Hening Cipta Untuk Raden Ayu Dewi Sartika

April 21, 2014
Saya ingin menanamkan kepada perempuan bumi putera, 
sebagai perempuan mereka harus bisa segala-gala. 
Agar mereka punya rasa percaya diri terhadap kemampuannya 
dan tidak melulu bergantung pada suami, apalagi pada belas kasihan orang lain.
- Dewi Sartika, pendiri sekolah perempuan pertama di Bandung-

Tahun 1906 Dewi memutuskan untuk mendirikan sekolah. Atas bantuan Bupati Bandung dan pemerintah kolonial berhati baik, Dewi membangun sekolah pertamanya yang bernama Sakola Istri.



Seorang Inspektur Hindia Belanda, C.Den Hammer bertanya pada Dewi Sartika. Kenapa kau mau mendirikan sekolah?

Dewi Sartika menjawabnya dengan kalimat yang saya cantumkan bagian paling atas dari tulisan ini.

Satu abad lebih delapan tahun yang lalu ada seorang perempuan yang terbatas banyak hal mengatakan hal tentang pentingnya pendidikan perempuan. Memalukan kalau sekarang banyak anak-anak muda memilih untuk berhenti sekolah karena alasan yang tidak prinsipil.



Hammer si kompeni, bersimpati pada pejuangan Ibu Dewi dan mempertemukannya dengan Bupati Bandung, Martanegara. FYI, Bupati Bandung inilah yang dulu membuang ayahnya ke pengasingan. Hidup itu aneh ya, mempertemukan banyak hal yang sebelumnya pernah terhubung dengan cara yang menyakitkan.

Balik ke Dewi Sartika. Akhirnya sekolah pertama di Indonesia (Hindia Belanda) khusus untuk kalangan perempuan pribumi resmi berdiri. Pengajarnya hanya ada 3 orang, termasuk ibu Dewi sendiri.

Keberadaan sekolah ini menarik minat banyak orang tua. Mereka menyekolahkan anak perempuannya disini. Tercatat ada 60 orang yang daftar!



Animo negatif justru datang dari sebagian besar perempuan kalangan menak. Keluarga dan lingkungan sekitar Dewi Sartika. Menurut mereka, tidak seharusnyalah pelajaran-pelajaran tata krama dan baca tulis yang sebelumnya hanya untuk kalangan priyayi kini diajarkan pada rakyat biasa.  Lalu apa bedanya kami dengan mereka, begitu protes perempuan-perempuan menak ini. Tapi Ibu Dewi tak mau dengar. Maju terus pantang mundur. Baginya, pendidikan tak kenal kelas. Perempuan harus mandiri. Pendidikan adalah kuncinya.

Sekolah Ibu Dewi Sartika makin populer. Banyak surat kabar memberitakan Sakola Istri. Makin eksis aja ini sekolah. 

Tahun 1910, Sakola Istri berganti nama menjadi Sakola Kautamaan Istri. Sekolah yang punya moto Cageur Bageur ini punya program menarik. Yakni membuat pameran yang memajang karya murid-muridnya di sekolah mereka sendiri.

Murid-muridnya senang karena karyanya diapresiasi. Perempuan kini punya taji menunjukkan diri bahwa mereka sama cerdasnya dengan lelaki.

Dewi Sartika menikah pada umur 23 tahun dengan lelaki bersahaja dan baik hati. Suaminya mampu mengimbangi cara berpikir Dewi Sartika. Keduanya cocok, seperti buku tulis dan pinsilnya, saling melengkapi. Saling menguatkan, saling memberi kesempatan*.

Ibu Dewi mulai banyak kesibukan. Selain mengajar, beliau juga sering menulis di koran dan memberikan ceramah di luar kota.

Tak hanya membicarakan sekolah dan pendidikan perempuan, Ibu Dewi juga kerap kali membahas perihal pertentangnnya akan poligami, perjodohan, prostitusi, dan semacamnya.



Bu Dewi juga pernah berguru membuat Batik pada kakaknya Kartini, Raden Ajeng Kardinah, di Kendal. Ilmu membatik ini kemudian diajarkannya pada murid-muridnya di Bandung.

