerkhoven, dan foto paling terakhir di albumnya yang sangat menyentuh: Kerkhoven tua sedang duduk sendirian, sepertinya di ruang makan, menulis entah apa, mungkin surat untuk dikirim ke Belanda, buku harian, atau bisa jadi bon penjualan. 

Kembali ke rumah, saya membawa tiga pak Teh Hitam produksi Perkebunan Teh Gambung. Iya dong, mesti jajanlah kalo ikutan acara kayak gitu. Itung-itung beli suvenir.

Kabut di langit Gambung menggantung saat kami beranjak pulang. Puncak Gunung Tilu sudah tak terlihat. Hari minggu yang menyenangkan. Nabil bisa lari-lari bebas, saya dan Indra jalan-jalan, bertemu teman lama dan baru, bonusnya jadi tahu sejarah yang ada di perkebunan teh Gambung.

Muncul keinginan di hati saya sih, pengen hidup kayak Kerkhoven. Punya kebon, punya rumah kayu di kaki gunung. Hidup di perkebunan tepi hutan memang tidak mudah, tapi hidup terlalu ramai di kota pun terasa menyesakkan. Tiap hari selalu ada kebutuhan materi yang harus dipenuhi. Kalau tinggal jauh dari sumber materi dunia, rasanya jauh lebih tenang.

Tinggal di desa pegunungan. Tidak ada smartphone, tidak ada tv kabel. Hanya ada cangkul dan senapan, gerobak dan sepatu boot. Tanam sayuran dan pelihara ikan. Kalau lapar tinggal metik dan mancing. Lebih banyak mendengar suara daun yang berguguran, lebih sering menyimak suara burung yang berbicara. Duh...damai banget ya...

Kalau Kerkhoven sekarang masih hidup, mungkin dia sedang duduk di teras rumahnya sambil mendengar alunan musik Blur. "Modern life is rubbish", begitu nyanyian Blur didengungkan. Kerkhoven mengiyakan. 






Makam R.U Kerkhoven
Melihat sumber mata air yang memenuhi kebutuhan air di Gambung, airnya dari Gunung Tilu




Rumah kayu Kerkhoven di Gambung. Rumahnya sekarang udah gak ada
Mau motret album fotonya, tapi salah fokus :D
Teh Putih, produk teh premium perkebunan teh Gambung










Foto : Indra Yudha Andriawan
Teks : Nurul Ulu Wachdiyyah

Bandung Historical Study Games, Apa aja Lombanya?

January 18, 2016
Baca dulu tulisan sebelumnya, Pengalaman Mengikuti Lomba Bandung Historical Study Games 2015

Lomba dibagi dalam 3 etape. Dari museum KAA kami berjalan kaki ke tempat-tempat bersejarah di Bandung. Monumen Penjara Banceuy, Gedung Indonesia Menggugat, Balaikota, terus jalan kaki menanjak ke arah Jalan Dago, tembus ke Gedung Sate. Acara jalan kaki santai sambil lomba ini berakhir di Gedung Dwiwarna di Jalan Supratman. 

Sepanjang lomba, kami diminta selfie di tempat-tempat bersejarah. Unggah fotonya ke twitter dan mention Public Educator Corps (PEC). Kasih caption tentang fotonya sedikit, serius boleh, seru-seruan aja juga boleh kayaknya. 

Foto-foto selfie kami ada di twitter saya. Cek di @bandungdiary. 

Sketching, isi kolom, tulis jawaban

Pengalaman Mengikuti Lomba Bandung Historical Study Games 2015

January 16, 2016
Itu lho, pernah nonton kan Amazing Race? nah ini sama, lomba yang saya ikuti konsepnya serupa dengan acara yang ada di televisi itu.

Cuma beda tema dan eksekusinya. Tema lomba pada Bandung Historical Study Games (berikutnya saya singkat BHSG) adalah sejarah kota Bandung. Namanya juga lomba yang dibuat dalam rangkaian peringatan Konferensi Asia Afrika. Jadi temanya ya nyerepet sejarah Asia Afrika dan Bandung.

Saya harusnya nulis ini di bulan April atau Mei 2015. Baru sekarang saya post di sini. Aheuhheuheuheu...

Well okey, mulai dari mana?

