Image Slider

Taman Balaikota Bandung

September 29, 2014
Belanda menyukai Bandung. Mereka menunjuk kota ini sebagai tempat peristirahatan. Segenap usaha mereka lakukan agar Bandung menjelma sebagai The New Holland. Atau The New Paris sih. Katanya kan Bandung itu Parijs Van Java. Buat saya Bandung masih Parit Van Java euy. Anyhow, Belanda mengecat gedung-gedungnya warna putih dan taman kota diperbanyak. Bandung yang seratus tahun lalu masih kosong menjadi wahana 'bermainnya' pelaku tata ruang dan arsitek Belanda. Peninggalan mereka masih banyak. Salah satunya taman kota. 

Taman kota dan bangunan tua yang masih apik terjaga adalah area Balaikota. Tentu saja bangunannya masih awet, itu kan markas besar pemerintah kota Bandung. Pemkot Bandung bisa dikeplak persatuan arsitek indonesia kalau macam-macam dengan gedungnya yang bersejarah itu :D 

Jawadah Tutung Biritna, Sacarana Sacarana - Beda Tempat Beda Adat

September 27, 2014
“Ngopi yuk”
“Euu anu, saya gak minum kopi euy”
“Ih bukan. Maksud saya nongkrong, gak mesti minum kopi”
“Oh! Tapi tadi katanya ngopi?”
“Iya gak mesti minum kopi atuh, Lu”
“Oh gitu, terus ngopi di mana kita?”
“Berhubung akhir bulan & duit saya tinggal selembar 20 ribu ini saja, saya traktir kamu ngopi di Warung Mang Eboy saja, ya. Makan gorengan atau minum air putih juga itu namanya Ngopi, Lu”.
“Ohhhh jadi yang penting ngemil ya?”
“Ngopi itu artinya ngemil sambil ngobrol alias nongkrong!”

Ngopi merupakan satu dari sekian banyak istilah dan kebiasaan di Bandung yang saya pelajari dari teman kuliah.

17 tahun saya tinggal di Indramayu dan Cirebon, tak satu pun kerabat dan teman yang ngajak nongkrong dengan istilah Ngopi. Kalau di sana namanya Midang dan Jabur. Midang artinya nongkrong di teras depan rumah, Jabur artinya ngemil makan kue. Semua istilah tersebut artinya sesuai.

Sementara itu di Bandung, Ngopi artinya nongkrong di mana saja sambil ngemil dan minum kopi, teh, atau air putih. Tidak hanya nenek saya, teman kuliah pun sering mengajak saya nongkrong dengan kata kunci : Ngopi. Di teras rumah, di meja makan setelah bangun tidur, sampai di depan pintu kelas di kampus. 

Budaya Ngopi yang belakangan baru saya ketahui ini mempertegas budaya kuliner di Bandung yang kuat sekali. Orang Bandung senang berkumpul, kapan pun ketika senggang. Di warung, di kafe, di restoran, bahkan di lantai teras perpustakaan. Budaya berkumpul ini melahirkan budaya makan cemilan. Namanya orang ngobrol kan lebih seru kalau ada sesuatu yang bisa dicemil. Garing amat kalau ngobrol melulu. Lapar euy :D

Saya sih yakin budaya Ngopi ini lahir karena cuaca Bandung yang adem dan sejuk. Karena jarang keluar keringat saking ademnya, orang Bandung lebih cenderung tenang dan kalem. Berbeda dengan orang-orang yang pernah mengisi hidup saya di zaman SD sampai SMA di pesisir jawa bagian utara. Saya dan mereka saat itu keluar keringat lebih banyak karena cuaca yang panas. Tidak heran orang yang tinggal di dataran rendah tropis lebih terlihat gelisah dan bergerak lebih cepat.

Orang Bandung di mata saya yang baru mahasiswi waktu itu adalah orang-orang yang lamban. Lebih banyak tertawa dan lebih banyak bermain kata jika ingin mengungkapkan sesuatu, entah itu marah, kecewa, atau senang. Rasanya sampai saat ini pun, setelah menjadi penduduk Bandung selama 12 tahun, saya masih selugas orang Pantura dan membuat beberapa orang tersinggung karena sikap saya yang terlalu berterus terang. Padahal sesungguhnya saya hanya sedang secara refleks menampilkan budaya ekspresif dan terbuka ala orang pantai. 

