Image Slider

Review: Makan-makan di Warung Sangrai, Menu Favoritnya Puyuh Rawit

March 31, 2014
Bandung surganya belanja. Tujuan pariwisata. Kalau turis-turis biasanya memenuhi badan jalan tertentu di kota kembang ini pada hari sabtu dan minggu. Jalan Dago, Jalan Setiabudhi, dan terakhir di Jalan Riau. Karena di ruas jalan-jalan inilah lokasi Factory Outlet (FO) berada. FO = tempat belanja.


Ini FO yang paling saya hapal namanya: Heritage. Bukan karena saya sering ke tempat ini buat belanja. Tapi gedung Heritage ini merupakan bangunan megah yang gaya arsitekturnya tua banget, ala-ala Belanda. Pilar-pilar besarnya memperlihatkan sejarah. Arsitektur terbaik pada masanya. Saya suka gedung-gedung tua begini. Makanya ingat. Fungsinya sekarang sebagai tempat belanja. FO. 

Heritage lokasinya dekat sekali dengan tempat yang saya suka singgahi. Jonas Photo Studio. Lucu banget ternyata di antara dua tempat yang saya suka perhatikan dan datangi, menyempil tempat makan enak. Warung Sangrai namanya.

Langit Bandung Selatan

March 27, 2014
Foto-foto ini dijepret beberapa tahun lalu. Waktu itu saya dan Gele bertemu dengan Saleh Sudrajat. Bapak ini orang pertama dan satu-satunya yang terbang mengemudikan pesawat Trike, dari Sabang - Merauke. 

Gak nyangka waktu acara udah beres, beliau mengajak kami terbang menumpang pesawat Trike-nya. Saya dengan halus menolak karena takut ketinggian. Hihihi resiko pingsan. Sementara Gele, yang moto, mukanya mupeng banget pengen naik pesawat mungil ini. 

Terbanglah mereka ke udara. Entah di ketinggian berapa. Saya duduk di hanggar nungguin. Ngecengin pilot-pilot yang lagi oprek pesawatnya. Hihihi :D 

Fotonya gak banyak, tapi memberi saya pemandangan baru melihat penampakan Bandung Selatan. Here goes. 



Review: Happy Customer di Happy Cow Steak Bandung

March 26, 2014
Minggu sore pukul lima, saya dan empat orang teman berkesempatan singgah di suatu tempat di kawasan Dago. Tempatnya tidak terlalu besar, semi outdoor karena menempati teras beratap sebuah rumah, dan dominan dengan meja kursi kayu yang manis berwarna coklat. Sebuah pohon besar terletak di tengah tempat ini. Sambil reuni, sambi makan-makan, Happy Cow Steak nama tempatnya. 




Ini kali kedua saya datang ke Happy Cow Steak. Pertama kalinya berbulan-bulan yang lalu. Restoran ini ada dua tempat: satu di Palasari dekat Lodaya dan satunya lagi di Dago Atas depan Borma. 

BLA: Keluar Semua Dari Bandung Atau Kami Bom! (5)

March 24, 2014
Stilasi 3: Jiwasraya



Nah ini adalah markas resminya Jendral Nasution dkk. Keputusan membakar Bandung juga resmi disepakati di tempat ini. Saya udah cerita tentang Ultimatum I. 

Karena banyak yang tidak mengacuhkan Ultimatum I, Belanda marah. Dikeluarkanlah Ultimatum II. Isinya: para tentara dan pejuang harus meninggalkan Bandung dan melucuti senjatanya sendiri. Bandung harus dikosongkan. Keluar semua dari Bandung. Keluar! 

Eh enak aja lu, kata pejuang kita. 

Ultimatum II ini keluar dari mulutnya jendral Mcdonald kepada PM Sutan Syahrir. Dia mengancam Bandung bakal dibombardir oleh tentara sekutu dari udara kalau kita tidak mematuhi ultimatumnya. Pokoknya bakal ada serangan udara besar-besaran kalo kita-kita gak nurut.

Di depan Gedung Jiwasraya, lagi liat Stilasi Bandung Lautan Api
Akhirnya keputusan meninggalkan Bandung dengan berat hati kita patuhi, tapi dengan catatan. Pejuang dan penduduk tidak mau menyisakan kebaikan buat Belanda. Bandung dibumihanguskan. 

Ternyata banyak juga tentara sekutu yang membelot jadi berpihak ke pejuang. Tentara Inggris kan isinya gak semua bule, mereka juga bertentara orang-orang Gurkha. Orang India-Nepal sewaan Inggris ini kecil-kecil lincah dan kadang-kadang sadis. Nah, seorang kapten bernama Mirza membelot, balik berpihak kepada nasib pribumi. Dia ngajakin anak buahnya. Inggris bete dong, apalagi Belanda.