Playlist Volume 5: My House in Budapest

January 15, 2016
Sudah lama tidak berbagi playlist di sini! Ini playlist volume 5 ya di blog Bandung Diary. Volume sebelumnya bisa dilihat pada link di bawah. 

Playlist ini saya pilih random di soundcloud. Genrenya Folk. Gampang cari musik yang kamu suka di Soundcloud. Pilih aja genrenya. Folk pilihan saya karena lumayan saya suka genre musik kayak gini. Syahdu, tenang, kalem, gak berisik, dan ngelangutkan. Halah :D

Beberapa tahun ini Folk emang sedang banyak digandrungi sih ya. Payung Teduh, Tiga Pagi. Kata siapa musik ditentukan pasar. Hari gini kamu yang harus menciptakan pasar sendiri. Bisa laku kok. Unggah aja ke Youtube atau Soundcloud.

Akhir-akhir ini saya sedang suka Barasuara. Gak saya masukin ke playlistnya sih karena iya kenapa ya :D Nanti lah di playlist berikutnya.

Dan akhirnya saya denger Spectre-nya Radiohead! OMG emang bagus yaaaaa!




Anyway, ini playlist ke 5 saya. Seperti biasa tempo musiknya ringan, easy listening, folk, dan cocok buat didengerin pas kepala lagi pusing. Hahaha :D 

1. Kings of Heart (Cohen/Mendoza/Puwal) --- Heather M. Cohen

2. Let It Go --- James Bay

3. Novo Amor, Anchor - MrSuicideSheep

4. Jalang --- Pandai Besi

5. Spectre --- Radiohead

6. A Regrefgul Season --- Answer Sheet

7. Semesta (Covernya Alur Maju) - Matajiwa

8. Cublak Cublak Suweng - Sungai

9. Budapest --- George Ezra

10. Putih --- Efek Rumah Kaca


Soundcloud sekarang jadi favorit saya. Youtube dibuka kalau ada wifi saja. Hahaha :P 



BACA JUGA:



Kampung Andir Purwakarta, Pemukiman Rumah Adat Sunda

January 13, 2016
Purwakarta masih kelabu. Hujan deras semalam menyisakan mendung yang menggantung. Hari ini hari terakhir saya berada di Purwakarta, sore nanti akan kembali ke Bandung.

Setelah menyaksikan Air Mancur Sri Baduga dan Museum Diorama, sekarang judulnya menengok semesta Purwakarta. Naik ke daerah yang lebih tinggi dari pusat kotanya. Berkunjung ke Kampung Andir, santap siang di Warung Sate Maranggi yang sederhana tapi luar biasa nikmatnya,  dan menjadi tamu di Legok Barong.

(Baca juga: Cara Menuju Purwakarta)


Hari ini satu orang istimewa akan mengantar kami. Warga lokal Purwakarta, sehari-hari bekerja di dinas pemerintahan setempat. Ata namanya. Kang Ata, begitu saya menyapanya.

Rumah Sunda di Kampung Andir


Kampung Baru, begitu warga desa di sekitar kampung tersebut menyebutnya. Namun secara resmi nama kampung kami tuju adalah Kampung Andir. Terletak di Desa Cianting Kecamatan Sukatani, Kampung Andir ini dapat kita capai melalui Jalan Raya Plered. Plered populer sebagai sentra keramik. Tapi kami tidak berkunjung melihat pembuatan keramiknya. 

Gowes Sepeda Onthel di Museum Diorama Purwakarta

January 12, 2016
Gila museumnya canggih banget! Itu kesan pertama saya dan teman-teman waktu berkunjung ke Museum Diorama Purwakarta. Ini kota kecil, eh kabupaten maksudnya, yang menggeliat seperti naga baru bangun tidur. Museum Diorama, wajib banget kalian datangi kalau ke Purwakarta!

Lokasi Museum Diorama strategis. Dari stasiun kereta api malah bisa dijangkau dengan berjalan kaki. Kalau saya kan dari pool Travel Arnes, jadi naik angkot no 06 dulu dan dilanjut berjalan kaki sedikit, baru sampai di museumnya.

Museum Diorama Bale Panyawangan menempati sebuah gedung tempo dulu bernama Gedung Kembar. Ada dua bangunan tua, posisinya saling bersebrangan, saling menghadap. Museum Diorama menempati salah satu bangunan tersebut. 


