Image Slider

Makan-makan di Warkop Modjok, Pondok Hijau Indah Bandung

December 31, 2015
Well okey, seperti semua tempat keren lainnya di Bandung, dua tahun ini penyebaran informasinya tersebar di Instagram. Warkop Modjok juga sama. Foto-fotonya seliweran di IG saya. Pas lihat alamatnya, lho kok deket banget! Naik motor lima menit juga sampai. Jalan kaki juga bisa, agak jauh sih karena lewat jalan tikus, restoran ini terletak di dalam kompleks perumahan elit di Jalan Sersan Bajuri. 

Karena tempatnya sedang hits banget, saya dan Gele berniat untuk makan pagi di Warung Modjok jam 9 pagi. Pas warungnya buka. Berdasarkan perkiraan, pasti tempatnya masih sepi. Masa iya sih ada yang niat banget ke Warung Modjok pagi-pagi selain kami yang rumahnya dekat?

Sampai di Warkop Modjok, sudah ada lima orang pengunjung. Saya dan Gele lusuh abis penampilannya. Karena rumah berasa dekat jadi ya, mandi belum, dandan enggak, pake baju juga yang ngegantung di gantungan baju. Seadanya lah. Lima orang yang datang sebelum kami, dress up abis! Kayak mau ke kondangan :)))))) i feel like i was in the wrong place. Ealaaa ternyata mau pada poto-poto buat diupload ke Instagram aja mereka teh. Hahahaha. 

Anyway Warkop Modjok tempatnya emang lucu abis! eyecathy banget. Kayak rumah-rumah yang kita suka lihat di buku dongeng. Pagar pendek warna putih, halaman yang ada bunga-bunga cantik, bangku meja warna-warni pastel yang nyeni. Karena bentuknya yang menonjol, gak sulit kok menemukan Warung Modjok. 

Bagian utama dari warungnya berupa rumah kayu. Saya lihat bagian luar dari Warung Modjok aja rasanya udah seneng, pas melongok interiornya waduh lebih senang lagi. Sama lucunya, sama nyeninya. Gak lama bengong lihat tempatnya, saya baca menu browsing makanan dan minuman, Gele dan Nabil keliling Warung Modjok motret ini itu. 

Pesanan saya Jahe Merah, Susu Coklat, dan Laba-laba Cantik (Bala-bala, maksudnya). Menu yang terakhir itu, rasanya wuenak! Bala-bala adalah gorengan. Pada bagian dalamnya terdapat sayuran. Standarnya sih potongan wortel dan kol saja. Di Warung Modjok agak berbeda, gorengannya naik kelas sedikit dari segi harga dan fillingnya. Ada potongan labu! Rasanya jadi lebih kaya. Satu porsi isinya empat, sausnya encer sedikit kental, manis-pedas. 

Susu Coklat dan Jahe Merah standar saja gak ada yang istimewa. Tempatnya yang spesial sih jadi pengalaman menyisip susu coklat hangat dari gelas enamel efeknya sangat begitu mewah. 

Saya dan Gele memilih untuk duduk di bagian luar, di halaman Warkop Modjok. Pagi itu cuaca masih bersahabat. Segar dan sejuk seperti biasa cuaca di Bandung Utara pada umumnya. Ada suara air yang berasal dari sungai Ci Beureum di tepi Warung Modjok. Tadinya mau milih tempat duduk di sayap kanan sih, karena latarnya kayak di hutan, banyak pohon. Tapi gak jadi deh :D 

Jahe Merah 10K
Susu Coklat 15K
Laba-laba Cantik 12K

Warkop Modjok
Buka tiap hari, 09.00 AM - 12.00 PM
Jl. Sersan Bajuri, Kompleks perumahan Pondok Hijau Indah

Cara ke Warung Modjok bisa dibaca di tulisan Petunjuk Arah ke Warkop Modjok.


Say Goodbye to 2015

December 29, 2015
Ceritanya mau kontemplatif. Tapi nanti dulu deh. Pending :D

Film Negeri Van Oranje: Film Indonesia atau Film India sih?

December 28, 2015
Oke. Kemarin saya jalan-jalan ke BIP bersama dengan teman-teman blogger lainnya. Bandung Indah Plaza. Mau nonton film ceritanya bersama IM3 Ooredoo. Film Negeri Van Oranje judulnya. Saya resensi filmnya di bawah ini. Sinopsis ceritanya begini. 

Lima anak muda Indonesia melanjutkan pendidikan S2 di Belanda. Kelimanya sekolah di kampus yang beda kota. Lima orang ini beda-beda karakternya. Ada Geri yang perhatian dan penyayang, ada Wicak yang pendiam dan cool, Banjar dan Daus yang ngocol dan penghibur, terakhir tentu saja yang jadi pusat jagad maya keempat lelaki tersebut: Lintang. Cantik banget dan cool kayak Wicak. 