Stilasi 2: Bank Jabar
Di lokasi ini terjadi aksi perampasan senjata tentara Jepang oleh pejuang (sebelum terjadi BLA). 

Penyobekan bendera Belanda yang dramatis tidak hanya terjadi di Surabaya, pada awal Oktober '45, dua orang pejuang bernama Endang Karmas dan Mulyono menerobos masuk ke Gedung DENIS (sekarang bank Jabar) untuk menyobek bagian bendera Belanda yang berwarna biru. Dari puncak hotel Homan, penembak jitu tentara sekutu menembaki mereka. Untunglah keduanya selamat.


Stilasi 1: Gedung Drikleur (sekarang BTPN)
Terletak di antara Jl. Juanda-Jl. Sultan Agung, gedung kantor BTPN ini dulunya merupakan kantor surat kabar Domei. Untuk pertama kalinya rakyat Bandung membaca isi naskah proklamasi kemerdekaan di tempat ini.



***


Demikianlah ceritanya. Singkat aja sih, lebih seru kalau baca bukunya.

Untuk yang mau lihat foto-foto BLA tahun '46 bisa dilihat di situsnya Bandung Heritage. Sekalian barangkali mau tahu lebih lengkap cerita BLA, bisa beli bukunya juga. Beli bukunya di mana saya kurang tahu euy, coba aja dulu googling. Judulnya Saya Pilih Mengungsi.

Menyusuri Stilasi Bandung Lautan Api ini bisa dilakukan dengan berjalan kaki. Capek emang, tapi sesekali kan gak apa-apa.

Rasanya pengen lihat langsung kejadian 68 tahun seperti apa, bukan hanya baca di buku. Tapi kalau mengalami langsung juga saya gak mau. Takut... Beruntung kita hidup di zaman sekarang. Perang yang kita hadapi sekarang bukan melawan penjajah. Ada sih penjajah, tapi dalam bentuk yang lain. Ya gitu deh tahu sendiri meureun :D

BLA: Kita Bobolin Terowongan Rajamandala, Biar Bandung Jadi Lautan Api (4)

March 23, 2014
Stilasi 6: Jalan Dewi Sartika/eks rumah Nasution

Inilah lokasi rumah jenderal pertama pasukan Siliwangi, A.H Nasution. Sekarang rumahnya tidak berbekas. Keterlaluan pemkot Bandung ya, gak bisa melestarikan sejarahnya sendiri. Huh kesel. Banyak sekali titik sejarah Bandung Lautan Api yang hilang jadi ruko, lenyap jadi perumahan, dan habis gak ada sisa. Moga-moga ini pemkot yang baru bisa mempertahankan yang ada dan menjadikannya lebih baik dan terawat lagi. 

Waktu peledakan pertama BLA, lokasinya di titik yang sekarang jadi BRI Tower, Jalan Asia Afrika dekat dengan Aliun-alun kota. Peledakan yang seharusnya dimulai jam 22.00, malah meledak jam 8  malam karena kesalahan teknis. 

Parahnya lagi, para pejuang tidak disiplin dengan waktu menit hingga detik yang seharusnya digunakan sebagai patokan untuk meledakkan bom. Mereka malah berpatok pada suara ledakan pertama untuk ngeledakin bom berikutnya. 

Jadinya awal-awal BLA itu strateginya kacau berantakan. Untungnya tidak terlalu jadi masalah. Bandung tetap terbakar, kebanyakan dibakarnya sama bom-bom molotov rakitan mahasiswa ITB. Beberapa bom menggunakan bahan bakar bensin dan minyak tanah.


Stilasi 5: Sekolah ibu Dewi Sartika


Stilasi Bandung Lautan Api di depan sekolah Ibu Dewi Sartika

Bahkan ibu Dewi Sartika, pendiri sekolah perempuan pertama di Bandung, ikut mengungsi sampai ke Tasikmalaya. Kalau yang saya baca dari bukunya, tertulis kalau beliau sedih sekali karena harus meninggalkan sekolah dan murid-muridnya. Beliau gak pernah balik lagi ke Bandung. Sampai akhirnya wafat. Makamnya berada di kawasan Astana Anyar, dekat Alun-alun Bandung.


Stilasi 4: Rumah jalan Simpang no. 7

Inilah salah satu markas sekaligus tempat para pejuang menggelar rapat, terutama dalam mengambil keputusan membakar Bandung. Soalnya kalo rapat di kantor-kantor militer pasti udah dicurigain duluan, gak bebas. Sementara yang ikut rapat kan gak cuma jendral-jendral, tapi juga pejuang yang ruang geraknya gerilya. 