Kalau ada yang berhutang, saya pasti tagih langsung di muka orangnya.
Kalau ada yang sikap yang saya tak suka, saya pasti tegur orang yang bersangkutan.
Kalau saya tak puas, saya protes langsung di hadapan orang itu.
Kalau saya marah, tampak muka saya manyun menahan geram dan memperlihatkannya langsung ke subjek yang membuat saya marah.

Sikap yang ekspresif ini saya peroleh dari hasil tumbuh kembang di Indramayu dan Cirebon. Di dua kota tersebut, saya belajar untuk menyampaikan maksud langsung ke tujuan, langsung kemukakan maunya apa disertai intonasi suara yang tinggi, tentu saja. Bukan karena marah, hanya saja memang seperti itu kalau di Pantura. Orang berbicara seperti sedang berteriak. Berbeda ketika saya di Bandung. Segala sesuatunya berjalan perlahan dan berputar-putar. Orang-orangnya berbicara seperti sedang bernyanyi. Merdu dan lembut.

Di penghujung umur 20, saya adalah setengah Laut dan setengah Gunung. Dahulu saya lugas dan tegas, sekarang saya sudah (sedikit) lebih lembut. Sekarang sudah mulai bisa mengatur volume suara paling enggak lah, tergantung siapa yang saya ajak bicara.

Kontur dataran yang berbeda dan cuaca yang kontradiktif berpengaruh besar dalam budaya. Lucu juga saya sanggup bertahan di dua kutub yang berbeda, bahkan menikahi salah satunya.

Dalam bahasa Sunda, kesimpulan dari yang saya alami ini namanya Jawadah tutung biritna, sacarana-sacarana. Artinya adat istiadat dan kebiasaan di tiap daerah berbeda-beda, masing-masing punya kebiasaan sendiri. Namun saya yakin tidak ada diantara keduanya yang lebih baik. Semua adat dan kebiasaan di tiap daerah sama baiknya. Sudah diatur oleh Tuhan sesuai dengan cuaca dan kontur datarannya, bukan? 

Shock-culture alias gegar budaya karena perbedaan itu hal yang wajar, yang penting pegang kata kunci ini baik-baik kalau sedang berada di daerah lain, supaya kita bisa membawa diri bukannya tidak tahu diri: jawadah tutung biritna, sacarana sacarana. Beda tempat, beda adat. Sesuaikan perilakumu dengan tempat kamu berada. 

Hidup Gunung!
Hidup Laut!

Sepuluh Buku

September 25, 2014
Saya mah bukan tukang baca. Kalau Gele iya. Dia lebih banyak baca buku dibanding saya. Gele juga lebih sering membaca buku yang 'berisi' dibanding saya.

Padahal saya anak sastra sih :D harusnya pengetahuan perbukuan saya lebih nendang. Ah tapi yasudahlah.

Aniway, menjawab tag dari Intan, ini 10 buku yang seenggaknya paling berbekas buat saya. Konten ceritanya bagus, cara menulisnya cantik, dan selesai membaca bukunya otak saya serasa mengggendut aja. Di antara semua yang saya baca, saya paling suka yang ada konten sejarahnya. Beberapa buku ini memang kuat tema sejarahnya.

Here goes!

1. Sundea - Dunia Adin
Foto dari Goodreads.com

Pohon Beringin di Bandung

September 24, 2014
Masih dalam rangka pepohonan pinggir jalan kota Bandung. Berikutnya kita bahas sedikit tentang Pohon Beringin ya. 

Beringin (Ficus Benjamina)

Pohon yang identik dengan angker ini memiliki daun yang rimbun dan batang pohonnya bercabang ke sana ke mari. Di Dago ada nih satu Pohon Beringin, di depan SMA 1 Bandung. 

Sebenarnya kalau diperhatikan, setiap ada bangunan Belanda yang megah, pasti deh ada Pohon Beringin di halaman depannya. Gak heran sih, pohon ini kan termasuk pohon pekarangan. Zaman dulu halaman rumah kan luas-luas. 

