Food After Food In Old Bandung Culinary Walk II

December 14, 2013

Ada satu tempat yang saya lewatin dan saya lewatin buat ditulis disini. Braga Permai. 


Si Klasik Braga Permai

Gak banyak yang saya tahu dari Braga Permai. Seenggaknya sebelum saya ikutan acara jalan-jalannya Bandung Trails dulu tahun 2005. 


Braga Permai yang dulu saya tahu adalah restoran yang sepi, membosankan, restoran khusus turis asal Belanda yang lagi nostalgia dan menunya mahal-mahal. Saya suka kasihan melihatnya. Seperti manusia yang sedang menjelang tua dan ditinggal anak-anaknya. Tapi dibalik tempatnya yang dingin, pegawai yang mengisi banyak ruang kosong disana ramah-ramah banget. Salah satunya bernama Pak Edi. Bapak yang satu ini perhatian, sopan luar biasa, dan ramah. Gak tahu ini sekarang Pak Edi masih kerja disana atau enggak. 


Setipe dengan Rasa Bakery dan Sumber Hidangan, restoran yang dulunya bernama Maison Bogerijen adalah toko kue dan roti yang menyajikan menu-menu western. Sudah pasti restoran ini populer di kalangan bule-bule Belanda yang masih menduduki negara kita waktu itu. 

Sejak tahun 2005, hampir tiap tahun saya ke Braga Permai dalam rangka pekerjaan. 2006, 2007, 2008, dan baru di tahun 2009 lah saya melihat beberapa perubahan yang membawa Braga Permai kembali ke masa jayanya. 


Pertama, mereka membuat program makan siang 4 paket. Harganya antara 15.000 - 20.000. Dengan harga tersebut, konsumen sudah dapat tiga macam menu: appetizer, main course, dan dessert. Porsinya tidak terlalu melimpah, tapi buat saya yang tukang makan ini mah porsinya cukup. Rasanya enak-enak. Paketnya macam-macam. Saya ingat sampai mengajak beberapa teman makan siang disini. Hihihi :D habis agak aneh Braga Permai bikin terobosan model begini. 

Kedua, ada musik di Braga Permai. Bukan live music atau musik-musik klasiknya. Musik-musik anak muda gitu. Lagu-lagu 90's sampai tahun 2000an yang populer. Seneng deh. Waktu pertama kali datang ke Braga Permai saya pernah mikir pelanggan atau siapapun yang makan di Braga Permai pasti orang-orang umur 50tahunan keatas. Dengan musik begini, pasarnya bergeser. Anak-anak muda mulai berdatangan ke Braga Permai. Mungkin gak muda-muda banget ya, tapi muda dewasa gitu macam mahasiswa, orang kantoran, keluarga, dan sejenisnya. 

Tiga. Braga Permai memajang harga makanannya di luar restoran. Alhasil orang macam saya yang enggan masuk karena takut gak sanggup bayar makanannya bisa ngintip-ngintip harga makanannya dulu. hihihihi :) 

Hebat Braga Permai. Salut euy :) Sekarang saya gak pernah lihat restoran ini sepi. Apalagi malam hari, wah hampir semua kursi penuuuuuuhhhh. Mantap. Alhamdulillah ikut seneng. 


Di sini saya biasanya makan roti kadet yang dicocol es krim. Lava cakenya juga murah  dan ENAAAAK. Braga Permai bikin paket makan siang lagi dooooooooong :) 



Kopi Aroma yang Melegenda

Wangi kopi menyeruak begitu kaki saya menjejak di jalan banceuy. Wanginya secantik namanya: Kopi Aroma.

Saya sudah berhenti minum kopi lima tahun ini. Mau lebih banyak minum air putih :D Kopi Aroma ini jadi rujukan saya kalau pada orang-orang pada nanyain dimana beli oleh-oleh khas Bandung. Harganya tidak murah tapi juga tidak mahal. Maklumlah ini biji kopi asli pasti tidak bisa harga murah macam satu sachet seribu rupiah.

Pak Widya lagi nerangin tentang kopinya Kopi Aroma

Robusta dan Arabica adalah dua jenis kopi paling umum di Kopi Aroma. Bisa juga sih rasa lain, Mocca misalnya. Tapi saya gak hapal banyak :D karena biasanya memang cuma beli Robusta atau Arabica saja. Biji kopinya dikirim dari beberapa perkebunan kopi di Indonesia. 

Belanja kopi disini rasanya seperti masuk ke lorong waktu. Tempatnya tidak berubah banyak sejak 83 tahun yang lalu. Ya mungkin ada sih cuma saya gak tahu aja hohoho. Kita bisa beli biji kopinya saja, atau rikwes biji kopinya mau digiling segimana halus. 


Rasanya bagaimana? Sedap. Kopi asli rasanya kuat dan rasanya lebih dari sekedar minum kopi. Kayak apa ya, kayak sedang meneguk sejarah dan merasakan kehangatan tangan-tangan petani kopinya. Apa ini saya saja ya yang ngerasain? heheehe

Suka kopi mah kudu lah beli kopi disini. Wajib. Harus. Mau ngelihat pembuatan kopinya juga boleh loh ;)




Bersambung lagi postingannya yak hihihi. Klik disini.
3 comments on "Food After Food In Old Bandung Culinary Walk II"
  1. Saya suka kopi, sangat suka..
    Tapi tempat ini jauh dari tempat saya.. :)

    ReplyDelete
  2. @Abdur Rosyid: Sesekali aja cobain dateng, Mas. Seru gak akan nyesel :) hehe

    ReplyDelete
  3. Bandung emang menyimpan banyak kenangan manis ya, ampe kulinernya juga so sweet..

    ReplyDelete