Lokasi rumahnya da didepan, stilasi ditempatkan disitu soalnya gak ada lahan lagi. Ini satu-satunya stilasi yang gak pada tempatnya. Biasanya stilasi kan  berdiri didepan lokasi, tapi ini mah agak nyungsep. 

Ngomong-ngomong ya, ada dua versi sejarah terbentuknya jargon lautan api. 

Cerita pertama begini. Selama berlangsung rapat, saking semangatnya pengen membakar Bandung daripada 'dikasih cuma-cuma' & dihuni Belanda, salah seorang jendral dengan berapi-api ngomong gini: "kita bobolin Terowongan Rajamandala, biar Bandung jadi lautan api" (harusnya air tapi saking marahnya, jadi yang keluar api). 

Versi kedua, seorang wartawan yang menulis artikel dengan judul Bandung Jadi Lautan Api. Koran Suara Merdeka, nama wartawannya adalah Atje Bastaman. Pak Bastaman ini melihat pemandangan Bandung dari kejauhan, tepatnya dari Garut. Latar belakang pemandangan yang dia lihat ini dia jadikan judul tulisannya.



Baca juga:

BLA, Bandung Lautan Api (1)

BLA: Ultimatum Number One (3)

March 22, 2014


Stilasi 8: Lengkong

Berdasarkan buku yang saya baca, ada beberapa hal yang memicu terjadinya BLA, di antaranya adalah banjir besar yang terjadi pada 25 November '45. Sungai Cikapundung meluap parah. Banyak penduduk hanyut terbawa arus. Warga mengira orang Belanda yang membobol pintu air di daerah Dago Bandung Utara sana, padahal enggak.

Situasi darurat ini membuat para penduduk mukul-mukul kentungan sebagai tanda bahaya banjir. Bule Belanda mengira itu tanda serangan.  Bukannya menolong orang-orang yang menyelamatkan diri dari banjir, mereka malah nembakin para pribumi.Kebanyakan tentara Inggris dan anteknya malah nontonin orang-orang yang hanyut.

Nah, pasca kejadian ini, orang-orang kita semakin benci & dendam kesumat sama tentara Inggris dan Belanda. Gak bisa ngeliat bule dikit aja, langsung dibunuh. Malah sampe dicari-cari segala. Jadilah situasi kecam muram. Langsung curiga, langsung tangkap dan terkadang langsung bunuh.

Karenanya, keluarlah Ultimatum I dari pihak Belanda, Isinya: penduduk di daerah utara harus pindah ke Bandung selatan dengan rel kereta api sebagai batas pemisahnya. Jadi semua bule ditarik ke utara, pribumi di selatan, biar gak ada bunuh-bunuhan dan situasi aman terkendali. Sayangnya, gak semua orang mematuhi ultimatum tersebut.


Stilasi 7: Kompleks Lengkong

Dulu di kawasan ini banyak orang Belanda yang ditahan Jepang. Tentara sekutu berusaha untuk membebaskan interniran yang ditawan disini. Namun pejuang kita menghadang kedatangan tentara sekutu. Makanya terjadi pertempuran Lengkong  pada 2 Desember 45, pukul 10 pagi. Pertempuran ini nyambung ke serangan Inggris di Tegalega. Kecamuk perang mereda setelah tentara inggris berhasil membebaskan para interniran di sore harinya.



Baca juga:

BLA, Bandung Lautan Api (1)


BLA: Jepang Kalah, Kita Merdeka, Belanda Datang Lagi (2)

March 21, 2014
Stilasi 10: Tegalega

Stilasi di jl. Mohammad Toha ini berdiri tepat di depan sebuah Gereja Gloria. Tahun 1945 gereja ini bangunan radio NIROM. Radio inilah yang menyebarluaskan berita proklamasi sampai ke luar negeri. Di saat yang sama, Jepang lagi menduduki bumi pertiwi kita ini.  

Di waktu yang berdekatan pula, Jepang kalah dari Sekutu di Perang dunia II. Maka posisi Jepang di Bandung juga ikut terancam. Penduduk mendengar berita kekalahan Jepang dari koran bernama Surat kabar Tjahaya. 

Kekalahan Jepang di Perang Dunia II membuat tentara sekutu datang ke Indonesia. Mereka melucuti tentara Jepang & membebaskan para interniran (tahanan) Belanda yang ditawan jepang, termasuk di Bandung.

Nah ternyata kedatangan tentara sekutu (Inggris) ini diboncengi Belanda yang ingin menjajah Bandung/Indonesia lagi. Orang Bandung gak mau dong dijajah Belanda lagi, kita udah merdeka. Makanya kedatangan tentara Inggris untuk ngebebasin para interniran ini juga banyak dihadang-hadang sama para pejuang. Jadilah perang lagi dan lagi. 

