Image Slider

Breakfast at Sensa Hotel

February 14, 2015
Sarapan di Hotel Sensa seperti pesta kebun sore hari. Banyak makanan, rasanya enak, dan lokasi restorannya terbagi dua, indoor dan outdoor di tepi kolam renang. Cuaca Bandung yang sejuk, matahari yang hangat, cocoknya makan pagi di pinggir kolam renang. 

Sosis sapi, sosis ayam, aneka danish roti dan tenggorokan yang dibasahi jus mangga dan strawberi. Belum kenyang!

Seusai berenang, jam 9 pagi. Kami masuk arena makan indoor. Langsung lanjut makan pagi babak dua. Gele ambil nasi goreng, smoke beef and cheese dengan saus yang namanya saya lupa lagi. Saya makan potato wedges, mushroom soup, ayam mentega. Nabil mengunyah sereal dan susunya. 

Kenyang? Belum :D Makan pagi berlanjut hingga babak empat. 

Makan pagi di hotel Sensa luar biasa rasanya dan jumlahnya. Mulai dari yang tradisional hingga lidahnya kebarat-baratan tersedia. Menginap di Sensa menyenangkan. Semuanya serba nyaman. 


A Blogging Story

February 13, 2015
Pertama kali saya mengikuti kegiatan gathering pegiat media sosial adalah minggu lalu. 6 Februari 2015 di kantor pusat penerbit MIZAN.

Sejak tahun 2009 aktif bermedia sosial, baru dua tahun ini saya serius mengelolanya. Kenapa? Here goes, akan jadi cerita yang lumayan panjang :D

Pada pertemuan yang dihadiri sekitar 20 - 30 orang tersebut, saya khusus datang untuk melihat presentasinya Nukman Luthfie, pakar media sosial. Ini satu-satunya motivasi saya hadir pada acara tersebut. Seperti apa sih wajah orang yang bekerja dengan media sosial? Kenapa dia mau ngurusin media sosial? Bagaimana caranya? Apa yang dia dapat dari pekerjaannya tersebut?

Pertama-tama kita cari tahu dulu siapa Nukman Luthfie? karena saya pun baru mengenal namanya di acara tersebut.


Beliau adalah CEO www.harmonia.co.id dan www.musikkamu.com. Blognya bisa teman-teman baca di www.sudutpandang.com. Dunianya adalah dunia korporat visual consulting sejak tahun 2003. Kliennya banyak sekali! Bank BNI sampai Telkom sampai Asuransi jiwasraya sampai Evalube sampai termasuk pula melahirkan bisnis dotcom dan membesarkan bisnis online media tradisional macam majalan SWA dan koran Bisnis Indonesia. Fiiuuhh satu tarikan napas pun tidak cukup untuk menyebut perjalanan karirnya di dunia internet.

Pakar media ini memiliki lk. 100.000 followers di akun twitternya. Wow. Jumlah followers saya dikali 10 pun belum berhasil menyamai kedudukan beliau. Hampir dua jam Nukman Luthfie cuap-cuap tentang media sosial, saya jadi tercerahkan.

Kita tuh generasi yang aneh. Penghasilan didapat dari "berapa jumlah followersmu?". Ibu dan adik saya yang profesinya apoteker itu pasti geleng-geleng kepala melihat profesi 'aneh' bermunculan gara-gara Internet. Kok bisa dapat penghasilan dari blog? Kok bisa dapat uang dari Twitter?

Hahaha :D dan pekembangan internet masih berjalan terus seiring dengan majunya teknologi. Saya benar-benar gak bisa bayangin reaksi Ibu dan adik saya lima tahun ke depan bakal bagaimana menghadapinya. Untuk menjelaskan yang saya lakukan sekarang dengan blog Bandung Diary saja mereka masih kernyit-kernyit jidat.

Kamu kerjanya apa?
Freelance.

Kerjanya kapan?
Ya bisa diatur-atur waktunya sendiri.

Gajinya gimana, kecil ya? Kerjanya sembarang gitu sih
Halah. 

Jadi kerjanya ngapain aja?
Itu lho, ngurusin sosial media, blog, ya pokoknya kerja online. 
.....
.....
.....

End of discussion. Hahahaha. Ibu dan adik saya bukan satu-satunya, masih banyak orang yang masih melongo dengan profesi 'onliner'. 

Anyway, blog ini saya buat karena menyukai aktivitas jalan-jalan. Saya bermukim Bandung. Dan tiap kali saya bepergian di kota ini untuk urusan pekerjaan maupun perjalanan, ceritanya saya tuangkan di blog. Saya ajak suami saya jadi fotografer blog Bandung Diary. Selain personal writing about Bandung, saya ingin membentuk citra 'great photos' juga didalamnya.

Temanya khusus, tulisannya enak dibaca, fotonya enak dilihat. Begitulah seharusnya blog saya ini.

Kenapa mesti diceritain segala sih di blog? Ya karena saya suka nulis. Kedua, saya senang diperhatikan. Ada orang baca tulisan kita, itu bikin seneng, bikin saya percaya diri dan ada perasaan "saya memiliki karya". Lebay? So be it :D Hehehe.  