Museum Diorama Bale Panyawangan, tampak samping
Gedung Kembar, disebrang Museum Diorama.
Bangunan yang sama arsitekturnya dengan Museum Diorama

Jam Pertunjukkan Taman Air Mancur Sri Baduga

January 11, 2016
Taman Air Mancur Sri Baduga dibuka setiap hari pada jam-jam tertentu. Khusus untuk air mancurnya, hanya diaktifkan pada malam minggu saja di dua shift. 

Jam Pertunjukkan Taman Air Mancur Sri Baduga : 
Sabtu Malam minggu
19.00 - 20.30 
21.00 - 22.30



Berdasarkan informasi yang saya peroleh, air mancur ini hanya aktif di musim hujan saja. Karena kalau musim kemarau air Situ Buleud-nya akan dialirkan ke sawah-sawah di sekitar pusat kota Purwakarta. 

Waktu peluncuran air mancurnya sih emang spektakuler banget karena ada efek-efek tambahan kayak Aqua Screen dan tembakan-tembakan api. Nah untuk pertunjukkan regulernya nanti gak akan seheboh waktu peluncurannya. Namun tetap saja Taman Air Mancur Sri Baduga ini bakal cantik dan unik. Semoga kesan yang teman-teman yang dapatkan saat menonton air mancurnya sama seperti kesan yang saya peroleh :D

Baca juga :

Menginap di Purwakarta, Enaknya Nginap Di Mana ya?

Nah kalau ke Purwakarta, enaknya nginep di mana ya?

Kalau ada teman atau kerabat yang bisa menampung, ya kontak lah mereka. Tapi menginap di hotel pun tak ada salahnya. Tersedia beberapa hotel yang tarif per malamnya bisa kita sesuaikan dengan isi kocek kita. 

Pada waktu di Purwakarta, saya menginap di Hotel La Derra. Terletak di Jalan Ahmad Yani, masih di pusat kota Purwakartanya. Tarif permalamnya dibawah Rp 300.000 saja. Untuk sarapan saya masih harus menambah Rp 25.000.

Hotel La Derra

Hotel La Derra

Recommended nih hotelnya. Murah tapi kebersihannya terjaga. Harganya terjangkau, sarapannya enak (saya pilih menu Nasi + Capcay + Teh Manis Panas). Untuk fasilitas mandi tersedia air dingin dan panas. Suprisingly untuk standar hotel dgn harga 200ribuan, luas kamar mandinya oke juga.

Amenitiesnya terbatas. Hanya ada handuk dan sabun mandi (cair) saja. Jadi bawa sendiri peralatan mandi lainnya kalau menginap di Hotel La Derra ya. 

Ukuran kamar (tidur) memang kecil, saya memesan kamar tipe Deluxe B. Bednya ukuran queen. Tapi gak masalah, gak menyusahkan saya. Palingan ukuran televisinya yang terlalu kecil :D Untungnya banyak channel tv kabel yang seru kayak Fox Movies Premium dan Star World. 

AC-nya oke! Temperatur Purwakarta lebih hangat dibanding Bandung, jadi pas masuk kamar emang butuh AC untuk mendinginkan badan. Orang Bandung ditaro di tempat yang lebih panas, uring-uringan aja gitu hahahaha terima kasih wahai penemu mesin pendingin ruangan :D

Lokasi restoran terdekat rasanya tidak dalam radius berjalan kaki. Ada sih warung makan padang aja. Tapi memesan makanan di restoran Hotel La Derra juga seru tuh, harganya terjangkau dan rasanya gak mengecewakan. Menu termahalnya tuh gak lebih dari Rp 50.000.

Selain Hotel La Derra, ada juga hotel-hotel lainnya. Bisa cek di Agoda atau Traveloka. Kalau saya biasa memesannya di Agoda. 

Oiya, tips yang mau menginap tidak jauh dari Taman Air Mancur Sri Baduga, nginepnya di Grand Situ Buleud Hotel saja. Bisa jalan kaki dari hotel ini ke taman airnya, tinggal nyebrang doang. 

Cara Menuju Purwakarta

Saya beritahu caranya menuju Purwakarta dari Bandung ya. 