Somehow menurut saya film ini harusnya berjudul Princess Lintang :D 

So ceritanya mereka bertemu tidak sengaja di stasiun. Sejak itu jadi dekat, akrab dan membentuk persahabatan yang erat. Cowok-cowok itu pada akhirnya jatuh cinta pada Lintang. Tapi cuma satu orang yang berhasil menikahi Lintang. Siapa orangnya? Kenapa itu orangnya? Begitu klimaks ceritanya. 

Film Negeri Van Oranje ceritanya klise. Percintaan, romantisme tinggal di negara maju, dan wajah-wajah tidak bernoda :D sori, maksudnya wajah-wajah cuantik dan cuakep bangeeeet.

Kok pada bilang ini film isinya tentang pendidikan di Belanda sih? tip-tips jadi mahasiswa di Belanda? Gak ada. Unsur pendidikan yang muncul di film ini cuma numpang lewat doang. Iya paling gak saya sekarang tahu kalau di Belanda ada kampus ala-ala IPB di Bogor gitu. Tapi selebihnya gak ada. Film ini murni tentang percintaan saja. 

Tema persahabatannya juga apa ya, kelihatan buatan banget. Ya namanya juga film sih, apanya yang gak buatan. Tapi ada yang janggal, gak alami. Penonton dipaksa untuk menikmati persahabatan mereka yang terlihat asyik banget. 

Sepanjang filmnya saya sampai mikir Negeri Van Oranje adalah film buatan Departemen Pariwisata Belanda kayaknya. Promosi wisata Belanda dan kota Praha di Ceko berkedok wajah Lintang dan lika-liku kisah percintaannya. 

Tapi bukankah beberapa tahun belakangan ini film tipikal seperti itu yang lagi laku? merantau ke negeri maju, pemandangan yang 'instagram' banget dalam arti bagus, keren, dan indah. Film-film yang menjual mimpi, mimpi ke luar negeri (negara maju, khususnya) dan mimpi ditaksir empat cowok cakep :D 

Photo Credit : www.bintang.com 

Terjebak Kemacetan Brutal di Lembang

December 26, 2015
Macet yang saya alami pada Jumat 25 Desember 2015 merupakan macet terparah. Rekornya jadi sejarah dalam hidup saya. DELAPAN JAM untuk jarak 15 km? WTF! 

Dari rumah saya di Ledeng menuju Cikole, jaraknya emang cuma 15 km aja. Pagi hari saat saya menuju Cikole, Lembang, waktu tempuhnya kurang dari 30 menit. Jalanan lowong. Ya normalnya sih kalau lalu lintas cukup padat ya sekitar satu jam lah kalau ke Cikole dengan kendaraan pribadi. 

Semacet-macetnya, paling dua jam aja. Tapi ini delapan jam? OMG! 

Saya pilih hari jumat ke Cikole karena waktu itu Natal. Pikir saya teman-teman kristiani pasti sedang merayakan Natal di gereja dan rumah masing-masing. Jalanan harusnya relatif lowong lah. Ternyata perkiraan saya salah. Salah besar!

Sejak baru keluar dari restoran milik ibu, jalanan sudah macet. Mending mobilnya masih jalan, ini sih diam di tempat. Cuaca Cikole sedikit menolong sih. AC mobil sepanjang macet Gele matikan supaya irit bensin. Gak masalah kepanasan karena cuacanya sejuk. 

Sepanjang perjalanan itu saya tertidur selama 30 menit. Bangun tidur bertanya pada Gele. 

udah sampai mana? 
apa? masih di jalan yang sama kok.
hah?! asem! haahahah

Benar-benar macet terburuk yang pernah saya alami. Kalau dirjen perhubungan mengundurkan diri karena merasa gagal mengatasi kemacetan di libur Natal yang lalu, saya rasa Camat Lembang dan Bupati Bandung Barat juga harus mundur. 

Hampir semua papan petunjuk di jalan hanya memberitahu informasi tentang tempat wisata. Tidak ada papan petunjuk jalur alternatif yang ideal. Papan petunjuk tuh isinya Floating Market, De Ranch, Farmhouse, Tangkubanparahu, nama hotel. Ya ampun apa tidak ada persiapan menghadapi macet selain naro polisi dan melakukan trik buka tutup jalan?

At least jauh-jauh hari mulai memasang papan petunjuk jalan alternatif di beberapa titik. Saya saja sampai sulit menemukan petunjuk tersebut. Mesti nanya dulu tukang parkir dan cek di google map. 