Karena hobi dan objek yang saya sukai, maka rutinlah saya jalan-jalan di sekitar bangunan kolonial di Bandung. Gak hanya sejarah, saya juga seorang food enthusiats. Food street Bandung gak ada matinya dan saya cinta semua makanan jalanan Bandung!

Happy Cow Steak di Dago Bandung

February 11, 2015
Tempat makan steak favorit saya adalah Happy Cow Steak. Lokasinya di Dago dan Palasari. Biasanya saya makan di Happy Cow Steak Dago karena lebih dekat rumah. 

Steaknya lezat dan harganya relatif terjangkau. Malah kemurahan sih :D padahal rasanya enak. Ya gak apa-apa, jangan dinaikkin ya harganya, wahai HappyCow! hehehe :D 

Kalau lagi pada ke Bandung dan cari rekomendasi makan steak, saya pasti jawab Happy Cow Steak! Favorit saya adalah Double Combo yang beef sausage dan Chiken Maryland. Terkadang kalau uang lagi berlebih saya makan Santori Steak juga, mirip Wagyu hanya saja lebih murah. Tapi dagingnya itu huhuhu enak sekali! 

Udah gak kehitung berapa kali saya ke Happy Cow Steak! Enak banget :D 

Happy Cow Steak
Jl. Dago 325 
Depannya Dinas Peternakan, sebrang Borma naik dikit. Dari arah Dago bawah sebelah kiri jalan.

Terakhir makan di sana menunya yang ada di foto ini nih.
Chiken Maryland.
Tenderloin Steak medium rare.
Loco Moco.
Crispy Mushroom.
Minumnya ada Klorofil, Shocking Milk Soda, dan Ice tea.
Totalnya 180.000.


Hotel Sensa Bandung in Frame

February 08, 2015
Hotel Sensa terletak di kompleks mall CiWalk, pusat perbelanjaan Cihampelas. Mudah dijangkau dan aksesnya ke mana-mana dekat. Pilihan menginap di hotel ini gak salah.

Menurut saya CiWalk tuh mall terbaik di Bandung. Gak mewah-mewah amat, pertokoannya juga bagus-bagus tapi gak berlebihan. Yang bagus, CiWalk menyediakan fasilitas berjalan kaki dengan kursi taman yang banyak lalu tersedia pula toilet yang bersih.

Sesuai namanya, CiWalk cocok buat jalan kaki. CiWalk dan Sensa ya hampir serupa. Clean and fresh and simpel. 

This hotel is totally recommended. Teman-teman bisa pesen hotelnya melalui saya :D Nanti saya pesankan via Agoda dengan harga yang lebih murah lagi. 



Peluncuran Buku dan Other Fun Stuff di Bandung

February 06, 2015
Hello, guys. Belum ada yang spesial. Bandung masih kalem di hari kerja dan brutal di akhir minggu. Kabar kalian gimana? Saya dalam seminggu kemarin menghadiri dua peluncuran buku. 

Pertama, buku Panduan Wisata Pusaka 9 Kota Besar Indonesia. Penulisnya orang Belanda, fasih berbahasa Indonesia, ahli geografi, mantan backpacker, dan cinta dengan arsitektur. Bukunya sudah saya baca, tapi belum tamat. Ya tentu saja Bandung ada di antara 9 kota itu. Bab tentang Bandung yang saya baca duluan, lanjut Cirebon, dan Malang. 

Bukunya menarik, lengkap, dan detail. Emile, penulisnya, ternyata menulis buku ini untuk turis Belanda. Buku edisi berbahasa Indonesia yang saya beli saat peluncurannya terbit belakangan, setelah buku berbahasa belandanya. Oalaaa! 

Bukunya minim foto. Font terlalu kecil. Tersedia peta perjalanan di tiap kota. Setiap objek yang didatangi dicantumkan nomor. Jadi kalau kita mau ikuti rute di buku ya bisa banget. Sebagai buku panduan, ini buku yang bagus. Tahap demi tahap perjalanan dilalui berdasarkan perkembangan sejarah. Sampai ada rute masuk gang kecil segala. Seru! Harus punya satu dan bawa jalan-jalan ke 9 kota. Buku ini bisa banget dijadiin panduan jalan-jalan. Tapi sayang bukunya terlalu besar untuk jadi buku panduan wisata euy. 

Buku kedua, Bandung Purba. Asyik, ya. Setelah Wisata Heritage di atas, saya lanjut berwisata sejarah purba! Ini juga panduan, tapi lebih naratif per artikel. Ini mah buku 'sejarah' banget. Bukan isinya saja tapi penulisnya juga orang-orang legenda hidup! 

Lain-lainnya di Bandung ya begitu saja. Hujan, kecipratan mobil yang lewat, naik angkot, nginep di hotel, jajan kue balok, ke Jonas Photo, keliling tempat roti. Menyenangkan. 