Kebayang gak kalo saat itu Kartini masih hidup dan ketemu Dewi Sartika. Mungkin Kartini bakal bikin tulisan tentang Dewi Sartika. Dijadikan buku dan laku terjual di Belanda, sama kayak buku Habis Gelap Terbitlah Terang itu. Hehehe  atau mungkin Kartini jadi terinspirasi dan jadi berani, lebih frontal dalam menunjukkan bahwa dia gak mau dipoligami dan pede mendirikan sekolah secara terang-terangan. Seperti Dewi Sartika. Tapi perannya memang beda-beda ya mereka berdua. Bukan untuk dilihat siapa yang lebih baik. 

Masa kejayaan sekolah untuk kaum perempuan ini mulai luntur. Semua dimulai setelah wafatnya Sang Suami. Dewi Sartika terpukul. Kehilangan orang yang dirasa paling mendukungnya. Tak mau lama berlarut dalam duka, ia menyibukkan diri mencurahkan tenaga dan pikiran untuk sekolahnya.



Jepang datang. Sekali tepuk, mereka memporak-porandakan Bandung dan seisinya. Termasuk sekolah Kautamaan Istri. Nama sekolah diubah, kurikulum dirombak, dan jumlah murid berkurang banyak.

Masa sulit ini berlanjut dengan agresi militer Belanda. Bandung Lautan Api adalah klimaks dari berakhirnya sekolah yang didirikan ibu Dewi tersebut.



Dewi Sartika dan banyak penduduk lainnya berjalan kaki mengungsi ke arah selatan pada waktu Bandung dibakar. Di Ciamis lah Ibu Dewi menetap dan mulai sakit-sakitan. Saya bisa membayangkan (tapi tidak bisa merasakan) bagaimana rasa sedih mendalam yang dialami Dewi Sartika. Sekolah dan cita-cita yang dirintisnya rubuh karena politik. Perang mematikan banyak hal. Korbannya tak hanya kerusakan fisik, tapi juga cita-cita, perjalanan hidup manusia.


11 September 1947, Ibu Dewi wafat. Ruhnya pergi mengembara ke alam baka dengan membawa segala kenangan tentang sekolah yang teramat ia cinta.



Dewi Sartika tak tahu kalau jasanya jadi inspirasi banyak orang. Termasuk saya. Sekolahnya bangkit lagi, walau tidak tersohor namanya seperti dulu kala. Kalau ada mesin waktu, saya mau kembali sebentar ke Bandung tahun 1910an, melongok kejayaan sekolah ini dan bersalaman dengan beliau.

Baca juga bagian pertamanya, Ini Dewi Sartika, Perintis Sekolah Khusus Perempuan di Bandung




Last but not least:
1. Foto-foto ini dijepret dalam acara jalan-jalan komunitas sejarah bernama Aleut. Tema jalan-jalannya Ngaleut (menyusuri) jejak Dewi Sartika di Bandung, Mei 2011. Fotografer: Yandhi Depol

2. Tulisan ini dibuat berdasarkan buku biografi Raden Dewi Sartika Sang Perintis karya Yan Daryono

3. Saling menguatkan, saling memberi kesempatan. Kalimat ini berasal dari Geograf bernama T. Bachtiar. Waktu berkunjung ke Belitung, beliau moto pemandangan dan caption fotonya menurut saya lebih memikat dari fotonya :D Saya kutip disini karena cocok sekali menggambarkan hubungan Dewi Sartika dengan suaminya, Raden Agah Kanduruan Suriawinata. 
12 comments on "Hening Cipta Untuk Raden Ayu Dewi Sartika"
  1. Saya tidak terlalu suka sejarah karena selama sekolah hanya ada tulisan saja di buku sejarah, tapi kalau belajar sejarahnya kayak begini siapa takut :D
    Terima kasih untuk ulasannya Mbak :D

    ReplyDelete
  2. saya alumni smp dewi sartika hehahahaha

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah bisa bagi2 cerita nih tentang Bu Dewi barangkali? :D

      Delete
  3. asyik ada komunitas bersejarah gitu... dijakarta ada ga ya mak

    ReplyDelete
  4. Waah...jadi tahu cerita Dewi SArtika baca tulisan ini. Biasanya cuma tahu kalau beliau pahlawan nasional.

    ReplyDelete
  5. saya br ngeuh cerita lengkap tentang dewi sartika setelah baca ini...
    menginspirasi sekali yah...

    ReplyDelete
  6. Keren ceritanya. Belajar sejarah mmg perlu buat yg muda2. Blogwalking salam kenal.

    ReplyDelete