Btw, lokasi penjara interniran itu tersebar di beberapa tempat, di antaranya Lengkong, Tegalega, Cihapit, Banceuy, dll. Saya sering datang ke beberapa lokasi ini buat jalan-jalan atau sekedar numpang lewat. Gak nyangka tempat yang saya lewatin ternyata nuansa sejarahnya kental. Kadang-kadang saya suka pengen meremin mata sambil ngebayangin apa aja yang udah terjadi di tempat saya berdiri, puluhan tahun yang lalu. 

Eniwei balik lagi. Tentara Inggris gemes sama pejuang yang keukeuh ngelawan terus. Jadilah kawasan Tegalega ini salah satu yang dibombardir tentara Inggris (plus Belanda) pada 20 Maret 46. Sewaktu kejadian Bandung Lautan Api, kawasan yang kobaran apinya paling besar adalah di kawasan Tegalega dan Cicadas.




Stilasi 9: SD ASMI

SD negeri ini pernah menjadi lokasi 'rumah sakit' untuk menampung korban luka perang. Pernah juga menjadi markas para pejuang dalam menyusun aksinya. Semacam pitstop pejuang lah fungsinya. 

Pada waktu kejadian BLA, penduduk Bandung diharuskan meninggalkan Bandung tanggal 24 Maret sebelum pukul 24.00. Arus pengungsi mulai rame jam 3 sore. Ternyata gak semua penduduk tahu karena sosialisasi jam mengungsi ini kurang tersebar. 

Jadilah arus pengungsi mulai hiruk pikuk pada pukul 5 sore hari. Penduduk berbondong-bondong berangkat menuju ke selatan. Ke arah Ciwidey, Pangalengan, Garut, dan Tasik, sampai ke Jokjakarta pun ada.



Baca juga:

BLA, Bandung Lautan Api (1)




BLA, Bandung Lautan Api (1)

Pada masa perjuangan kemerdekaan, setiap daerah di Indonesia memiliki nilai dan sejarah perjuangan masing-masing. Di Bandung, satu yang paling terkenal adalah perjuangan Bandung Lautan Api. 

Kalau pernah ke lapangan Tegalega di jalan Otto Iskandar Dinata, di tengah lapangan itu pemerintah membangun monumen Bandung Lautan Api. Monumen ini merupakan simbol perjuangan dan kerelaan para penduduk yang mengungsi keluar Bandung pada 24 Maret 1946.



Sayangnya gak semua orang Bandung yang tahu bahwa jejak peristiwa Bandung Lautan Api (BLA) bisa kita susuri dalam 10 stilasi yang tersebar di 10 lokasi. Jejak peristiwa bersejarah terangkum melalui stilasi ini. 

Stilasi ini berupa monumen mini. Ukuran tinggi sekitar 1,5m. Stilasi yang didesain oleh seniman bernama Sunaryo (pemilik dan perancang Selasar Sunaryo) dan dibangun tahun 1997 ini memiliki tiga plakat di tiap sisinya. 

Pada stilasi tersebut tercantum tiga informasi mengani peristiwa yang terjadi dilokasi berdirinya stilasi tersebut. Tiga info tersebut adalah keterangan Pembuat Stilasi (Bandung Heritage dan AMEX Bank Fondation), Teks Lagu Halo-Halo Bandung, serta Peta Bandung Lautan Api Heritage Trail. Di bagian atas stilasi dibuat replika bunga yang jadi ikonnya flora kota Bandung, Patrakomala.

Peristiwa Bandung Lautan Api merupakan suatu rangkaian peristiwa sejarah yang terjadi pada tanggal 24 Maret 1946. Dalam waktu tujuh jam sekitar 200.000 penduduk Bandung membakar rumah dan harta benda. Mereka meninggalkan Bandung menuju pegunungan di selatan kota Bandung. 

Kesepuluh lokasi stilasi Bandung Lautan Api tersebut adalah:
1. Gedung BTPN Jl. Dago
2. Bank Jabar Jl. Braga
3. Gedung Jiwasraya Jl. Asia Afrika
4. Rumah Jl. Simpang
5. SD Dewi Sartika Jl. Kautamaan Istri
6. Rumah Nasution (rumahnya udah gak ada lagi) Jl. Dewi Sartika
7. Kompleks Lengkong
8. Jembatan Jl. Lengkong
9. SD Asmi
10.Tegalega


Berikut adalah kisah per stilasi, ceritanya saya sarikan dari buku Saya Pilih Pengungsi. Stilasinya saya hitung mundur ya. Saya mulai dari stilasi 10. 



