Image Slider

Blusukan Ala Geotrek Di Lembang Bandung Utara (Dua)

December 24, 2013

Seperti kebanyakan kampung-kampung kaki gunung, gak sedikit rumah penduduk yang berpanggung dan dindingnya masih berupa bilik. Pak Bachtiar sempat mengajak saya melihat-lihat satu rumah yang cantik dan apik banget deh. Warnanya coklat dan banyak bunga yang jadi penghuni kebun kecil cantik milik penghuninya. Saya suka ngebayangin sih punya rumah model begini di kampung nun jauh. Cuma ngebayanginnya aja, kalo sampe kejadian.. euur gimana ya, kayaknya saya masih betah di kota euy. 

Berikutnya kami menuju rumah kuncen untuk minta ijin dan diantar ke situs Batu Lonceng. Cerita terkait tentang Batu Lonceng browsing aja sendiri yak. Huehehe :))

Situsnya terletak di dalam hutan kecil ternyata. Hutan tipis sih, gak terlalu jauh dari perumahan penduduk. Tapi tetep aja jalannya nanjak dan nanjak dan nanjak. Cape deh. Matahari juga panasnya menyengat banget. Huh hah heh. Keringat mengucur deras seiring kaki-kaki saya yang berjalan menanjak. 

Sama seperti kompleks Gunung Padang Ciwidey yang pernah saya kunjungi (Ciwidey ya, itu loh yang ada kawah Putihnya). Situs Batu Lonceng berada di antara belantara pepohonan. Teduh sekali. Ada dua pohon besar dan super gede yang memayungi kami semua. Lainnya, pohon-pohon dengan ketinggian standar yang juga gak kalah bikin ademnya. Padahal sepanjang jalan nanjak tadi gak nemu pohon-pohon besar. 

Situs ini mencerminkan budaya sakral yang kita anut. Ada keteduhan, ada kesepian, ada energi yang entah apa saya bingung menjelaskannya. Mistis, dingin, dan misterius, tiga kata yang mungkin cocok dengan suasana situs Batu Lonceng.
Batu Lonceng
Foto diambil dari http://www.pikiran-rakyat.com/node/143758

Ada 2 jenis batu dan 1 makam yang bikin tempat ini disebut-sebut sebagai situs. Batu berbentuk lonceng, batu berbentuk kujang, dan makam seseorang yang panjangnya 2 depa (1 depa=1 bahu). 

Pertama, si Batu Lonceng. Batu yang kedua adalah Kujang Pangarang, karena bentuknya emang kayak senjata tradisional masyarakat Sunda yang kesohor itu, Kujang. Batu Kujang berdiri agak miring kayak Menara Pisa. Kata Pak Maman, kuncennya, kalau negara ini sedang ada masalah batu Kujang akan bertambah derajat kemiringannya dan sebaliknya. Percaya atau enggak, kalau kita mampu mengangkat Batu Lonceng, itu artinya keinginan kita akan terpenuhi. 

Usai angkat Batu Lonceng, peserta Geotrek dibolehkan buat melakukan ritual memeluk Batu Kujang dengan posisi duduk tertentu. Perempuan dan Laki-laki punya cara berbeda pas mau duduknya.  Posisi tangan kanan kita mesti merengkuh Batu Kujang. Tapi susah loh, gak ada satupun dari kami yang bisa memeluk batu Kujangnya. Diameternya padahal biasa saja. Kalau tangan kita bisa merengkuhnya, berarti rejeki kita banyak. Tapi kalau sebaliknya, ya artinya rejeki kita jelek. Jadi saya ogah meluk-meluk batu itu. Biar rejeki saya jadi misteri saja. Hahaha.
Batu Kujang
Foto ini diambil dari http://www.potlot-adventure.com/menikmati-sisi-lain-kota-lembang/
Kalau penduduk mempercayai bahwa batu tersebut mistis, punya nilai kesakralan yang tinggi dan nilai-nilai magis terdapat didalamnya. Kami, saya khususnya, gak percaya. Ya gak apa-apa juga. Pak Budi dan pak Bachtiar, yang dasarnya menggunakan ilmu pengetahuan, mengatakan bahwa batu tersebut adalah menhir. Dahulu kala pernah digunakan sebagai objek pemujaan oleh manusia purba. Beginilah kalau ilmu pengetahuan yang bicara. Hehehe.
    