  1. Kendaraan pribadi sih gampang. Masuk ke Tol Cipularang. Perhatikan papan petunjuk jalan. Nanti ada petunjuk jalan arah Purwakarta dan Ciganea. Kalau Cipularang masih lurus, Purwakarta belok kiri. Ikuti jalannya, gak lama dari belokan itu pasti sampai ke pintu tol Purwakarta. 
  2. Kendaraan umum ada tiga macam: kereta api, bis antar kota, dan travel. Saya bahas satu-satu ya. 
  • Kereta api : Bisa naik kereta dari stasiun Kiara Condong atau Stasiun Bandung. Jadwal berubah-ubah. Untuk kepastiannya cek langsung di stasiun kereta api terdekat atau ikuti cara saya ini, download aplikasi Padi Train di Google Store/App Store. Cek jadwal kereta api bisa dilakukan pada aplikasi tersebut, begitu juga dengan booking tiketnya. Tarifnya lebih mahal dibanding kita menumpang travel atau bis antar kota. Kalau tidak salah sekitar Rp 70.000 - Rp 100.000.
  • Travel Arnes : Berada di Baltos dan BTC. Mobil berangkat setiap jam mulai pukul 05.00 - 22.00. Ongkos Rp 30.000 perorang, sekali berangkat. 
  • Bis Antar Kota : Prima Jasa jurusannya saya kurang tahu :D Datang saja ke Terminal Leuwi Panjang. Cari bisnya di sana. Ongkos Rp 22.000

Rekomendasi kendaraan umum ke Purwakarta sih baiknya naik Travel Arness saja. Kalau ada uang berlebih, bisa naik kereta. Keduanya akan mengantar kita langsung ke dalam pusat kota Purwakarta. 

Kalau dari kota lain selain Bandung yang ingin menuju Purwakarta, cek di Internet moda angkutannya. Paling gampang sih cek dulu ketersediaan kereta api menuju Purwakarta ada atau tidak. Kalau naik kendaraan pribadi ya lebih fleksibel lagi. 

Selamat berkunjung ke Purwakarta! 

Di Taman Air Mancur Sri Baduga, Tumbuh Cinta untuk Purwakarta

January 10, 2016
Satu jam saja dari Bandung sampailah saya di Purwakarta. Cepat juga. Terasa seperti pergi ke Mall terdekat rumah saja. Sabtu 9 Januari 2015, saya dan dua orang teman berkunjung ke kabupaten Purwakarta. Untuk apa? Jalan-jalan tentunya!

Salah satu agenda plesir ke Purwakarta adalah melihat peluncuran Taman Air Mancur Sri Baduga. Air mancur ini disebut-sebut terbesar se-Asia Tenggara. Terbersit sangsi di hati saya, memang bisa mereka membuat air mancur sebesar itu?

Sebelum pertanyaan saya terjawab, kendaraan travel yang membawa kami bertiga dari Bandung telah sampai di pintu Tol Purwakarta dari pintu Tol Cipularang. Dalam perjalanan singkat menuju pool travel, sejenak saya mengamati kota kecil tersebut.


(Baca juga: Cara Menuju Purwakarta)


Tiba di pusat kotanya malah timbul apresiasi dari saya untuk Purwakarta. Saya merasa kota kecil ini semangatnya besar sekali. Di saat kabupaten kebanyakan merasa kecil dan minder dengan Bandung, Karawang, Bekasi, Jakarta, dan kota-kota industri besar lainnya, kabupaten Purwakarta malah sebaliknya. Dengan bangga ia maju ke depan, siap bersaing dengan kota metropolitan. Pembuktiannya dapat kita lihat dari langkah-langkah progresif yang Dedi Mulyadi lakukan selama menjabat menjadi Bupati Purwakarta.

Purwakarta didandani. Disulap supaya elok seperti rembulan, indah bagai lukisan. Taman Air Mancur Sri Baduga merupakan hadiah awal tahun baru yang cukup manis untuk warga Purwakarta.


Situ Buleud Menjadi Taman Air Mancur Sri Baduga 


Taman Air Mancur Sri Baduga pada awalnya bernama Situ Buleud. Berbentuk melingkar mengelilingi sebuah danau (danau = situ, bahasa sunda), letaknya berada di tengah kota. Di tengah danau terdapat patung manusia sedang duduk bersila. Di sekelilingnya ada empat patung harimau dengan sikap mengaum, seolah-olah sedang menjaga Tuannya. 