Contohnya saya SMA 1 Bandung ini. Tadinya kan dia satu kompleks dengan bangunan disampingnya yang sekarang sudah rata dengan tanah, SMAK Dago. Bangunan ini tuh gaya gedungnya jadul sekali, besar dan luas. Ah indah nian arsitektur bangunannya. Sisa sejarahnya sekarang dalam bentuk pohon beringin dan bangunan sekolah itu sih. 

Di depan (apa belakang ya) Vila Isola, ada juga pohon beringin. Di Balaikota, kalian bisa lihat pohon beringin di situ. Di halaman depan Biofarma di jalan pasteur ada juga pohon beringin. Bahkan taman-taman di Bandung tuh ada juga beringinnnya. Lumayanlah gampang nyari pohon ini, tinggal dateng ke ruang terbuka hijau atau bangunan besar bekas belanda yang masih berfungsi dengan baik. 

Pohon Beringin merupakan pohon peninggalan jaman baheula. Pohon ini sangat disukai oleh satwa liar, khususnya burung. Kiara atau Loa adalah nama lainnya. Nama-nama tempat yang menggunakan nama tersebut (Sekeloa, Kiaracondong) ada kemungkinan dulunya terdapat pohon Beringin. 

Dahulu pohon besar ini sering kali dianggap suci dan melindungi penduduk setempat. Mistis gitu deh. Ya saya mah seneng kalau lagi berteduh pagi-siang hari. Kalau sore mah dingin euy, malam ya takut :D


Pohon Damar di Bandung

September 23, 2014
Lanjut lagi, tentang Pepohonan Pinggir Jalan Kota Bandung.

Damar (Agathis damara)

Berbeda dengan dua pohon di atas, Pohon Damar lebih mirip Cemara. Batangnya tegak lurus menjulang naik terus ke atas. Daunnya punya wangi khas beraroma asam segar.

Kalian pernah kan ke Car Free Day Dago? Nah di situ teman-teman bisa melihat pohon Damar. Peganglah batang pohonnya, cium daunnya. Katanya makin dekat makin sayang. Kalau sudah sayang kan jadi tahu betapa pentingnya keberadaan pohon itu di Dago. 

Banyak ditemui di sekitar jalan Dago dengan tinggi sekitar 10 m. Ada juga di sekitar jalan Dr. Radjiman. Ini tuh kalau gak salah sekitarnya IP Mall, di jalan Pasir Kaliki. Pohon ini sebenarnya paling banyak bisa kita lihat di daerah pegunungan, tapi dia mampu juga tumbuh di dataran yang lebih rendah.

Beralih ke Pohon Beringin. 

Pohon Mahoni di Bandung

September 22, 2014
Masih dalam rangkaian tulisan Pepohonan Pinggir Jalan Kota Bandung yak.

Mahoni (Swietenia macrophylla)

Pohon ini yang paling banyak ditanam di Bandung setelah pohon Angsana. Mahoni ini termasuk pohon yang gagah dan lebat. Pohonnya tinggiiiiiii sekali. Entah kenapa saya kalau memandang pohon yang satu ini rasanya seperti sedang berhadapan dengan bapak-bapak tua gagah berkumis tebal dan punya sikap badannya hangat.

Sehari-hari saya melihat pohon mahoni di jalan Cipaganti. Kalian yang pernah ke Bandung dan melaju di jalan ini, apa pernah memerhatikan barisan pohon mahoni-nya? Iya sih ini jalur macet. Tapi ya sesekali abaikan macetnya, simpan dulu ponselnya, dan perhatikan sisi kanan dan kiri jalan. Ada pohon mahoni di situ. 

Pohon Mahoni cocok sebagai tanaman peneduh jalan karena berumur tahunan, tidak mudah terkena hama atau penyakit, tidak mudah tumbang karena struktur kayu yang kuat. Makanya kalau masuk jalan cipaganti aduh adem sekali. Makasih ya, Mahoni! 