Kelar dengan kunjungan ke Batu Lonceng, kami beranjak pergi. Menuruni jalan setapak yang tadi kami lewati. Sinar matahari entah kenapa begitu cepat berubah kadar panasnya. Sekarang sinarnya menunjukkan kehangatan. Hangat hangat sejuk gitu deh. Apa saya, tanpa sadar, kedinginan akibat situs batu Lonceng yang teduh itu ya? :D 

Usai solat Dhuhur, saya pergi ke tempat bis dan benda besar beroda empat ini membawa kami pergi. Tujuannya ke Cikole (Lembang) buat rekap perjalanan, ngeliat keseluruhan pemandangan pojok-pojok Lembang yang seharian kami kunjungi. Wow...Kalau mau coba deh masuk ke kompleks sekolah SMAP, Sekolah Menengah Pertanian di Cikole. Pemandangan Lembang keliatan, 180 derajat. Cantik sekali. Suka pisan saya. 

Dari situ pulang. Eh beli tahu dulu sih, terus baru benar-benar pulang. Hampir setengah perjalanan saya tertidur...

Udahan deh :D



Tulisan bagian ke satu bica dibaca disini.

Blusukan Ala Geotrek di Lembang Bandung Utara (Satu)

December 23, 2013

Blusukan Ala Geotrek di Lembang Bandung Utara (Satu)


Gak masalah juga ternyata gak mandi, yang jadi masalah adalah saya gak gosok gigi. Cuma cuci muka sekali aja. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Usai solat subuh yang super ngebut, saya bersiap diri untuk berangkat menuju Taman Ganesa, tempat kumpulnya geng jalan-jalan Geotrek wisata alam. Pagi itu saya baru sadar, Bandung dingin bangeeeeet!

Peserta Geotrek ke Lembang ini banyak euy. Sampe dua bis. 


Molor dari jam keberangkatannya, bis yang saya tumpangi berangkatnya jam 7.30 karena Pak Bachtiar selaku ahli geograf dan pemandu jalan-jalan datangnya telat. Katanya beliau baru nyampe Bandung (dari Purbalinggga) pukul 5 subuh dan pulang dulu ke rumahnya di Margahayu. Saya sih, lagi-lagi selain belum gosok gigi, gak masalah karena jadinya sembari nunggu beliau saya makan nasi bungkus yang saya bawa dari rumah. Gak sempet makan di rumah soalnya buru-buru.

Sepanjang acara Geotrek ini, saya nempel terus sama tiga peserta yang namanya Tika, Defa, dan ibu-ibu favorit saya: Teh Ina. Ibu-ibu yang cantik, kayak abg, jago moto, dan nenteng kamera keren kemana-mana :D Ditambah dia ramah sekali, jadi betah deh kalau deket-deket dia. Dengan Tika dan Defa udah lama gak ketemu, jadi ini seperti reuni kecil. Keduanya, ketiganya termasuk teh Ina, saya kenal di acara jalan-jalan Mahanagari, perusahaan kampanye Bandung yang medianya desain dan retail. Mahanagari ini nih termasuk pelopor acara Geotrek di Bandung :)


Delapan km (moga-moga jarak tempuh ini gak salah tulis ya :D) menuju Lembang dari kampus ITB ternyata gak berasa. Saya yang 'normalnya' suka pusing dan mual kalau ke Lembang malah tenang-tenang aja. Gak taunya udah sampai aja. Titik pertama yang dikunjungi adalah salah satu rangkaiannya Patahan Lembang yaitu Gunung Batu. Wah udah lama gak ke Gunung Batu, terakhir kalau gak salah Mei 2007. 

Senang rasanya bisa berada di puncak Gunung Batu. Gunung Batu ini semacam bukit. Dia adalah potongan terakhir dari Patahan Lembang yang terbentuk akibat letusan Gunung Sunda 4000 tahun lalu. 