Pagar besi mengelilingi area rekreasi tersebut. Tidak ada biaya pungutan untuk masuk ke dalamnya. Banyak pepohonan rimbun, penyumbang terbesar udara sejuk di taman air itu. Panorama danau yang luas tentu saja memberi suasana yang menyegarkan.

Makan-makan di Eaters, Cikapundung Riverspot

January 06, 2016
Eaters, acaranya anak-anak UNPAR. Universitas Parahyangan. Dari namanya pasti tahu ya ini acara pasti isinya makanan melulu :P

Malam minggu yang tanggalnya lupa, saya ke Cikapundung Riverspot. Di sana berlangsung acara Eaters. Berlangsung dari siang hari sih acaranya. Saya datang setelah hari gelap, pukul tujuh malam. Bandung basah karena hujan rintik-rintik. 

Menyisir tenan makanan dan minuman, sensasinya seperti sedang menemukan jodoh sesaat. Saya merasa tugas berat juga sih menyeleksi tenan-tenan makanan. Pertama rasanya harus enak dong. Kedua, harganya ramah gak mahal-mahal amat. Sekitar dua kali bolak-balik menyisir barisan tenan, mata kami tertumbuk pada satu tenan hotdog. 

Ini beneran cuma 25.000? Tanya saya pada pedagang hotdognya.
Beneran, Teh. 
Pesen satu!

Saya makan hotdog seharga 25.000 yang ukurannya BESAR! Ini hotdog terbesar yang pernah saya lihat yang harganya cuma 25ribu aja! Kayak beli dua hotdog, harganya murah! Saya dan Gele pasrah dengan rasanya. Ukuran dulu deh yang penting karena kami berdua sudah sangat lapar. Eh ternyata ENAK LHO! Sosisnya gak mengecewakan. Rotinya sendiri standar. Overall untuk seharga dua puluh lima ribu perak, saya puas! Lain kali kalau kalian melihat tenan namanya The Hungry Belly ini, dibeli ya! 

Habis itu jajan sosis tusuk yang ini nih. Hwudih rasanya sangat kayaaaa! Potongan paprika dan bawang bombay membuat sosisnya terasa lebih nikmat. Padahal bumbunya biasa aja tuh kayaknya. Tenan yang ini bakar sosisnya langsung di depan pengunjung. Biasanya juga gitu sih, tapi ini beda. Karena dibakar langsung dengan arang membara. Atraksi membakar sosis ditutup dengan tembakan pistol api. Cussssss! Asap wangi sosis dan bumbu dapur menyeruak ke seantero Cikapundung Riverspot. 

Terakhir jajan es krim Suave. Rasa mangganya sangat saya rekomendasikan! Segar dan rasanya seperti sedang memakan potongan buah mangga yang dilunakkan. Manisnya ugh genit sekali. Mulut saya seperti sedang menari-nari saking senangnya. 

Cukup kuliner di Eaters. Saya kenyang, Nabil senang, Gele juga hepi. 

587 Cara Jadi Kurus di Curug Pelangi, eh sorry, Maksudnya Curug Cimahi!

January 05, 2016
Gele: Kuat gak nih? Turunnya gampang, nanti pulangnya gimana?
Ulu : Eeerrrr… kuat lah! Nanjak dikit doang. 

NANJAK DIKIT DOANG? Nanjak 587 anak tangga dibilang dikit doang hahaha aduh ini nih namanya pergi tanpa persiapan. Sudah lama ingin rasanya mengunjungi Curug Cimahi (curug = air terjun, bahasa sunda). Padahal lokasinya tidak terlalu jauh dari rumah. Naik motor kurang dari 30 menit sudah sampai. Sampainya di depan loket Curug Cimahi ya, bukan di curugnya :D 

Terpampang besar-besar pada banner yang melintang di sekitar pintu masuk, CURUG PELANGI. Wah sekarang lebih terkenal dengan nama tersebut rupanya. Sekarang ada lampu yang dipasang di tebing air terjun, kalau malam lampunya dinyalakan. Lampu-lampu itu memancarkan warna-warni pada malam hari. Orang-orang yang memandangnya berasa sedang lihat pelangi katanya. Sejak saat itu air terjun ini namanya mulai berganti pelan-pelan gitu deh. Curug Pelangi.

