A Blogging Story

February 13, 2015
Pertama kali saya mengikuti kegiatan gathering pegiat media sosial adalah minggu lalu. 6 Februari 2015 di kantor pusat penerbit MIZAN.

Sejak tahun 2009 aktif bermedia sosial, baru dua tahun ini saya serius mengelolanya. Kenapa? Here goes, akan jadi cerita yang lumayan panjang :D

Pada pertemuan yang dihadiri sekitar 20 - 30 orang tersebut, saya khusus datang untuk melihat presentasinya Nukman Luthfie, pakar media sosial. Ini satu-satunya motivasi saya hadir pada acara tersebut. Seperti apa sih wajah orang yang bekerja dengan media sosial? Kenapa dia mau ngurusin media sosial? Bagaimana caranya? Apa yang dia dapat dari pekerjaannya tersebut?

Pertama-tama kita cari tahu dulu siapa Nukman Luthfie? karena saya pun baru mengenal namanya di acara tersebut.


Beliau adalah CEO www.harmonia.co.id dan www.musikkamu.com. Blognya bisa teman-teman baca di www.sudutpandang.com. Dunianya adalah dunia korporat visual consulting sejak tahun 2003. Kliennya banyak sekali! Bank BNI sampai Telkom sampai Asuransi jiwasraya sampai Evalube sampai termasuk pula melahirkan bisnis dotcom dan membesarkan bisnis online media tradisional macam majalan SWA dan koran Bisnis Indonesia. Fiiuuhh satu tarikan napas pun tidak cukup untuk menyebut perjalanan karirnya di dunia internet.

Pakar media ini memiliki lk. 100.000 followers di akun twitternya. Wow. Jumlah followers saya dikali 10 pun belum berhasil menyamai kedudukan beliau. Hampir dua jam Nukman Luthfie cuap-cuap tentang media sosial, saya jadi tercerahkan.

Kita tuh generasi yang aneh. Penghasilan didapat dari "berapa jumlah followersmu?". Ibu dan adik saya yang profesinya apoteker itu pasti geleng-geleng kepala melihat profesi 'aneh' bermunculan gara-gara Internet. Kok bisa dapat penghasilan dari blog? Kok bisa dapat uang dari Twitter?

Hahaha :D dan pekembangan internet masih berjalan terus seiring dengan majunya teknologi. Saya benar-benar gak bisa bayangin reaksi Ibu dan adik saya lima tahun ke depan bakal bagaimana menghadapinya. Untuk menjelaskan yang saya lakukan sekarang dengan blog Bandung Diary saja mereka masih kernyit-kernyit jidat.

Kamu kerjanya apa?
Freelance.

Kerjanya kapan?
Ya bisa diatur-atur waktunya sendiri.

Gajinya gimana, kecil ya? Kerjanya sembarang gitu sih
Halah. 

Jadi kerjanya ngapain aja?
Itu lho, ngurusin sosial media, blog, ya pokoknya kerja online. 
.....
.....
.....

End of discussion. Hahahaha. Ibu dan adik saya bukan satu-satunya, masih banyak orang yang masih melongo dengan profesi 'onliner'. 

Anyway, blog ini saya buat karena menyukai aktivitas jalan-jalan. Saya bermukim Bandung. Dan tiap kali saya bepergian di kota ini untuk urusan pekerjaan maupun perjalanan, ceritanya saya tuangkan di blog. Saya ajak suami saya jadi fotografer blog Bandung Diary. Selain personal writing about Bandung, saya ingin membentuk citra 'great photos' juga didalamnya.

Temanya khusus, tulisannya enak dibaca, fotonya enak dilihat. Begitulah seharusnya blog saya ini.

Kenapa mesti diceritain segala sih di blog? Ya karena saya suka nulis. Kedua, saya senang diperhatikan. Ada orang baca tulisan kita, itu bikin seneng, bikin saya percaya diri dan ada perasaan "saya memiliki karya". Lebay? So be it :D Hehehe.  

Karena hobi dan objek yang saya sukai, maka rutinlah saya jalan-jalan di sekitar bangunan kolonial di Bandung. Gak hanya sejarah, saya juga seorang food enthusiats. Food street Bandung gak ada matinya dan saya cinta semua makanan jalanan Bandung!


Jadi kalau teman-teman membaca blog saya secara reguler, kontennya gak pernah jauh dari yang saya sebut di atas barusan. Sejarah dan budaya, food and travel. Kalau ada yang 'melenceng' itu sifatnya berbayar :D hahaha.

Sejujurnya dengan boomingnya profesi blogger sekarang, saya benar-benar harus mau mengerem diri sendiri dan menolak banyak undangan dari banyak produk.

Sok penting banget sih, sombong amat, Neng? Kayak udah jadi blogger beken aja pake nolak-nolak. Bukan bermaksud sombong, Kakaa.