Pagi itu Bandung sedang dingin, sedikit berangin, namun cuaca bekerja dengan baik. Memandang Bandung dari titik Gunung batu sambil memutar badan 360 derajat, saya bisa ngeliat gunung-gunung yang mengelilingi Bandung. Legok-legok Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Burangrang, dan Gunung Malabar  kelihatan jelas banget. Bagus deh. Lagi-lagi diingatkan kalau kita ini cuma manusia dan kecil. Dari gunung-gunung itu kita belajar -mengutip kata-katanya Firas bapaknya Zarah di novel Partikel- kalau kita hanya menumpang.
Pemandangan Gunung Batu dari kaki gunungnya
Foto diambil dari http://hada28.wordpress.com/2011/09/18/seismic-data-acquisition-in-lembang-fault/


Dari Gunung Batu, kami terus naik bis pinjaman dari ITB lagi. Kali ini tujuannya adalah desa Batu Lonceng. Tapi sebelumnya berhenti dulu sebentar di parkiran Wanawisata Maribaya, kira-kira 10 km dari kota Lembangnya, untuk melihat sungai yang namanya Ci Gulung. Kami berkumpul di tepi sungai tersebut yang letaknya di pinggir jalan. Disini Pak Bachtiar menjelaskan beberapa hal.

Kembali ke bis. Sebelum berangkat lagi, saya beli Popmie karena perut udah kukuruyukan. Agak sedikit heran dengan teman di kanan kiri yang merasa baik-baik aja karena mereka tampak tidak lapar. Tapi gak juga tuh, teh Ina mulai ngeluarin cemilannya. Tika juga. yes! pop mie habis, good time masuk, dan coklatnya Tika juga tamat nasibnya.

Pak Budi, yang juga pemandu, dosen ITB sekaligus ahli geologi, mengingatkan kami untuk tidak tidur sepanjang perjalanan menuju ke Batu Lonceng. Setuju! saya pikir juga ngapain tidur kalau sedang menuju ke suatu tempat. Catet ya, MENUJU lokasi garing miring TKP. Sayang banget soalnya ntar banyak pemandangan yang terlewat waktu mata kita terpejam. Kalau perjalanan menuju pulang mah ya boleh dipilih, mau tidur atau ngelamun atau menikmati viewnya lagi di sepanjang jalan tersebut.


Pak Budi benar.
Saya juga benar *ikut-ikutan hahaha*
Di beberapa titik tertentu kami bisa melihat dan menikmati pemandangan dinding lava patahan Lembang, sisa letusan Gunung Sunda. Gagah deh. Di bawahnya terdapat lembah dan (sungai) Ci kapundung mengalir berkelok-kelok, terus hingga ke Maribaya dan Bandung. Pohon cantik yang bunganya kayak terompet dan warnanya merah. Dia jadi bahan pembicaraan karena fotonya terpampang di buku Wisata Bumi Cekungan Bandung. Namanya Ki Acret. Tapi anehnya hanya terdapat satu pohon Ki Acret. (Acret, kasian sekali orang bule kalao mesti ngucapain kata ini heheh). Waktu Lava Tour saya bisa ngeliat pohon ini banyak banget di sepanjang (sungai) Ci Beureum.


Buku Wisata Bumi Cekungan Bandung. Kudu punya, nih :)
Buku ini ditulis oleh pemandu Geotrek ke Batu Lonceng, Pak Budi Brahmantyo dan Pak Bachtiar
Foto buku diambil dari https://www.goodreads.com/book/show/8115575-wisata-bumi-cekungan-bandung

Tidak lama kemudian kami sampai di kaki kampung Batu Lonceng. Bukit Tunggul, sebagai gunung tertinggi di kawasan Bandung Utara, mulai nampak puncaknya. Kami begitu deket dengan Bukit Tunggul. Sebelum naik ke kampung, kami makan dulu. Panitia ngasih makannya McD dan minumnya Coca Cola. Jauh-jauh masuk kampung, kotanya tetep kebawa juga.



Bersambung ah males nulis panjang-panjang. hohoho :D Baca tulisan bagian keduanya 
disininih.

One Day In Parapa

December 17, 2013



Minggu pagi yang masih segar di bulan September 2013 saya melancong ke Bandung arah timur. Tujuannya Parapa, Pasar Para Petani. 