Pemerintah keasyikan memberi izin bangunan komersil tanpa memperhatikan infrastrukturnya. Siap gak menampung wisatawan sejumlah sekian ribu, misalnya. Tempat wisata banyak, tapi bagaimana daya tampungnya? 

Waktu ngasih izin usaha ke tempat-tempat komersil, apa gak dipikirin efeknya? Setahu saya Ridwan Kamil saja sudah tidak lagi mengeluarkan izin untuk pembangunan hotel. Kalau ada yang masih dibangun, itu izinnya dari pemerintah yang lama. Bahkan untuk tempat usaha pun sekarang diperketat peraturannya. Makin sulit. RK memilih untuk menghidupkan lagi ruang publik dan merenovasi wajah kota. Pembangunan dilakukan di pinggir-pinggir pusat kotanya. 

Kemarin itu lihat polisi kasihan juga. Karena izin usaha dikasih sembarangan oleh pemerintah setempat, polisi kelabakan. Kayak Farmhouse aja, daya tampung tempat parkirnya gak banyak. Yg berkunjung ke Farmhouse parkir pinggir jalan. Karena itu macetnya sampai 5 km! Parah! Polisi buka tutup jalan di beberapa titik, termasuk Farmhouse. Ckckckck. 

Kenapa sih gak siapin fasilitas umum aja, misalnya sediakan transportasi umum ke tempat-tempat wisata. Daripada ribuan turis naik mobil pribadi ke Tangkubanparahu, minta mereka naik kendaraan yang sudah disiapkan pemerintah. Mobilnya taro aja di parkiran hotel. Atau mulai bikin jalur pendek kereta api dari Lembang - Cikole. Nanti turis diangkut naik mobil angkutan khusus ke Tangkubanparahu. Kepadatan bisa dipecah kan. Ada yang naik kereta, ada yang naik mobil. 

Mesti gerak cepat atuh. Saya yakin sih dari 10.000 orang yang terjebak kemacetan parah di Bandung kemarin itu sebagiannya kapok dan males datang lagi ke Lembang. Tapi penduduk kita ada banyak, 250 juta! 5.000 orang kapok, 10.000 orang lainnya masih penasaran mau ke Lembang. 

Tapi mau sampai kapan tiap musim liburan macetnya brutal? Kalau infrastrukturnya bagus dan siap, menurut saya sih keuntungannya bakal berlipat-lipat. 

Sate Kelinci Sate Sapri di Lembang

December 23, 2015
Pertanyaan pertama: tega ya makan daging kelinci? 

Tega sih. Lagipula kan halal. Saya suka sih lihat kelinci, imut-imut dan lucu ya. Gemes gitu lihatnya. Tapi kalau dagingnya enak gimana dong, ya saya makan aja :D 

Saya ini penggemar berat sate ini. Saya punya langganan pedagang Sate Kelinci sih di Lembang. Masalahnya, susah banget nyari penjual sate kelinci yang jago mengolah daging kelinci jadi enak. 

Kalau browsing Sate Kelinci di Lembang di Google informasi yang muncul pasti Sate Sapri. Wah saya belum pernah makan sate kelinci mereka. Sehabis menginap di Sapu Lidi Resort, saya dan Gele menyempatkan diri mampir makan siang di Sate Sapri. 

Lokasinya di pinggir Jalan Raya Lembang. Pemiliknya bernama Sapri. Bersebrangan dengan tempat wisata Farmhouse yang sekarang sedang populer banget itu. Tahu gak, pas sama mampir ke Sate Sapri, itu Farmhouse sedang soft launching. Baru buka di hari itu pas saya makan sate kelincinya Pak Sapri. Sepi banget tempatnya, sekarang sih ramai ya. Kayaknya ngefek ke lapaknya Pak Sapri nih. hehehe :D 

Tidak banyak yang makan siang Sate Sapri siang itu. Sekitar dua - tiga orang sedang asyik menandaskan satenya. Tempat yang saya duduki kondisinya sama seperti warung pinggir jalan pada umumnya. Sederhana, cenderung biasa saja. Bukan restoran, bukan pula kafe. Dindingnya rotan, ruangan semi outdoor, bisa duduk beralaskan kursi atau lesehan. Banyak lalat berterbangan. Gak aneh sih, namanya sate ya pasti dikerubungi lalat. Ibu Sapri menyediakan alat pengusir lalat selama kami makan: lilin. Ampuh tuh lilinnya, pas saya makan mah gak ada lalat-lalatnya.

Lama gak nunggu pesenannya tiba? Enggak, biasa saja. Cukup lah gak yang jadi bete nunggunya. Terus bagaimana dengan rasanya? Naaah ini dia. 