Begini loh, dibanding era saya ngeblog di tahun 2007 - 2011, dua tahun ini blog jadi trending topik di kalangan ibu-ibu dan kaum freelancer. Tiba-tiba semua orang ingin jadi Blogger. Tiba-tiba saya disebut Blogger. Tiba-tiba banyak perusahaan yang mengundang Blogger.

Semacam komersialisasi profesi blogger. Sementara saya mulai ngeblog tanpa keinginan jadi terkenal, gak ada maksud cari uang, dan gak pengen disebut sebagai Blogger. I blog because i like to write. Dan bahan tulisan saya adalah Bandung karena saya menyukai kota ini dengan segala sejarah dan budaya yang terjadi dalamnya. Itu saja.



Terus kenapa saya ikut-ikutan kaum blogger pencari penghasilan dari blognya?

Karena saya mau pensiun jadi penonton. Saya mau jadi pemain. Internet adalah dunia yang sangat cemerlang. Entah di depan nanti akan terjadi apa, tapi industri ini (internet, termasuk di dalamnya blogging, media sosial, aplikasi) masih muda dan akan terus berkembang.

Dalam rangka merintis karir jadi 'pemain', saya rutin update postingan blog dan mulai dengan masuk ke komunitas blog. Sejak itu muncul berbagai macam undangan. Undangan makan, undangan peluncuran produk, seminar, dan lain sebagainya. Temanya macam-macam. Mulai dari traveling, keuangan, parenting, beauty, asuransi, dan masih banyak lagi.

Pada awalnya saya menghadiri macam-macam acara tersebut. Sesampainya di rumah saya kebingungan. Acara yang saya hadiri dengan blog yang saya buat, dimana nyambungnya dan bagaimana menulis reviewnya?

Sejak itu saya mulai selektif menghadiri event. Kalau nyambung dengan food, travel, dan budaya maka saya pasti datang. Jika tidak, saya harus absen. Saya ingin dikenal sebagai not just a blogger, i am a Bandung Diary Blogger.

Gak nyesel tuh nolak-nolak? nyesel lah hahaha. Saya sampai sering mikir "aduh salah gak yah gak dateng ke acara anu". Tapi yasudahlah, i'll take the risk. Karena saya bukan beauty blogger, bukan techno blogger, bukan sporty blogger, bukan blogger gado-gado. Saya adalah kreatornya Bandung Diary, blog yang menceritakan Bandung dari sudut pandang sejarah, bangunan tua, penginapan, makanan dan jalan-jalan. Jika suatu hari saya mereview produk, pasti harus berhubungan dengan blog saya ini dan dalam rangka memperluas jaringan.

Saya menyadari hal tersebut membentuk personal branding saya. Meski belum banyak, ada saja yang bertanya tentang Bandung via whatsap, sms dan email. Mereka bertanya tempat makan yang menunya enak, hotel murah, sampai petunjuk jalan. Terkadang sampai minta foto yang saya upload di blog :D Bagus dong, persepsi orang tentang saya dan blog ini sudah terbentuk. Padahal saya gak ada niat mau membrandingkan diri bahwa saya tahu segala macam tentang Bandung. It's just came up along the way.


Personal branding inilah yang jadi bahasannya Nukman Luthfie. Ya ampun nulis panjang baru masuk ke inti tulisannya. Hahahha.

Poin penting yang disampaikan oleh Nukman bisa teman-teman baca di blognya Alaika Abdullah. Secara lengkap, Alaika memaparkan materi Nukman Luthfie dengan jelas dan enak dibaca.

Terlarut dalam presentasinya yang lucu dan seru, saya gak mencatat satu per satu secara detail poin yang beliau sampaikan. Tulisan ini saya buat dari kesimpulan sendiri, hasil dari ngedengerin materi beliau ya. Di sini saya mau ukur materi Nukman dengan blog saya. Khususnya tentang personal branding.

Sejauh ini saya cukup konsisten dengan tema blog yang saya buat. Konsisten tapi kontennya masih berantakan. Bagusnya sih saya buat tema di hari tertentu, untuk menegaskan branding yang ingin saya kuatkan temanya. Bener gak?

Kedua, saya masih kedodoran di media sosial. Twitter dan Instagramnya Bandung Diary tidak saya kelola dengan matang dan konsisten. PR saya masih banyak. Tapi untuk personal branding, berdasarkan materinya Nukman Luthfie, di jalur blog saya (dengan pedenya mau bilang) sudah ada di jalan yang benar. Tinggal dikerjakan dengan 'strategi' saja.



Ketiga, i don't do selfie a lot. Ketika saya upload foto, saya memberi cerita di dalamnya. Saya membuat konten yang content. Emang salah selfie-selfiean? Tentu saja tidak. Hanya saja Nukman Luthfie bilang jangan kebanyakan selfie. Hihi :D Kalau menurut saya pada intinya kalau mau upload foto, kasih cerita didalamnya. Jangan sekedar selfie. Kenapa? ya karena mau bangun personal branding kan? kecuali branding yang mau dibangunnya hanya sekedar 'eksis' tanpa konten didalamnya.