Poster acaranya yang saya lihat di facebook

Welcoming Board
Lokasi acaranya rada jauh, nih. Di halamannya De Tuik Cafe. Mustahil kalau ada yang sanggup berjalan kaki menuju kesana. Transportasi umum pun hanya ada ojek. Panitia menyediakan mobil gitu, sih. Tapi entahlah bagaimana koordinasinya. Saya, Gele, & Nabil seperti biasa diangkut Revo hitam.


pemandangan dari lokasi Parapa

Acara ini gelarannya anak-anak muda dari himpunan arsitektur ITB. Entah ini sudah yang keberapakalinya, tapi buat saya sih ini pertama kali datang ke pasar lokal buatan anak-anak muda. Biasanya kan ya... pasar tradisional deket rumah :D

maap ya kamera udah jamuran nih hohoho


kursi-kursi lucu buat duduk nyantai atau makan-makan

Tidak banyak barang yang dijajakan disini. Hanya ada beberapa jenis buah-buahan dan sayuran. Ada juga pernak-pernik buat dekorasi 'hijau' semacam pot-pot lucu. Paling disayangkan karena gak ada petani lokalnya. Yaaahhh... padahal kalau ketemu langsung dengan local farmer bisa nanya-nanya atau saling mencurahkan masalah, begitu :D


Panitianya menghubungi petani penjual sayur dan buah. Titip jual gitu kayaknya sistemnya. Alhasil yang jualannya panitianya. 








Selain deretan dagangan bahan lokal, ada juga acara demo masak dan stand penjual makanan. Live musik juga tersedia. Akustik musiknya dan gak berisik. Angin gunung sepoi-sepoi sambil dengerin akustikan rasanya sejuuuuuuuuk banget.

Di Parapa ini saya nyicipin Pie Pumpkin buatan anak-anak Enhai. Gratis. Hohoho. Mereka demo masak dua jenis masakan. Salah satunya kue cantik si oranye yang super enak ini. Masaknya kelihatan sederhana gak pake ribet. Saya sempat cobain sendiri di rumah bikin pie labu begini. Gagal. Dua kali pula nyobainnya. Kacau. Hehehe :D

Saya juga beli satu menu unik. Namanya apa ya... lupa. Menu-menu western gitulah wong pake bahasa inggris namanya. Pas ngintip cara buatnya, bah simpel banget. Cuma jamur, tomat, brokoli, dimasukin ke wadah kaca. Terus masukin telur, kocok-kocok. Kukus deh. 


The Super Delicious Yummyyum Pumpkin Pie


Rasanya menyehatkan karena hambar, cuy :D kurang garam hihihi



Moga-moga sering ada acara begini ah. Cuma lokasinya yang terjangkau, dong. Biar makin banyak yang datang juga. Kalau lokasinya ke gunung kayak kemarin itu agak susah ya ajak-ajak orang lain. Karena harus memastikan dulu ini orang-orang yang saya ajak menggunakan transport apa. Heuheuhu.

Kelak semoga ada Parapa berikutnya disertai petani-petani lokalnya juga. Biar petani lokal makin sejahtera & disorot keberadaannya. Paling gak kan kita tahu makanan yang kita makan asalnya darimana & bagaimana perjalanannya bisa sampai di perut kita. 

Baca Parapa di 
 www.agritektur.tumblr.com biar dapat penjelasan lebih lengkap yak. 





Foto oleh Indra Yudha

Food After Food In Old Bandung Culinary Walk (III - Finish)

December 15, 2013

The Unbeatable (Korned Keju) Roti Sidodadi

Roti lagi roti lagi. Ya maklumlah makanan eropa, nih. 350 tahun Belanda menduduki Indonesia, Legacy-nya banyak banget. Makanan salah satunya, macam roti dan kue-kue ini lah. 


Si Roti Sidodadi ini halal gaknya saya gak tau. Kalau lihat kemasan rotinya sih tidak tercantum kata Halal. Ah bismillah aja deh. Moga-moga gak dimasukin bahan yang haram menurut muslim. Heuheuheu.

Pada dasarnya sih saya sudah mulai mengurangi frekuensi makan dari toko-toko kue makanan Belanda begini, nih. Karena beberapa diantaranya gak ada logo Halal. Dulu sih saya hajar bleh makan saja yang penting tidak mengandung babi dan alkohol. Tapi makin ke sini makin milih-milih.

Berdasarkan beberapa roti yang saya makan di Sidodadi, rekomendasi saya adalah roti korned keju. Rotinya empuk, kejunya berlimpah, kornednya membuncah. Rasanya bikin saya sama gele tercengang saling melihat sambil komentar "wuenak bangeeettt". Hahaha. Harganya murah loh :D  

Warung rotinya kecil mungil dan selalu penuh. Sorean dikit, roti-roti unggulan sudah tandas dalam perut orang lain. 