Saya berharap banyak pada Sate Kelinci Sate Sapri. Secara saya fans berat sate kelinci. Sebagai penyuka daging kelinci, saya suka deg-degan tiap mau makan dagingnya. Bakal enak gak nih? Empuk gak nih? Anyir gak nih? 

Ternyata...rasanya biasa saja. Enak? Enggak. Bumbunya gak meresap. Enaknya tuh tertolong rasa bumbunya saja. Saya memesan Sate Kelinci bumbu kacang dan bumbu kecap. Tidak ada rasa yang menonjol selain kecap yang dicampur potongan cabai. 

Entah memang rasanya begitu setiap hari atau pas kebenaran saya yang makan ya. Kecewa aja sih saya. Sate Sapri gak seenak yang saya kira, di google pada nulis enak sih. Harusnya sih enak ya soalnya Sate Sapri kan sudah ada puluhan tahun. Saya baca sertifikat per-daging kelinci-an yang dipajang di dinding rotan Sate Sapri, ini pemilik lapaknya pernah mengimpor daging kelinci di tahun 1982 dari Australia lho. Whuidih! 

Ada dua hal yang saya kasih tepuk tangan buat Sate Sapri, dagingnya yang empuk dan tidak berbau. Apa saya rekomendasikan Sate Sapri? Hmmm yah boleh deh. Lumayan untuk menambah pengalaman rasa memakan daging kelinci. 

Saya baru coba sate kelincinya aja sih, di Sate Sapri kan ada juga Gulai Daging Kelinci. Bisa jadi lebih enak ya. 

Cara Menuju Sate Sapri
  1. Angkot yang lewat cuma dua jurusan: St.Hall - Lembang dan Ciroyom - Lembang. 
  2. Dari arah pusat kota Bandung, Sate Sapri bisa ditempuh via Jl. Setiabudhi, ada di sebelah kiri jalan ya Sate Sapri-nya. Pas di sebrang Farmhouse. Dari Terminal Ledeng (kalau gak macet) waktu tempuhnya kira-kira 5 menit saja. 
Sate Sapri buka setiap hari. 
Jam 08.00 - 19.00
1 porsi sate isi 10 tusuk, Rp 30.000


Berkunjung ke Museum Bio Farma yang Baru!

December 21, 2015
Hujan belum berhenti sejak dini hari. Bangun tidur dan sadar kalau hujan di luar sana masih 'hujan anjing dan kucing', rasanya pengen tarik selimut lagi. Dan yah tahu sendiri time flies youre having fun :D 

Anyway, saya gak tidur lagi kok karena saya mau having fun jam 10 pagi di Museum Bio Farma! Iya, ceritanya berkunjung ke Museum Bio Farma yang baru. Lho memang ada yang lama? Ada dong, nih tulisan tentang Museum Bio Farma yang pernah saya buat dulu. 

Museum Bio Farma bukan tempat yang asing untuk saya. Di tahun 2013, Komunitas sejarah bernama Aleut pernah berkunjung ke museum tersebut dan saya ikut serta dengan mereka. Jalan-jalan ke Bio Farma, ternyata menyenangkan juga. 

Oya kalau yang belum tahu tentang Bio Farma, pasti bertanya-tanya, apa istimewanya Museum Bio Farma? 

Pada baca buku sejarah Bandung gak nih? Bio Farma itu salah satu lembaga kesehatan tertua di Bandung. Berkat vaksin yang diproduksi lembaga ini, penyakit seperti Cacar Api bisa musnah dari planet bumi. 

Coba Ibu-ibu, pada ngasih vaksin BCG gak ke anak-anaknya? Saya juga ngasih tuh ke Nabil. Vaksin BCG ini dulu adanya impor doang, harganya ratusan ribu! Bio Farma memproduksi vaksin BCG lokal yang harganya gak lebih dari…30.000. Terakhir sih saya vaksinin Nabil tahun 2012 cuma bayar 27.000. Wuih untungnya Bio Farma cepat-cepat bikin vaksin BCG lokal, kalau mesti pake vaksin impor mah mahal banget! 

Oke balik lagi ke sejarah Bio Farma. Perhatikan arsitektur gedungnya: megah, kokoh, dan terlihat seperti bangsawan konglomerat yang mulai manula tapi masih jumawa. Gedung Bio Farma termasuk dalam daftar Bangunan Cagar Budaya. Artinya bangunan tersebut gak bisa seenak seblak diubah arsitekturnya oleh siapapun. Harus minta izin dulu ke Pemerintah Kota Bandung. 

Dibangun saat nenek kita baru dilahirkan, 1926, Wolf Schoemaker adalah arsitek bangunan Bio Farma. Saat itu Bio Farma namanya Institut Pasteur. Mengingat sejarahnya yang panjang dan perannya gak besar, Bio Farma berupaya melestarikan sejarah bangunan tersebut dengan membuat museum. 