***



ps: kalau mau lihat Monumen Bandung Lautan Api, temen-temen bisa datang ke Lapangan Tegalega. Ini petunjuk arahnya, kalau bingung tanya saja aja :D

1. Angkot yang lewat Lapangan Tegalega:
  • Kalapa - Dayeuh Kolot
  • Ciwastra - Cijerah
  • Cibaduyut - Karangsetra
  • Cikudapateuh - Ciroyom
  • Semua angkot yang tercantum jurusannya Terminal Tegalega, misalnya: Cisitu - Tegalega, dan masih banyak lagi. 

2. Lapangan Tegalega ini terletak di bagian selatan Bandung. Beberapa tempat yang ada di sekitarnya adalah Terminal Tegalega, Pasar Loak Astana Anyar dan Museum Sri Baduga.





Baca juga:

BLA: Jepang Kalah, Kita Merdeka, Belanda Datang Lagi (2) 



Cibadak Culinary Night, Ada Rasa Pecinannya

March 17, 2014
Sewaktu mendengar kabar kalau Pemkot Bandung mengadakan Culinary Night di Cibadak, wuw saya senaaaaaaang sekaliiiiii! Cibadak ini kawasan favorit saya. Selain tempat belanja barang-barang grosiran atau makan bubur paling enak se-Bandung, Cibadak itu punya magnet yang gak bisa saya jelasin sensasinya. Bangunan-bangunan tuanya itu loh...


Sabtu tanggal 15 Maret 2014, lampion cantik kecil-kecil bergelantungan di langit Cibadak. Jalanan yang lebarnya lk. 15 meter mulai berisi stand-stand makanan, cemilan, dan minuman. Penduduk ramai memenuhi badan jalan. Hilir mudik orang-orang kesenangan. Tukang parkir mulai sibuk meniup peluit. Mengatur laju kendaraan dan motor yang parkir. Termasuk motor yang saya tumpangi.


Jalan-jalan Nonton Kontes Ayam Pelung

March 16, 2014
Pada tahu tidak sama yang namanya kontes Ayam Pelung? Kejuaraan tingkat nasional kontes ayam ini diadakan di Bandung loh. Serunya, bukan di jantung KOTA Bandung, tapi di kabupaten Bandung yang letaknya 25 km dari pusat kota Bandung: Soreang. 


Kesanalah saya menuju di hari minggu. Mau nonton Kontes Ayam Pelung. Ibaratnya kontes kecantikan, ini si ayam-ayam gagah dinilai dari beberapa kategori. Suara, bobot badan, dan penampilan.

Bandoeng Lautan Onthel, Tiga Tahun Sekali

March 15, 2014
Festival Ontel di Bandung yang terakhir bisa kita tonton tahun kemarin. 2013. Sayang saya gak datang karena info acara ini saya tahu belakangan setelah acaranya usai. Ihikhik. 


Padahal acaranya dibuat HANYA sekali dalam tiga tahun. Sama seperti Pasar Seni-nya ITB. Kalau sekali dalam setahun kan masih rada legowo ya kalau kita kelewatan acaranya. Masih bisa datang tahun depan. Lah ini... saya kudu nunggu tiga tahun lagi buat lihat Festival Onthel. Ihikhik.

Beautiful Day In Cottonwood Bed and Breakfast House Bandung

March 13, 2014
Matahari sedang cantik-cantiknya waktu saya menginjakkan kaki di teras Cottonwood Bed and Breakfast House. Pukul sembilan pagi waktu Indonesia bagian Bandung. Saya hendak masuk ke bangunan berlantai empat. Satu lantai dasar yang masih renovasi. Dua dan tiga lantai yang jadi fungsi utama bangunan ini. Dan lantai terpuncak yang menjadi tempat tinggal pemilik bangunan sekaligus hotelnya.

Saya menaiki 10 anak tangga. Hup hup. Sebuah kursi kayu berkaki roda sepeda menghadap muka saya. Tersenyum saya segera mendudukinya. Lucu ih bangkunya. Beberapa tanaman terpajang rapi di halaman tak jauh dari tempat saya duduk. Ayu warnanya, sepoi-sepoi tersapu angin pagi. Tiba-tiba jadi teringat U2 dengan Beautiful Day-nya.

Petunjuk Arah Menuju Hostel Chez Bon di Braga

March 12, 2014
Cara Menuju Chez Bon



1. Naik taksi

2. Naik ojek, bilang mau ke Braga, berhenti di depan Bebek Garang. Chez Bon berada persis diseberangnya.

3. Tidak ada angkot yang melewati jalur Braga. Kalo memintas sih ada: Angkot Gedebage - Stasiun, Dago - St. Hall, Bis Damri Dago - Leuwi Panjang.