Kembali Ke Akar, Pisang Goreng Simanalagi

Kenyang makan yang berkeju dan manis-manis, saatnya kembali ke rasa lokal. Pisang digoreng namanya Pisang Goreng Simanalagi. Lokasinya ada diantara kerumunan gedung-gedung. Dia nyempil diantara barang diskonan dan bajakan. Jalan Dalem Kaum dekat dengan Alun-alun.  


Saya sering makan pisang goreng enak. Jadi gak bisa bedain pisang goreng Simanalagi dengan pisang goreng yang enak-enak lainnya. Gitu-gitu aja, sih. Manis. Hehehe. Makanya sempat terheran-heran ini tempat udah ada sejak ibu saya masih perawan bau kencur. Hohoho, sejak tahun 1948 :) Kebayang gak sih tahun 50an, 60an, 70an nongkrong di pinggir jalan utama Bandung yang belum macet & masih sejuk meski jam 12 siang terus makan gorengan ini, gak lupa seruput-seruput teh manis hangat. Hmmmmhhh...




Disini pisang gorengnya menggunakan pisang tanduk & pisang raja. Pisang gorengnya juga gak hanya satu macam, tapi ada tiga, yaitu gegodoh, Pisang Tansuk, dan Pisang Kipas. Rasanya udah pasti enak.  

Gorengan lainnya juga ada. Serba gorengan lah :D

Food After Food In Old Bandung Culinary Walk II

December 14, 2013

Ada satu tempat yang saya lewatin dan saya lewatin buat ditulis disini. Braga Permai. 


Si Klasik Braga Permai

Gak banyak yang saya tahu dari Braga Permai. Seenggaknya sebelum saya ikutan acara jalan-jalannya Bandung Trails dulu tahun 2005. 


Braga Permai yang dulu saya tahu adalah restoran yang sepi, membosankan, restoran khusus turis asal Belanda yang lagi nostalgia dan menunya mahal-mahal. Saya suka kasihan melihatnya. Seperti manusia yang sedang menjelang tua dan ditinggal anak-anaknya. Tapi dibalik tempatnya yang dingin, pegawai yang mengisi banyak ruang kosong disana ramah-ramah banget. Salah satunya bernama Pak Edi. Bapak yang satu ini perhatian, sopan luar biasa, dan ramah. Gak tahu ini sekarang Pak Edi masih kerja disana atau enggak. 


Setipe dengan Rasa Bakery dan Sumber Hidangan, restoran yang dulunya bernama Maison Bogerijen adalah toko kue dan roti yang menyajikan menu-menu western. Sudah pasti restoran ini populer di kalangan bule-bule Belanda yang masih menduduki negara kita waktu itu. 

Sejak tahun 2005, hampir tiap tahun saya ke Braga Permai dalam rangka pekerjaan. 2006, 2007, 2008, dan baru di tahun 2009 lah saya melihat beberapa perubahan yang membawa Braga Permai kembali ke masa jayanya. 


Pertama, mereka membuat program makan siang 4 paket. Harganya antara 15.000 - 20.000. Dengan harga tersebut, konsumen sudah dapat tiga macam menu: appetizer, main course, dan dessert. Porsinya tidak terlalu melimpah, tapi buat saya yang tukang makan ini mah porsinya cukup. Rasanya enak-enak. Paketnya macam-macam. Saya ingat sampai mengajak beberapa teman makan siang disini. Hihihi :D habis agak aneh Braga Permai bikin terobosan model begini. 

Kedua, ada musik di Braga Permai. Bukan live music atau musik-musik klasiknya. Musik-musik anak muda gitu. Lagu-lagu 90's sampai tahun 2000an yang populer. Seneng deh. Waktu pertama kali datang ke Braga Permai saya pernah mikir pelanggan atau siapapun yang makan di Braga Permai pasti orang-orang umur 50tahunan keatas. Dengan musik begini, pasarnya bergeser. Anak-anak muda mulai berdatangan ke Braga Permai. Mungkin gak muda-muda banget ya, tapi muda dewasa gitu macam mahasiswa, orang kantoran, keluarga, dan sejenisnya. 