Jika sebelumnya Museum Bio Farma terdiri dari satu ruangan saja, sekarang berbeda. Museum Bio Farma jauh lebih luas dan dapat menampung lebih banyak orang. Museumnya juga lebih interaktif. 

Upaya mengubah wajah museum ini termasuk cara Bio Farma ikut melestarikan sejarah Bandung, utamanya di bidang kesehatan. Di dalam Museum Bio Farma kita bisa melihat asal muasa penemuan vaksin, wabah, peralatan yang digunakan di tahun 1930an, dan beberapa lainnya. 

Serunya lagi saya bisa membaca timeline sejarah Bio Farma dari masa ke masa. Dulu tuh gak ada timeline begini, harus nanya ke pemandunya melulu :D Wah menarik ya, tinggal baca sendiri, catat, dan ingat baik-baik. 

Kalau  saya tidak salah ingat, ada lima ruangan berbeda dalam Museum Bio Farma. Pertama-tama meja resepsionis. Ada layar interaktif yang bisa kita lihat dulu sebelum masuk ke ruangan selanjutnya. 

Di ruangan ke dua suasananya lebih dingin dan temaram. Berjajar foto-foto sketch para pendiri dan pimpinan Bio Farma sejak namanya masih Institut Pasteur. Di situ saya melihat ada foto Nyland dan Otten. Di ruangan yang sama disediakan bangku dan layar televisi. Tamu bisa menonton tayangan tentang sejara Bio Farma di sini. 

Ruangan berikutnya berukuran lebih luas dan mulai bisa kita saksikan benda-benda koleksi Bio Farma. Saya menyukai bagian timeline-nya di sini. Informatif! Lanjut ke ruangan yang lain, lampunya lebih terang dan tipikal benda yang dipajangnya sama. Jarak antara benda satu dengan yang lain tidak berdekatan, jadi saya tidak khawatir nyenggol barangnya. Heuheuheu :D 

Kalo museum yang dulu kan sempit, saya takut ceroboh bikin jatuh meja pajangannya itu lho. Sekarang mah museumnya luaaassss! Tapi luas bukan berarti kamu bisa nari-nari di dalemnya sih. 

Anyway, di ruangan terakhir terpajang prestasi Bio Farma dan kepedulian nyatanya terhadap budaya dan seni. Selain piala-piala penghargaan yang diraih Bio Farma di bidang lingkungan, ada juga aneka macam hasil bumi dari Ciletuh Sukabumi. Seperti keripik mangga dan beras ketan hitam. FYI, Bio Farma membina komunitas di Ciletuh dan sebagaimana yang kita ketahui, Ciletuh sedang dipersiapkan menjadi Geopark Nasional di tahun 2017 nanti. Unesco yang nanti memutuskan Ciletuh layak gak jadi Geopark.

Museum Bio Farma menurut saya mah a must-visit place di Bandung, terutama kalau kamu menyukai sejarah. Kalau buat anak-anak sekolahan malah lebih bagus lagi, nyambung ke tema pendidikan kesehatan. 

Ibu Guru, Bapak Guru, bawa anak didiknya berkunjung ke Museum Bio Farma ya, biar melek tentang pentingnya vaksin, supaya melek tentang sejarah kesehatan di Indonesia dan Bandung. Lagian kita harus bangga, Bio Farma ini satu-satunya di Asia yang memproduksi vaksin untuk manusia. Di dunia cuma ada 23 negara yang boleh impor vaksin, Bio Farma salah satunya dan termasuk yang terbaik! 

Mau lihat Museum Bio Farma? Setahu saya sih gratis. Oiya, ini nomor kontak yang bisa kalian hubungi:

Ibu N.Nurlela
Tlp : 022-203 3755
Email : corcom@biofarma.co.id

Kontak Bio Farma di Twitter juga bisa.

Cara Menuju Museum Bio Farma

  1. Lokasinya di Jalan Pasteur, di bawah Jembatan layang Pasupati, dekat ke arah Jalan Cipaganti. 
  2. Angkot yang lewat : Lembang - St.Hall, Karang Setra - St.Hall
  3. Masuk dari pintu gerbang yang dekat Masjid Bio Farma



Nonton Film WILD, Jadi Keingetan Jalan Raya Pos

December 13, 2015
Hello. Saya belum bisa posting lebih banyak lagi tentang Bandung dan kota lainnya karena pekerjaan saya menumpuk dan Nabil yang sakit. So saya cerita tentang film Hollywood yang saya baru tonton aja ya. Gak jauh lah temanya dari jalan-jalan. Dan perempuan. Saya suka kalo tokoh utamanya perempuan, karena saya juga perempuan sih :D 

Eits ntar dulu jangan tutup dulu pagenya, filmnya diambil dari kisah nyata. Kalau fakta itu masih kurang, saya kasih tahu ini. Gara-gara film ini saya kepikiran tentang Jalan Raya Pos, jalan yang terbentang dari Anyer di Barat Jawa dan Panarukan di bagian paling timur pulau Jawa. 