Curug Cimahi sekarang populer dengan nama Curug Pelangi. Tapi di sini saya sebut Curug Cimahi saja ya. Nama yang terbentuk karena asal-usul sejarah ratusan tahun rasanya lebih patut dihargai dibanding nama yang muncul karena kecantikan dari lampu-lampu buatan manusia. Warnanya dangdut abis pula :P Sejak kapan pelangi muncul di malam hari? 

Pada saat saya ke sana, Bandung sedang jam 10 pagi. Langit mendung. Rintik-rintik mulai turun. Pada papan peringatan tertulis kalau hujan, Curug Cimahi ditutup. Tapi belum ada tanda-tanda akan deras, gerimis bahkan berhenti. Perjalanan kami lanjutkan saja. 

Karena sedang musim liburan, banyak pengunjung yang berdatangan. Dari yang muda hingga yang tua. Campur aduk jenis usia dan kalangan. Dalam perjalanan menuruni tangga, kami sering berhenti untuk istirahat. Ada dua balkon yang digunakan sebagai pitstop, untuk melihat Curug Cimahi dari jauh dan menyaksikan pesona alamnya. 

Ide bagus masang balkon di sini. Tiap balkon memuat jumlah orang tertentu saja. Balkon pertama 16 orang. Balkon kedua 25 orang. Tidak ada petugas di sana. Papan pengumuman perihal kuota ukurannya kecil amat. Di balkon pertama saya malah sempat melihat dan menghitung ada lebih dari 16 orang tuh. Wah ngeri juga euy… Balkonnya kan posisinya menggantung. Kalo kelebihan muatan nanti bisa…bisa… heeuu!

Anyway, kami sering berpapasan dengan orang yang berlawanan arah. Pengunjung yang menuruni tangga, kayak saya ini, mukanya masih segar dan antusias. Sebaliknya, mereka yang dalam perjalanan kembali pulang, mukanya asem abis hahaha :D Kuyu, capek, dan pucat. Nanjak 587 anak tangga dikata gampang… 

Jadi ragu-ragu meneruskan sampai Curug Cimahi euy. 

Ulu : Duh gimana nih, balik pulang aja gitu ya? 
Gele : Udahlah terusin aja, tanggung nih.

Tangga yang berkelok-kelok akhirnya berujung juga ke Curug Cimahi. Ah sampai juga! Ternyata boleh berenang ya di Curug Cimahi. Saya gak bawa pakaian ganti. Euh tahu gitu saya bawa tadi. 

Airnya bening, segar, sejuk, dan dingin. Bulir-bulir air terjun menciprati wajah saya. Terasa sangat menyenangkan. Rasa capek di ratusan tangga tadi jadi berguguran. Kami bermain air. Celana basah sudah. Tidak apa-apa lah. Yang penting senang! Tidak lupa dong foto-foto sepuasnya. Nabil mengumpulkan kerikil dari dalam air dangkal, saya berdiri dengan gaya seperti Kate sedang di buritan dalam film Titanic. Sementara itu Gele gak tahu ngapain, motret kayaknya sih. 

Tampak beberapa pemuda sedang asyik jeprat-jepret juga. Ala Instagram tentu saja. Seorang cewek dengan berpakaian lengkap asyik berenang tak bosan-bosan. Gak kedinginan itu orang ckckckck. Dari saya datang sampai saya beranjak pulang itu cewek masih berenang. Sendirian. Susah moto air terjunnya secara utuh karena dia ada di situ terus-terusan hahaha. 

Satu hal yang amat sangat mengganggu di area Curug Cimahi sejak kami menuruni tangga sampai di Curugnya dan kembali menapaki tangga tersebut: MUSIK! Ada toa di Curug Cimahi? Bunyinya? lagu-lagu Campur Sari! Bukan karena musiknya campur sari maka saya bilang ganggu. Tapi saya mau denger suara alam bukan suara orang nyanyi. Bahkan Afgan nyanyi di situ pun saya gak suka. Gimana kalo terjadi sesuatu yang di bawah sana, orang-orang minta pertolongan tapi gak kedengeran petugas di atas sana karena suara musiknya sangat sangat sangat kencang.

Parah abis itu yang nyalain musiknya. Salah tempat.

Cukup bersenang-senang dan keganggu iringan musik yang keluar dari toa Curug Cimahi. Saatnya kembali pulang. Siap? Kata Gele pada saya. SIAP! kata saya padanya. Perut lapar, kerongkongan kering. Kami gak bawa perbekalan makanan. Juga kehabisan stok air minum. Sampai sekarang saya masih kasihan ke Nabil karena keteledoran orang tuanya ajak dia jalan-jalan, dia jadi ketiban getahnya. Duh! 