Tiga. Braga Permai memajang harga makanannya di luar restoran. Alhasil orang macam saya yang enggan masuk karena takut gak sanggup bayar makanannya bisa ngintip-ngintip harga makanannya dulu. hihihihi :) 

Hebat Braga Permai. Salut euy :) Sekarang saya gak pernah lihat restoran ini sepi. Apalagi malam hari, wah hampir semua kursi penuuuuuuhhhh. Mantap. Alhamdulillah ikut seneng. 


Di sini saya biasanya makan roti kadet yang dicocol es krim. Lava cakenya juga murah  dan ENAAAAK. Braga Permai bikin paket makan siang lagi dooooooooong :) 



Kopi Aroma yang Melegenda

Wangi kopi menyeruak begitu kaki saya menjejak di jalan banceuy. Wanginya secantik namanya: Kopi Aroma.

Saya sudah berhenti minum kopi lima tahun ini. Mau lebih banyak minum air putih :D Kopi Aroma ini jadi rujukan saya kalau pada orang-orang pada nanyain dimana beli oleh-oleh khas Bandung. Harganya tidak murah tapi juga tidak mahal. Maklumlah ini biji kopi asli pasti tidak bisa harga murah macam satu sachet seribu rupiah.

Pak Widya lagi nerangin tentang kopinya Kopi Aroma

Robusta dan Arabica adalah dua jenis kopi paling umum di Kopi Aroma. Bisa juga sih rasa lain, Mocca misalnya. Tapi saya gak hapal banyak :D karena biasanya memang cuma beli Robusta atau Arabica saja. Biji kopinya dikirim dari beberapa perkebunan kopi di Indonesia. 

Belanja kopi disini rasanya seperti masuk ke lorong waktu. Tempatnya tidak berubah banyak sejak 83 tahun yang lalu. Ya mungkin ada sih cuma saya gak tahu aja hohoho. Kita bisa beli biji kopinya saja, atau rikwes biji kopinya mau digiling segimana halus. 


Rasanya bagaimana? Sedap. Kopi asli rasanya kuat dan rasanya lebih dari sekedar minum kopi. Kayak apa ya, kayak sedang meneguk sejarah dan merasakan kehangatan tangan-tangan petani kopinya. Apa ini saya saja ya yang ngerasain? heheehe

Suka kopi mah kudu lah beli kopi disini. Wajib. Harus. Mau ngelihat pembuatan kopinya juga boleh loh ;)




Bersambung lagi postingannya yak hihihi. Klik disini.

Food After Food In Old Bandung Culinary Walk I

December 13, 2013

Again, late post. 
Daripada membiarkan foto-foto jepretan suami saya, Indra Yudha, ini menganggur di laptop, saya karyakan disini :D 
Penampakan Preanger Hotel
Komunitas Kuliner Bandung (KKB) bikin tur kuliner. Saya jelas ikutan dong meski hampir semua tempat yang dikunjungi sudah pernah saya datangi. Siapa tahu kan sensasinya berbeda kalau perginya ramai-ramai begini. 

Pukul enam pagi di hari minggu kebanyakan orang masih dalam dekapan selimut. Saya sudah siap kaki buat jalan-jalan dan perut untuk menampung semua makanan yang bakal dilahap hari itu. Saya gak sendiri nih. Ada banyak orang yang ikut serta, jumlahnya berapa saya gak hitung satu-satu :D

Jaman sekarang jalan-jalan sudah pasti peralatan 'perang'nya kamera. Banyak sekali yang nentengin kamera. Alhasil sesi poto juga berlimpah ruah. Seru ketawa-ketawa. Tambah lapar, kraukkk kraauuuk bunyi suara perut. 


Rasa Bakery The Beauty 

Nah ini perhentian pertama. Toko kue namanya Rasa Bakery. Berdiri sejak jaman kompeni dan masih bertahan sampai sekarang, masih banyak pelanggannya pula. Hebat yak. Sudah gak kehitung berapa kali saya melintasi toko kue yang khas dengan kanopi warna kuning mencoloknya ini. Saya suka sama bentuk gedungnya yang tua. Cantik. Kokoh. Classy. Kalau dia manusia, Meryl Streep bisa kita andaikan jadi gedung Rasa Bakery.