Baca juga:

Hostel Chez Bon di Braga: Fun and Fresh (Bagian 1)


Hostel Chez Bon di Braga : Hemat, Bersih, Nyaman (2)

Hostel Chez Bon terdiri dari tiga lantai. Lantai dasarnya resto Oey. Lantai pertama dan dua berisi lobby, kamar-kamar dan ruang kongkow. Lantai teratas adalah ruang laundry, mushola, dan lokasi makan pagi. 


Ada tiga tipe kamar disini: Large room, medium, dan small room. Kamar favorit disini adalah yang tipe Small karena lebih privat. Kalau suami istri atau pasangan biasanya memesan kamar tipe yang ini. Tapi kalau lagi penuh ya pisah-pisahan deh kamarnya.

Hostel Chez Bon di Braga: Hotel Ala backpakcer di Bandung (1)

Kota yang familiar dengan konsep Hostel alias dormitory adalah Jokjakarta. Di kota pelajar itu kita mudah mencari hostel. Di Bandung sebaliknya. Banyakan hotel dan wisma ketimbang hotel-hotel kelas Backpacker-nya. 


Tapi sejak tahun kemarin, 2013, Bandung punya hostel nih sekarang. Tarif per kasurnya permalam cuma Rp 120.000. Hemat banget!

Petunjuk Arah Menuju Dusun Bambu

March 11, 2014
Dusun Bambu enaknya gak cuma berfungsi sebagai tempat makan aja. Disini kita bisa jalan-jalan dan menuhin akun instagram kita dengan poto-poto yang objeknya cantik-catik. Dari hari terang sampai ke malam, Dusun Bambu gak berhenti bikin kita betah. Hehehe :D

Gimana cara menuju Dusun Bambu?


1. Ikuti Jalan Setiabudi sampai Terminal Ledeng, ntar ada jalan di sebelah kiri jalan. 

2. Nama jalan itu Sersan Bajuri. Nah susuri jalan itu kira-kira 11 km lurus. 

3. Nanti kita bermuara ke jalan Kolonel Masturi. Harusnya gak nyasar ya karena ada papan Dusun Bambu di beberapa titik jalan. Kalo malam gak keliatan sih spanduknya. Heuheuheu.

Baca juga : Tips Ajak Anak Traveling Adalah Bersabar! Hahaha :D

4. Di jalan Kolonel Masturi, belok ke kanan. Lurus sampai ketemu Dusun Bambu. Mentok kok jadi gak akan kebawa sampai ke gunung. 

5. Kalau mau naik angkot: naik angkot apa aja yang tujuannya ke Ledeng. Turun dari terminal, jalan kaki ke jalan Sersan bajuri. Deket. Nanti ada angkot disitu tujuannya Terminal Parongpong. 4ribu ongkosnya. Dari situ naek angkot lagi jurusan Padalarang - Parongpong. Lama nih ngetemnya, Mendingan naek ojek. 5ribu sampai ke gerbang Dusun Bambu.




Ayoo ditunggu di Bandung!


Baca juga:

One Day In Dusun Bambu (part 1)


One Day In Dusun Bambu (part 3)

Good Ambience

Dusun Bambu tutupnya hari senin dan selasa. Peak hournya di hari sabtu dan minggu. Saya pengen banget balik ke tempat ini, tapi kayaknya di weekday aja. 



Suasana yang bisa kita dapetin di Dusun Bambu tentu aja gak jauh dari alam. Udara pegunungannya sejuk. Suara burung yang merdu. Tempatnya juga natural dan 'kampung'. Lebih banyak kayu daripada beton. 


Dusun Bambu punya 7 kamar hotel dengan dua tipe aja: vila satu kamar dan vila dua kamar. Buat yang vila dua kamar, harga permalamnya 3-4 juta. Sementara buat yang vila satu kamar 'cuma' 1-2 juta permalam. Itu udah termasuk makan pagi, buah-buahan, dan satu buttler.


Kamar hotelnya kayak gimana? Bagus sekali euy. Terutama detilnya yang saya suka. Seperti saklar dan sekering listriknya. Hahaha aneh banget merhatiin saklar. Dinding kamar hotelnya juga lucu, seperti rumah nenek kakek kita dulu. 




Kata pihak Dusun Bambu, hotelnya udah full-booked sampe 30 Maret. Rencananya kamar bakal ditambah, dari jumlah juga jenis. Gak hanya ada kamar aja nantinya. Tapi juga ada kamar berupa tenda. Doom. Weis tambah seruuu!