Lho kok bisa? Bentar mau cerita filmnya dulu. Sinopsis ceritanya bisa teman-teman baca di Wikipedia sih. Saya ceritain pendek juga deh di sini hehehehe. 

Photo Credit : http://langleyfilmbox.com/

Jalan Kaki Pagi-pagi ke Punclut

December 09, 2015
Pagi yang cerah. Ditambah hari minggu. Sayang kalau cuma tidur-tiduran saja sampai siang hari. Kami sepakat untuk: JALAN-JALAN! Jalan kaki pastinya mah. Ke mana? mendaki gunung, lewati lembah. Tujuan: PUNCLUT.

Pengalaman ke Punclut hari minggu itu saya cukupkan sebagai yang pertama dan terakhir kalinya berjalan kaki ke dataran tinggi tersebut. Capek banget. Tanjakannya gak habis-habis. Kapok hahaha :D

Punclut letaknya di belakang rumah saya. Tapi terpisah beberapa bukit dan lembah. Saya berjalan kaki pukul tujuh pagi. Sampai di Punclut sekitar 2 - 3 jam kemudian. Ada anak kecil umur tiga tahun yang saya ajak sih. Saya dan Gele harus hibur dia biar mau jalan kaki terus, kadang-kadang dihibur dengan nyanyian, terpaksa istirahat, mengikuti ritme jalan kakinya Nabil yang pelan-pelan dan sering kedistraksi dengan laba-laba, rumput, sepeda, burung, kerikil :D Wadow panjang bener! Kalau udah gak kuat sih saya gantian dengan Gele buat gendong Nabil. Hosh! Melakukan itu semua sambil menapaki tanjakan: capek, Jenderal! 



Berkunjung ke Museum Preanger

December 07, 2015
Saya, Gele, Nabil datang ke Hotel Grand Preanger demi masuk ke museumnya. Berhubung informasi tentang museum ini belum banyak, kami bertiga agak khawatir gak boleh masuk ke museumnya sih. Terus bayar gak nih, kalau mahal gimana :D 

Oiya, lokasi Museum Preanger ada di dalam gedung Hotel Grand Preanger. Saya bertanya ke resepsionis tentang museum ini. Dengan ramah petugas hotel menunjukkan arah museumnya. Ternyata gratis aja masuk ke museumnya. Wah legaaaa! 

Nah akhirnya bisa melihat Museum Preanger juga. Gak ribet cara masuknya seperti yang saya bayangkan. Petugas resepsionis bilang kalau museum ini boleh didatangi orang umum, gak mesti tamu yang menginap di hotelnya saja. Tidak ada biaya masuk. Tapi sebaiknya minta izin terlebih dahulu kalau ingin memotret bagian dalam museumnya. 

Terdiri dari dua ruangan, Museum Preanger mungil banget ukurannya. Semua barang ada yang terpajang merupakan koleksi pribadi museumnya. Ada foto-foto yang memperlihatkan gedung pada awal berdirinya dahulu di tahun 1920an, lengkap dengan penjelasannya. Ada juga 'artefak' seperti mesin tik, kamera, dan gramophone. Terpampang garis sejarah Hotel Grand Preanger dari tahun ke tahun. 

Walau sudah pernah baca ceritanya, tapi baru saya lihat di Museum Preanger ini kalau Charlie Chaplin dan Amelia Earhart pernah nginep di sini. Ada juga tokoh-tokoh penting lainnya yang pernah bermalam di Preanger. Gak cuma itu, Museum Preanger ini udah kayak tribute to C.P Wolff Schoemaker, arsitektur gedungnya. Karena karya dan profilnya dipajang hampir di satu ruang lainnya lagi. Dalam mengerjakan rancangan Hotel Preanger, Wolff Schoemaker dibantu oleh asistennya yang beberapa tahun kemudian menjadi presiden RI pertama: Soekarno. 

Kita bisa membeli suvenir Hotel Grand Preanger di dalam museum ini. Bisa juga jadi oleh-oleh Bandung. Karena Grand Preanger adalah satu-satunya hotel di Indonesia dan sudah jadi legenda, gak buka cabang di kota lain. Setahu saya sih gitu, boleh koreksi siapa tahu saya salah tentang hal ini :D 

Beberapa menit di dalam museumnya, saya mengobrol dengan petugas museum yang hanya satu orang itu. Dia mengatakan kalau Museum Preanger bukan untuk dimasuki umum, tapi khusus tamu hotel saja. Wah mana yang bener nih :D Resepsionis dan petugas museum mengatakan hal yang berbeda. 