Perjalanan panjang itu memakan waktu sekitar 30 menit. Cuma 15 menit lebih lama dari waktu menuruninya kok. Yeay! Saya dan Gele punya ketahanan fisik yang gak buruk rupanya. Di jalan sering berhenti sih. Nabil juga beberapa kali minta digendong. Emang ada momen di mana saya dan Gele capek banget. Makanya jalan pelan-pelan, ngukur kemampuan. 587 anak tangga…oh my…rasanya kok berat badan saya berceceran di tangga Curug Cimahi ya. 

Sampai di depan loket, artinya sampai di titik akhir perjalanan. Usai sudah perjuangan menghadapi 587 anak tangga. Kami menang! langsung jajan gorengan, chiki, dan air minum tiga botol! Gak kenyang, makanya cepet-cepet pulang, makan siang di rumah saja. 

Curug Cimahi, kami kembali lain kali ya. Mau bawa perbekalan lauk pauk dan nasi. Juga minuman berenergi. Oh iya, termasuk pakaian ganti!

Curug Cimahi
Lokasi : Cisarua, Lembang, Bandung Barat.
Tiket masuk Rp 17.000
Buka tiap hari, kalau hujan deras tutup.
Jam buka : 07.00 pagi.
Tutup : 02.00 pagi.

Cara menuju Curug Cimahi:

  1. Aksesnya bisa dijangkau dari Jl Setiabudhi - Sersan Bajuri - Parongpong
  2. Bisa juga dari Cimahi - terus aja di jalan Cihanjuang - Belok ke kiri arah Parongpong. 
  3. Angkot : Ledeng - parongpong, lanjut naik Ojek. Atau angkot apa aja yang jurusannya Parongpong deh.

Tanggal Liburan Tahun 2016

January 04, 2016
Kalau mau liburan zaman sekarang, harus cek tanggalnya sejak jauh-jauh hari. Kenapa? Demi menghindari macet sih. Ya kalau sanggup menempuh resiko stres kena macet, selamat berlibur lah bagaimana pun caranya :D 

Ayo dicatat! Mulai hunting rute penerbangan yang ongkosnya murah! :D

HARI LIBUR NASIONAL Tahun 2016 :
  • 1 Januari (Jum'at) : Tahun Baru 2016 Masehi
  • 8 Februari (Senin) : Tahun Baru Imlek 2567 Kongzili.
  • 9 Maret (Rabu) : Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1938.
  • 25 Maret (Jum'at) : Wafat Isa Al-Masih.
  • 1 Mei (Minggu) : Hari Buruh Internasional.
  • 5 Mei (Kamis) : Kenaikan Yesus Kristus.
  • 6 Mei (Jum'at) : Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW.
  • 22 Mei (Minggu) : Hari Trisuci Waisak 2560.
  • 6 & 7 Juli (Rabu & Kamis) : Hari Raya Idul Fitri 1437 H.
  • 17 Agustus (Rabu) : Hari Kemerdekaan RI.
  • 12 September (Senin) : Hari Raya Idul Adha 1437 H.
  • 2 Oktober (Minggu) : Tahun Baru Islam 1438 H.
  • 12 Desember (Senin) : Maulid Nabi Muhammad SAW.
  • 25 Desember (Minggu) : Hari Raya Natal.

CUTI BERSAMA Tahun 2016 :
  • 4, 5 dan 8 Juli (Senin, Selasa dan Jum'at) :  Hari Raya Idul Fitri
  • 26 Desember (Senin) : Hari Raya Natal
                                                       
LONG WEEKEND 2016 :           
  • Februari 6-7-8 ( sabtu - senin -  imlek )                               
  • Maret 25-26-27 ( jumat - minggu - Isa al-masih )                              
  • Mei 5-6-7-8 ( kamis - minggu -  Kenaikan Yesus & Isra Mirajd )                            
  • Juli 2-3-4-5-6-7-8-9-10 (4-5 & 8 - cuti bersama lebaran)             
  • September 10-11-12 (sabtu - senin. Idul adha)
  • Desember 10-11-12 (sabtu - senin - Maulud Nabi)