Dusun Bambu cocok buat semua umur. Mau bawa anak-anak kesini, seru. Mau bawa opa oma juga dijamin bakal betah mereka. Bawa calon mertua apalagi, langsung ke penghulu deh. Hahaha. Pendek kata, semua serba ada disini. Tapi gak bikin jadi murahan juga karena hampir semuanya didesain dengan baik, berkelas, dan disertai pelayanan yang baik.



Eh kalo mau bawa anak-anak bagusnya sabtu minggu kesini. Suka ada acara di halaman belakang food courtnya. 

Baca juga:

One Day In Dusun Bambu (part 1)


One Day In Dusun Bambu (part 2)

March 10, 2014
Good Food

Nah. Kita pindah ke makanan ya sekarang. 

Saya udah nyobain food courtnya Dusun Bambu. Makanan yang dijual di food court ini udah ngelewatin quality control rasa yang bagus. Soalnya dari tiga menu yang saya makan, enak-enak semua. 

Terus terang harganya buat saya termasuk agak 'lebih' :D karena saya tau harga 'biasa' di tempat biasa saya beli berapa. Tapi buat yang euforia wisata sih kayaknya gak ngaruh-ngaruh amat yah. Mahal tapi enak juga, sih. Gak rugi-rugi amat. Mana makannya sambil liat pemandangan bagus. 

Waktu saya makan di food courtnya, gila rame banget. Heran ya, tempatnya udah diujung dunia gini tapi ramenya edan. 

Lain kali saya mau nyoba makan di rumah-tepi-danau itu. Lebih sepi, hening, dan cocok buat kumpul keluarga. Cuma gak sebebas kalau di food court yang bisa bolak-balik pilih makanan kali ya. 

Kalau di Lounge buat yang punya dompet lebih tebel. Cocok buat businessman, atau yang kongkow-kongkow tanpa keganggu tingkah polah bocah-bocah.



Selain tempat makan yang urban banget, ada juga supermarket. Pasar Khatulistiwa, namanya. Di pasar ini kita bisa beli aneka cemilan dan suvenir tradisional. Eh, gak ketinggalan ada produknya Eiger nyempil disini. Pemilik Dusun Bambu adalah orang yang sama dengan empunya peralatan outdoor itu. 


One Day In Dusun Bambu (part 1)

Sabtu sore pukul 4, saya meluncur ke arah kaki Gunung Burangrang. Menuju satu tempat yang lagi hot-hotnya dibahas di instagram dan facebook. Dusun Bambu.



Dusun Bambu kalau dijelasin dalam satu kalimat kira-kira gini: good view, good food, good ambience, well-designed, dan yang pasti mah GOOD BUSINESS. hihihi.

Emang apa sih yang ditawarin Dusun Bambu buat pengunjungnya?


Good View

Tempat ini udah gak ada jelek-jeleknya. Semua sudutnya bagus buat difoto. Enak buat didudukin. Nyaman buat disusuri. Kalau kata suami saya sih, "jagoan arsiteknya."

Saya ngerasain sendiri kemarin. Memang ini tempat breathtaking sekali pemandangannya. Gimana gak, tempatnya tepat banget di kaki gunung Burangrang, tetangganya gunung Tangkubanparahu itu loh. 



Jadi udaranya terjamin bersih, pohonnya masih banyak, suara air sungainya bikin adem hati, pengelola tempatnya juga membuat suasana sesyahdu mungkin, sedusun mungkin. Jadi kita masih bisa denger tuh suara burung-burung, kodok, dan binatang imut lainnya. 

Selain pemandangan alam, Dusun Bambu juga secara estetika enak buat dilihat karena dekornya. Lucu bangeeeet! Pokoknya waktu masuk ke Dusun Bambu udah gatel pengen foto-foto melulu. Saya paling suka monumen bambunya. Unik & ngingetin saya sama dekor acara teaternya mahasiswa-mahasiswi STSI. Bagus sekali. Rumit tapi indah.





Di dalem Dusun Bambu ini ada sawahnya, terus kita kalau mau masuk ke kawasan pusatnya harus ngelewatin sawah ini. Serunya kita menyusuri jembatan awi dulu. Jembatan anyaman kayu, gitu. Istilahnya apa ya lupa saya hihihi. Ini juga ngingetin saya sama masa kecil atua jaman ospek kampus dulu. Kalo pada pake sandal berkaki bakal ribet deh jalan di jembatan ini. Tapi disediain kok jalan yang 'normal'. Ih tapi sayang banget kalo gak ngerasain serunya jembatan awi ini :D



Di kawasan pusatnya ada empat area nongkrong dan restoran: food court, lounge, rumah pohon, dan rumah tepi danau. Saya bahas ini di bagian Good Food yak. Tapi disini saya mau kasitau kalo semua tempat makan itu lucu-lucu interiornyaaaaaa! duh jagoan deh ini yang ngurusin bagian interiornya. Bikin betah, bikin ngiri, dan bikin pengen saya bawa pulang ke rumah semua itu kursi dan meja-mejanya. Hihi.