Pada saat memasuki pertengahan musim kemarau, pohon mahoni senasib dengan pohon jati. Mereka sering merontokkan daun-daun yang ada sehingga habis sama sekali. Saat rontok inilah akan dihasilkan sampah daun dalam jumlah yang cukup besar. Kalau mau ngumpulin, dedaunan ini bisa jadi kompos sih. 

Pada musim hujan tunas daun pohon Mahoni akan bermunculan kembali seperti biasa sehingga membesar dengan lebat.  Di Bandung, pohon Mahoni bisa dilihat di jalan Cipaganti dan jalan Tamansari. Jalan-jalan lainnya saya lupa-lupa ingat. Hihihi :D 


Bersambung lagi ke postingan berikutnya tentang Pohon Damar

Pohon Angsana di Bandung

September 21, 2014
Masih seri tentang Pepohonan Pinggir Jalan Kota Bandung. 

Angsana (Pterocarpus Indicus)

Saya mengenali pohon ini karena bulir bunganya yang berwarna kuning. Kalau sedang berbunga dan ada terkena angin, bunga-bunga ini berjatuhan menimpa jalan raya dan para pemakai jalan. Nih ya saya kasihtahu, 'tertimpa' bunga-bunga Angsana itu rasanya romantis sekaliiiiii :)

Saya suka momen-momen kayak gitu. Rasanya kayak sedang musim gugur di Eropa. Bandung yang sejuk dan bunga Angsana yang berguguran cantik. Sekonyong-konyong ada perasaan sentimentil yang muncul karena bunga Angsana. Kalau saya bisa membuat puisi buat Angsana, saya pasti sudah membacakannya untuk kalian di sini. 

Pohon ini rata-rata umurnya 15 tahun. Dia punya akar yang baik dan dapat mengikat nitrogen, mampu membantu memperbaiki kesuburan tanah. Pohon Angsana mirip Mahoni, cuma lebih ringan saja tidak selebat Mahoni yang rapat. Karena rindang, Angsana populer jadi tanaman peneduh. Karena kecantikan bunganya, dia juga berfungsi sebagai pohon hias tepi jalan. 

Sayangnya Angsana ini termasuk yang jenis pohon yang rapuh. Pohonnya mudah tumbang kalau sudah tua. Untuk melihat pohon Angsana, teman-teman bisa jalan-jalan ke jalan Diponegoro, sekitar kampus UNPAD di jalan Dipati Ukur, sekitar jalan perwayangan di daerah Pasir Kaliki, sekitar kampus UNISBA di jalan Tamansari dan masih banyak lagi. 

Next time sering-sering lah jalan kaki di sekitar Pohon Angsana. Siapa tahu kalian yang jadi pemimpin negeri ini atau istrinya calon pemimpin negara. Belajar merasakan keindahan lah biar gak asal nebang pohon dan menggantinya dengan kelapa sawit atau apartemen. 



Bersambung ke Pohon Mahoni yak :D

Pepohonan Pinggir Jalan Kota Bandung I

September 20, 2014
Saya terkejut waktu tahu kalau pohon bisa kita gunakan sebagai landmark alias penanda. Iya sih sebagai generasi 90an, saya sering janjian dengan teman-teman waktu zaman sekolah dulu di bawah pepohonan. "Ketemu di depan gang deh ya, yang ada pohon beringin besar itu loh". Tapi tidak pernah tahu kalau pohon bisa dijadikan penanda suatu tempat. Utamanya penanda jalan. Jadi ya kejadian-kejadian spontan janjian di tempat yang ada pohon tertentu (misalnya besar dan langka) saya anggap biasa.

Sampai saya ada di Bandung dan Gele yang ngasihtahu. Ada dalam ilmu tata ruang dan arsitektur, pepohonan bukan makhluk hidup yang berfungsi sebagai peneduh dan penampung air saja. Tapi juga bisa kita tanam sebagai penanda/landmark.

Kalau dari segi fungi ekologi ah sudah pada tahu kan ya. Pepohonan bisa manampung air hujan, mengeluarkan oksigen yang bikin adem, menyerap udara kotor dan ada lagi nih yang menurut saya penting banget: menahan angin.

