Away We Go to Jatigede

April 13, 2015
Menyambung postingan yang ini

Baru kali ini ikutan acara jalan-jalan yang titik kumpulnya jauh. 30 kilometer dari kota Bandung: Jatinangor. 

Ngomongin Jatinangor ingatnya lagu The Panas Dalam. Sudah jangan ke Jatinangor, dia sudah ada yang punya. 

Well ini wilayah penuh kampus. Ada kampus Unpad, Unpas, STPDN dan Ikopin. Sekarang wilayah padat ini makin bertambah penghuninya. ITB. Yes, ITB yang Institut Teknologi Bandung itu. Kelebihan muatan di kota Bandung, kampus gajah ini mengimpor mahasiswa ke Jatinangor.

Dan di gerbang kampus ini lah titik pertama keberangkatan geng Jatigede Tour. Di tepi danau ITB Jatinangor.

Acara Jatigede Tour ini dibuat oleh teman-teman dari Komunitas Save Jatigede. Teman-teman dapat melihat aktivitasnya di sini. Ide tur ke Jatigede ini berangkat dari kampanye mencegah proyek bendungan Jatigede terwujud. Proyek yang sudah berjalan sejak 1982 ini bakal kelar di bulan Juni nanti.

Kenapa gak boleh ada bendungan Jatigede? Ini saya ikutan turnya juga dalam rangka mencari jawaban tersebut. Kenapa saya merasa penting untuk tahu alasannya? karena orang tua dan banyak kerabat saya tinggal di Cirebon dan Indramayu, tempat yang bakal kena efeknya jika Bendungan jatigede itu jebol. 

Menuju Jatigede, saya pergi dengan dua orang teman: penulis dan fotografer -namanya Ayu Kuke Wulandari-, menumpang Teriosnya- M Ichsan Harja Nugraha, arsitek dan seniman lukisan cat air. 

Empat jam perjalanan, tersendat macet di Tanjung Sari, terpotong waktu sholat Jumat di daerah bernama Situraja.

Situraja. Danau tempat raja-raja berkumpul kah dahulunya tempat kami transit ini? Membaca tugu yang ada di Alun-alun kota, Situraja merupakan wilayah pertahanan serangan Belanda pada Agresi Militer di tahun 1946.

Anyway, kembali ke Jatigede. Desa Cipaku adalah yang kami tuju. Satu jam dari Situraja, Cipaku menjadi tempat kami menginap satu hari satu malam. 

Dari pemandangan rumah-rumah pada umumnya (tembok), masuk ke desa Cipaku melihat rumah panggung. Sebagai orang kota, rumah panggung yang semua material rumahnya dari Kayu Jati dan Kayu Mahoni itu aneh sekali. Bukan pemandangan sehari-hari. 

Rumah panggung Jatigede, seksi! 

Kami menginap di satu rumah panggung bercat hijau. Bertemu muka dengan peserta lain, berkenalan, dan langsung makan siang. Perut lapar sekali padahal sudah diganjal semangkuk mie baso di Masjid Alun-alun Situraja satu jam lalu. Ya gimana ya, saya orang Sunda dan prinsip kami adalah: belum makan kalau belum ada nasi yang tertelan! 

Satu porsi ayam goreng + lalap daun singkong + nasi panen anyar (fresh baru saja dipanen) + melanggar prinsip tidak-makan-sambal di perjalanan saya lakukan. Sambalnya: ENAK banget! Gak bikin sakit perut! 

Cipaku sedang musim panen raya. Tanaman Padi juga pohon rambutan. Sayangnya pas kami datang, banyak yang padinya udah dipanen. Padahal pengen lihat padi yang kuning-kuning ranum sejauh mata memandang. Ya gak apa-apa deh, masih banyak yang bisa dinikmati :)

Senangnya tinggal di kampung kayak Cipaku - Jatigede. Bahan makanannya tinggal petik rambutan, potong ayam peliharaan di kandang belakang rumah, ambil telur bebek sesukanya, dan makan padi hasil panen sendiri. Gak ada Alfamart. Gak ada Indomaret. Gak ada 14045. 

Gak ambil waktu istirahat berlama-lama, selain karena penasaran dengan Hutan Larangan ya saya juga takutnya hujan turun. Gak apa-apa hujan juga sih, gak salah hujannya. Cuma ya kondisi kering lebih apa ya, lebih gak riweuh aja walau riweuh itu cuma state of mind aja sih ini saya ngetik apa sih. 

Well, oke lanjut. 

Ke Hutan Larangan. Next. Di sini






Post Comment
Post a Comment