Mungkin harus telepon dulu Hotel Grand Preanger-nya supaya mendapatkan kepastian boleh masuk gaknya ya ke Museum Preanger. 

Museum Preanger
Di Hotel Grand Preanger
Jl. Asia Afrika No. 81 Bandung
Tlp : 022-4231631

Buka : senin - sabtu
Jam : 11.00 - 17.00





Pengalaman Menginap di Sapu Lidi Resort Bandung

December 04, 2015
Dalam rangka ulang tahun Gele, kami memutuskan menginap di Lembang, tepatnya menginap di Sapu Lidi Cafe, Resort and Gallery. Karena pesen hotelnya bukan di akhir pekan, Sapu Lidi Resort relatif lebih sepi dari tamunya. Saya dan Gele sih menyukai kondisi tersebut, sepi! Hore! :D

Hujan masih turun rintik-rintik waktu kami check-in. Kamar yang saya pilih tipenya Suite Lake View. Resepsionis hotel memberi saya kamar bernama Kacapi. 

Sebenernya saya berharap di kamar ada fasilitas bathtubnya sih. Tapi di kamar Kacapi adanya shower doang. Oleh resepsionisnya, saya dipersilakan milih barangkali mau pindah kamar yang tersedia bathtubnya. Dan setelah saya survey sebentar, saya pilih kamar Kacapi saja. Walau tidak ada bathtubnya, tapi ukuran kamar Kacapi jauh lebih luas dibanding kamar yang ada bathtubnya. 

Lagian saya suka balkon di kamar Kacapi. Cukup luas, nyaman, dan pemandangannya tepat ke arah danau dan beberapa kamar lainnya. Cantik! Strategis!

Sejujurnya interior kamar Kacapi ini agak aneh. Tapi bukan berarti gak enak dan gak nyaman yah. Cuma aneh aja tata letak meja televisi dan lemari pakaiannya. Pemilihan warna gordennya juga agak…norak. Kayaknya kalau gordennya warna krem lebih bagus deh. Tapi ya overall gak ganggu kenyamanan tidur sih :D 

Amenities yang disediakan resort ini gak banyak. Hanya sepasang sikat gigi dan pasta giginya. Tidak ada sandal hotel seperti biasa. Buat hotel dengan rate 600ribuan sebenarnya fasilitas amenities kurang banget sih. Udah gitu bantalnya ada, tapi gulingnya gak ada. Wawaaaw ini juga aneh deh. Sapu Lidi Resort, sediain guling doooong :D

Kekurangan-kekurangan tersebut ketolong dengan suasana resortnya yang alami. Ada banyak pohon, banyak tanaman. Belum lagi danaunya yang lumayan gede ukurannya. Dari balkon, kami bisa kasih makan ikan. Beuh sehat-sehat banget ikan di Sapu Lidi Resort ini ya. Dari yang terkecil sampai yang terbesar, ada semua! Lucu banget ikan-ikannya. Pada seneng hidup di danau itu, gak ada predatornya kali. 

Kami bertiga sempatkan jalan-jalan mengeliling resort. Sejuk banget di sini. Cenderung dingin sih, karena habis hujan dan sudah sore juga. Sepanjang jalan pasti ada pepohonan. Kamar-kamar tipe standardnya sama seperti kamar yang saya tempati, dominan kayu dan banyak elemen dekorasinya. 

Pas lagi asyik jalan-jalan eh ada sampan lewat. Gak banyak mikir langsung numpang perahu itu, didayung sama mamang sampannya sampai dua kali memutari danau. Suasananya yang hening dan adem selama bersampan itu gak bisa saya lupakan. Senyap banget! 

Kembali ke hotel dan memesan makan malam, hujan turun lagi. Kali ini turunnya deras banget. Agak lama sih nunggu makanan datang, pas hujan agak reda barulah makanan diantar ke kamar. Kami bertiga menyantap makanan di balkon kamar. Dingin sih, tapi gak sampai menusuk banget dinginnya. Mungkin karena kami pada dasarnya tinggal di daerah Setiabudhi yang juga dingin.

Pas bersantai di kasur, nonton televisi, channel tivinya kurang banget! Masih banyakan channel tivi unggulan di rumah saya euy. Lumayan sih ada NatGeo :D Tapi…kayaknya tambahin dikit lah channel kayak FOX Movies atau Star World. Channel buat anak-anak sih ada dan cukup. Buat orang dewasa nih yang kurang. Alhasil kami langsung tidur aja, gak ada yang bisa ditonton di televisinya hehehe.