Kalau kata geograf penulis buku Bandung Purba, Toponomi Bandung, dan Geowisata Cekungan Bandung, T Bachtiar, semakin sedikit pohon di suatu tempat maka akan semakin sering terjadi angin ribut, banjir heboh padahal hujan cuma 30 menit turunnya, pemakai jalan kepanasan dan mudah gelisah lalu marah-marah. Wow ini semua sudah mulai terjadi di Bandung. Saya mengalami sendiri.

Secara arsitektural *halah gaya sekali ini bahasannya* pepohonan menambah nilai keindahan kota. Dibanding bangunan dan gedung megah yang kesannya kaku, pepohonan memberi kesan lembut dan sejuk. 

Kembali ke pohon sebagai penanda.

Pada tahu Jalan Dago kan? :D Tahu tidak di kanan dan kiri ruas jalan ini berbaris pohon Damar. Memang gak sepanjang jalan yang resminya bernama Jalan Djuanda ini sih. Tapi pada ngeuh gak sama pemandangan pohon Damar di Dago? 

Bagaimana dengan Jalan Cipaganti. Jalan yang jadi jalur turis ini jadi rumah buat Pohon Mahoni. Pernah merhatiin gak pohon mahoni di jalan cipaganti? 

Lalu Pohon Angsana, Pohon Ki Acret, Pohon Kersen, dan masih banyak pepohonan lainnya di ruas jalan di Bandung. 

Dahulu untuk menandai suatu kawasan, pemerintah Belanda menancapkan pepohonan tertentu. Dipilih berdasarkan keindahan dan fungsinya. Jalanan yang berpotensi membuat pemakai jalan kepanasan akan disiasati dengan menanam pohon-pohon peneduh yang disesuaikan dengan kokoh tidaknya akar pohon, setinggi apa pohon tersebut nantinya, apa efeknya untuk lingkungan sekitar sekali hanya meneduhkan.

Gak sedikit sih pepohonan yang sudah mati dan tumbang lalu pemerintah kita menggantinya dengan pohon yang lain. Terkadang pohon baru yang ditanam kemarin-kemarin itu melenceng dari konsep tata ruang yang pemerintah Belanda pernah buat.

Apalagi sekarang. 

Kecanggihan teknologi dan penambahan jumlah penduduk menggeser pemandangan sekitar.  Pohon ditebang, gedung dibangun, jalan raya diperlebar. Kita lupa dengan nama pohon. Lebih asyik menunduk cek timeline di twitter dibanding memerhatikan pemandangan jalan raya yang kita lalui. Nama pohonnya saja tak tahu, begitu juga daun, bunga, dan perawakan pohonnya seperti apa. 

Ah generasi macam apa kita ini. Masa depan Bandung di tangan kita dan anak-anak kita, Pohon Damar saja tak tahu yang mana. 

Ayo kita mulai pelajaran tentang pepohonan di pinggir jalan kota Bandung ini:

Pohon Angsana di Bandung

Gua Pawon Rumahnya Manusia Purba di Bandung

September 18, 2014
Masih ingat tidak saya pernah menulis tentang Pasir Pawon di blog ini? Belum? hehehe baca di sini dulu ya. Soalnya saya mau bahas tentang Gua Pawon. Masih satu geng nih dengan Pasir Pawon. 

Hiking di Dago Pakar, Lihat Air Terjun dan Masuk Gua Belanda

September 17, 2014
Liburan di kota tempat tinggal sendiri? Kenapa enggak :D 

Di Bandung juga banyak pilihan tempat liburan. Misalnya kayak yang satu ini nih. Dago Pakar alias Taman Hutan Raya Djuanda. 

Kalau 1 kilometer = 2000 langkah kaki, maka jumlah total langkah kaki untuk mencapai air terjun ini adalah 10.000! Perjalanan jarak jauh ini akan memakan waktu sekitar satu - dua jam. Dimulai dari pintu gerbang masuk Dago Pakar-nya. Ini juga bisa jadi tergantung kegiatan selama proses kita berjalan kaki menuju ke sana. Beberapa titik di sini enaknya kita berhenti dan menikmati pemandangan, mendengar suara burung dan serangga hutan. Menyenangkan meski melelahkan.


Pameran Potret Keluarga Penghuni Lama Bandung

September 16, 2014
Halow. 