Baca juga:

One Day In Dusun Bambu (part 2)


Jalan-jalan Aleut: 124 tahun Biofarma

March 09, 2014
Jumat 7 Maret saya bergabung dengan komunitas Aleut. Ini komunitas sejarah, kerjaannya jalan-jalan mendatangi tempat bersejarah. Kadang-kadang gak jalan-jalan melulu, tapi juga berkumpul di satu tempat dan bedah buku juga atau bedah musik.


Nah jumat lalu, jam 2 siang, kami diijinkan masuk ke gedung Biofarma. Buat yang bingung ngapain ke gedung Biofarma, kami kesana dalam rangka melihat peninggalan sejarah yang masih ada disana. Mulai dari penampakan gedungnya, interiornya, sampai ke museumnya juga.

Crafty Days #8 Tobucil, Semangat Berhandmadenya Seruuuu!

March 06, 2014
Ini acara tahunan di Bandung. Pesta handmade. Pesta produk lokal. Crafty Days!


Untuk tahun 2014 ini, Crafty Days-nya udah nyampe ke acara yang ke delapan kali. Penyelenggaranya ya Tobucil. Siapa lagi yang punya napas berhandmade sesemangat mereka :)

Cibadak, Surganya Grosir di Bandung

March 02, 2014
Pada tahu Alun-alun Bandung? Nah jalan Cibadak ini deket banget sama tempat itu. Di sebelah baratnya masjid Raya Bandung. Masih di pusat kota juga sih. 


Kalau ke jalan Cibadak, saya biasanya udah nentuin mau ngapain. Mau belanja apa, tepatnya. Hampir semua bahan yang saya pake buat usaha yang saya kerjain belinya disini. Saya belanjanya plastik kalau di Cibadak.

Tapi teman-teman kalau nyari bahan lain juga ada. Sok sebutin mau apa: aneka kerajinan rotan, suvenir pernikahan, macam-macam goodie bag, alat tulis kantor, alat tulis sekolah, beragam kertas, toko bahan kue, dus-dus bekas, boneka dan masih banyak lagi. Tapi mohon dicatat sebelum kalian komen dibawah, saya gak tahu harga dan toko mana yang menjual barang-barang yang saya sebut tadi dan harganya murah. Saya cuma menguasai satu macam bahan aja di Cibadak, yaitu plastik.

So, waktu saya masih sekolah jaman SD sampai SMA, bapak suka bawa saya kesini buat belanja kebutuhan sekolah. Harganya emang murah-murah sih, dapetnya banyak pula. 

Selain karena kebutuhan, saya emang suka sama Cibadak karena nuansa pecinannya. Cuman sayang euy makin kesini makin dikit rumah yang gaya arsitekturnya cina. Duh padahal cantik banget rumah model begitu. Megah, misterius, dan ayu. 




Anyway, kalo mau ke Cibadak datengnya hari senin - sabtu jam 8 pagi sampai 5 sore. Hari minggu pada tutup tokonya. Ada sih satu dua yang buka, termasuk toko langganan saya. Tapi kalau mau lengkap ya dateng di weekdays yak.

Beberapa harga disini ada yang udah saklek gak bisa ditawar dan harus dibeli borongan. Tapi kebanyakan bisa kok kita tawar murah dibeli satuan. Rajin-rajin aja keluar masuk toko di Cibadak buat nemu toko pilihan yang oke harganya juga pelayanannya.

Beberapa jalan yang ada di sekitar jalan Cibadak ini sama serunya kalau kalian emang lagi cari barang murah. Jadi kalau udah khatam sama Cibadak coba tengok-tengok ke jalan-jalan di dekatnya. Niscaya bakal nemu 'surga' yang lain :D




Gimana cara menuju jalan Cibadak? Nih saya kasih petunjuk arah ke Jalan Cibadak.

1. Cari deh jalan Sudirman. Kalo punya hp, cek di GPRS atau Google Map-nya yak. 
2. Jalan Cibadak tetangganya jalan Sudirman, bedanya jalan Sudirman ini jalan gede (provinsi). Jadi gampang nyari jalan Sudirman, sebaliknya agak tricky nemuin jalan Cibadak. 
3. Kalau naik angkot bisa pake angkot Karang Setra - Leuwi Panjang, juga bis Damri jurusan Dago - Leuwi Panjang dan Ledeng - Leuwi Panjang.