Hotel Sensa Bandung: di Pusat Perbelanjaan Cihampelas

February 05, 2015
Halow! Bandung Diary baru aja nginep di Hotel Sensa. Nginep bertiga, saya, Gele dan Nabil sengaja mondok di hotel bintang 4 ini pas hari kerja. Licik sih gak nginep pas weekend hohoho :D ya maklum kami -saya dan gele- adalah pekerja self-employee. We work from home (and from wherever the place is, yang penting laptop dan internet ada). So we have this huge chance to choose the day to work and the day to have holiday. Actually we work most of the time. So having time to spend one night at Sensa Hotel is very very relaxing. 

Lagipula, abis pulang dari hotel Sensa, kami putuskan bahwa hotel ini highly recommended banget. Kebersihannya oke, pelayanannya baik, dan sarapannya lengkap dan enak! Nih saya kupas satu-satu yak. 

Dimulai dari Lobi hotel. Fresh and clean. Dominan warna hijau dan lambang kupu-kupu. Hotel Sensa desainnya modern dan termasuk hotel 'balita' di Bandung, alias umurnya sekitar lima tahunan lah. Di Lobi tersedia sofa-sofa lucu! Kalau siang hari kursi lobinya kelihatan lucu, kalau malam makin keren karena lighting yang oke. Hotel Sensa bukan jenis hotel yang segala macam diterangin. Secukupnya tapi pas!

Beranjak ke kamar, kami tidur di kamar Superior no 918 di lantai 9. Luas kamar 34 m2. Dan horeeee! view kamarnya menghadap ke Pasupati! Next time teman-teman ke Bandung dan menginap di Hotel Sensa, rikwes aja view kamarnya yang ngadep ke arah Jembatan Layang Pasupati ya. Pemandangan kotanya oke sih dan kalau malam Jembatannya keluar lampu warna-warni. Seru! 



Babah Kuya, Toko Jamu di Bandung

February 03, 2015
Ibu saya pernah berkata, bikin Empal Gentong itu susah banget. Bumbunya banyak dan rumit. Di Bandung, satu-satunya tempat kita bisa beli satu bahan khusus untuk menciptakan rasa Empal Gentong yang 'cirebon banget' adalah di toko Babah Kuya. 

Bertemu Saudara Lama di Pasar Baru Bandung

February 02, 2015
Pasar Baru. 

Aha! Ring a bell? Siapa yang gak tahu tentang Pasar Baru-nya Bandung. Kalian tahu tidak berapa jumlah rupiah yang berputar-putar di Pasar Baru setiap harinya? hampir 20 miliar per hari. Dua puluh miliar! 

Pasar Baru itu tempat jual beli. Semua produk yang ada dari ujung kepala sampai ujung kaki kalian ada di tempat ini. Harganya murah meriah muncrat! Produknya dari yang paling norak sampai yang paling trendy. Mau cari tahu sedang demam fesyen apa di Bandung dan apa produk fesyen yang teman-teman bisa beli di Pasar Baru lalu dijual di kota lain? Pergilah ke Pasar Baru.

Pasar Baru juga kayaknya satu-satunya tempat favorit turis asal Malaysia deh. Hahaha :D kayaknya wajib gitu ke Pasar Baru. Cuma di tempat ini mata uang ringgit mendapat kedudukan setara dengan rupiah. 

Sesungguhnya Pasar Baru adalah tempat yang "gak saya banget". Saya suka belanja, iya tentu saja. Namun Pasar Baru buat saya terlalu padat. Jika terpaksa harus berbelanja ke pusat perdagangan fesyen grosiran ini, saya sudah membuat daftar belanjaan terlebih dulu di rumah dan tidak mau menjelajah banyak kios di Pasar Baru demi memperoleh harga yang murah. Males muter-muterin kios di sana. Pusing. 

Prinsip belanja saya di Pasar Baru: Bikin daftar belanja - datang di hari kerja - jam 9 pagi sudah di lokasi - cari maksimal 2 kios untuk perbandingan harga - beli - pulang. Jarang menjelajah Pasar Baru dari  lantai 2 sampai 7. Lantai dasar dan satu sudah paling mentok alias cukup sudah! 

Tapi teman-teman tahu tidak kalau Pasar Baru ini salah satu titik terpenting perkembangan kota Bandung dahuluuuuu di awal tahun 1900an, baik secara ekonomi maupun budayanya. Sekarang juga masih jadi kawasan yang sangaaat penting di Bandung, tapi bisnisnya doang. Kelestarian sejarahnya mana dipeduliin. Kasihan.

#Blackandwhite Photo Challenge

February 01, 2015
Beberapa waktu lalu di Facebook ramai aneka tantangan ini dan itu. Saya di tag seorang teman tantangan foto hitam putih. Selama lima hari harus upload foto hitam putih berturut-turut. Saya keluarkan stok foto lama. 

Saya upload juga di sini deh. Semua foto berikut ini saya edit menggunakan aplikasi Instagram. Repot kalau mesti buka photoshop :D hehehe. Oya, tiap foto saya beri judul. 


Hello, Dago!