Ini mau kasih lihat pamerah fotografi yang kami kunjungi. Acaranya diadakan di ruang bawah tanah Rumah Seni Ropih di Jl. Braga no. 43, Bandung. 

Sehari-hari tempatnya berfungsi sebagai toko lukisan. Nah di ruang bawah tanah toko lukisan ini ada kegiatan seni dan budaya. Tapi saya baru menyempatkan datang ke pameran fotografi yang ini. Rasanya baru pertama kali ini ada pameran di Bandung yang temanya potret keluarga tempo dulu. Menarik!  

Bandung - Jakarta, Naiknya CitiTrans Mercedes-Benz Sprinter

September 15, 2014
Halow. Siapa di sini yang doyan pergi pulang tujuan Bandung - Jakarta dan sebaliknya? Biasanya saya ke Jakarta menumpang armada dari CitiTrans. Baru-baru ini mereka mengeluarkan kendaraan unit terbarunya. Pertama di Indonesia: Mercedes-Benz Sprinter 315 CDI!

Gila ini mobil guede banget. Waktu saya lagi 'boarding' di pool CitiTrans di jl. Dipati Ukur 53 Bandung, mobilnya lagi parkir gagah. Ah seperti sedang berhadapan langsung dengan si ganteng Benicio De Toro :D


Tastemarket Bandung: Pesta Kuliner Anak Muda Anak Kota

September 13, 2014
"Cupcakenya, Teh," tawar perempuan manis berambut panjang dengan badan semampai pada saya. Senyumnya alamak. Modis pula. Lebih cocok jadi pembeli ketimbang penjual :D Tidak kuat hati menolak tawarannya, saya makan cupcake versi testernya. Hmmm enak! "Belinya nanti, yah," kata saya sambil berlalu. Si perempuan ini mengangguk dan mengucapkan terima kasih. 

Ah sudah cantik, ramah pula. Dia gak sendirian, saya bertemu dengan buanyak sekali perempuan ayu, modis, dan ramah di acara ini nih. Tastemarket.

Surabi Bandung

September 12, 2014
Mau cuap-cuap tentang Surabi. 

Di Bandung sudah jarang yang menjual Surabi gaya tradisional. Kalau rasa sih masih ada lah, oncom dan polos. Tapi kalau tempat jualannya, saya sudah tidak lagi melihat jongko Surabi seperti dulu kala.

Oleh-oleh Foto

September 10, 2014
Gak ada yang lebih indah dari oleh-oleh berbentuk foto. Abadi dan bercerita lebih banyak dibanding cuap-cuap saya. Hehehe.

Surabi - Jengki di Bandung

September 08, 2014
Masih dari Bandung. Tempatnya random. Ada yang di kota, ada pula yang kami jepret dari pinggir kotanya. Sebagian saya yang motret. Sisanya gele yang moto. Kalau biasanya judul tulisan yang memuat foto-foto yang saya pajang di Instagram ini ada tulisan Instagramnya, sekarang beda deh. Saya tulis judul biasa saja. Gak perlu embel-embel Instagram. Tapi kalau teman-teman yang temenan dengan saya di IG pasti sudah pernah lihat foto-foto ini sih :D

Seminggu kemarin baru pulang dari Pantura. Saya kayaknya udah kelamaan jadi orang Bandung. Cirebon - Indramayu puanas sekali! Oh no...

Gak heran Bandung cocok jadi kota yang melahirkan banyak orang kreatif. Bukan berarti orang yang dari kawasan Cirebon dan sejenisnya gak kreatif ya. Kreatifnya beda jenis sih. Kalau Bandung lebih ke 'nyeni'. Udaranya sejuk dan dingin. Kepala jadi lebih adem.

Restoran Kereta Api Indonesia di Bandung: BIG 99

September 01, 2014
Halow! 

Seperti judulnya, postingan ini tentang makanan. Beberapa hari lalu saya makan malam di restoran yang baru buka. Namanya BIG 99. Dari namanya, terbayang gak ini restoran apa? Apa porsinya makanannya besar-besar? atau ada 99 jenis menu di restoran ini? mungkinkah harga semua makanannya dibawah 99ribu?