Sebenernya gak ganggu-ganggu amat, tapi nyamuknya ada sih terbang 3-4 nyamuk gitu. Sapu Lidi Resort mesti sediain Hit Elektrik atau lilin aromatherapy lah gitu. Karena tempatnya yang dikeliling pohon dan padi jadi ya wajar ada nyamuk, tapi mesti ada usaha juga biar tamu gak keganggu dengan nyamuknya toh. 

Bangun pada waktu shubuh, sehabis sholat nunggu langit agak terang baru ke balkon. Wah kabutnya masih bisa dilihat. Segar luar biasa. Agak lama saya dan Gele duduk dan ngobrol di balkon. Menikmati kabut, menikmati udara yang sejuk. 

Terus giliran mandi, air panas di Sapu Lidi Resort bagus banget! Panaaaas :D Hahaha. Baguslah gak usah nunggu waktu lama sampai airnya panas. Kamar mandinya lumayan gede, muat kali kalau ada delapan orang masuk ke kamar mandinya sekaligus.

Makan pagi di Sapu Lidi Resort dimulai pukul 07.00 sampai jam 09.00. Keluar kamar saya, Gele, dan Nabil sempetin jalan-jalan dulu, sekalian hunting foto. Cerah sekali pagi itu, sinar mataharinya tajam dan hangat. Pas kena punggung berasa sedang dipijat. 

Pelayan restoran mempersilakan kami duduk di dalam restorannya, tapi kami milih duduk di saung aja. Makan paginya diantar ke saung, gak ada prasmanan seperti biasa karena tamu hotelnya sedikit. Begitu kata mereka. Menunya juga terbatas banget. Mie goreng tektek, nasi goreng aneka macam, Soto Bandung, dan sekitar dua menu lagi. Minumnya juga gak banyak pilihan euy. Mungkin lain kali nginep pas weekend saja biar lebih meriah menu makan paginya. 

Kami pilih menu Nasi Goreng Spesial dan Soto Bandung. Dua menu yang sangat nikmaaaat sekali rasanya. Sayang aja volumenya sedikit, perut kami masih lapar waktu beres makan. Hehehe :D

Sapu Lidi Resort semacam tempat yang cocok buat yang sedang berbulan madu atau sedang kasmaran. Bawa keluarga besar menginap di sini juga menyenangkan. Suasananya adem banget, banyak pohon, ada padi, berderet-deret tanaman hijau. Ditambah suara serangga bersahut-sahutan. Jangan kaget ya kalau ketemu serangga. Namanya juga resort yang banyak pohonnya sih, konsepnya kan kembali ke alam jadi ya ketemu serangga itu harusnya jadi hal yang emang wajar :D Jadi jangan berharap Sapu Lidi Resort adalah tempat yang steril, karena enggak :D jadi ya nikmati saja.

Sapu Lidi Resort umurnya udah lumayan tua sih, hotel lama di Bandung. Di beberapa titik butuh perawatan tambahan deh. Oiya, rate kamar Sapu Lidi Resort yang saya pesan 600ribuan. Ada kamar standard sih, cuma 500ribuan. 

Kalau diukur dengan angka 1-10 dengan angka 10 sebagai angka terbaiknya, Sapu Lidi Resort:
Hospitality : 9
Kebersihan : 8
Makanan : 7 (enak tapi porsinya dikit)
Lokasi : 9 (Jauh dari pusat kota, tapi lumayan dekat dengan pusat kota Lembang) 
Air panas : 10


Cara Menuju Sapu Lidi Resort Lembang

1. Sapu Lidi Resort bisa dicapai dari dua arah: Jl. Sersan Bajuri dan Jl. Raya Lembang. Kalau naik kendaraan pribadi gampangnya sih aktifkan GPS atau search di Google Map. Saran saya sih kalau pergi pas weekend, pilih yang via Jl. Sersan Bajuri aja biar gak kena macet panjang di Jl. Raya Lembang. 

2. Kalau naik kendaraan umum, paling gampang via Jl. Raya Lembang. Karena dari jalan raya menuju Sapu Lidi Resort-nya kan harus jalan kaki, cuma 200 meter lah. Kalau via Jl. Sersan Bajuri mah jauh banget, harus sewa Ojek.

2. Naik angkot Lembang - St.Hall di Terminal Ledeng. Turun di Pertigaan Pos Polisi Beatrix. Dilanjut naik angkot jurusan Parongpong yang warna kuning. Nanti bilang ke sopirnya minta diturunkan di Sapu Lidi Resort/Kompleks Graha Puspa.