Kalau Nukman Luthfie sudah mereguk profit dan benefit dari dunia yang beliau geluti sejak tahun 2003, berapa tahun yang harus saya lewati supaya di posisi yang sama dengan beliau?

Bandung Diary dalam 3 tahun ke depan sudah tahu akan saya bawa ke mana. Saya ingin menghasilkan produk Bandung Diary. Apa produknya? masih rahasia :) Tahun ini akan keluar satu per satu. Huihihi :D

Melihat materi Nukman pada acara Gathering Pegiat Social Media di MIZAN, seperti merangkum sekilas perjalanan beliau di dunia internet. Untuk melakukan semua proses yang Nukman lakukan sampai berhasil di posisi sekarang, dia harus cinta dulu sama apa yang dia kerjakan. That's the key. Dia pasti cinta banget dengan apa yang dia kerjakan. Siapa yang gak cinta sama pekerjaannya kalau ikhlas meninggalkan gelar sarjana teknik nuklir dan memilih duduk di belakang layar lalu mendapat 100.000 followers dan membangun banyak bisnis dotcom? :D

Okelah secara kasar kita bisa sebut tujuan kita nyemplung di dunia online dan bermedia sosial adalah UANG. Whatelse? dapat barang gratisan? jualan? Ya itu juga bisa :P

Tapi gini. There's no such thing as gratisan di dunia ini. Uang dan barang gratisan tidak tiba-tiba muncul di samping tempat tidur kita. Uang dan barang gratisan yang kang Nukman peroleh dibangun dari ketekunan merajut personal branding menit per menit, tweet per tweet, status per status, postingan blog per postingan blog, klien per klien. Begitu loh. Makanya, cintai dulu bidang yang kamu sukai. Karena kalau sudah cinta biasanya pasti tekun karena senang melakukannya.

Ilmu dari Nukman Luthfie sangat bermanfaat. Saya rekam baik-baik dan akan saya lakukan mulai dari sekarang. Saya senang dengan keputusan saya datang ke acaranya MIZAN itu. Gak nyesel. 

Pada mulanya memulai blog tanpa tujuan, sekarang saya punya visi dan misi. There's something bigger yang saya ingin wujudkan dengan blog ini.


So next time kita bertemu muka secara langsung, i am Ulu dan saya adalah kreatornya Bandung Diary, a blog about history and culture, food and travel. Untuk sementara bisa follow saya di Instagram: bandungdiary dan Twitter @bandungdiary. I'll see you there :)

9 comments on "A Blogging Story"
  1. Hihihi kalau aku sih masih suka penasaran buat ikut ripyu ini itu. tapi buat lomba udah mulai pilih2. Kalau ga bisa kayak lomba otomotif, melipir aja. :) lomba blog yang ga bisa ditulis dengan bahasa santai nan personal juga aku skip. Lieur, Lu. :D

    Lain waktu, aku yakin orang bakal identikin Ulu sebagai kreatornya blog all about Bandung. banyakin postingnya, Lu. meski harus banyak nykreuh alias jalan kaki hehehe

    ReplyDelete
  2. Aku cukup sering main BW ke blog ini. Karena aku juga suka Bandung (sewaktu pertama kali merantau kesini tak terlintas aku bakal segini jatuh cinta :D). Aku jealous sedikit nih, dengan konsistensi tema blognya. Kalau saya masih gado-gado, meski sudah kelihatan & memperlihatkan hobiku yg seneng ngobrolin buku dan kesukaan berpuisi. Semoga sukses planning branding blognya ya :)

    ReplyDelete
  3. Wohoooo... Bang Nukman komen di mari, kakaaaak...!!
    Syelamaaaattt :))
    Bang Nukman main di blog akyu dooong, dong... :))
    bukanbocahbiasa(dot)com

    ReplyDelete
  4. Bandung Diary, nice.... Juga seperti Jogjaready.com milik saya, mau dibawa kemana, sama seperti mbak Ulu. happy blogging.... :)

    ReplyDelete
  5. Saya Mas Nuz, tulis apa saja yang penting hati senang. Hati yang baca pun ikut senang.
    Personal brandingnya, blogger suka-suka.

    Sukses tuk blognya, Teh.

    @nuzululpunya

    ReplyDelete
  6. kalau dulu syaa suka cape ditanya kenapa memilih jadi ibu RT. Sekarang cape, kenapa ditanya jadi blogger. Ah, ya sudahlah hihihi

    ReplyDelete
  7. Inspiring mak Ulu... katingali na meni resep pisan jadi blogger teh, komo nu tos kondang nya ...

    pelan2 pingin juga sih jd blogger beneran hihihi

    ReplyDelete