Surabi Bandung

September 12, 2014
Mau cuap-cuap tentang Surabi. 

Di Bandung sudah jarang yang menjual Surabi gaya tradisional. Kalau rasa sih masih ada lah, oncom dan polos. Tapi kalau tempat jualannya, saya sudah tidak lagi melihat jongko Surabi seperti dulu kala.




Kalau di Cirebon dan Indramayu, jongko serabi (di pantura, bukan Surabi pake U, tapi Serabi pake E) bentuknya tidak permanen. Pedagangnya pasti ibu-ibu tua. Dagangnya sambil duduk. Masaknya juga sambil duduk. Barang dagangannya dipajang di meja kecil yang tingginya tidak lebih dari tinggi Ibu penjual tersebut waktu lagi duduk. 



Pembeli kudu bungkuk atau jongkok untuk milih dan ambil Serabinya. Makannya ya terserah, mau ikut terus jongkok atau berdiri dan bawa pulang. 

Begitu pemandangan jongko serabi yang saya tahu. Di Bandung bukan gitu. Lebih tepatnya, tidak ada lagi penjual Surabi yang berjongko. Paling sederhana yang gerobak. 

Sekarang Surabi tradisional dan yang modern bisa kita bedakan dari waktu berjualan dan tempatnya berdagang. Ambil contoh Bandung ya, karena basis blog ini kan Bandung :D hehehe.



Surabi tradisional di Bandung mulai berjualan saat matahari baru terbit. Jenis Surabi yang dijual juga terbatas tiga macam: polos, kinca (gula merah), dan telor. Kalau yang modern biasanya mulai berdagang sore hari. Rasa Surabinya wuih macam-macam sekali dan warna-warni. Semua ada deh, coklat sampai sosis dan mayones juga yang ada flanya. 



Tipe pembeli juga berbeda. Surabi pagi hari pembelinya dari banyak jenis usia. Kebanyakan sih umur menengah dan tua. Karena yang muda-muda pada jajan Surabi di sore hari, bersama teman-temannya, pacarnya, gengnya. Iya, Surabi modern sekarang jadi tempat nongkrong! Bukan ngobrol dengan pedagangnya, tapi ya sesama pembeli saja. Sementara yang tradisional biasanya gak jarang terjadi percakapan antara yang jual dan yang beli. 

Begitu deh satu cerita makanan paginya Orang Bandung. Selain Surabi, masih ada banyak lagi jenis 'breakfast'nya orang Bandung. Nanti saya kasihtahu ya cerita lainnya dari Surabi juga Surabi-surabi yang recommended di Bandung :) 




Foto: Nurul Ulu
1 comment on "Surabi Bandung"
  1. Halo Mba Nurul, boleh tolong infonya serabi yg pake kinca tradisional dimana persisnya yg jual ya? jam bukanya? Makasih ya

    ReplyDelete