Disini banyak kue-kue lucu. Rasanya eumm bagaimana ya, menurut saya ada toko kue lain yang rasa kuenya lebih enak euy :D saya coba pai fruitnya karena saya penggemar berat kue ini. Yah... biasa banget rasanya. Standar. Buahnya sih seger. Tapi kan kuncinya ada di fla-nya juga. Heuheuheu. 

Saya juga mamam es krim. Enak dan segar walau rada aneh pagi-pagi jam 9 pagi makan es krim :D 








Beres urusan perut, kami diajak masuk ke ruangan lain yang menyimpan banyak kenangan Rasa Bakery di tahun-tahun mereka pertama beroperasi. Hmmm... saya nyium aroma sejarah. Banyak pernak-pernik toko yang disimpan apik pemiliknya dalam sebuah lemari antik. Beberapa lemari kecil, kursi, dan meja tua juga terpajang anggun. 





Saya ragu sih bakal ada kedatangan saya lagi di Rasa Bakery. It's not my type. Seperti bukan tempat untuk saya berada entah kenapa. Mungkin karena harga kue-kuenya :D tapi gak tahu, it is more that just the price. Gedungnya saya suka banget. Tapi gimana ya, cantiknya seperti tak tersentuh. Hehehe apa, sih :D

Moga-moga jodoh lagi yak, Rasa Bakery :)



The Oldest Sumber Hidangan


Salah satu bangunan di jalan braga. Kayak di Eropa gak? hehehe

Tempat yang satu ini sering banget saya sambangi. Tujuannya ada tiga :
1. Roti stick isi keju
2. Kroket
3. Duduk santai di kursi makannya dan ruang makannya yang super duper antik

Sejak dulu Sumber Hidangan sudah jadi favorit saya & keluarga. Ibu saya, pecinta kue, sukaaaa pisan sama roti-roti dan kue Sumber Hidangan. Alhamdulillah hobinya suka makanin kue menular hehehe. 

Berdiri di tahun 1930an, Sumber Hidangan ini menjual kue dan makanan khas Eropa. Dahulu toko kue ini terkenal seantero Bandung. Jaman nenek saya masih remaja, tokonya sudah ada. Beliau suka beli roti disini karena tukang jahit langganan nenek saya tempatnya tidak jauh dari Sumber Hidangan ini. Wow...

Sumber Hidangan terletak di Jalan Braga yang legendaris. Tokonya tua, seperti tak terurus. Agak kasihan melihatnya tapi justru aroma sejarah yang keluar dari tiap dinding, jendela, lantai, sampai langit-langitnyanya makin tajam. Bahkan sampai para karyawannya yang hampir semuanya manula. 



Pelanggannya, wah jangan ditanya. Kalau sudah sore stok kue dan rotinya rata-rata sold out. Oma opa kamu bisa jadi dahulu sering mampir ke tempat ini. Salah seorang ibu dari teman sekantor yang usianya sudah masuk ke angka 80an merupakan pelanggan tetapnya Sumber Hidangan. Tidak jauh dari situ ada kantor PLN Pusat Bandung. Tiap kali usai mengambil uang pensiunan almarhum suaminya, beliau selalu menyempatkan diri ke Sumber Hidangan beli kue-kue favoritnya. Begitu juga kalau Natal, beliau memesan kue di Sumber Hidangan. 



Bersama KKB saya nyemil roti yang bentuknya lucu. Apa ya namanya? saya lupa hahahaha. Rotinya manis. Bentuknya seperti dipilin-pilin dan bertabur gula pasir. Enak banget! Kue eropa itu manis-manis yak. Kadangkala saya sampai eneg sendiri euy. Tapi kalo makan gak terlalu banyak sih masih enak. 



Harga kue dan rotinya relatif murah. Ada sih yang mahal gila. Tapi yang murah juga banyak. Favorit saya disini si roti stick isi keju. Namanya apa sih saya lupa banget :D Kacau hehehe

Hari minggu tutup. Buka Senin - Sabtu jam 9 pagi , tutup jam 7 malam. Waktu paling baik buat datang ke Sumber Hidangan adalah jam 9 pagi. Karena roti-rotinya masih hangat baru keluar oven.... nyam...nyammm.. Lagian apa yang lebih indah dari duduk santai di restoran Sumber Hidangan jam 9 pagi makan roti hangat plus secangkir kopi sambil menatap sinar matahari yang memantul diatas jalanan Braga. 




bersambung ke postingan berikutnya yak, yang ini nih :D